Annanta

Annanta
Kasih Sayang Anta



Hari minggu adalah hari yang menyenangkan. Biasanya, keluarga akan berkumpul bersama. Namun, tidak di kediaman Elvano. Anta hanya bersama Evan sekarang. Elvano masih tertidur. Sedangkan Bi Ijah, setelah membersihkan rumah, dia berpamit pulang ke rumahnya. Sarapan, makan siang dan makan malam adalah urusan Anta. Hari minggu jadwal kerjanya hanya membersihkan rumah. Biasanya juga memasak sarapan. Tapi, semenjak ada Anta, jadwalnya di hari minggu hanya membersihkan rumah. Berbeda dengan hari-hari lain yang dari jam 5 pagi sampai jam 7 malam.


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan pintu dan bel rumah membuat Anta yang berada di ruang bermain bersama Evan menoleh. Gadis itu membawa Evan dalam gendongannya, lalu bergegas membuka pintu.


"Selamat pagi," Sapa seorang perempuan yang tak lain adalah Risma, sekretaris Elvano.


"Pagi. Cari siapa ya, mbak?"


"Saya sekretarisnya tuan Elvano. Ada dokumen penting yang harus tuan tanda tangan hari ini. Saya sudah dapat izin kesini hari ini dari tuan."


Anta tersenyum. "Mari, masuk."


Anta dan Risma berjalan bersama menuju ruang tamu. "Mbak duduk dulu. Mas El masih tidur. Akan saya coba bangunkan." Ucap Anta. Risma mengangguk mengiyakan.


Anta bergegas ke kamar Elvano di lantai dua sambil menggendong Evan. Gadis itu membuka pelan pintu dan mendekati ranjang.


Anta terdiam sejenak sebelum membangunkan lelaki itu. Dia ragu melakukannya.


"Paa..." Evan menunjuk ke arah Elvano.


"Iya, sayang. Kita bangunin Papa, ya?" Anta meneguk ludahnya dan lebih dekat lagi pada Elvano.


"M-Mas,"


"M-Mas El."


"Hmmm..." Elvano bergumam pelan.


"Ada tamu dibawah. Namanya Risma, katanya sekretarisnya Mas."


Tidak ada jawaban dari Elvano. Lelaki itu sepertinya kembali tertidur. Anta menarik nafasnya.


"Mas El," Anta sekali lagi mencoba membangunkannya. Namun, lelaki itu masih terdiam.


"Mas El."


"Hmmm..."


"Paa... Pa pa pa pa..."


"Iya, sayang. Papa bangun."


Celetukan Evan membuat Elvano perlahan membuka matanya. Samar-samar ia melihat Anta berdiri di hadapannya sambil menggendong Evan.


"Apa yang kamu bicarakan tadi?" Elvano menatap Anta setelah berhasil memulihkan kesadarannya. Matanya terus menatap Anta. Ia disuguhi wajah cantik dan manis gadis itu ketika bangun tidur. Saat tersadar, Elvano mengalihkan pandangannya ke arah Evan. Sementara Anta, ia kembali merasakan jantungnya yang berdegup kencang. Ia menjadi gugup.


"D-di lantai bawah, ada seseorang bernama Risma. Katanya sekretaris Mas El."


"Ya. Suruh dia menunggu. Aku akan menemuinya." Ujar Elvano tanpa melepas tatapannya dari Evan. "Sini, cium Papa dulu."


Seolah mengerti ucapan Elvano, Evan mendekat dan mencium pipi Elvano. Lelaki itu tersenyum dan mengusap rambut Evan.


"Papa ke kamar mandi dulu."


Melihat semua itu, Anta terdiam dengan perasaan yang sulit ia artikan. Ia senang melihat kedekatan Elvano dan Evan. Namun, ia tiba-tiba merasa sedih karena Elvano tidak bisa bersikap hangat seperti itu padanya.


Apa yang kau pikirkan, Anta? Sadarlah!


Anta dan Evan kembali menemui Risma yang duduk sendirian di ruang tamu. "Mas El sudah bangun. Mbak tunggulah sebentar lagi."


"Iya. Maaf sudah merepotkan mu."


"Nggak masalah."


Kedua perempuan itu sesekali berbincang. Anta tiba-tiba merasa pernah melihat mata yang seperti mata Risma, begitu juga dengan suaranya. Saat hendak bertanya, Elvano muncul dan bergabung. Kedatangan Elvano membuat Anta berpamitan menuju dapur untuk membuat minuman. Dia membiarkan Evan duduk di samping Elvano.


"Ini dokumen yang harus tuan tanda tangani. Dan ini dokumen yang tuan minta." Jelas Risma.


Elvano fokus pada dokumennya. Dan tanpa ia sadari, Evan sudah merangkak, berpindah ke pangkuannya.


"Paa..."


"Iya, nak." Elvano masih fokus pada dokumen yang dipegangnya. Satu tangannya memeluk Evan, takut anak itu terjatuh.


"Evan, sayang. Jangan gangguin Papa, nak." Anta yang baru tiba meletakkan nampan yang dibawamya, lalu memindahkan gelas minuman untuk Elvano dan Risma.


"Ayo sini!" Anta mengulurkan tangannya pada Evan.


"Biarkan saja!"


Suara Elvano membuat Anta menarik kembali tangannya. Risma tahu, siapa gadis di depannya ini. Dia adalah istri dari bosnya. Risma satu-satunya orang kantor yang tahu jika Elvano sudah menikah. Dia tidak mendapat undangan pernikahan. Tapi, ada sesuatu hal yang membuatnya tahu tentang pernikahan itu.


***


Setelah kepulangan Risma, Elvano membawa Evan menuju kamar Evan. Sementara Anta sedang memasak didapur untuk makan siang nanti.


"Ayo, tunjukin ke Papa kalau kamu udah bisa jalan."


"Ta ta ta ta... Pa pa pa... " Celoteh Evan.


"Iya, sayang. Ayo, coba."


Elvano memposisikan Evan berdiri, lalu menjauhi anak itu beberapa langkah. Dia berjongkok, meletakkan handphonenya lalu mengulurkan tangannya meminta Evan mendekat.


Anak itu tersenyum. Dengan langkah pelan ia mendekati Elvano. Senyum mengembang terukir di bibir Elvano. Langkah demi langkah putranya membuat dia begitu bahagia.


Grep


Anak itu memainkan hp Elvano sambil tersenyum senang saat melihat layar hp tersebut menyala. Hp yang tidak diberi password oleh Elvano membuat Evan dengan leluasa mengotak-atik aplikasi di dalamnya.


Elvano tidak masalah. Ia membiarkan putranya melakukan apa yang ia suka.


"Papa bahagia banget, nak. Nggak nyangka kamu udah bisa jalan." Ujar Elvano, sambil mengusap-usap rambut Evan.


"Ta... Ta... Ta..."


Elvano tersenyum. Tapi tiba-tiba, ia merasa ingin ke toilet. "Evan, Papa ke toilet bentar." Lelaki itu bergegas meninggalkan Evan.


Elvano yang tiba-tiba pergi membuat Evan menatapnya. Anak itu mencebikkan bibirnya dengan pipi yang mulai memerah. Beberapa detik berikutnya terdengar suaranya yang menangis kencang.


Anta yang sudah berada di dekat pintu mempercepat langkahnya ketika mendengar tangisan Evan.


"Anak Mama. Ya Allah, kenapa menangis?" Anta memeluk Evan. "Cup... Cup... Anak Mama yang ganteng. Nggak boleh nangis nak."


"Kesayangan Mama. Nggak boleh nangis, ya?"


Anta mengusap-usap kepala Evan dan mengecupnya beberapa kali. Tangis Evan mulai reda. Anak itu memeluk balik Anta. Tak berapa lama, Evan keluar dari kamar mandi. Sontak Anta dan Evan menoleh bersama.


"Anak Papa, maafin Papa, ya?" Elvano ingin meraih Evan, namun anak itu berbalik memeluk Anta.


Hening sejenak, hingga tiba-tiba Anta mulai bersuara. "Mas El belum sarapan tadi. Mas El lebih baik sarapan dulu."


"Nggak perlu. Saya ada urusan penting."


Elvano mengusap-usap kepala Evan dengan sayang dan mengecupnya. "Papa ada urusan, kamu di rumah, ya?" Ujarnya, meraih handphonenya kemudian berlalu dari kamar Evan.


Anta tersenyum kecut melihat kepergian suaminya. Rasanya sakit di tolak seperti itu.


Elvano memasuki kamarnya dan menyalakan handphonenya. Ternyata Evan menghidupkan perekam suara.


Lelaki itu tersenyum dan mematikan perekam suara tersebut. Ia mendengarkan kembali apa yang Evan rekam. Mulai dari ungkapan bahagia Elvano sampai tangisan Evan, dan... Terdengar suara Anta yang menghiburnya.


"Anak Mama. Ya Allah, kenapa menangis?"


"Cup... Cup... Anak Mama yang ganteng. Nggak boleh nangis nak."


"Kesayangan Mama. Nggak boleh nangis, ya?"


Elvano terdiam. Hanya dengan beberapa kalimat, Anta bisa mendiamkan Evan. Sementara dirinya, hampir tiga jam dia baru bisa menghentikan tangisan Evan saat ia meninggalkan Anta di jalanan waktu itu. Sekarang ia sadar, kasih sayang Anta pada Evan tulus.


"Dia benar-benar tulus pada Evan." Gumamnya.


Elvano meletakkan handphonenya lalu bergegas ke kamar mandi. Dia akan menemui sahabatnya, Tirta.


***


Tak lama setelah Elvano pergi, Devita, Haris, Dinda, Fahri, Dika dan Ara, putri Dinda dan Fahri, tiba di rumah Elvano. Anta sangat senang melihat mereka.


"Cucu Kakek, sini-sini." Haris langsung menggendong Evan.


Ara yang berada diantara Mama dan Papanya menatap Anta. Ini pertama kalinya ia ketemu Anta.


"Hallo, cantik. Siapa namamu?"


"Ara, tante." Jawab gadis kecil berusia 5 tahun itu.


"Ara? Nama yang cantik, seperti orangnya."


"Terima kasih, tante." Jawabnya. Matanya masih terus menatap Anta. "Tante kenapa ada di sini? Bukannya disini hanya ada Om Vano sama Evan?"


Anta tersenyum. Dinda menundukkan tubuhnya hingga sejajar dengan putrinya. "Sayang, tante Anta itu, istrinya Om Vano. Jadi, dia tinggal sama Om Vano."


Ara mengangguk meskipun ia tak begitu mengerti apa yang Ibunya katakan.


"Vano dimana?" Devita menatap Anta yang masih berdiri di depan Ara.


"Mas El, lagi keluar Ma."


"Keluar? Kemana?" Tanya Haris.


"Anta juga nggak tahu. Katanya urusan penting."


"Ck. Bang Vano gimana sih? Hari minggu bukannya di rumah malah..."


"Dika!" Panggilan bernada teguran dari Fahri berhasil membuat Dika berhenti mengoceh. Meski Fahri hanya Kakak Iparnya, Dika benar-benar menghargai lelaki itu. Lelaki yang selalu memberi kebahagiaan pada Kakaknya.


"Kalian duduklah! Aku akan buatkan minuman." Ucap Anta.


"Aku bantu." Sahut Dika cepat.


"Nggak usah, Kak."


"Nggak apa-apa. Angkat nampan doang kesini. Aku bisa kok."


"Aku juga ikut." Ujar Dinda.


"Apaan sih, Kak. Udah disini aja."


"Nggak. Aku ikut. Aku mau bantuin Anta masak. Kita kan numpang makan disini."


Ucapan Dinda sontak membuat orang-orang yang ada di ruangan itu menggeleng. Tapi, dia tidak salah. Mereka benar-benar akan makan siang disini.


Akhirnya Anta menyerah dan mengizinkan Dinda dan Dika ikut. Tak lama, Devita menyusul. Dia juga ingin membuat makanan untuk putranya.