
" Marin, Marista, Trista. Apakah kalian menginginkan sesuatu sebagai hadiah karena menemaniku? " Tanya Anma kepada Catgirl bersaudara.
" Jika saya sendiri, saya tidak terlalu menginginkan hadiah. Namun jika Tuan berkenan, bisakah tuan bersikap sama kepada kami seperti sikap tuan kepada kepala desa, Nona Flora dan Party Gellen " Marin berkata sambil malu malu.
" Oah? Hahahahaha. Maaf, sepertinya aku sudah bersikap buruk kepada kalian yah? dan lagi spertinya kalian juga salah paham terhadapku " Anma tertawa karena mendengar permintaan dari Marin.
" Salah paham? Apa yang salah tuan? " Marista bertanya.
" Yah, kalian salah paham tentang diriku. Kalian hanya melebih lebihkan diriku. Padahal yang aku lakukan adalah mencoba untuk lebih dekat dengan kalian agar kalian tidak merasa takut kepadaku " Anma menjawab sambil mengusap kepala Marin.
"Ano, tuan... " Trista ingin mengatakan sesuatu.
"Yosh, karena hari sudah mulai sore, mari kita berjalan pulang. Jika salah satu dari kalian ingin menanyakan sesuatu, silahkan tanyakan saja. " Anma mulai melangkah menuju ke rumah kayu.
"Ano, tuan. Kenapa tuan berusaha seperti itu? Bukankah lebih mudah untuk membicarakannya secara langsung kepada kami? " Trista melanjutkan pertanyaan yang tertunda.
"Yah, bagaimana ya. Jika aku mengatakannya di saat kalian dalam posisi ketakutan, maka yang akan kalian tangkap dari ucapanku adalah sebuah perintah dan mungkin kalian akan diam diam menghianatiku maupun membunuhku di kala ada kesempatan" Jawab Anma sambil memandang langit yang berwarna oranye.
"Tidak, itu tidak mungkin terjadi tuan. Lagi pula tuan kan memiliki kekuatan dan daya tahan yang luar biasa? Pasti tuan tidak akan mudah untuk di kalahkan " Marista mencoba menghibur di saat saudaranya yang lain berusaha mengatakan sesuatu.
"Ya. Itu benar. Aku memang sangat kuat namun di suatu saat nanti, pasti akan ada seorang yang mengalahkanku." Anma menjawab sambil memandang wajah Catgirl bersaudara yang sedang berjalan di sampingnya.
Melihat wajah mereka menjadi sedih, Anma kembali mencoba menghibur mereka.
"Untuk itu. Di saatnya nanti aku mulai lemah. Aku membutuhkan bantuan kalian. Catgirl Bersaudara yang hebat" Anma tersenyum kepada mereka.
Wajah yang sempat terlihat muram, kini mulai berseri
"Baik tuan. Tolong latih kami sampai kami benar benar cukup kuat dan mampu melindungi tuan sampai saat itu tiba. " Marista membalas perkataan Anma sambil memegang erat tangan kedua saudaranya.
Dalam perjalanan kembali ke rumah kayu, mereka membicarakan banyak hal hingga sampai di depan rumah kayu.
" Selamat datang ayah. " Flora langsung melompat ke arah Anma yang baru saja tiba di depan pintu.
" Iya Flora. Ayah pulang. " Anma menahan tubuh Flora.
"Flora kamu curang " Liah menarik Flora yang sedang memeluk tubuh Anma.
" Tidak, Flora tidak curang. Lagi pula siapa cepat dia dapat. " Flora dan Liah bertengkar di hadapan Anma.
" Sudah, sudah. Kalian berdua tenang lah " Anma berusaha menenangkan mereka berdua.
"Ya ampun, kepala desa tertinggal satu poin nih dari Flora " Gellen meledek Liah.
" Apa kamu bilang..!! " Liah melepaskan Flora dan pergi ke arah Gellen dan mencubit pipinya.
Melihat tingkah laku Liah, Anma dan teman teman demi human tertawa.
" Jadi Flora, apakah binatang buruannya sudah di potong? " Anma bertanya kepada Flora yang sedang memeluknya .
" Iya, ayah. Hasil buruan sedang di potong di belakang oleh Youland, Jian, dan Oni bersaudara " Flora menjawab.
"Kenapa kamu tidak membantu mereka? " Anma bertanya.
"Yah, itu, ano. " Flora mencoba mencari alasan.
" Ya, sudah lah. Ayo kita kesana. Oh, iya. Marin, Marista dan Trista. Tolong bawa ikan ikan kalian ke dapur ya. " Anma mengajak Flora dan Catgirl bersaudara ke arah dapur.
Catgirl bersaudara masuk kedalam dapur terlebih dahulu dan dilanjutkan oleh Anma dan Flora.
" Srekesrekesrek tuk tuk tuk krtrk krtk krtk " Suara suara aneh terdengar dari dapur
"Ya ampun " Anma menepuk dahinya seakan tidak percaya atas apa yang ia lihat.
Ia melihat Oni bersaudara sedang mencoba memecahkan kulit dari semut api sementara Youland dan Jian sedang berusaha memotong motong daging daging beruang dan babi hutan.
" Oh, Tuan Anma. Selamat datang " Youland melambaikan tangannya yang berlumuran darah di ikuti dengan Jian dan Oni bersaudara.
" Ya ampun, apa yang sedang kalian lakukan? " Anma bertanya kepada mereka ber empat.
" Yah, ini. Kami sedang mengerjakan permintaan tuan. " Carmen menggaruk bagian belakang kepalanya dengan tangan yang berlumuran darah.
" Magsud kalian? Apa kalian sedang berusaha memotong hasil buruan itu dengan tangan kosong? " Tanya Anma.
" Haduh " Anma memegangi kepalanya.
" Maaf tuan, sebenarnya kami tidak biasa melakukan hal seperti ini. Lagi pula kami selalu memakan hasil buruan kami secara langsung dan dalam kondisi tertentu kami akan memanggangnya tanpa memotongnya. " Jian mencoba menjelaskan yang terjadi.
" Ya ampun. Pantas saja makanan yang di sajikan kemaren masih terasa sedikit basah di bagian bawahnya. " Anma berkata dalam hatinya.
"Ano, tuan. Apakah tuan marah? " Tanya Youland kepada Anma.
"Akh tidak. Aku tidak marah. Aku hanya sedang merasa tidak enak kepada kalian" Anma menjawab.
" Merasa tidak enak? Apakah tuan akan memakan kami? " Carmen mengatakan sesuatu yang ia pikirkan.
Mendengar hal itu, Catgirl bersaudara yang sedang mencoba membakar ikan kaget dan menjatuhkan ikan ikan itu di atas api yang membara
"Eh? " Anma terkejut
Seluruh area dapur tiba tiba menjadi hening.
"Tidak, Ayah tidak mungkin memakan kalian. Lagi pula, ayah juga bisa memakan buah buahan yang Flora panen " Flora langsung menumbuhkan pohon di dalam ruangan dapur.
" Eh?! " Anma bingung atas situasi yang sedang terjadi.
Pohon yang Flora tunbuhkan bukanlah pohon penghasil buah melainkan sebuah pohon pemakan daging
" Aduh " Flora langsung menutup matanya ketika yang ia tumbuhkan bukanlah pohon yang ia inginkan.
Pohon itu langsung menggigit kepala Anma dan membuat seluruh demi human yang ada di sana langsung berteriak panik dan keluar dari dapur.
"A.....!!!!" Teriak demi human yang ada di dalam dapur dan keluar ke arah ruang makan.
Anak anak demi human yang sedang bermain bersama Juan, Liah dan Gellen terkejut dengan teriakan yang berasal dari dapur.
Ketika mereka melihat ke arah dapur, mereka melihat Jian, Youland, Carmen, Cermen dan Catgirl bersaudara berteriak dengan noda darah yang ada di seluruh tubuh.
Melihat hal itu, Juan, Liah, Gellen dan anak anak demi human terkejut dan kemudian ikut berteriak.
Mereka berteriak sambil berlarian di dalam ruang makan dan membuat seluruh ruangan itu penuh noda darah.
Setelah berteriak dan berlarian, Liah, Gellen dan Juan langsung mengambil posisi siap serang untuk menangkap mereka yang sedang berlarian.
Ketika Liah, Gellen dan Juan sedang berusaha menghentikan Youland, Jian, Oni bersaudara, Catgirl bersaudara, dan anak anak demi human yang berlarian.
Anma sedang terjebak di dalam mulut pohon karnivora.
" Wind cutter " Anma merapal sebuah mantra pisau angin.
* Dbuuuuum!!!! * Pohon karnivora itu meledak.
" Ayah.. Maaf... Maafkan Flora... Flora tidak sengaja melakukan itu " Flora bersujud dihadapan Anma.
" Flora, kembalilah ke ruang makan. Dan tenangkan mereka " Dengan menahan amarah yang ada dalam dirinya, ia mencoba tetap tenang dan kemudian meminta Flora untuk menenangkan situasi di ruang utama.
" Apakah ayah tidak marah? " Flora bertanya kepada Anma.
" Tidak, untuk apa ayah marah kepada Flora? " Anma menjawab. dengan nada kesal.
" Iya, itu. Soalnya kan... " Flora mencoba bertanya kembali kepada Anma.
" Sudah, tidak apa. Pergilah ke ruang makan dan tenagkan mereka yang sedang ribut. " Anma menutup mulut Flora dengan jari telunjuknya dan tersenyum kepada Flora.
" I.. Iya ayah. Akan Flora patuhi perintah ayah " Flora menjawab lalu bangkit dan pergi ke arah ruang makan.
Melihat Flora keluar dari dapur, Anma langsung membalikan tubuhnya ke arah hewan hasil buruan.
Yang ia lihat adalah babi hutan yang belum selesai di kuliti, beruang beruang yang terbelah di bagian perut serta bangkai semut merah yang beberapa cangkangnya telah di hancurkan secara tidak beraturan
" Ya ampun " Anma menepuk kepalanya kembali.
" Yah. Lain kali, aku akan bertanya kepada mereka dahulu sebelum aku memerintah mereka " Anma menggelengkan kepalanya.