Annanta

Annanta
Percaya Padaku



Kejadian yang menimpa Anta semalam, membuat Haris memutuskan untuk pulang lebih cepat dari rencana sebelumnya. Dia tidak ingin terjadi hal buruk lagi.


Anta bersama Elvano keluar dari kamar dengan Evan yang digendong Anta. Sementara Elvano, laki-laki itu membawa barang-barang mereka.


Selly menatap sinis pada Anta saat gadis itu bersama suami dan anaknya tiba di ruang tamu. Selly yakin Anta yang menggoda suaminya.


"Cih. Aku nggak percaya kalau Mas Tommy mau lecehin perempuan jelek seperti ini. Sudah pasti dia yang godain Mas Tommy dan saat Mas Tommy menolak, dia bilang saja dia yang dilecehkan. Takut kalau perilaku buruknya keta—"


"Selly!!" bentak Elvano geram. Dia marah sekali jika Anta dituduh menggoda Tommy. Istrinya tidak seperti itu. Dia tahu Anta. Menggoda dia, suaminya sendiri saja tidak berani, apalagi menggoda Tommy yang merupakan iparnya. Sangat tidak masuk akal.


"Kenapa kamu belain dia sih, Vano? Bukannya kamu ng—"


"Kamu apa? Hah? Anta istri saya. Sudah pasti saya membelanya!" bentak Elvano.


"M-Mas, nggak usah—"


"Biarkan Mas bicara, Anta." Elvano menatap lembut Anta. Suaranya pun juga ikut melembut.


Elvano lalu berbalik menatap Selly dan juga Tommy yang berdiri di sebelah istrinya itu. "Jaga omongan mu!! Jaga juga suami mu!! Kalau hal ini terulang lagi, saya nggak segan membalas!!" tegas Elvano, kemudian merangkul Anta.


"Ayo!" ajaknya pada sang istri.


Anta mengangguk lalu berpamitan pada yang lain untuk pulang lebih dulu. Mereka akan berangkat pulang siang nanti. Bi Ijah dan Pak Tarman mengikuti mereka. Pak Tarman mengambil alih barang yang Elvano pegang.


Setelah beberapa saat, mobil yang mereka tumpangi melaju menuju rumah. Suasana mobil cukup hening, hanya terdengar celoteh Evan yang bermain-bermain dengan mainannya.


"Maa..." ucap Evan sambil menatap Mamanya. Anak itu melambai-lambai kan tangannya yang memegang mainan berbahan lembut di depan wajah Anta. Membuat Anta yang diam mengulas senyumnya.


"Ada apa, sayang? Hmm?" Anta mengusap lembut rambut Evan.


"Mam..." ucap anak itu. Anta terkekeh pelan. Ia rasa, Evan memang sudah mengerti dengan pertanyaan-pertanyaan atau perintah-perintah ringan yang ia berikan.


"Iya, sayang. Evan belum Mam ya dari tadi? Ceroboh sekali Mama. Sampai lupa sama makanan buat Evan," ujar Anta. "Pak, berhenti sebentar, ya? Anta mau buatin makanan buat Evan."


"Iya, nyonya."


Pak Tarman segera menepikan mobilnya sejenak. Anta mulai menyeduh bubur khusus buat balita seperti Evan. Ia menyuapinya dan setelah selesai, mobil kembali dijalankan Pak Tarman.


Elvano hanya diam dan memperhatikan semua gerak-gerik Anta yang dengan telaten mengurus Evan.


Pantas saja Evan lebih dekat sama Anta. Selain Anta selalu di rumah, Anta juga ngurus Evan dengan baik. Batin Elvano.


Setelah beberapa jam perjalanan, mereka tiba di rumah Elvano. Anta menggendong Evan keluar, diikuti Elvano di sampingnya.


"Biar aku saja yang gendong Evan."


"Nggak apa-apa, Mas. Anta saja." Gadis itu tersenyum kecil pada Elvano, membuat Elvano hanya bisa menganggukkan kepalanya setuju.


Anta berjalan menuju kamar Evan. Saat hendak memasuki kamar tersebut, Evan menangis dan mengarahkan tangannya pada Elvano yang berada di belakang Anta.


"Paa..." anak itu sepertinya ingin Elvano yang menggendongnya.


"Mau Papa yang gendong?"


"Paa...."


"Ya sudah. Biar aku yang gendong," ucap Elvano dan meraih Evan dari gendongan Anta. Laki-laki itu memasuki kamar Evan sambil mengayun-ayun pelan Evan yang ada dalam gendongannya. Membuat Evan yang tidak tidur selama perjalanan mulai memejamkan mata karena kantuk.


Anta yang sudah selesai merapihkan kembali barang-barang Evan menatap Elvano. "Aku ke kamar dulu, Mas, mau rapihin barang-barang." Elvano mengangguk, mengiyakan ucapan Anta.


Gadis itu segera menuju kamarnya dan Elvano, yang berada di sebelah kamar Evan. Barang-barang miliknya dan Elvano sudah Pak Tarman letakkan di depan pintu kamar.


Anta membawa masuk barang-barang tersebut dan mulai merapihkannya.


Ceklek...


Suara pintu yang dibuka Elvano tak membuat Anta menoleh. Ia tetap fokus pada pekerjaannya.


Elvano menutup pintu dan duduk di sisi ranjang. Matanya tak lepas menatap Anta yang kini membelakanginya.


"Setelah ini, kamu istirahatlah," ucap Elvano.


"Aku harus masak makan siang, Mas. Tinggal sejam lagi waktunya makan siang." Anta menutup pintu lemari dan berbalik. Ia berjalan ke kamar mandi dan meletakkan pakaian kotor ke keranjang pakaian kotor, lalu keluar dari ruangan itu.


"Anta,"


Panggilan Elvano membuat Anta yang hendak menuju pintu menghentikan langkahnya. Gadis itu menatapnya. "Iya, Mas?"


"Kesini sebentar."


Tak menjawab, Elvano malah menarik Anta. Bruk... Gadis itu jatuh ke pangkuan Elvano. Secepat mungkin laki-laki itu melingkarkan tangannya di pinggang Anta, memeluknya erat. Ia juga memposisikan dagunya di pudak Anta.


"Mas,"


"Aku mau memelukmu."


"Mas, hampir jam makan siang. Aku harus masak."


"Ada Bi Ijah," jawab Elvano acuh. Dia tidak peduli dengan makan siang. Dia ingin memeluk istrinya sebanyak mungkin sebelum Evan bangun.


"Tapi, kasian Bi Ijah. Dia juga capek karena perjalanan tadi."


"Kamu juga capek, Anta. Jadi, kamu seharusnya diam di kamar. Nggak usah masak."


"Kasihan Bi Ijah, Mas. Kalau masak berdua kan bisa cepat selesai."


"Kalian nggak usah masak. Aku pesan saja." Elvano tak peduli. Ia melepas satu tangannya dari pinggang Anta. "Jangan bergerak atau berusaha kabur!" tegasnya.


Elvano membuka aplikasi pesan antar dan memesan makanan untuk mereka makan siang ini. Setelah itu ia kembali melingkarkan tangannya.


"Tidur siang, yuk!"


"Nggak mau, Mas."


"Kamu masih marah sama aku? Masih nggak maafin aku?"


"Huufthh..." Anta menarik pelan nafasnya. Kenapa Elvano bersikap seperti ini. "Aku nggak marah, Mas. Bukannya aku udah maafin kamu?"


"Iya, aku dengar kamu bilang udah maafin aku. Tapi, kamu kayak nggak ikhlas gitu."


"Nggak ikhlas gimana?"


"Ya, kamu selalu ngehindar dari aku."


"Mas aku—"


"Kamu cinta kan sama aku?" tanya Elvano percaya diri.


"S-siapa bilang?" Anta bertanya gugup.


"Kamu sendiri yang bilang." Elvano memiringkan wajahnya dan menyusupkan wajahnya ke leher Anta.


Wangi sekali. Batin Elvano.


Anta meneguk ludahnya mendengar perkataan Elvano. Ia bahkan mengabaikan rasa geli di lehernya karena ulah Elvano. "Kap-kapan aku bilang?"


"Waktu di rumah kamu, saat mati lampu."


"Mas El dengar? Shhh..." Anta meringis saat Elvano menggigit lehernya.


Laki-laki itu menjauhkan wajahnya dari ceruk leher Anta, kemudian terkekeh. "Tentu saja. Aku pura-pura tidur waktu itu."


Anta merutuki kebodohannya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tanganya, menutup wajahnya yang memerah karena malu. "Kenapa aku bodoh sekali?" gumam Anta, yang semakin membuat Elvano terkekeh.


Laki-laki itu menurunkan tangan Anta, dan menahannya. Ia menatap wajah cantik itu dari samping. "Kamu tahu, aku sangat senang mendengarnya malam itu."


"Mas!"


"Nggak apa-apa kalau sekarang cinta kamu berkurang. Nggak apa-apa kamu menghindariku. Biar aku yang mengembalikan cinta kamu biar utuh lagi. Biar aku yang mengejar kamu dan membuat kamu terus berada di sampingku."


"Aku masih ragu, Mas..." lirihnya pelan.


"Anta—"


"Aku takut, Mas. Aku takut jika semua ini hanya kebohongan. Aku takut saat aku memberikan perasaanku, aku malah terluka."


Elvano menarik nafasnya lalu dengan lembut menarik wajah Anta hingga menatapnya. "Parcaya padaku, okey? Aku akan melakukan semua yang ku bisa untuk mempertahankan rumah tangga kita dalam keadaan apapun. Aku akan berusaha untuk membuatmu terus bahagia. Percaya padaku, aku akan membuktikannya," ucap Elvano, dan Anta hanya diam.


"Kamu dengar aku, kan?"


"Iya, Mas."


"Aku nggak apa-apa kamu bersikap seperti ini. Biarkan aku yang memulai semuanya, okey? Biarkan aku yang membangun kembali rumah tangga kita. Kamu cukup bersikap seperti yang kamu inginkan. Aku yang akan melakukannya."


Anta terdiam, lalu mengangguk. Membuat senyum terbit di bibir Elvano. Laki-laki itu mengecup kening Anta dan memeluknya erat. "Terima kasih. Aku mencintaimu." Lagi-lagi Anta hanya mengangguk tanpa membalas pelukan maupun pernyataan cinta Elvano.


Semoga yang kamu katakan semua ini benar, Mas. Batin Anta.