Annanta

Annanta
Jalan-Jalan



Selesai makan malam, Anta dan Elvano menemani Evan tidur. Elvano menggendong putranya dengan Anta mengusap-usap lembut kepala Evan. Membuat balita mungil itu semakin nyaman dalam tidurnya.


"Aku juga mau," ucap Elvano tiba-tiba.


Anta yang tak mengerti mengernyitkan keningnya. "Mau apa?"


"Mau di elus-elus kepalanya kayak Evan."


"Ish, jangan aneh-aneh deh, Mas. Aku kan masih elus kepala Evan. Kalau berhenti terus Evan nya bangun lagi gimana?"


"Aku nggak minta sekarang, sayang. Nanti pas mau tidur."


"Mas bukan anak kecil yang tidur harus di elus dulu kepalanya."


"Ini bukan soal anak kecil atau orang dewasa, Anta. Ini soal nyaman. Evan tidur lepap ginikan karena nyaman di usap-usap kepala nya sama kamu. Aku juga sama. Apalagi kalau sambil pelukan," ucap Elvano. "Ya ya? Usap kepala aku pas tidur nanti, ya?"


"Iya." Anta menjawab pasrah. Mau ia tolak bagaimana pun, Elvano akan tetap memaksa.


Setelah beberapa saat, Elvano membaringkan Evan ke ranjangnya. Memastikan anak itu sudah tidur dengan nyaman di ranjangnya, Anta dan Elvano kembali ke kamar mereka.


"Aku mau ke kamar mandi dulu." Elvano yang sudah selesai mengganti bajunya dengan baju tidur bergegas ke kamar mandi. Sementara Anta, ia juga sudah mengganti bajunya dan memilih duduk selonjoran di ranjang, sambil menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang.


"Sambil nunggu Mas El, aku mau baca novel ku dulu," gumamnya lalu meraih novel yang ada di atas nakas. Baru saja dia membuka cover novelnya, suara pintu kamar mandi dibuka terdengar. Sosok Elvano keluar dari sana dan berjalan ke arahnya.


"Kenapa dibaca lagi? Bukannya udah sampai akhir bacanya?" tanya Elvano, menaiki ranjang dan bergeser hingga menempel pada Anta. Tangannya ia lingkarkan di pinggang istrinya.


"Aku suka novelnya. Novel yang Ibu kasi juga udah aku baca berkali-kali. Nggak bosenin."


"Sekarang simpan novelnya. Kita kesini kan mau tidur." Elvano menyusupkan kepalanya ke dada Anta.


"Iya," jawab Anta. Ia lalu mengembalikan novel itu ke tempat semula. "Ayo tidur. Baringnya yang bener, jangan kayak gini." Anta mendorong pelan tubuh Elvano, meminta lelaki itu berbaring dengan benar, tidak sampai menindih dadanya seperti ini.


"Aku pengen nya kayak gini." Elvano semakin menyusupkan kepalanya. Membuat Anta menarik nafas.


"Anta bisa sesak nafas kalau ditindih gini, Mas."


Elvano terkekeh lalu mendongak menatap istrinya. Lelaki itu menegakkan badannya hingga ia tak perlu mendongak saat berbicara dengn Anta.


Cup...


Satu kecupan ia daratkan ke bibir Anta. "Kalau nggak mau ditindih, gantian kamu yang tindih Mas."


"Jangan aneh-aneh deh, Mas."


"Apanya yang aneh? Aku kan laki-laki normal, sayang. Plus suami kamu juga. Nggak aneh lah kalau minta kayak gitu."


Anta tersenyum paksa. Bagaimana ia menghadapi suaminya ini?


"Kita tidur aja yuk, Mas! Mas kan harus ke kantor besok. Nanti bisa telat kalau kita begadang." Anta mencoba memberi alasan yang berkaitan langsung dengan Elvano. Semoga saja laki-laki itu setuju dengan ucapannya.


"Aku nggak masuk kerja besok." Tangan Elvano yang semula berada di pinggang Anta, merambat naik ke arah dada. Anta dengan sigap menahannya.


"Tidur, ya? Aku peluk terus usap-usap kepala Mas."


Elvano menggeleng pelan. "Nggak mau!" jawabnya.


Anta meringis pelan. Susah sekali membujuk suaminya itu. Dan akhirnya, Anta hanya bisa pasrah. Membiarkan Elvano melakukan apa saja yang ia mau.


"Oeeekk... Oeeekk... Oeeekk..."


Suara tangis Evan terdengar nyaring hingga ke kamar Elvano dan Anta. Elvano yang sudah berada di atas Anta tak peduli. Ia menulikan pendengarannya dan memilih untuk terus melanjutkan kegitannya.


"Mas, Evan menangis, Mas."


Cup...


Elvano mengecup bibir Anta sekilas, lalu beralih ke leher Anta.


"Biarin. Entar juga diam sendiri kalau capek nangis."


"M-Mas kok gitu?"


"Evan harus di latih mandiri mulai sekarang."


"Evan masih kecil, Mas. Belum genap dua tahun."


Elvano masih tetap pada kegitannya. Meski begitu, dia juga khawatir pada putranya. Ingin menyudahi dan membiarkan Anta menemui Evan, tapi tanggung. Kali ini dia tidak ingin mengalah dengan Evan. Walaupun begitu, dia akan berusaha secepat mungkin melakukannya.


Ciuman Elvano yang semula di leher menurun ke area bawah leher. Anta sudah tidak bisa tenang. Pikirannya sepenuhnya teralihkan pada Evan.


"Stop, Mas!!"


Sontak Elvano menghentikan kegiatannya dan mendongak menatap sang istri. "Kenapa?"


"Aku mau lihat Evan, Mas."


"Sayang—"


"Kalau Mas nggak bolehin Anta, selanjutnya nggak ada lagi yang kayak gini. Anta nggak mau lagi."


"Lho? Kok gitu?"


"Ya gitu."


Wajah Elvano langsung berubah lesu. Laki-laki itu langsung menggulingkan badannya ke samping dengan tampang ngambek nya. Anta mengacuhkan nya. Ia segera bangkit dan meraih bajunya yang tergeletak di lantai, lalu memakainya.


"Aku atau Evan sih suami kamu?" tanyanya dengan nada kesal.


"Mas El suami Anta," jawab Anta, masih fokus mengenakan kembali bajunya.


"Tapi, kenapa kamu lebih sayang Evan? Pilih kasih!"


"Aku sayang kalian berdua, Mas. Nggak ada kata pilih kasih."


"Tapi, emang Evan yang lebih banyak habisin waktu sama kamu."


"Evan masih kecil, Mas. Harus lebih banyak dapat perhatian aku sebagai Ibunya." Anta selesai mengenakan bajunya, lalu meraih baju Elvano yang juga tergeletak di lantai.


"Aku juga butuh perhatian kamu..." lirih Elvano. Anta menarik nafasnya lalu menoleh pada Elvano. Ia mendekat dan mengecup kening suaminya.


"Pakai bajunya dulu. Aku janji, setelah Evan tidur lagi, aku secepatnya kesini." Anta semakin menundukkan wajahnya hingga bibirnya sejajar dengan telinga Elvano. "Setelah itu, kita lanjutin yang tadi," bisiknya pelan, membuat segaris senyum muncul di bibir Elvano.


Dia tidak tahu saja, kalau Anta mati-matian menahan rasa malunya.


***


Elvano terbangun dan tak mendapati Anta di sampingnya. Biasanya ia akan berteriak memanggil istrinya itu. Tapi sekarang, ia malah menunjukkan senyum manisnya. Ia kembali teringat apa yang ia dan Anta lakukan semalam. Anta benar-benar menepati ucapannya.


"Bahagia banget aku," gumamnya. Tangannya lalu meraih baju dan celananya yang terlipat rapih di atas ranjang, tepat di sebelahnya. Senyum kembali terukir di bibirnya. Seingatnya, semalam baju dan celananya berserakan. Pasti Anta yang melakukan ini.


Setelah mengenakan baju dan celananya, Elvano ke kamar mandi. Ia mandi dan berganti pakaian lalu keluar kamar untuk menemui sang istri.


Anta yang sedang menghidangkan makanan untuk sarapan terlonjak kaget saat sepasang tangan tiba-tiba melingkar di pinggangnya.


"Ish, Mas El bikin kaget aja."


"Maaf sayang," ucapnya sambil mengecup tengkuk Anta. Laki-laki itu lalu menyandarkan dagunya di bahu Anta. "Dimana Evan?"


"Evan lagi sama Bi Ijah."


"Tumbenan dia nggak nempel sama kamu."


"Mungkin lagi nggak pengen."


"Bukan nggak lagi pengen. Tapi, kasi kesempatan buat Papanya."


Anta hanya menanggapinya dengan tersenyum. Elvano semakin mengeratkan pelukannya, lalu mendaratkan kecupan bertubi-tubi di pipi Anta.


"Mas,"


"Setelah sarapan, kamu sama Evan ikut aku ya?"


"Kemana?"


"Jalan-jalan. Aku mau ajak kalian jalan-jalan."


Anta mengangguk. Dia juga ingin menghabiskan waktu di luar bersama suami dan anaknya.