
Waktu terus berputar. Tanpa terasa, hari dimana diadakan pesta ulang tahun pernikahan Dinda dan Fahri tiba. Semua sudah dipersiapkan dengan baik. Elvano juga memutuskan untuk pergi menghadiri acara tersebut. Namun, keputusannya yang tidak mengizinkan Anta dan Evan pergi tidak bisa diubah.
Mobil Elvano memasuki halaman rumah. Keningnya seketika mengerut melihat mobil Papanya terparkir di halaman rumah.
"Mobil Papa? Pasti ada Mama juga. Untuk apa Papa dan Mama kesini?" Gumam Elvano. Lelaki itu menghentikan mobilnya dan turun. Langkahnya langsung menuju rumah.
"Vano? Kamu sudah pulang?" Sapa Devita ketika melihat Elvano. Wanita itu baru saja dari lantai atas. Entah apa yang ia lakukan di lantai atas.
"Ya. Kenapa Mama dan Papa kesini?"
"Memangnya salah kalau kami ke rumahmu?" Sarkas Haris. Dia sedikit tidak suka dengan nada Elvano saat bertanya. Putranya itu terkesan tidak suka jika dia dan istrinya mengunjungi mereka.
Elvano menarik nafasnya. "Vano ke kamar dulu." Tanpa menatap kedua orang tuanya, lelaki itu melangkah menuju tangga. Namun, langkahnya seketika terhenti melihat Anta turun sambil menggendong Evan. Ia seolah terhipnotis dengan penampilan Anta yang berbeda.
Gadis itu begitu cantik dengan balutan dress berwarna maroon. Putranya juga terlihat tampan dengan kemeja berwarna senada dengan Anta. Namun, mata Elvano kini hanya terpaku pada Anta. Saat terlintas di pikirannya untuk apa Anta berdandan seperti itu, wajah Elvano langsung berubah muram. Tatapannya menjadi sangat dingin.
"Mau kemana kamu?"
"M-Mas,"
"Bukannya saya sudah bilang? Kamu dan Evan tetap di rumah!"
"Mama yang suruh Anta sama Evan ikut!" Devita berdiri di belakang Elvano, diikuti suaminya.
"Kenapa Mama nggak izin dulu sama Vano?" Tanya Elvano tanpa berbalik menatap Mamanya. Matanya tetap tertuju pada Anta yang sekarang tertunduk, takut.
"Kenapa harus izin? Bukannya kamu nggak begitu peduli sama Anta?" Timpal Haris.
Elvano terdiam. Dia tidak suka dengan ucapan Papanya yang seolah menyudutkannya. Dan dia, dia juga tidak mengerti dengan jalan pikiran dan perasaannya.
"Evan. Evan harus dapat izin dari ku." Elvano merutuki dirinya. Mulutnya selalu saja mengatakan hal yang berlawanan jika menyangkut Anta.
"Baiklah. Karena Evan yang harus dapat izin dari kamu, Mama akan bawa Anta. Evan akan sama kamu. Bawa saja Bi Ijah sekalian biar bisa jagain Evan."
Elvano berbalik menatap Mama dan juga Papanya. Ia menarik nafas panjang, meredam emosinya.
"Baiklah. Sekarang, Mama sama Papa berangkat ke tempat Dinda lebih dulu. Vano akan pergi bersama Anta dan Evan."
Seketika, senyum mengembang di bibir Devita dan Haris. Bu Devita langsung mendekati Elvano. "Kamu serius?"
"Iya. Vano serius."
"Aaa... Terima kasih, nak." Bu Devita memeluk putranya sambil tersenyum.
"Iya."
"Mama nggak sabar kenalin mantu Mama ke semua orang. Mantu Mama yang cantik dan baik hati." Ujar Devita, melepaskan pelukannya pada Elvano.
Haris mendekat dan menepuk pelan pundak putranya. "Papa senang kamu nggak egois seperti ini." Ucap Haris.
"Elvano bukan orang yang selalu egois." Balasnya.
"Ck. Terserah apa katamu. Ayo, Ma! Kita berangkat duluan."
Devita mengangguk. "Ayo!" Jawabnya. Ia lalau menatap Anta sejenak. "Mama sama Papa duluan ya, Anta."
"Iya, Ma, Pa. Kalian hati-hati."
"Evan, Nenek duluan. Kamu sama Mama sama Papa. Kalian juga hati-hati. Jangan lupa ajak Bi Ijah juga."
"Iya, Ma."
Setelah Devita dan Haris kembali, Elvano, Anta dan juga Evan ke kamar. Tidak lupa, mereka memberitahu Bi Ijah untuk bersiap.
Anta mendudukkan Evan di atas ranjang, kemudian ikut duduk di samping Evan. Sementara Elvano, lelaki itu melepas jasnya sambil terus menatap Anta.
"Kenapa nggak kasi tahu kalau Mama sama Papa datang?"
"Kamu punya handphone kan? Kenapa nggak kamu gunakan?"
"Maaf, Mas. Aku nggak punya nomor handphone Mas El."
Elvano terdiam. Benar yang Anta katakan. Mereka tidak memiliki nomor handphone satu sama lain. Dia tidak memikirkan sampai disitu.
"Acara nya masih beberapa jam lagi. Siapkan bajuku."
"Iya, Mas." Anta menurut.
"Ma... Ma..."
Anta mengusap rambut putranya dengan lembut. "Evan diam ya, jangan kemana-mana. Mama mau siapin baju buat Papa."
Anta bergegas mengambil baju untuk Elvano. Tadi, Devita menyiapkan baju untuk Elvano juga. Katanya, jika Elvano pergi, harus gunakan baju yang dia bawa. Ternyata Devita menyiapkan kemeja berawarna senada dengan dress Anta dan kemeja Evan.
"Pa... Pa... Pa..." Celoteh Evan sambil menyentuh baju yang ia kenakan.
"Iya, sayang. Ini punya Papa."
Setelah beberapa saat, Elvano keluar dari kamar mandi. Anta tidak berani menoleh, karena ia tahu, Elvano hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya.
Elvano meraih baju yang Anta siapkan dan berjalan ke ruang ganti. Senyum simpul tercetak di bibirnya saat melihat kemeja yang Anta siapkan berwarna senada dengan dress gadis itu.
Setelah mengenakannya, Elvano keluar dan mendekat ke lemari. Ia meraih jasnya, kemudian memakainya. Ia mendekati Anta dan duduk di sebelahnya.
"Rapihkan rambut saya." Ujarnya tiba-tiba, membuat Anta terperangah.
"H-hah?"
"Rapihkan rambut saya." Ulangnya.
Anta dengan tangan gemetaran, merapihkan rambut Elvano. Evan yang melihat Papanya, langsung mendekat.
"Anak Papa. Sabar, ya? Sebentar lagi kita berangkat." Ujarnya.
"Sudah, Mas."
"Ya."
Setelah semuanya siap, Anta, Elvano, Evan dan Bi Ijah segera menuju rumah Dinda dan Fahri. Anta duduk di depan bersama Elvano. Sementara Bi Ijah, wanita itu bersama Evan duduk di jok belakang.
Hampir 30 menit perjalanan, mereka tiba di kediaman Dinda dan Fahri. Anta meraih Evan dalam gendongannya, karena balita tersebut terus mengulurkan tangannya pada Anta saat digendong Bi Ijah.
Tamu belum begitu banyak yang datang. Saat memasuki rumah itu, orang pertama yang berpapasan dengan mereka adalah Dika. Tatapan lelaki itu tak berkedip menatap Anta. Hal itu membuat Elvano marah. Namun, ia berusaha menahan emosinya. Ini adalah acara Dinda. Dia tidak ingin mengacaukannya.
"Ekhmm..." Deheman Elvano tak membuat Dika memalingkan wajahnya.
"Dika!" Suara dingin penuh peringatan membuat Dika berdecak dan menoleh ke arahnya. Dika kesal, tapi dia tidak ingin menunjukkannya di hadapan Anta.
"Eh ada bang Vano. Maaf, aku nggak lihat. Ku pikir Anta datang cuma sama Bi Ijah sama Evan."
"Tentu saja kamu nggak lihat. Matamu terlalu fokus pada Anta. Seharusnya kamu nggak boleh begitu pada Kakak iparmu."
"Huh. Kakak ipar, ya? Ck. Sayang sekali." Ujarnya bernada kecewa, lalu terkekeh pelan.
"Dika!!"
"Tenang, bang. Becanda doang. Serius amat." Ucap Dika, lagi-lagi terkekeh kecil. "Ya udah, aku mau kesana dulu." Dika menepuk pelan pundak Elvano, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Elvano.
"Ngomong-ngomong, Anta cantik banget hari ini." Bisiknya, lalu berjalan menajuhi mereka.
Elvano mengepal erat tangannya. Emosinya semakin naik mendengar bisikan Dika. Dia benar-benar kesal dengan sepupunya itu. Tapi, dia lagi-lagi harus meelredam emosinya. Ini adalah acara penting bagi Dinda. Dia tidak ingin sepupunya itu bersedih.