Annanta

Annanta
Bab 64



Setelah acara lamaran selesai, Elvano bersama Anta, Evan, Tiara dan Ricky kembali ke rumah. Malam yang semakin larut membuat Evan mengantuk. Begitu juga dengan Ricky. Dua anak itu tertidur dalam perjalanan.


"Tiara, kamu gendong Evan ya. Rcky biar Kakak yang gendong," ucap Elvano saat mereka tiba di rumah.


"Aku saja Mas yang gendong Evan," sahut Anta.


"Tiara aja. Berat badan Evan makin bertambah sekarang. Biar Tiara aja ya?"


"Iya, Kak. Tiara aja."


"Ya udah," ucap Anta pelan.


Elvano mengusap lembut rambut Anta, kemudian turun. Ia membukakan pintu untuk Anta lalu membiarkan Tiara menggendong Evan dari pangkuan Anta. Setelah itu, ia membantu Anta turun, kemudian membuka pintu belakang dan menggendong Ricky.


Mereka berjalan bersama memasuki rumah. Elvano berbelok ke kamar Ricky, Tiara dan Anta langsung menuju kamar Evan.


"Mama...." Evan bergumam pelan saat Tiara menidurkannya. Hal itu membuat Anta dan Tiara terkikik pelan.


"Hehehe... Saat tidur saja Evan masih manggil Kak Anta."


"Mungkin karena hampir seharian dia nggak ketemu Kakak hari ini."


"Iya. Tadi aja pas di rumah Mama, dia terus-terusan panggil Kakak. Untung aja pas mati lampu di restoran dia anteng, nggak teriak-teriak Mama waktu lihat Kakak. Aku nggak bisa bayangin kalau tadi dia teriak panggil Kak Anta Mama. Pasti kacau semua rencana Kak Elvano."


"Hehehe... Iya ya. Untung banget Evan nggak nangis minta digendong Kakak. Bisa-bisa Mas El jengkel gara-gara acaranya nggak berjalan lancar."


"Evan kayaknya udah ngerti kemauan Papanya, hehehe."


"Hehehe... Kamu ada-ada aja. Udah yuk, keluar. Kamu juga harus istirahat. Besok sekolahkan?"


"Libur Kak."


"Mau bohongin Kakak?"


"Hehehe... Bercanda Kak."


Anta terkekeh melihat ekspresi adiknya. Kedua Kakak adik itu keluar dari kamar Evan dan bertemu Elvano yang baru saja kembali dari kamar Ricky.


"Ya udah. Tiara ke kamar dulu. Selamat tidur Kak Anta, Kak Elvano."


"Selamat tidur," balas Anta dan Elvano bersamaan.


Setelah Tiara kembali ke kamarnya, Anta dan Elvano memasuki kamar mereka. Anta langsung menuju kamar mandi. Membersihkan wajahnya, kemudian mengganti dressnya dengan baju tidur. Elvano juga mengganti bajunya dengan baju tidur, kemudian berbaring di ranjang bersama Anta sambil memeluk istrinya itu.


"Kamu bahagia nggak sayang?" tanya Elvano.


"Bahagia banget Mas."


Elvano meregangkan pelukannya, lalu tangannya bergerak menyentuh perut Anta. "Anak Papa bahagia nggak? Papa harap kamu bahagia selalu. Sehat-sehat di perut Mama. Papa, Mama, Bang Evan, dan yang lain sayang sama adek. Jadi, sehat selalu. Kami menantikan kehadiran adek," ucap Elvano lalu mengecup perut Anta. Setelah itu, ia kembali memeluk sang istri.


"Sekali lagi, makasih ya Mas."


"Mas juga makasih sama kamu sayang." Anta mengangguk mendengar ucapan suaminya.


"Oh ya, Mas. Aku boleh tanya nggak?"


"Boleh. Mau tanya apa?" Elvano menyingkirkan anak rambut yang menempel di pipi Anta.


"Waktu itu, kenapa Mas nggak bolehin aku lihat handphone Mas?"


"Soal itu?" Anta mengangguk. "Nggak kenapa-kenapa," jawab Elvano dan hal itu belum cukup membuat rasa penasaran Anta selama ini menghilang. Tapi, wanita itu hanya mengangguk dan berusaha melupakannya kembali. Seharusnya dia tidak perlu membahas itu lagi.


Maafkan Mas Anta. Tidak sekarang aku memberitahumu. Sebentar lagi. Batin Elvano.


"Ayo, sekarang tidur ya. Besok hari yang panjang. Kamu harus banyak istirahat."


"Besok kenapa?"


"Aku mau ajak kamu ke suatu tempat."


"Kemana?"


Anta cemberut mendengar ucapan suaminya. Tapi, beberapa detik kemudian ia memeluk sang suami dan menyusupkan wajahnya ke dada Elvano. Mencari tempat ternyaman disana, kemudian mulai memejamkan matanya, tertidur.


***


Anta mengerjabkan matanya saat merasakan ranjang bagian Elvano kosong. Dengan perlahan, ia membuka mata dan menyesuaikan dengan pencahayaan di ruangan tersebut.


"Mas El kemana? Nggak biasanya dia bangun duluan seperti ini," gumam Anta.


Anta lalu mengamati ruangan tersebut. Ia merasa aneh dengan ruangan yang ia tempati saat ini.


"Ini... Ini bukan di rumah. Ini dimana? Kenapa aku bisa disini? Bukannya—"


Ceklek...


Suara pintu yang terbuka membuat Anta menoleh. Terlihat Elvano yang sudah segar dan tampan masuk dengan membawa makanan.


"Sudah bangun sayang? Ayo, cuci muka terus sarapan," ucapnya sembari meletakkan makanan yang dibawanya di atas nakas. Ia mendekati Anta dan mengecup keningnya.


"Kita dimana Mas? Ini bukan di rumah."


"Emang bukan di rumah," jawab Elvano santai. Ia lalu mengecup bibir Anta.


"Kenapa kita bisa sampai disini? Bukannya semalam kita di rumah?"


"Aku yang bawa kamu kesini. Ada pekerjaan penting yang harus aku kerjakan. Aku juga nggak mau ninggalin kamu di rumah. Jadi, aku bawa kamu kesini," jawab Elvano. "Sekarang, kamu cuci muka terus kita sarapan sama-sama. Aku ada pertemuan dengan klien 30 menit lagi."


Anta mengangguk mengiyakan. Ia turun dari ranjang dan langsung menuju kamar mandi. Setelah membasuh wajahnya dan sikat gigi, Anta kembali menemui Elvano.


"Kamu nggak apa-apa kan aku tinggalin sebentar? Aku ada pertemuan dengan klien di lantai 2."


Anta mengangguk. "Aku nggak apa-apa Mas."


Setelah menyelesaikan sarapan mereka, Elvano bersiap untuk bertemu klien. Anta membantunya memasang dasi. Sementara Elvano, ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Anta, dan mengelus-elusnya dengan lembut.


"Udah," ucap Anta setelah selesai memasang dasi.


"Udah? Kok cepat?"


"Cuman pasang dasi. Aku kan sering bantu kamu pasang dasi. Jadi nggak sulit dan cepat selesai."


"Padahal aku berharap suapaya kamu lama-lama in."


"Ish. Mas ada-ada aja. Nanti Mas telat ketemu kliennya."


"Ya udah. Ayo, berikan ciuman pagiku."


Anta tersenyum. Ia lalu sedikit berjinjit dan mengecup pipi Elvano.


"Apaan di pipi? Aku mau disini," ucap Elvano sambil menunjuk bibirnya.


"Tadi kan su—hmmpp." Ucapan Anta langsung terhenti saat Elvano dengan cepat mera*p bibirnya. Menciumnya seolah tidak akan ada kesempatan lagi untuknya mencium Anta.


"Hmmppp... M-Mashhh...." Nafas Anta terengah saat Elvano melepaskan ciumannya. Elvano seperti orang yang kerasukan.


"Maaf sayang. Mas nggak bisa kontrol diri Mas."


Anta mengangguk dengan nafas yang masih tersengal. Menegakkan tubuhnya, Anta menarik nafas panjang, mencoba menormalkan pernafasannya.


"Nggak apa-apa Mas. Mas cepatan gih, siapa tahu kliennya udah nungguin."


"Iya. Mas pergi dulu." Elvano mengulurkan tangannya dan langsung disambut Anta. Wanita itu mencium punggung tangan suaminya, kemudian dibalas sang suami dengan mengecup keningnya dan sekali lagi, mencuri satu kecupan di bibir sang istri.


"Maaasss."


"Hehehe... Nanggung sayang. Ya udah, Mas pergi dulu."


Anta kembali mengangguk. Ia mengantarkan suaminya hingga depan kamar. Setelah tubuh Elvano menghilang dari hadapannya, Anta kembali ke kamar. Wanita itu langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah beberapa saat, ia keluar dan langsung mengganti bajunya. Elvano benar-benar sudah mempersiapkan semuanya.