Annanta

Annanta
Hadiah untuk Anta 1



Elvano memerhatikan dokumen yang ada di tangannya. Hari ini Risma tidak masuk kerja. Entah ada urusan penting apa, hingga wanita itu mengirim pesan padanya pagi-pagi, jika ia izin masuk kerja hari ini. Karena Risma memiliki kinerja yang baik, Elvano memutuskan untuk membiarkan Risma tidak masuk kerja hari ini.


"Anta sama Evan lagi apa ya jam segini?" gumam Elvano, yang tiba-tiba memikirkan istri dan anaknya.


"Enak banget jadi Evan. Bisa nempel terus sama Anta. Diunyel-unyel sama dicium-cium terus sama Anta."


Elvano menarik nafasnya. Ia membuka galeri handphonenya dan menatap foto Anta. Foto yang ia ambil diam-diam saat istrinya itu sedang membersihkan meja kecil di kamar mereka.


"Cantik banget istrinya Elvano," ucapnya lalu terkekeh sendiri. Jika orang lain melihatnya, sudah pasti akan menganggapnya orang gila.


"Ck. Masa ada orang gila seganteng ini?" lanjutnya sembari menggelengkan kepalanya dan terkekeh, menertawakan pikirannya sendiri.


Ia keluar dari aplikasi galeri kemudian beralih ke aplikasi instagram. Ia tak sengaja melihat postingan Dinda. Postingan tentang hadiah yang Fahri berikan padanya.


"Hadiah? Aku belum pernah kasih hadiah pada Anta. Novel yang waktu itu, nggak bisa aku katain hadiah," gumamnya. "Kira-kira, hadiah apa ya yang bagus buat Anta?"


Laki-laki itu kembali menatap layar handphonenya. Kali ini ia keluar dari aplikasi instagram dan beralih ke google. Ia ingin mencari referensi hadiah yang cocok untuk ia berikan pada Anta. Ia tiba-tiba ingin memberi hadiah untuk istrinya itu.


"Ck. Nggak ada yang menarik," ucapnya. Ia langsung mematikan handphonenya dan meletakkannya di atas meja. Biar dia pikirkan sendiri hadiah apa yang akan ia berikan.


Namun, hingga hampir sejam lebih, ia tidak menemukan sesuatu yang cocok untuk di jadikan hadiah. Ia menyerah memikirkannya dan memilih untuk menghubungi Tirta. Mungkin sahabatnya itu bisa memberi solusi.


Setelah beberapa saat menunggu, panggilannya tersambung dan Tirta menjawabnya.


"Halo."


"Tirta. Lo lagi ngapain? Gue—"


"Sshhh... Pelan, sayang."


"Sial!!" suara erangan yang terdengar dari tempat Tirta membuat Elvano mengumpat.


"Kenapa? Cepat ngomong!"


"Sialan lo! Lo lagi ngapain?"


Bodoh! Elvano mengutuk dirinya sendiri. Dari suara itu, jelas-jelas dia sudah tahu, apa yang sedang Tirta lakukan. Kenapa dia harus bertanya lagi.


"Gue lagi mesra-mesraan sama istri gue."


"Sialan lo!! Pantesan Risma izin nggak masuk kerja. Lo maksain dia buat nggak kerja kan? Tahu gitu, nggak gue izinin tadi," ucap Elvano. Risma sekretarisnya adalah istri sahabatnya, Tirta.


"Meski nggak lo izinin, Risma tetap nggak gue bolehin kerja. Atau nggak, sekalian aja resign dari perusahaan lo."


"Kurang ajar lo!!"


"Ngapain sih lo telpon gue?"


"Gue mau ngomong sesuatu sama lo."


"Sekarang?"


"Nanti aja setelah pulang kantor."


"Ya udah. Maatiin gih telponnya. Gue lagi sibuk."


"Cih! Sok sibuk! Sibuk apaan?"


"Sibuklah bego!! Risma kakinya keseleo. Gue lagi urut kakinya. Makanya sibuk."


Oohh... Risma kakinya keseleo? Aku mikirnya udah kejauhan.


Elvano jadi merasa bersalah. Ia berdehem pelan sebelum melanjutkan pembicaraan mereka.


"Oohh... Gimana keadaan nya? Dari pada salah urut, mending lo bawa ke tukang urut aja."


"Nggak gue bawa ke tukang urut. Tukang urutnya yang gue bawa ke rumah."


"Ck. Terserah lo deh. Somoga istri lo cepat sembuh. Gue tutup dulu. Jangan lupa entar sore. Setelah gue pulang kantor, gue kabarin."


"Ok."


Setelah itu, Elvano mematikan handphonenya dan beralih menyelesaikan pekerjaannya.


***


Tirta menatap datar Elvano yang duduk di depannya. Ia kesal pada sahabatnya itu. Ia pikir Elvano akan membicarakan hal yang begitu penting. Ternyata hanya soal hadiah untuk istrinya yang bisa dibahas lewat telpon.


"Kenapa lo diam?" tanya Elvano tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.


"Ck. Gue kesal tahu nggak? Masa gue disuruh kesini cuma buat ngomongin hadiah buat istri lo? Tahu gitu kan, bisa lo ngomong lewat telpon."


"Kalau lewat telpon entar di dengar Risma sama tukang urut nya." Alibi Elvano.


"Ck. Lo niat nggak sih bantuin gue buat kasi hadiah ke Anta?"


"Iya iya."


"Nah. Partama-tama, gue mau tanya. Hadiah yang cocok buat Anta itu apa?"


"Bunga, emas."


"Udah biasa hadiah begituan."


"Ya terus lo mau hadiah yang gimana?"


"Hadiah yang nggak biasa gitu. Jarang banget orang-orang kasi."


"Si Anta sukanya apa?"


"Eeeemmm... Gue juga nggak tahu."


"Cih! Suami macam apa lo? Apa yang istri lo suka aja lo nggak tahu."


Elvano terdiam. Ucapan Tirta benar. Dia memang suami yang buruk. Apa yang istrinya suka saja, ia tidak tahu. Tapi, tiba-tiba ia ingat sesuatu. Istrinya suka membaca. Senyum cerah muncul di bibirnya.


"Gue ingat! Anta suka baca. Apa gue hadiah in perpustakaan pribadi buat dia ya?"


"Gila lo! Tapi, terserah lo deh. Gue setuju-setuju aja."


Elvano mengangguk. "Tapi, nanti gue buat perpustakaan nya dimana? Gue gak mau jauh-jauh dari istri gue."


"Ya tinggal lo ikut aja istri lo. Kalau nggak, kosongin satu ruangan di rumah lo, terus lo penuhin ruangan itu sama buku-buku."


"Benar juga kata lo. Kenapa gue nggak kepikiran?"


"Ya orang lagi bucin mah, gitu. Yang dipikirin cuma orang yang ia suka."


"Ngeledekin lo. Lo juga bucin sama si Risma. Lain kali gak gue biarin istri lo izin-izin begini."


"Nggak masalah. Sekalian gue suruh dia resign."


"Ada kontrak. Lo nggak baca? Kalau tiba-tiba resign itu ada denda. 100 JUTA!!"


"Lo pikir gue nggak bisa bayar? Kalau lo mau, gue bayarain 100 juta sekarang, dan istri gue nggak terikat lagi sama perusahaan lo."


"Sialan lo!!" Elvano menggeplak lengan Tirta.


Setelah membicarakan mengenai hadiah, Elvano dan Tirta langsung menikmati pesanan mereka. Kemudian mereka kembali ke kediaman masing-masing setelah selesai.


***


Anta melangkah cepat membuka pintu saat terdengar bel rumah berbunyi. Senyum hangatnya menyambut kedatangan Elvano. Ia meraih tas kerja Elvano, lalu meraih tangan Elvano dan mencium punggung tangan tersebut. Dan Elvano balas mengecup keningnya.


"Dimana Evan?" tanya Elvano.


"Paa... Paa...."


Anak itu berjalan cepat ke arah Papa dan Mamanya diikuti Bi Ijah di belakangnya. Anak itu terlihat imut dan menggemaskan. Membuat Elvano ingin segera menggendongnya. Laki-laki itu segera menunduk untuk menggendong Evan. Namun, respon Evan membuatnya melotot. Bukannya mendekatinya, Evan malah memeluk kaki Anta.


"Hehehe... Nggak mau sama Papa ya? Sini-sini Mama gendong." Anta segera meraih Evan ke gendongannya.


Elvano menegakkan kembali tubuhnya dengan ekspresi murung. Seolah dirinya kesal pada Evan yang mempermainkannya.


"Papa nggak mau temanan sama Evan!" Elvano membuang wajahnya ke samping, berpura-pura marah pada putranya. Dan Evan membalasnya dengan kekehan. Entah apa yang lucu, hanya Evan sendiri yang paham.


Bi Ijah yang sejak tadi memperhatikan mereka tersenyum lebar. Bahagia sekali melihat Tuan dan Nyonya nya akur seperti ini.


"Tuan, Nyonya. Saya mau pamit pulang."


"Iya, Bi. Aduh, jadi abaikan Bibi dari tadi. Maaf ya, Bi?" ucap Anta, merasa tak enak pada Bi Ijah.


"Nggak apa-apa, Nyonya. Saya malah senang lihat Nyonya sama Tuan akrab gini. Saya doa in semoga rumah tangga Nyonya sama Tuan bahagia selalu dan nggak akan terpisahkan."


"Aamiin," jawab Anta dan Elvano bersamaan.


"Makasih ya, Bi."


"Makasih, Bi."


"Iya, Nyonya, Tuan. Bibi pamit dulu."


"Hati-hati, Bi." Bi Ijah mengangguk. Setelah itu, wanita paruh baya tersebut meninggalkan kediaman Elvano.