Armageddon Maker

Armageddon Maker
Kebenaran dari sosok berlengan satu



"Anma... Anma... Anma... " Liah mencoba membangunkan Anma yang sedang tertidur di samping Flora.


"Ah... Em? apa? " Anma mencoba membuka kedua matanya.


Setelah beberapa kali berkedip, pengelihatannya mulai kembali.


"Oh.. Owahhm... Liah, sudah merasa baikan? " Anma menjawab sambil menguap dan menggaruk kepalanya.


"I... Iyah... " Liah mengangguk sambil mendekatkan diri ke tubuh Anma.


"Ano, Anma.... Ak..aku ingin me...memastikan satu hal" Liah bertanya kepada anma dengan ragu ragu.


"Iya..... Huwa.....hm.... apa ? Apa yang ingin kau tanyakan." Anma merenggangkan tubuhnya.


"An...ano apakah kamu.... kamu bisa membaca tulisan ini? " Liah menunjukkan sebuah parkmen sihir yang sangat lusuh kepada Anma.


"Hem? Sebentar.... Oh.... Ini... Hemm... Iya.... Ini.... Lalu... Hem.... Hem... Ini adalah sebuah pesan yang dulu aku tulis ketika aku selesai membuat kampakmu dulu" Anma membaca tulisan dari parkmen itu dengan teliti dan menyimpulkan apa yang telah ia baca.


"Eh....?! Are......! " Liah terkejut pada kesimpulan Anma dan mulai menatap anma dengan tatapan terharu.


"Eh... Yah, itu. Ano..... " Anma terlihat bingung ketika ia akan menjelaskannya kepada Liah.


"Anma... ja...jadi, ka....kamu....kamu ad...adalah " Tuan berlengan satu"." Liah mulai menangis sambil memukul mukul tubuh Anma dengan keras.


"Hehehe, maaf ya Liah. Di waktu waktu itu, aku... aku tidak bisa mengatakan siapa namaku" Anma menjawab dan mengusap kepala Liah seperti saat Liah menangis si waktu kecil.


"Kenapa... kenapa.... kamu tidak bersamaku di waktu itu lebih lama? " Liah terus memukul tubuh Anma sambil menangis.


"Maaf...maaf. Jika saat itu aku memberi tahumu, mungkin saat ini kita tidak bisa bertemu." Anma menjawab sambil menggeserkan kepala Flora yang sedang terseder ke tubuhnya.


"Pa...pantas saja, waktu itu. Kampak ini seolah tertarik akan sesuatu." Liah menyatakan sebuah peristiwa.


Anma hanya melihat Liah sambil mencoba mengerti magsud dari waktu itu.


"Saat aku baru tersadar, kampak ini terus menarik tubuhku jauh kedalam hutan. Tanpa aku tahu apa yang terjadi, kampak ini tiba tiba menghadang sebuah tombak besar dan menghemoaskannya ke langit. " Liah menjelaskan.


"Oh, yang itu. Memang sudah seharusnya. Kampak ini menolong pemiliknya. tapi mengenai tarikan itu, aku tidak menulisnya dalam kontrak" Anma tersenyum.


"Sudahlah, lupakan saja. Itupun sudah sangat dulu ketika kamu masih hidup bersama ayahmu." Anma mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Jika saat itu, memang sudah sangat lama" Liah mengiyakan.


"Kalau begitu, berarti di saat bertarung dengan Wizp O Wizper. Kampak itu juga menarikmu kembali ya? " Anma bertanya kepada Liah.


Liah hanya menganggukan kedua kepalanya.


"Jika itu benar, maka maaf yah Liah. Telah menyeretmu kedalam medan pertempuran" Anma tersenyum ke arah Liah.


Liah hanya bisa meneteskan air matanya di samping tubuh Anma.


"Em...?! Liah? Liah sudah sembuh? " Flora terbangun karna tetesan dari air mata Liah.


Melihat Flora yang terbangun, Liah berusaha menghapus air matanya.


"Ayah, Liah kenapa ? " Flora bertanya karna merasa bingung melihat Liah yang sedang mencoba menyembunyikan kesedihannya.


"Liah cuma merasa terlalu senang. Ketika ia bisa mengingat tentang sesuatu yang baik di masa lalunya" Anma mengusap rambut Flora yang terbangun dan mencoba merapikannya.


"Jadi seperti itu. Ayah, Flora bisa kembali sekarang. Maaf jika tadi Flora bersikap egois ya ayah" Tanpa mendengar jawaban Anma, Flora pun kembali ke bentuk tangan alam seperti semula.


"Jadi, Liah. Apakah ada sesuatu hal lain yang ingin kamu katakan? " Tanya Anma sambil memandangi tangan alam dari tubuh Flora.


Liah menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu, Liah. Bolehkah aku menanyakan sesuatu? " Anma mulai mendekat ke tubuh Liah yang ada di sampingnya.


Liah mencoba menjauhi tubuh Anma yang mendekat.


"Lilitiah? bukankah ada sebuah desa yang menunggu kamu untuk kembali?" Anma memanggil nama asli Liah.


Mendengar kalimat itu Liah pun mendekat kembali ke Anma.