
Riz pun mulai menjelaskan apa yang telah terjadi sepuluh tahun lalu di saat setelah Anma pergi menolong desanya.
" Nama asli ku adalah Raizazna Vi Trayl yang berasal dari nama ayahku yaitu Trayl III Raizan dan nama ibuku Zanand " Riz mulai menceritakan dirinya.
" Maaf, Riz... Bisakah kamu langsung jelaskan saja kejadian yang menimpamu setelah aku pergi. " Anma memotong pembicaraan.
" Tapi... Itu kan penting " Riz membela dirinya.
" Ya... Aku tahu alur bicaramu itu. Nanti kamu pasti akan menjelaskan bahwa kamu adalah penerus ke empat dari Desa Trayl kan? " Anma menyerang dengan argumennya.
" Kenapa kamu bisa tahu? Padahal kan ini baru pertama kalinya aku mengenalkan diriku secara langsung kepadamu... Yah walaupun dulu kamu sempat mengabaikanku... " Riz menunjukkan ekspresi cemberut.
" Hehehehe..... Jangan marah Riz. Penjelasan mengenai nama mu itu hampir mirip seperti halnya nama Liah. " Anma mencoba mengembalikan keceriaan dari Riz agar mau melanjutkan ceritanya.
" Liah? Magsudmu demi human ini? " Riz bertanya.
" Iya... Jangan menyamakan mereka dengan wujud yang sedang kamu pikirkan Riz. Walaupun ia adalah demi human.... tapi dia selalu mencoba untuk berdamak dengan manusia di tengah para monster yang kejam hingga ia memutuskan untuk menemui manusia secara langsung dan mencoba membaur. tapi sayangnya, ia justru di tipu oleh manusia itu dan membuatnya hampir tewas dalam hutan. " Anma menjelaskan perjuangan masa lalu dari Liah dengan sedikit bumbu kebohongan.
Merasa bersalah karna sempat menganggapnya sangat buruk, Riz pun mulai meminta maaf kepada Anma dan melompati ceritanya sampai ke sebuah kejadian yang menimpa nya setelah di tolong oleh Anma.
" Tepat pada tahun ke lima setelah Desa Trayl di selamatkan, ada seorang petualang yang tiba tiba datang dan mengaku dirinya sebagai dirimu . Ia memakai mantel sihir yang mirip denganku serta membuat sebuah tato akar tumbuhan agar mirip dengan mu. " Riz menceritakan keadaannya lima tahun lalu.
" Tunggu sebentar... Kenapa dia bisa sampai seperti itu? Lalu apa yang terjadi? " Anma merasa marah namun juga ia mereasa penasaran
" Mungkin karna rumor yang beredar dari para pedagang dan petualangan yang sesekali datang ke desa kami untuk menjual dan membeli item item berharga. Dan untuk yang terjadi setelahnya, sepertinya ia menggunakan sihir hipnotis kepada warga Desa Trayl agar mempercayai nya. " Riz menjelaskan.
" Tapi kenapa kamu menyimpulkan hal seperti itu? " Anma bertanya
" Ya itu karna aku sangat yakin bahwa di itu bukan kamu! Lagi pula kan disaat sebelum kita berpisah dulu, kamu sempat mengatakan bahwa kamu akan mengembalikan mantel sihir yang kamu pakai jika kamu sudah memiliki pakaian yang layak!! Tapi setelah aku bertemu dengan orang yang mirip denganmu malah dia menggodaku. " Riz kesal.
" Hahaha.... Wajar saja jika dia seperti itu. Lagi pula kamu kan memiliki wajah cantik, rambut pirang dan memiliki tubuh yang sempurna " Anma memuji Riz untuk membuatnya lebih tenang.
" Benarkah begitu.... " Riz tersipu malu.
" Lalu kenapa kamu tahu jika orang itu menggunakan sebuah mantra hipnotis? " Anma bertanya
" Entahlah Anma. Aku pun tidak yakin atas kesimpulanku sendiri. Tapi....i tidak lama setelah orang itu berjalan masuk ke dalam desa muncul sebuah kabut aneh berwarna putih ke merahan dan sehari setelahnya, orang orang di desaku mulai memujanya " Karna kesal mengingat hal itu, Riz menghantamkan pukulannya ke tanah.
" Kabur putih ke merahan....? Sepertinya tidak ada sesuatu yang seperti itu di dalam game versi terdahulu sampai versi terakhir ini.... Apa mungkin dunia ini bukan dunia game yang aku kenal? " Anma berfikir sendiri ketika Riz menjelaskan kekesalannya terhadap Anma palsu.
" Lalu setelahnya, aku bertemu dengan Gabs. Yang merupakan anak dari Gabs Gabs Market. " Riz masih menjelaskan.
" Apa hubunganmu, Gabs dan Matket apa lah itu... " Anma kembali tersadar dari lamunannya dan langsung bertanya hal yang membuatnya penasaran.
" Menurut cerita dari Gabs sendiri, Gabs Gabs Market adalah sebuah tempat yang menjual berbagai macam barang dari pasar gelap dan terkadang mereka juga menjual berbagai macam ras iblis dan ras setengah iblis. "
" O...... Pantas saja tubuh mereka penuh dengan luka memar di sekujur tubuhnya " Anma berkata lirih sambil melihat ke arah anak anak demi human yang ia selamatkan dari karafan.
" Apa kamu mengatakan sesuatu Anma? " Riz bertanya.
" Ah... Tidak.. Lanjutkan saja penjelasanmu.. " Anma menjawab.
"..... Sebenarnya aku tidak menyukai keberadaan Gabs karna kepribadiannya yang sombong dan arogan. Tapi Gabs adalah satu satunya orang yang memiliki informasi lebih banyak mengenai Desa Trayl daripada anak anak lain yang mengikuti pelatihan perajurit di Kota Denos. " Riz kembali menjelaskan.
" Maaf Riz, Jika tidak salah Kota Denos itu merupakan salah satu bagian dari Kerajaan Dominic? " Tanya Anma.
" Wah... Kamu hebat juga Anma. Bisa mengetahui hal seperti itu. Selain dari Kota Denos, ada juga Kota Angst yang merupakan Kota Ilmu , Kota Roxy atau kota petualang, Kota Sca kotanya para penyihir, dan sekitar Empat Kota penyangga lainnya yang berada di perbatasan antara wilayah manusia dan wilayah para monster. " Riz menjelaskan.
" Tentang itu juga aku sudah tahu Riz. Tidak perlu menjelaskannya. Dan mengenai empat kota penyangga itu bernama Kota Dexra atau kota pertahanan, Kota Zelera atau kota penyerang, serta Kota Sellleroz dan Kota Buzy yang merupakan kota penyaluran. Ke empat kota penyangga ini memiliki peran penting dalam setiap kali perang tahunan antara ras manusia dan ras iblis. " Anma menambahkan penjelasan dari Riz.
" Kenapa kamu bisa tahu mengenai hal itu? Padahal aku yang sudah lama hidup di negri ini tidak tahu mengenai ke rahasiaan dari ke empat kota itu. " Riz heran atas pengetahuan Anma.
"Ah... Sudah lah... Jangan di bahas lagi... Silahkan lanjutkan penjelasanmu. " Anma menutup topik mengenai biografi Kerajaan Dominic.
" Akh.... Kepalaku..... " Liah kembali tersadar dan mengubah posisinya dari berbaring ke posisi duduk.
" Syukurlah Liah.. Kamu kembali sadar. Lain kali, jangan memaksakan diri ya... " Anma mengusap kepala Liah yang baru tersadar.
" Yos... Yos.... Sekali lagi Terima kasih karna kamu sudah membantu Riz. " Anma mengusap wajah Liah.
" Nah sekarang tolong bantu Flora mengurus anak anak demi human ya, Liah. Karna aku masih ada urusan dengan Riz. Dan jangan lupa untuk mengajari Flora mengenai hal hal belum ia ketahui." Anma meminta Liah untuk membantu Flora.
" Baik Anma " Liah bangkit dari duduknya dan pergi ke arah Flora dan sesekali ia melihat Riz dengan kesal.
" Anma.... Apakah dia marah kepada ku? " Riz bertanya.
" Mungkin saja seperti itu, lagi pula siapa juga yang tidak akan marah jika seorang yang sedang dalam kondisi senang dan bahagia tiba tiba di serang secara brutal dan mengambil beberapa temannya untuk di jual. " Anma menyindir pasukan Riz.
" Em... Itu.... "Riz menundukkan kepalanya dan berusaha membela diri.
" Yosh.... Sepertinya cukup sampai di sini cerita dan penjelasanmu. " Anma menepuk pundak Riz dan kemudian berdiri.
" Kenapa seperti itu..?" Riz bertanya sambil melihat ke arah Anma.
" Karna aku akan menyembuhkan prajuritmu " Anma menjawab.
" Kenapa tidak dari tadi? " Riz kesal.
" Apakah ku tadi tidak melihat bahwa sejak tadi aku mencoba mengembalikan mana milik Liah? " Anma membalas dengan nada bicara yang lebih tinggi dari Riz.
" Bukankah ia hanya demi human? Jadi kenapa dari tadi kamu tidak biarkan saja dia tidur pulas di sini " Riz membela diri
" Riz.. Jaga sopan santunmu..! Memang benar dia demi human tapi aku tidak ingin membuatnya kembali mengingat masa lalunya yang kelam! Untuk itu jangan asal menyimpulkan atas hal yang tidak kamu ketahui " Anma menarik kembali baju besi Riz dan memarahinya.
" Maaf...." Riz mulai tertunduk karna merasa bersalah.
" Yosh.. " Anma melepaskan Riz dan setelahnya ia membatalkan mantra wall of ston.
Riz terlihat sangat ketakutan setelah melihat amarah Anma dari dekat.
" Healling " Anma memberikan mantra penyembuhan kepada pasukan Riz.
" Ya ampun, ka....kamu.... kamu menyembuhkan mereka dengan secepat itu? Seharusnya ada beberapa tahap yang harus dilakukan ketika menyembuhkan mereka " Riz yang semula diam ketakutan kini kembali bicara.
" Ya ampun Riz. Apakah ini benar kamu. Bukankah dulu aku menyelamatkan warga desamu menggunakan sihir yang sama? " Anma merasa ada hal aneh terhadap perilaku Riz.
" Yah... Itu... Ano.... " Riz mencoba menjelaskan.
" Apakah kamu bukan Riz? " Anma menatap tajam ke arah Riz.
Untuk sesaat Anma melihat sesuatu sempat berkilau di mata Riz.
" Tentu saja ini aku!!! " Riz menjawab dengan nada tinggi.
" Syukur lah jika begitu " Anma mengusap kepala Riz.
" Siapapun dan dimanapun kamu berada, jika kamu mencari masalah denganku, maka kematian yang akan datang menghampirimu " Anma membisikan peringatan ke telinga Riz
Setelah Anma membisikan kata kata itu, sebuah bola cahaya berukuran kecil berwarna merah keluar dari kepala Riz.
" Eater " Anma langsung menyimpan bola merah itu kedalam item box miliknya.
" Ano.... Anma.... Apakah kamu mengatakan sesuatu? " Riz bertanya
" Tidak. Aku tidak mengatakan apapun kepadamu. Oh iya, mengenai pasukan mu sedang dalam tahap pemulihan. Jadi kamu bisa duduk dan menunggu di sini sampai mereka tersadar. " Anma kembali mengusap kepala Riz.
" Baik Anma. " Riz tersenyum.
Setelah Anma membalas senyuman dari Riz, ia mengalihkan pandangannya untuk melihat area sekitarnya kembali dan itu membuatnya mengingat tentang beberapa player yang dulu pernah satu party bersama dirinya yang sempat ia lupakan.
"Nah.... karna tugasku di sini sudah selesai, aku pergi ke tempat para demi human untuk memastikan kondisi mereka. " Anma kembali mengusap kepala Riz dan pergi ke tempat demi human berkumpul
" Sampai nanti Riz " Anma melambaikan tangannya seperti saat terakhir kali mereka bertemu.