
Sejak kejadian dimana Elvano membelanya saat tante Yuli merendahkanya, Anta semakin merasakan perasaan aneh saat bertemu dan bersama Elvano. Perasaan yang membuatnya bahagia dengan jantung yang berdegup kencang. Anta sadar sekarang, sepertinya dia memiliki perasaan lebih pada suaminya, Elvano. Namun, sikap Elvano yang dingin membuat Anta tak berani untuk berharap lebih.
"Bagaimana? Proyek di kota M berjalan lancar?" Suara Elvano terdengar saat Anta memasuki kamar mereka. Sepertinya lelaki itu sedang berbicara dengan sekretarisnya.
"Lancar, tuan. Pembangunannya sudah 60%. Saya sedang menuju lokasi sekarang." Lapor Risma, sang sekretaris. Elvano memang mengirimnya ke kota M untuk meninjau proyek disana. Tidak lama, hanya dua hari. Elvano membutuhkannya untuk membantu pekerjaan Elvano yang saat ini sedang menumpuk.
Anta hanya mendengar sambil terus berjalan ke arah lemari. Dia menyiapkan baju untuk Elvano lalu keluar. Namun, langkahnya terhenti ketika Elvano memanggilnya.
"Anta."
Gadis itu berbalik dan menatap Elvano. "Ada apa, Mas?" Anta berusaha tenang, meskipun jantungnya berdegup kencang.
"Saya ingin mandi air hangat."
Anta mengangguk, membuat Elvano berdecak sambil membuang wajahnya. Lelaki itu lalu menatap Anta dengan tatapan dinginnya. "Saya butuh jawaban, bukan anggukkan."
"Ma-maaf, Mas. Akan aku siapkan air hangatnya."
Anta dengan segera menuju kamar mandi. Tatapan Elvano tak terlepas dari gadis itu. Segaris senyum muncul di bibirnya. Mudah sekali mengerjai gadis itu.
Setelah menyiapkan semuanya, Anta secepat mungkin keluar dari kamar mandi. Ia mendekati Elvano yang masih santai duduk di sofa.
"Mas El,"
"Hmmm."
"Air hangatnya udah Anta siapin."
"Ya."
"Anta ke kamar Evan dulu."
"Hmmm."
Anta segera ke kamar Evan. Berdua di kamar bersama Elvano membuat jantungnya tidak aman. Bisa-bisa ia terkena serangan jantung.
"Maa... Ta ta ta..." Evan seolah sedang menyambut Anta. Wajahnya yang baru bangun tidur tersenyum lebar sambil terus berucap 'Maa'.
"Uuuhhh... Anak Mama udah bangun. Nyenyak banget ya, tidurnya? Ayo, kita mandi dulu. Setelah itu sarapan."
Anta segera menggendong Evan menuju kamar mandi. Seperti biasa, setelah mandi dan berpakaian, Anta bersama Evan menuju ruang makan. Di ruang makan, ternyata Elvano sudah disana. Lelaki itu melahap makanannya dengan cepat. Ia juga meneguk airnya dengan terburu-buru.
"Papa berangkat dulu." Elvano mengecup pipi Evan. Anta yang melihatnya dengan cepat mencium punggung tangan Elvano. Jika tidak, lelaki itu pasti melupakannya.
Sambil menggendong Evan, Anta mengantar Elvano ke depan. Namun, belum juga sampai di pintu rumah, mobil Elvano sudah melaju. Anta terdiam sambil tersenyum kecut, lalu berbalik ke ruang makan.
"Evan makan dulu, ya?" Anta mendudukkan putranya dan menyuapi Evan makanan. Baru beberapa sendok yang masuk ke mulut Evan, Anta menghentikannya. Mata gadis itu menangkap sebuah berkas di atas meja makan.
"Ya Allah, Mas El lupa bawa berkasnya." Gumamnya. Evan yang merasa Anta belum juga menyuapinya pun menangis.
"Aduh, sayang. Anak Mama jangan nangis, nak. Ini, Mama suapin lagi." Anta menyuapi Evan kembali. Matanya terus saja melirik ke arah berkas itu.
"Mas El pasti akan mencari nya nanti." Gumam anta, sambil terus menyuapi Evan. "Bi Ijah lagi ke pasar. Bagaimana caranya aku mengantar berkas ini? Aku nggak tahu alamat kantor Mas El. Jangankan alamat kantor, nomor handphonenya saja aku nggak tahu." Lanjutnya. Ingin meminta tolong pada Pak Tejo, tapi lelaki paruh baya itu sedang mengantar Bi Ijah ke pasar.
Suapan terakhir Evan bertepatan dengan pintu yang di ketuk. Anta segera menyuapi Evan lalu membuka pintu. Ia bernafas lega melihat Devita dan Dika.
"Syukurlah Mama sama Kak Dika datang."
"Ada apa?" Bu Devita dan Dika serentak bertanya.
"Itu, Mas El kelupaan berkas kantornya. Anta mau anterin, tapi nggak tahu alamat kantornya. Bi Ijah juga lagi ke pasar, Evan nggak ada yang jagain kalau Anta ke kantor."
"Dimana Evan sekarang?"
"Di ruang makan, Ma. Baru selesai sarapan." Anta, Devita dan Dika menuju ke ruang makan.
"Cucu Nenek." Devita meletakan rantang berisi sarapan yang dia buat spesial untuk menantunya, kemudian langsung meraih Evan dan menggendongnya. Wanita itu mengecup pipi Evan beberapa kali. "Dika, kamu tolong anterin berkasnya, ya?"
"Hehehe... Dika sih mau, tan. Tapi, Dika trauma di kerumunin karyawan Bang Vano. Masa Dika dibilang artis. Diminta foto bareng lagi. Perasaan Dika nggak ada mirip-miripnya sama artis itu. Bahkan Dika lebih ganteng dari dia."
"Ck. Kamu ini, ada-ada saja."
"Serius, tan. Kalau nggak percaya, tanya aja sama Bang Tirta. Dia yang nolongin Dika waktu itu." Ucap Dika, menyebut sahabat Elvano, Tirta, agar mereka percaya. Sebenarnya, bukan hanya itu alasannya. Dia juga sedang tidak ingin bertemu Elvano. Mereka sedang berseteru sekarang.
Anta mengangguk. Sedangkan Dika tersenyum. Sepertinya ini keberuntungannya hari ini. Kedua orang itu segera menuju kantor Elvano. Setelah 20 menit, mereka tiba. Anta segera memasuki perusahaan dan menuju meja resepsionis sesuai yang Dika katakan.
"Permisi, mbak."
"Ya." Jawab seorang wanita, karyawan resepsionis, dengan nada ketus. Ia juga menatap Anta dari atas sampai bawah dengan tatapan merendahkan. Anta sedikit tidak nyaman dengan nada bicara dan tatapan wanita itu.
Seorang karyawan wanita lagi medekat. Sepertinya ia melihat tingkah rekan kerjanya yang tidak sopan. "Apa yang kamu lakukan? Seharusnya kamu bersikap sopan pada tamu. Tuan Elvano tidak suka tamu perusahaannya tidak dilayani dengan baik. Kecuali tamu itu menimbulkan kekacauan." Tegur karyawan wanita tersebut pada temannya.
"Ya, ya. Kau saja yang melayaninya." Balas temannya, lalu sibuk dengan urusannya.
"Maaf, mbak. Ada yang bisa saya bantu?"
"I-iya, mbak. Saya mau anterin berkas ini. Ma... Tu-tuan Elvano melupakannya di rumah." Ucapnya. Hampir saja ia keceplosan memanggil Elvano Mas.
"Nama mbak siapa? Dan apa hubungan mbak dengan tuan Elvano?"
"Saya Anta. Saya is... Maksud saya, pengurus rumah tuan Elvano."
Wanita itu menatap Anta dari atas sampai bawah. Melihat penampilan Anta, dia jadi ragu jika gadis itu seorang pengurus rumah.
Penampilannya memang sederhana. Tapi, aku tahu berapa harga tiap potongan kain yang dia kenakan. Tidak mungkin seorang pengurus rumah mengenakan baju dengan harga yang cukup mahal.
"Mbak?" Suara Anta membuyarkan lamunan karyawan wanita itu.
"Eh maaf. Mbak tunggu sebentar. Saya akan menghubungi tuan terlebih dulu." Anta mengangguk. Wanita itu tersenyum ramah pada Anta lalu menelpon Elvano.
"Hallo, tuan."
"Hmm..." Suara Elvano terdengar. Jantung Anta kembali berdetak cepat.
"Maaf tuan, saya mengganggu. Ada seseorang perempuan muda mengaku sebagai pengurus rumah anda. Namanya Anta. Dia membawa berkas yang tuan lupa."
Elvano terdiam mendengarnya. Tangannya langsung ia kepal dengan kuat. Bukan karena Anta ke kantornya. Tapi, pengakuan Anta yang mengatakan dirinya sebagai pengurus rumah. Elvano merasa kesal dengan pengakuan gadis itu.
"Tuan?"
"Antar dia ke ruangan saya."
"Baik tuan."
Setelah panggilan terpus, karyawan tersebut langsung mengantar Anta menuju ruangan Elvano menggunakan lift.
Karyawan wanita itu segera mengetuk pintu saat tiba di depan ruangan Elvano. Setelah mendapat persetujuan Elvano untuk masuk, keduanya segera masuk.
"Permisi, tuan. Ini orangnya."
"Ya. Dia PENGURUS RUMAHKU. Kau boleh kembali bekerja." Ucap Elvano, sengaja menekan kata pengurus rumah. Dia benar-benar kesal pada Anta sekarang.
"Terima kasih, tuan. Saya permisi." Wanita itu segera berlalu dari ruangan itu, meninggalkan Anta dan Elvano.
"Mas El,"
"Tuan! Seharusnya kamu memanggil saya tuan. Bukankah kamu PENGURUS RUMAH? Nggak seharusnya kamu memanggil tuan mu dengan sebutan Mas."
"Maaf, Mas."
"Berikan berkasnya, lalu keluar." Ujar Elvano, tega. Anta terdiam menahan rasa sakit hatinya. Ia mendekati meja Elvano, dan meletakkan berkas tersebut.
"Kalau begitu, saya permisi, Tuan." Anta berbalik dan keluar dari ruangan tersebut. Elvano tediam. Tiba-tiba, ia tidak senang mendengar Anta memanggilnya 'Tuan'.
Ck. Ada apa ini? Kenapa aku jadi kesal begini hanya karena pengakuan Anta sebagai pengurus rumah dan panggilannya padaku yang berubah? Ck. Aku kesal sekali dengan situasi ini. Batin Elvano.
Anta berjalan cepat menuju lift. Ia bisa melihat jika karyawan tadi yang mengantarnya masih berdiri di depan pintu lift. Sepertinya dia menunggu Anta. Dan akhirnya mereka ke lantai dasar bersama-sama.
Elvano menarik nafasnya. Ia kemudian berdiri dan menatap keluar melalui jendela besar di rungannya. Ia bisa melihat ke halaman kantornya.
Tapi tiba-tiba,. tangannya terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya yang tegas mengeras. Matanya menyiratkan kemarahan. Darahnya seketika mendidih melihat Anta berbicara dengan Dika, dan memasuki mobil sepupunya itu.
"Dika sialan! Beraninya kamu mendekati istri saya! Kurang ajar!" Ucapnya dengan penuh amarah.