Armageddon Maker

Armageddon Maker
Sesuatu yang seharusnya tidak ada dalam system



Anma terkejut atas apa yang di katakan oleh Flora.


"Apakah yang di katakan Flora itu benar Liah? " Anma bertanya kepada Liah.


"Iya. Itu benar. Tepat setelah kami pergi dan membangun sebuah benteng darurat, sebuah ledakan energi sihirpun terjadi. "


" Karena besarnya energi yang di ledakkan, benteng darurat yang kami buat rusak ikut terhempas ledakkan itu. Ledakkan itu juga menyebabkan aku dan teman temanku terlempar cukup jauh hingga masuk kedalam lantai dua dari Dungeon Zean itu" Liah memberikan jawaban atas pertanyaan Anma serta melanjutkan cerita yang sempat terpotong oleh Flora.


" Lalu apa yang terjadi pada kalian di dalam dungeon itu? Dan apa yang terjadi pada Flora? " Anma merasa cemas karena di dalam dungeon itu masih terdapat banyak monster yang berbahaya bagi mereka.


"Untuk Flora, aku tidak terlalu yakin akan pengelihatanku waktu itu. Tapi kami bersyukur bahwa di dalam dungeon itu, kami menemukan seorang dekutu yang hebat dan kuat." Liah menjawab pertanyaan Anma.


Ketika Liah akan melanjutkan, seorang demi human yang asing tiba tiba memberi hormat kepada Anma dan mulai duduk di sampingnya.


"Itu, Anma. Itu adalah sekutu yang kami temukan di dalam dungeon Zean" Liah menunjuk ke arah demi human dengan ras scorpion.


"Ini? Magsudmu " Ini " Sekutu baru kalian? Yang kalian temukan di dalam Dungeon Zean? " Anma terktejut melihat demi human itu.


" Selamat pagi tuan. Apakah tuan sudah merasa baikkan? " Demi human itu menyapa Anma.


"Oh iya. Pagi. Jika di lihat dari bentuk mu, apa mungkin kamu itu " Alpa " ? " Anma bertanya kepada demi human itu.


"Tuanku memang hebat. Anda bisa mengetahui siapa diri saya walaupun sudah berubah bentuk." Alpa menjawab.


"Eh..? Apakah kalian saling mengenal ? " Liah bertanya kepada Anma dan demi human itu.


"Oah!!! Alpa ?! " Anma terkejut


"Dia adalah seorang monster yang sengaja aku ciptakan untuk membasmi monster berbahaya yang ada di dalam dungeon itu. " Anma menjawab pertanyaan Liah.


"Senang melihatmu kembali Alpa. Tapi bentuk ini. Apakah kamu telah berevolusi?" Tanya Anma kepada Alpa.


"Benar Tuan. Saya telah berevolusi" Jawab Alpa singkat.


"Tunggu. Maaf memotong pembicaraan kalian tapi, Anma. Apa magsudmu kamu yang menciptakan " Dia " ? " Liah memotong pembicaraan dan bertanya kepada Anma mengenai Alpa.


"Yah maafkan aku. Sebenarnya aku merasa khawatir jika kalian masuk ke dalam sana tanpa persiapan. Oleh karenanya, dengan tujuan untuk memperkecil resiko kematian kalian di dalam dungeon itu. Maka aku menciptakan " Alpa"".


"Seorang monster ber level 250 untuk membasmi monster lemah. Jikalau sosok Alpa telah di kalahkan oleh se ekor monster, itu berarti ada monster lain yang kekuatannya melebihi kekuatan Alpa."


" Tapi karena saat ini Alpa telah berevolusi maka kemungkinan besar level serta kekuatannya meningkat pesat. " Anma menjelaskan kepada Flora, Liah dan teman temannya serta melirik tanam ke arah Party Gellen untuk sesaat.


"Wah... Ayah memang pengertian sekali kepada kami. Flora sayang ayah" Flora memeluk tangan kiri Anma.


"Jadi begitu. Tapi, jika Alpa di bandingkan dengan Wizp O Wizper yang tempo hari kita lawan itu.... Siapa yang akan menang? " Tanya Liah kepada Anma.


"Tentu saja Alpa yang akan menang." Anma menjawab.


"Apakah itu berarti bahwa Alpa, lebih kuat dari kamu. Anma? " Liah bertanya kepada Anma


Ketika Liah bertanya seperti itu, seluruh teman teman demi human Liah menunjukan ekspresi tidak percaya.


"Sebenarnya aku malu mengakuinya tapi saat itu, aku benar benar dalam kondisi lemah. Terlebih lagi sebelum aku melawan Wizp O Wizper itu, aku harus menguras tenaga ku dahulu untuk menolongmu" Anma mengatakan sebuah kejadian uang telah lalu.


Pandangan teman teman Liah berubah ke karah Liah.


"Iya. Itu benar. Jadi, maaf jika aku sempat salah menilai kekuatanmu Anma" Liah meminta maaf kepada Anma.


" Iya. Itu wajar untuk mu Liah. Lagi pula, Alpa terlihat begitu kuat kan? Terlebih lagi, ia memiliki wajah yang tampan" Jawab Anma yang mencoba memojokkan Liah.


"Ti....tidak. It...itu tidak benar. La...lagipula, ak..aku sudah memutuskan. Bahwa aku hanya mencintaimu!!! " Liah mengungkapkan perasaannya kepada Anma di depan Flora, Alpa serta seluruh teman temannya.


"Eh....? " Liah terkejut dengan apa yang barusan ia katakan.


Liah menundukan kepalanya sambil menutupi wajahnya dengan tangannya.


Anma tertawa dengan apa yang barusan di katakan oleh Liah.


Sementara Alpa, Flora dan teman teman Liah terkejut akan pengakuan itu.


"Itu tadi adalah pengakuan yang luar biasa" Alpa memberikan pujian kepada Liah.


"Tidak di sangka, Kepala desa kita akan mengungkapkan perasaannya di saat seperti ini" Trista berkata kepada saudaranya.


" Iya benar, Kepala desa kita akhirnya mengungkapkan perasaannya." Marista menjelaskan kembali apa yang di katakan Trista.


"Kepala desa memang yang terbaik dalam hal kejujuran" Marin mengacungkan jempolnya kepada Liah.


"Ah... Sudah jangan di lanjutkan. Aku malu" Liah menutup wajahnya.


"Jangan seperti itu Liah. Aku senang akhirnya kamu bsisa mengungkapkan perasaanmu kepada Tuan Anma" Carmen memeluk Liah dari belakang.


"Iya, Kakak memang benar. Seharusnya saat ini kamu merasa lega" Cermen mengelus kepala Liah.


"Sudahlah. Jangan di lanjutkan. Aku malu " Liah menekuk kedua lututnya lalu mendekap lututnya.


" Aku tidak percaya bahwa kepala desa yang keras kepala ini bisa jatuh hati " Gellen meledek Liah dengan sedikit tawa.


" Memang sulit di percaya " Youland tertawa dengan menutup mulutnya.


"Sudah sudah. Jangan seperti itu. Kita hargai keputusan Liah." Anma mencoba menenangkan mereka semua.


" Jadi, Anma. Apa kah kamu.... "Tanya Liah.


" Ya. Bukankah dulu aku pernah mengatakannya kepadamu? " Jawab Anma sambil tersenyum kepada Liah.


"Ano, ayah... Ano.... " Flora mencoba bertanya kepada Anma melalui telepati.


"Flora... Ayah tahu apa yang ingin kamu tanyakan. Lagi pula dulu juga kita pernah mengalami situasi seperti ini dan Flora juga sudah tahu jawabannya kan" Jawab Anma melalui telepati.


Flora yang merasa cemburu akhirnya membatalkan pertanyaan pada Anma.


" Baiklah. Ayok, kita lanjutkan lagi bagaimana kelanjutan kejadian tadi? " Anma mencoba mengalihkan topik pembicaraan disaat Flora terlihat sedih sembari memegangi bagian dadanya.


"Yah. Sejujurnya setelah itu, ledakan ke dua terjadi dan itu membuat kami terhempas dan setelahnya kami tidak ingat hal lain lagi." Jawab Liah kepada Anma.


"Yang lain? Apakah ada yang ingat setelahnya? " Anma bertanya kepada demi human yang ada di sekitarnya


" Maaf tuan. Saya akan melanjutkan cerita tadi. Seperti yang telah Nona Liah katakan pada akhir ceritanya. Nona Liah bertemu dengan saya di lantai dua dungeon ini. "


" Pada awalnya saya mengira bahwa mereka adalah musuh yang harus saya musnahkan. Namun di saat Nona Liah mengarahkan kampaknya kepada saya, saya mendengar bahwa kampak itu meminta pertolongan. " Alpa menjelaskan kejadian yang ia alami.


"Sebentar, Alpa. Kenapa kamu bisa mendengar suara dari kampak milik Liah? " Flora bertanya kepada Alpa.


" Saya juga tidak tahu mengenai hal itu Nona Flora. Suara itu tiba tiba saja masuk kedalam pikiran saya. " Alpa menjawab pertanyaan Flora.


" Flora, Alpa adalah monster ciptaan ayah yang telah berevolusi dan Kampak Darah milik Liah juga ciptaan dari ayah. Kesamaan itu mungkin membuat mereka saling memahami satu sama lain. " Anma menjawab pertanyaan Flora.


" Jadi begitu penjelasannya. Lalu, Flora bagaimana? " Tanya Flora kepada Anma.


" Flora, ayah akan jelaskan nanti. nika Flora memiliki pertanyaan lain, nanti ayah akan jawab." Anma mengusap kepala Flora dengan tangan kirinya karena merasa bahwa Flora sedang bersedih akan suatu hal.


"Baik ayah... Maaf sudah mengganggu ceritanya. " Flora meminta maaf sembari menutupi kesedihannya.


"Silahkan Alpa, Lanjutkan ceritanya" Flora mempersilahkan Alpa untuk bercerita.


"Baik Nona Flora. Akan saya lanjutkan" Alpa berterima kasih kepada Flora.


" Pada awalnya Nona Liah mengajak duel kepada saya. Namun karena kampak tersebut mengatakan bahwa tuan sedang dalam masalah, sayapun mulai melangkah melewati Nona Liah dan teman temannya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. " Alpa melanjutkan cerita yang terpotong.


"Setelah saya sampai di depan goa ini, saya melihat pertempuran antara Tuan dan Nona Flora. "


"Tunggu dulu. Apa magsudmu dengan pertempuran antara aku dan Flora? " Anma bertanya.


" Dari yang saya lihat saat itu, Tuan berada dalam sebuah bola hitam yang melayang dan diantara bola bola itu terdapat sebuah rantai yang mengikat tubuh tuan dari dalam. " Alpa menjawab.


" Lalu apa yang terjadi pada Flora? " Tanya Anma.


"Saat itu, Nona Flora tidak berada dalam bentuk seperti sekarang namun saat itu, Nona Flora terlihat sangat bercahaya. " Alpa menjawab


Semua pandangan tertuju kepada Flora.


"Eh...? " Flora yang semula bersedih, tiba tiba di buat terkejut oleh perkataan Alpa.


"Apakah itu benar Flora? " Tanya Anma kepada Flora.


"Maaf ayah. Flora tidak mengingat apapun. lagipula Flora sangat mencintai ayah... jadi mana munkin Flora menyerang ayah. ." Jawab Flora sembari berharap bahwa Anma memperlakukan Flora seperti saat Liah mengungkapkan perasaannya.


"Lalu apa yang terjadi selanjutnya Alpa? Apakah Flora benar benar menyerang ayah? " Anma mengabaikan harapan Flora.


" itu tidak sepenuhnya benar tuan. Dari pada menyerang tuan, Nona Flora justru terlihat berusaha menyelamatkan Tuan dari sesuatu yang mengikat itu" Jawab Alpa.


" Wah, benarkah begitu? syukurlah kalau begitu. " Flora yang kecewa atas sikap Anma justru bersyukur mendengar apa yang Alpa ceritakan.


"Tapi bagaimana cara Flora menyelamatkan ayah saat itu? " Tanya Anma sembari membuat tubuh Flora berada di dekapannya.


Alpa pun melanjutkan ceritanya


" Saat Nona Flora bercahaya. Nona Flora mengangkat kedua tangannya dan tidak lama setelah itu, seluruh pohon yang ada di dekat Nona Flora terangkat tinggi dan berubah menjadi sebuah sosok manusia pohon dan manusia setengah rusa."


"Manusia manusia pohon itu memegang sebuah senjata berupa cambuk akar sementara manusia setengah rusa itu memegang senjata berupa tombak bercahaya. " Alpa melanjutkan ceritanya.


" Lalu setelahnya, sebuah butiran cahaya mengenai kepala saya dan setelah itu, saya tidak tahu apa yang terjadi lagi. Itu adalah akhir dari semuanya. Dan mengenai apa yang terjadi setelahnya adalah sebuah misteri karena tidak ada dari kami yang bisa mengingatnya. " Alpa menyelesaikan cerita yang tidak menunjukkan akhir dari kejadian tadi pagi.


Anma pun berfikir keras mengenai apa yang terjadi selanjutnya. Ia berfikir tentang suara dari Liah dan Flora yang memanggilnya. Ia juga berfikir mengenai apa yang ia lakukan sebelum ia tertidur.


" hmpfh..... ya sudah lah. aku tidak akan ambil pusing tentang kejadian ini. Lagipun mereka masih selamat dan hanya area hutan ini yang rusak. " pikirnya seakan tidak peduli atas sesuatu yang telah terjadi.


" Baiklah saatnya kita melupakan apa yang telah terjadi dan mulai membersihkan kekacauan ini." Anma berdiri dari duduknya dan langsung mengambil keputusan secara spontan.


"Oh iya, sebelum itu . " Aurora Healling" . " Anma memberikan mantra penyembuhan area kepada seluruh demi human.


"Baik tuan. Saya akan membersihkan kekacauan ini " Alpa menjawab perintah Anma.


" Tidak, Alpa. Kamu tidak perlu membersihkan area ini. Kamu kembalilah ke dalam dungeon dan bereskan monster yang tersisa. Karena itu adalah tugasmu" Anma menjelaskan.


"Baik tuan. Saya akan melakukan apapun perintah tuan." Setelah Alpa menjawab, ia langsung membungkuk dan pergi ke arah Dungeon Zean.


"Lalu Tuan Anma, apakah kami harus membersihkan area ini bersama? " Tanya Gellen setelah Alpa pergi.


"Iya, itu ide yang bagus. Oh iya, aku benar benar minta maaf kepada kalian. Karena telah membuat kekacauan ini" Anma menjawab pertanyaan Gellen.


"Iya tuan. Tidak perlu meminta maaf seperti itu. Kami justru bersyukur karena tuan masih memberikan kesempatan kepada kami untuk terus hidup bersama " Kata Gellen sambil membungkukkan tubuhnya.


"Iya. Maaf juga tentang yang kemarin. Aku berjanji kepada kalian bahwa aku akan memberikan sesuatu yang lebih baik dari yang aku ambil dari kalian. " Anma mengubah sebuah keputusan yang dulu pernah ia buat.


"Jika itu tuan berkata seperti itu, maka kami akan sangat berterima kasih tuan. " Jawab Gellen dengan senyuman.