Annanta

Annanta
Bab 62



Setelah sarapan, Anta berjalan bersama Elvano menuju halaman depan. Mengantar sang suami yang hendak ke kantor. Sementara Evan, ia biarkan anak itu bersama Tiara dan Ricky.


"Aku berangkat dulu," ucap Elvano sambil mengecup kening Anta.


"Iya. Mas hati-hati, nggak boleh ngebut-ngebut."


"Iya, sayang."


Elvano terdiam dan tetap berdiri di hadapan Anta. Ia terus menatap sang istri tanpa ada sedikit niat pun untuk menjauh dari hadapan wanita itu.


"Mas?"


"Hmmm?"


"Kenapa bengong?"


"Nggak. Nggak kenapa-kenapa." Elvano menggeleng-gelengkan kepalanya.


Anta mengangguk. Namun, perasaan aneh melihat tinggakah Elvano sejak tadi semakin membuatnya penasaran.


"Ya udah. Sana berangkat gih. Nanti Mas El telat ngantornya."


"Nggak apa-apa telat. Kantorkan sekarang milik aku, sayang. Ya... Nggak masalah kalau aku datangnya telat."


"Tetap aja, Maaasss. Kamu sebagai atasannya harus beri contoh yang baik buat karyawan-karyawan kamu."


Elvano tersenyum mendengar ucapan istrinya. "Siap sayang. Ya udah aku berangkat dulu." Elvano kembali mendekatkan bibirnya ke kening Anta dan mengecupnya sekali lagi. Kemudian tangannya terulur mengusap perut rata Anta sembil membungkukkan tubuhnya.


"Papa kerja dulu, ya. Adek nggak boleh nakal di perut Mama. Bantu Papa jagain Mama, biar Papa bisa fokus kerja. Papa kan kerja juga buat Adek sama bang Evan. Jadi, adek nggak boleh nakal," ucap Elvano kemudian mengecup perut Anta.


Anta yang melihatnya menahan senyum. Rasanya lucu sekali melihat seorang Elvano bertingkah seperti ini. Tapi, tidak apa-apa. Elvano sedikit menghiburnya dari pikiran-pikiran buruknya pada sang suami.


Setelah berpamitan pada sang calon anak, Elvano bergegas ke kantor dengan mengendarai mobilnya. Anta juga kembali ke rumah setelah mobil yang dikendarai Elvano menjauh dari pandangannya.


"Maa."


Anta cukup terkejut saat Evan tiba-tiba memeluk kakinya. Karena terlalu memikirkan sikap Elvano yang tidak mengizinkan ia melihat handphone miliknya, ia sampai tidak sadar jika Evan sudah berada di dekatnya.


"Sayang." Anta menunduk dan segera menggendong Evan. Lupa sudah dengan apa yang Elvano katakan padanya untuk tidak menggendong Evan selama ia hamil.


"Maama. Papa?"


"Papa pergi kerja sayang. Kan udah pamit sama Evan tadi."


"Ja?"


"Iya sayang, kerja."


"Mam... Mam..."


"Evan mau mam lagi?"


Anak kecil itu menggelengkan kepalanya seolah paham dengan maksud Anta. Anta yang merasa gemas langsung mencium pipinya.


"Gemasin banget siiihh anak Mama."


"Ev— lho? Kak Anta, kenapa gendong Evan?" Tiara yang baru saja tiba cukup terkejut melihat Anta yang menggendong Evan. Elvano sudah berpesan agar jangan membiarkan Anta menggendong Evan selama hamil.


"Nggak apa-apa. Sesekali aja kan Kakak gendong Evan."


"Aduh Kaaak. Nanti Kak Elvano marah."


"Mas akan marah kalau dia tahu. Kalau nggak tahu kan, pasti nggak marah."


"Nggak. Biar Evan Tiara yang gendong aja!" Tiara mengulurkan tangannya hendak membawa Evan dari gendongan Anta. Namun, Evan malah memeluk erat leher Anta, tak mau melepasnya.


"Evan sayang, sama Aunty Tiara ya?" Evan menggeleng. Ia malah menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Anta.


"Udah Tiara. Biarin aja. Kakak juga nggak akan apa-apa kok kalau cuman gendong Evan."


"Iya, Kak. Ricky juga kasian sama Evan. Tiap lihat Kak Anta, selalu ngulurin tangannya minta digendong. Ricky nggak tega, Kak," ucap Ricky yang baru saja tiba.


"Emm... Iya sih, Kakak juga kasihan sama Evan. Tapi, Kak Elvano—"


"Nggak apa-apa. Mas El nggak akan marah. Yang terpenting, diantara kalian nggak kasi tahu dia."


"Siap Kak, Ricky nggak akan kasih tahu," ucap Ricky.


"Eemm... Ya udah deh. Tiara nggak akan kasi tahu Kak Elvano."


"Nah, gitu dong. Ayo, kita ke ruang bermain Evan. Kalian berdua bantuin Kakak awasin Evan ya?"


"Siap Kak," jawab Tiara dan Ricky bersamaan. Kakak beradik itu juga Evan berlalu menuju ruang bermain.


***


Hari-hari berganti dengan begitu cepat. Mengenai Elvano yang tak mengizinkan Anta melihat handphonenya pun sudah mulai Anta lupakan.


Suasana rumah menjadi sepi saat Tiara dan Ricky mulai bersekolah, dan Evan diajak pergi bersama kakek dan neneknya.


"Nak Anta mau sesutu?" tanya Bi Ijah. Sejak tadi Anta hanya diam sambil fokus membaca buku.


"Nggak Bi. Anta lagi belum pengen sesuatu," jawab Anta.


"Ya Udah. Kalau begitu, Bibi ke dapur dulu. Nak Anta kalau mau sesuatu, panggil Bibi saja. Nanti bibi bawain." Anta mengangguk. Namun, belum sempat Bi Ijah beberbalik, Anta kembali memanggilnya.


"Oh ya, Bi."


"Iya, Nak?"


"Bibi kalau capek istirahat aja dulu. Jangan terlalu dipaksain buat kerja."


"Hehehe... Iya, Nak. Makasih ya."


Anta mengangguk. Wanita paruh baya itu segera berlalu menuju dapur.


Anta kembali fokus membaca buku miliknya. Beberapa menit kemudian, terdengar bel rumah berbunyi, dan pintu diketuk.


"Biar Anta saja yang bukain, Bi."


Bi Ijah yang hendak membuka pintu mengurungkan niatnya dan berbalik ke dapur. Anta segera mendekati pintu dan membukanya.


"Selamat siang, Nyonya," sapa seorang wanita.


"Selamat siang," balas Anta, tersenyum pada wanita yang tidak dikenalnya itu.


"Saya sendiri. Ada apa ya?"


"Saya dari butik C. Pak Elvano meminta untuk mengantarkan pesanannya kemari."


Anta mengerutkan keningnya tak mengerti. Elvano tidak memberitahu apapun padanya. Tapi, ia tetap menerima kotak yang diberikan wanita tersebut padanya.


Setelah wanita tersebut berpamit pergi, Anta kembali masuk dan langsung menuju kamarnya. Ia mengamati kotak tersebut saat berada di dalam kamar. Tangannya terulur membuka kotak tersebut.


Sebuah dress cantik terlipat rapih dalam kotak tersebut. Selulas senyum muncul di bibir Anta. Saat tangannya hendak meraih dress tersebut, bunyi notifikasi di handphonenya terdengar. Segera Anta meraihnya.


Mas El


Kalau dress nya udah sampai,


Jangan lupa cobain. Pulang kerja nanti


Aku mau ajak kamu jalan. Pakai dress itu terus dandan yang cantik.


^^^Anta ^^^


^^^Ini mas yang beli? ^^^


Mas El


Iya. Kenapa? Kamu nggak suka?


^^^Anta ^^^


^^^Suka. Sukaaaa banget. Makasih ya Mas. ^^^


Mas El


Iya sayang. Kamu istirahat ya. Aku pulang jam lima.


Setelah itu, kita jalan sama-sama.


^^^Anta ^^^


^^^Iya Mas. ^^^


Mas El


Love you istri Elvano.


^^^Anta ^^^


^^^Love you too suami Anta. ^^^


Anta tersenyum membaca pesannya dengan Elvano. Sementara di kantor, tepatnya di ruangannya, Elvano tidak bisa menghentikan senyumnya. Bahkan Risma yang berdiri di depannya terheran-heran melihat Elvano tersenyum cerah, tidak seperti biasanya, dingin dan datar.


"Tuan?"


"Ah Risma. Ck. Saya sampai lupa kamu berdiri disini."


Risma mengulas senyum. "Tidak apa-apa Tuan," ucapnya. "Ini laporan yang Tuan minta."


"Ya." Elvano meraih laporan yang diberikan Risma. "Oh ya, Risma."


"Iya, Tuan?"


"Kamu sedang mengandungkan?"


"I-iya," jawab Risma sedikit canggung. Tidak biasanya Elvano bertanya mengenai sesuatu yang bersifat pribadi seperti ini padanya, meskipun dia adalah istri dari teman Elvano.


"Apa yang kamu rasakan?"


"Hah? Sa-saya...."


"Ck. Anta sedang hamil. Dia—"


"Anta hamil?" Risma terkejut mendengarnya dan bertanya dengan sedikit berteriak. Dia juga tanpa sengaja memotong ucapan Elvano. Membuat lelaki itu terdiam dan menatapnya datar.


"Ma-maaf, Tuan. Aku terkejut sekaligus sangat senang mendengar kabar kehamilan nyonya Anta," ucap Risma, menambahkan kata nyonya sebelum menyebut nama Anta.


"Saya juga sangat senang. Tapi saya merasa kenapa Anta tidak seperti ibu hamil pada umumnya?"


"Maksud Tuan?"


"Istriku itu, ia bahkan nggak banyak mengeluh mengenai kehamilannya. Dia terlihat baik-baik saja. Seolah tidak menginginkan apa-apa. Makanya saya tanya sama kamu. Apa yang kamu rasakan saat hamil?"


"Setiap ibu hamil itu berbeda-beda Tuan. Jika nyonya Anta tidak menginginkan sesuatu, berarti benar-benar tidak ingin. Jangan memaksanya. Disaat dia menginginkannya, pasti dia akan minta pada Tuan. Tuan cukup penuhi apa yang nyonya Anta inginkan. Atau kalau Tuan masih merasa belum cukup, sering-sering bertanya saja apa yang nyonya Anta mau."


Elvano terdiam mendengar ucapan Risma. Ia bahkan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ucapan mu benar juga."


Risma tersenyum mendengarnya. "Kalau tidak ada yang dibutuhkan lagi, saya permisi."


"Tunggu dulu."


"Ya, Tuan?"


"Berapa usia kandunganmu?"


"4 bulan tuan."


"Ambillah cuti sampai kamu selesai melahirkan dan benar-benar pulih."


"Tu-Tuan, ini masih 4 bulan. Saya akan ambil cuti saat memasuki bulan ke delapan. Saya sudah memikirkan semuanya."


"Tidak. Bulan ketujuh, ambillah cuti. Jangan khawatir dengan pekerjaanmu. Saya akan tetap memberi gajimu."


"Bukan begitu maksud saya, Tuan."


"Tidak ada bantahan Risma. Sekarang, kembali ke ruanganmu."


"Baik, Tuan. Saya permisi."


Ck. Ada apa dengan Tuan Elvano? Apa dia pikir aku begitu khawatir akan gajiku? Apa dia lupa? Sahabatnya Tirta tidak akan membiarkanku kekurangan? Apa dia juga lupa jika Tirta pernah meberitahunya jika aku berhenti bekerja? Benar-benar aneh. Batin Risma sambil berjalan menuju ruangannya.


Saat tiba, Risma mendudukan tubuhnya di kursi kerja miliknya. Seulas senyum kembali terukir di bibirnya. Ia benar-benar senang mendengar kabar kehamilan Anta. Dia akan memberitahu Tirta dan mengajak suaminya itu membeli hadiah untuk Anta.