Armageddon Maker

Armageddon Maker
Pahlawan yang tidak pantas di sebut pahlawan



Setelah sampai di kamarnya yang baru, Anma kembali membuka papan status miliknya untuk mengingat kembali skill dan sihir miliknya.


*Klik klik klik klik * Ia menekan berbagai icon dalam papan status itu.


"STA, STR, CHA, DEX, FER, dan WIL masih dalam kondisi maksimal." Anma bergumam pada dirinya sendiri.


"Selain itu, Magic dan Skill juga masih dalam level maksimal." Anma melihat rincian dari profil miliknya.


"Dan untuk titel sepertinya masih sama ". Anma memandangi titel yang ia miliki dan menggesernya untuk melihat lebil lanjut.


" Lebih keras dari obsidian, tangan ajaib, penjagal, ketua pemburu, pelatihan lanjutan, ahli strategi, tanpa ampun...... " Anma membaca seluruh titel yang ia miliki.


Setelah melihat seluruh isi dari papan status miliknya, ia melanjutkan ke item box yang miliki.


* klik * Ia membuka jendela item box.


" Item box juga masih sama seperti sebelumnya." Mengamati isi dari item box nya.


" Bibit Rumput Pemangsa, Buah Mahkota Iblis, Rune suci, toples kaca, daging monster, air ekstraksi, garam pengasinan, potongan daging, tumpukan tulang, lemak punggung....." Anma menekan setiap item yang ia dapatkan beberapa hari sebelumnya.


" Yosh... Sepertinya sudah tidak ada lagi yang perlu aku priksa." Ia mulai merenggangkan tangannya dan menutup jendela item box dan papan status miliknya.


......................


Ketika ia mulai termennung dalam lamunannya sembari berfikir mengenai hal yang telah terjadi , ia baru menyadari bahwa muncul beberapa titik merah pada peta dan terus bergerak ke arah rumah kayu.


"Klik..... Sressseet...." Anma memperbesar zona dalam peta agar ia tahu apakah musuh yang mengincar rumah kayu adalah individu ataupun kelompok.


"Wah, gawat.... Ini... Ini... Ini bahaya" Ia terkejut setelah memperbesar zona dari peta.


Yang ia lihat di peta itu adalah segerombol titik merah yang bergerak secara acak tidak jauh dari beberapa titik merah yang mendekat ke arahnya. Setelah mengamati titik titik itu untuk sesaat, Anma bangkit dari tidur dan langsung bergerak cepat meninggalkan rumah kayu menggunakan kekuatannya.


"Aktifasi Skill, membuka kekuatan diri, Langkah cepat tingkat menengah, "Wind Steps"." Anma mengaktifkan skill kecepatan miliknya agar ia dapat bergerak cepat layaknya hembusan angin.


Setelah keluar dari rumah kayu, Anma langsung mengubah kecepatan larinya ke tingkat yang lebih tinggi dan berlari ke arah titik titik merah tadi.


Tidak berselang lama, ia menyadari bahwa dirinya belum bersatu kembali dengan Flora.


"Flora, kembalilah ke wujud Tangan Alam.... Ayah membutuhkan bantuanmu" Anma memanggil Flora melalui telepati.


" Baik ayah, Flora datang.... " Flora menjawab.


Tidak lama setelah Flora menjawab, sebuah bola cahaya yang merupakan wujud lain dari Flora, melesat cepat di samping Anma yang sedang berlari di dalam hutan


"Ayah, kenapa ayah terlihat terburu buru? " Flora bertanya melalui telepati.


" Ayah melihat beberapa musuh sedang mendekat ke arah rumah kayu. " Anma menjawab sambil mengusap tangan alam yang baru menyatu.


" Tapi kenapa ayah bergerak sendirian? Bukankah lebih bagus jika Liah dan teman temannya ikut membantu? " Flora bertanya kepada Anma tentang alasannya bergerak sendirian.


" Entahlah Flora, untuk saat ini ayah merasa bahwa mereka adalah beban. " Anma menjawab


"Hiyap..... Hmph..... " Anma berlari dengan cepat dan berusaha menghindari berbagai macam penghalang yang ada dalam hutan itu


" Kenapa bisa begitu ayah? Bukankah mereka kuat? " Flora kembali bertanya.


" Flora. Mereka memang kuat. Namun untuk saat ini, kekuatan mereka belumlah cukup. Terlebih lagi pada kecepatan serangan dan ketahanan serangan mereka saat ini" Jelas Anma kepada Flora.


"Dumg......... Swugh..... " Anma menghentakkan kakinya dan melompat dari sisi tebing tempatnya berasal ke sisi lain tebing tempat dimana musuh sedang bergerak.


" Jadi begitu alasannya..... Pantas saja ayah menyuruh mereka untuk berlatih tanding. " Flora akhirnya mengetahui alasan Anma menunda perjalanan mereka untuk masuk kedalam dungeon.


......................


Ketika ia melihat peta di papan statusnya, titik titik merah tadi sudah berada di dekatnya. Dan setelah memastikan keberadaan titik merah tadi, ia langsung mengamati area sekitarnya serta mencari wujud nyata dari titik titik merah yang ada di petanya.


Tidak perlu waktu lama untuk mengamati area sekitar yang pada akhirnya ia menemukan apa yang ia cari.


" Winds cutter" Wanita itu merapalkan mantra serangan kepada carberus yang mengejarnya.


Tidak lama setelah wanita itu melakukan serangan kepada carberus, tubuh wanita itu mulai terlihat sempoyongan dan pada akhirnya ia terjatuh tidak jauh dari para carberus yang mengejarnya.


"Siapa saja...... Kumohon.... Tolong..... Tolong aku...... " Wanita itu berteriak mencari pertolongan setelah tongkatnya terlempar cukup jauh ketika mencoba menahan serangan beberapa carberus


Melihat perempuan itu di ambang kematian, Anma yang mengamati kejadian itu akhirnya datang untuk menolongnya.


* Splash........... Gaaabrum..... !! * Anma melesat ke tempat wanita itu dan langsung mengentakkan kakinya untuk memberikan doge dammage agar terbentuk sebuah jarak yang cukup untuk memisahkan carberus dengan perempuan itu.


"Gerrrrrr...........ragh....... !!" Carberus itu mengeluarkan erangannya untuk mengintimidasi.


Anma mengabaikan para carberus itu dan melihat perempuan itu untuk melihat kondisinya sesaat.


Ketika salah satu carberus mulai menyerang dirinya dari arah belakang, ia langsung mengeluarkan serangannya secara spontan.


"Cra................k........!! " Anma menyerang dengan suara erangan sihir "Mandrake cry".


Kedua carberus yang mengejar wanita tadi langsung terhempas akibat dari gelombang sonic dengan sebuah efek intimidasi dan tidak kembali bergerak.


Setelah Anma memastikan pada petanya, titik merah yang semula ada di dekatnya telah menghilang.


Ketika ia berbalik untuk melihat wanita yang hampir mati tadi, ia justru terkejut karena wanita itu mengalami efek kegilaan.


" plak! *Anma menepuk dahinya sendiri.


"Ya ampun... Seharusnya aku lebih mengerti situasi tadi" Anma bergumam pada dirinya sendiri dan setelahnya mendekati wanita itu.


" Hiya.... Hiya.... Kakakakak.... Heheh... A.... " Wanita itu kehilangan akal sehatnya.


" Hm.... Mantra..... Mantra.... Mantra apa yah yang bisa menyembuhkan kegilaan pada seorang yah........ Em....." Anma membuka papan statusnya sambil mengingat ingat sebuah mantra penyembuhan jiwa.


"Akh.... Iya benar, mantra itu.... " Anma mengingat sebuah mantra penyembuhan.


Ia menempelkan tangannya ke dahi wanita itu dan setelahnya ia mulai merapalkan mantra penyembuhan jiwa.


Tidak lama setelah mantra itu di rapalkan, wanita itu tersadar dari kegilaannya dan akal sehatnya pun mulai kembali.


"Akh.... Ano.... Siapa kamu..... dan.... dan dimana carberus yang menyerang ku tadi....? " Wanita itu memegangi kepalanya sambil menunjukkan ekspersi takut sekaligus kebingungan ketika melihat Anma.


" Hey.... Tenanglah.... Aku hanya seorang petualang yang kebetulan lewat. Dan untuk carberus yang kamu tanyakan, mereka ada di sana" Anma menjawab pertanyaan dari wanita tadi sambil menunjuk ke arah tubuh yang sudah tidak bernyawa.


" Syukurlah jika merka sudah di kalahkan.. " Wanita itu merasa lega setelah melihat kedua tubuh carberus itu.


Setelah melihat tubuh yang tidak bernyawa itu, ia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Anma.


"Wa........ " Wanita itu menjerit kembali disaat ia melihat bagian bawah dari Anma.


"Eh? Kenapa kamu menjerit lagi? Bukankah seharusnya kamu menjelaskan apa yang barusan terjadi " Anma bertanya kepada wanita tadi.


" Apa benar kamu ini petualang? Aku.... Aku tidak percaya.... Mana ada seorang petualang yang bertualang hanya memakai kain lusuh yang hanya menutupi sebagian tubuhnya saja" Wanita itu menutupi matanya sambil meninggikan suaranya.


" Hey...... Yah, maaf saja. Lagipula aku juga tidak mau menerima kain lusuh ini... Tapi karna aku tidak punya apapun, mau tidak mau aku harus mengenakannya. " Anma menjelaskan situasinya pada wanita tadi.


"Yah, maaf mengenai hal itu.... Mungkin kamu mengalami nasib yang buruk yah...... Maaf...." Wanita tadi tertunduk karena asal bicara.


" Ah... Sudah lah.... Tidak usah di pikirkan. Aku kemari untuk menolongmu..... Jadi apakah kamu bisa menjelaskan apa yang telah terjadi " Anma bertanya.


"Yah... Ano... Sebenarnya, desaku sedang di serang oleh sekumpulan monster" Wanita itu langsung menceritakan apa yang terjadi.


"Pada mulanya di desanya sedang mengadakan sebuah festival akhir tahun. Namun.... Ketika kami sedang menikmati festival tadi, sebuah ledakan energi negatif menjulang tinggi di langit bagian barat dan itu menyebabkan monster monster yang ada di dalam hutan tiba tiba turun ke desa kami dan mulai mengamuk... " Wanita itu menceritakan apa yang terjadi.


"Apa mungkin itu karna ledakkan kekuatanku? " Anma bergumam sendiri.


" Hey, sudah cukup sampai di situ dulu. Secara garis besar, aku sudah tahu sebabnya. Oleh karna itu, kamu harus menceritakan lebih lanjut di perjalanan menuju desamu"