
"Li...Liah? " Anma memanggil Liah yang terbaring lemah di lantai.
"Tu.... tuan..? Akh....akh....akhirnya tuan datang kembali" Liah menjawab sambil mencoba untuk tetap tersadar.
" Maaf ya, tuan. Ak... aku masih lemah seperti saat itu. " Ucap Liah sembari berusaha mengusap wajah Anma dengan kesadarannya yang tersisa.
" Ya. Kamu memang lemah. Namun kamu sudah sedikit lebih kuat dari sebelumnya. " Anma mengusap luka luka dari tubuh Liah sembari memperhatikan wajahnya.
" Hekh..... Hekh.... Hekh..... " Liah menangis di saat Anma mulai mengobati luka lukanya.
" Sudahlah...... tak apa..... sekarang semua sudah berakhir. kamu sudah dapat hidup dengan damai mulai sekarang " Anma tersenyum ke arah Liah yang menangis.
" Tu.... tuan.... Terima kasih karena tuan selalu berbuat baik kepadaku. " Liah berterima kasih sembari mencoba memegang wajah Anma dengan tangan yang penuh luka.
" Iya... iya..... untuk saat ini kamu beristirahatlah dulu ya " Anma memegang tangan Liah yang semula ingin menyentuh wajahnya sembari merapal sebuah mantra tidur.
" Tapi jika aku beristirahat...... tuan akan kembali menghilang dan pada akhirnya aku hanya sendirian... " jawab Liah sebelum terkena mantra tidur.
" Aku tidak ingin itu terjadi...... aku ingin bersama tuan untuk waktu yang la..... " Liah mulai kehilangan kesadarannya sebelum ia menyampaikan keinginan terdalamnya.
" Maafkan aku, yah Liah." Anma mengusap wajah Liah yang tertutup oleh rambutnya sendiri.
Melihat Liah yang sudah tertidur dengan lelap, Anma pun mulai mengobati luka luka yang cukup mengerikan dari ujung kepala hingga ujung kakinya.
......................
* Hmph.... * Anma menghela nafas karena portal yang ia nanti tak kunjung terbuka.
" Ya ampun.... apakah aku membuat kesalahan tadi? sampai sampai portal masa kini tidak kunjung terbuka. " Anma menatap ke arah pintu masuk rumah liah yang seharusnya itu adalah portal yang membawanya pergi.
* Hmph..... * Anma kembali menghela nafasnya sembari memandangi seluruh isi dari ruangan tempatnya berada.
" Ayolah.... ayolah.... ayolah.... " Anma merasa kesal karena portal tak kunjung terbuka.
Sembari mengintrospeksi dirinya mengenai apa yang telah ia lakukan, akhirnya ia menemukan sesuatu yang janggal.
" Sebentar..... " Anma mencar cari sesuatu untuk membuktikan apa yang ia pikirkan.
" Tidak ada.... tidak ada.... tidak ada.... " Anma mencari sesuatu di seluruh penjuru ruangan itu
" Ya ampun.... pantas saja portal tak kunjung terbuka. " Anma yang semula kesal akhirnya tertawa sendiri akibat ulahnya.
" Seharusnya Liah yang aku kenal memiliki sebuah senjata kampak yang selalu di bawanya. " Anma menepukkan kedua tangannya
" Yosh... jika begitu akan aku buatkan kampak sepesial untuk melindungimu dari segala macan bahaya yang menerpa " Gumam Anma sembari melihat ke arah tubuh Liah.
Merasa bahwa di dalam rumah itu tidak ada sesuatu yang memungkinkan untuk membuat sesuatu itu, Anma pun berkeliling kota tempat Liah remaja cukup lama, hingga menemukan sebuah bahan dasar dari sesuatu itu berupa parkmen sihir berkualitas di sebuah toko yang nampak sepi.
Tanpa adanya iblis maupun sesuatu yang berlalulalang, Anma pun mengaktifkan item box miliknya untuk mengambil sebuah parkmen sihir yang terlihat berkualitas itu dari tempatnya semula.
Tidak jauh dari tempatnya menemukan parkmen tadi, Anma pun menemukan sebuah toko penjual senjata. Mengingat bahwa Liah yang Anma kenal membawa kampak, Anma pun langsung melakukan hal yang sama sepeti sebelumnya dan mengambil kampak itu menggunakan item box miliknya lalu pergi meninggalkan toko itu.
Merasa semua bahannya terkumpul, Anma pun mulai melakukan sesuatu terhadap tubuh Liah yang sedang terkapar di lantai.
" Maafkan aku, yah Liah. " Anma berbicara kepada Liah. Anma mengangkat salah satu telapak tangannya sembari meminta maaf.
Setelah meminta maaf kepada Liah Remaja, Anma pun menggigit salah satu jarinya hingga berdarah dan di alirkannya ke atas sebuah parkmen sihir tadi. Stelah merasa cukup, Anma menyembuhkan kembali luka tadi dengan sihir healing.
Sebuah genangan darah milik Liah ada di atas sebuah parkmen sihir berkualitas. Anma lalu mengeluarkan kampak raksaksa berwarna hitam dan di taruhnya di samping parkmen sihir itu.
Setelah kedua benda itu sudah berdekatan, Anma mulai menggigit ibu jarinya sampai mengeluarkan darah. Setelah darahnya mengalir, Anma lalu menggambar sebuah lingkaran sihir di lantai rumah Liah menggunakan darahnya yang di campurkan dengan darah milik Liah.
Sebuah lingkaran pentagon berwarna hijau mulai muncul di atas lingkaran darah tadi. Setelah lingkaran hijau itu muncul, Anma mengeluarkan sebuah "Dark Rune" yang berasal dari tubuh Ayah Liah untuk di satukan dengan Kampak hitam tadi.
"Dengan sebuah kuasa atas unsur penciptaan senjata, aku memerintahkan kepadamu satukanlah darah yang ku sajikan ini dengan kampak hitam ini. Lalu tempalah menggunakan Rune kegelapan ini, agar si pemilik kampak darah ini selalu terikat dengan kampaknya dan kampak ini selalu melindungi pemilik kampak serta pembuatnya. Crafting dark item. Axe of darkness. " Anma merapalkan kalimatnya sesuai ingatannya sesuai kata kata yang berada di buku penciptaan.
Lingkaran pentagon itu berputar dan perlahan mulai meleburkam dark rune dan menyatukannya kedalam darah milk Liah yang muali terbang mengitari kampak besi itu.
Tidak lama setelah kampak itu menghisap habis darah milik Liah yang di sajiakan di atas mangkuk tadi, secara perlahan kampak itu mulai bersinar dan berubah bentuk menjadi sebuah kampak yang lebih besar dengan ujung ujungnya berwarna merah darah.
" Sesuai dengan bentuknya, aku namai Khandara. sebuah nama yang aku ambil dari kata kampak dan darah. Hehehe...." Anma memandangi intelegence sword berupa kampak darah.
"Seharusnya ini magic item kelas "Rere" jika di dunia game. Tapi kalau di sini? Aku nggak tahu tolak ukurnya juga... jadi..... hembuh lah. Yang penting sekarang Liah sudah punya penjaga" Anma tersenyum puas ketika kampak itu telah selesai di identifikasi menggunakan pengetahuannya sendiri
Anma menaruh kampak itu di samping Liah yang masih belum sadarkan diri.
" Untuk Liah. Setidaknya aku mengingatmu dengan nama itu. Maaf karena tidak bisa menunggumu hingga kamu tersadar. Oleh karnanya, aku menuliskan surat ini untukmu. Supaya kamu tahu, bahwa aku memenuhi janjiku ketika kita berpisah dulu."
" Liah, maafkan aku karna tidak datang lebih cepat dan menolongmu hingga membuatmu seperti ini. Oleh karnanya untuk mencegah hal seperti ini kembali terjadi, aku memberikan kampak ini sebagai hadiah untuk melindungi dirimu. "
" Walaupun kamu berada jauh dari kampak ini dan kamu dalam keadaan terancam, kampak ini akan langsung menghampirimu dan menghancurkan semua yang ia bisa hancurkan. Liah, jadilah lebih kuat dari sekarang dan mungkin di saat itu kita bisa bertemuku kembali. " tulisnya dalam parkmen sihir yang semula di gunakan untuk menampung genangan darah.
Setelah menuliskan surat itu, benar saja portal masa kini mulai terbuka.
" Akhirnya...... " Anma yang semula sempat di buat panik atas kejadian yang menimpanya akhirnya hanya tertawa melihat portal itu terbuka.
" Ne.... Liah... sampai jumpa lagi ya. Aku harap kamu menjadi lebih kuat dan memenuhi harapanku. " kata Anma sebelum melangkah pergi dari serpihan masa lalu itu dan kembali ke ruang ingatan dari Liah.