
Anta dan Elvano turun bersama menemui Vionna setelah mengantar Evan kembali ke kamarnya. Rasa penasaran masih mengganjal di hati Anta mengenai Evan yang bukan anak Elvano. Tadi, setelah mengambil jatah ciumnya, Elvano melenggang ke kamar mandi begitu saja. Saat ditanya Anta, dengan santainya dia menjawab, "Nanti itu nggak selamanya setelah kita ciuman. Setelah makan, atau pas tidur juga termasuk nanti."
Anta hanya bisa menarik nafasnya. Sejak hubungan mereka membaik, sikap Elvano yang dingin berubah menjadi lebih hangat dan, sedikit aneh.
Mendapati Elvano dan Anta berjalan ke arahanya, Vionna berdiri dengan mata yang menatap tajam pada Anta.
"Kenapa kamu menatap istriku seperti itu?" tanya Elvano dengan nada dingin tak suka.
"Vano, kenapa kamu menikah dengannya?"
"Apa masalahmu? Siapa kamu sampai berani mengatur hidupku?" Elvano bertanya sinis. Tangannya yang semula menggenggam tangan Anta berpindah memeluk posesif pinggang sang istri. Vionna yang melihatnya semakin marah dan kesal.
"A-aku Vionna. Orang yang kamu cinta."
"Pfftt..." Hampir saja Elvano menyemburkan tawanya mendengar jawaban Vionna.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Vionna, bingung dengan reaksi yang Elvano tunjukkan.
Elvano tak menjawabnya. Mata lelaki itu malah tertuju pada Anta. "Kamu dengar sayang? Dia bilang, aku mencintainya? Percaya diri sekali. Hahaha..."
"Mas, jangan gitu!" tegur Anta, merasa tak enak dengan Vionna.
"Kamu dengar!" Elvano menolehkan wajahnya menatap Vionna. "Pernah menyukaimu, itu kesalahan besar dalam hidupku. Aku terlalu bodoh saat itu. Aku tutup mata atas semua yang kamu lakukan. Aku nggak percaya sama Mama sama Papa. Aku bahkan bertengkar dengan Mama dan Papa hanya karena kamu. Benar kata Tirta. Lo itu menghancurkan keluarga gue. Setelah gue sadar, gue bersyukur lo menghilang selama ini."
"Vano, aku juga pergi karena Mama sama Papa ka—"
"Diam!!" bentak Elvano keras. Hal itu membuat Anta yang berdiri di sampingnya terkejut dan memejamkan mata. Sadar akan apa yang ia lakukan, Elvano membawa Anta dalam pelukannya dan mengecup puncak kepalanya.
Perlakuan Elvano semakin membuat Vionna kesal dan membenci Anta.
"Jangan lo salahin orang tua gue saat lo sendiri mau pergi. Gue udah tahu kebusukan lo!"
Vionna tertegun mendengarnya. Dia tidak kenal Elvano yang seperti ini. Elvano yang ia kenal adalah laki-laki yang selalu lembut dan baik padanya. Elvano tidak pernah berkata kasar padanya. Tapi sekarang, Elvano seolah menganggapnya seperti orang asing. Sepertinya Elvano sudah benar-benar tidak peduli padanya.
Meski begitu, Vionna tidak menyerah. Dia akan tetap berusaha mendapatkan kembali hati Elvano.
"Nggak semuanya kamu tahu, Vano. Mama kamu, Mama kamu nggak suka sama aku. Dia berusaha usir aku. Membuat aku jauh dari kalian."
"Cih! Aku memang berpikir seperti itu dulu. Tapi, setelah aku tahu semuanya, aku percaya Mama."
"Kalau begitu, aku ingin bertemu anakku," ucap Vionna, masih tidak menyerah. Ia berharap dengan membawa anak itu, dia bisa memiliki kesempatan kedua dari Elvano.
"Anak? Lo punya anak?"
"Vano, anak yang kamu gendong tadi, itu anak aku kan?"
"Cih! Sekarang, lo bilang anak itu anak lo? Lo buang dia di depan pos security. Lo tinggalin dia semalaman. Lo tahu? Dia hampir mati karena kedinginan!! Dan sekarang lo bilang dia anak lo? Ibu macam apa lo tega sama anak sendiri?"
"Keadaan yang maksa aku kayak gitu, Vano!"
"Huh! Lo pikir gue percaya? Pergi!"
"Vano, dia anak aku. Aku Ibunya. Kamu nggak berhak misahin anak sama Ibunya."
"Dia juga anak abang gue! Dan jangan lupa, bukan gue yang misahin dia dari lo. Tapi, lo sendiri yang buang dia!"
"Vano—"
"Keluar!" Suara Elvano terdengar dingin.
"Vano aku—"
"Keluar!!" Elvano kembali berteriak keras. Karena Vionna yang masih belum pergi, dengan geram Elvano melepas pelukannya pada Anta dan mendekati Vionna. Karena di selimuti emosi, tanpa sadar ia sedikit kasar mendorong Anta menjauh. Beruntung wanita itu bisa menopang dirinya hingga tidak tersungkur karena dorongan Elvano.
Elvano meraih kasar tangan Vionna dan membawanya keluar. Anta yang merasa kasihan pada Vionna berjalan cepat mengikuti langkah mereka.
"Mas. Ja—"
"Untuk kali ini, kamu jangan ikut campur, sayang!" tegas Elvano tanpa menoleh pada istrinya. Sontak, Anta membungkam mulut dan berhenti berbicara. Namun, ia tetap mengikuti langkah Elvano yang menarik kasar Vionna keluar rumah.
Vionna pikir, ia sudah berhasil. Ia akan memeras keluarga Elvano menggunakan anaknya. Dia mengenal keluarga itu dengan baik. Mereka pasti sangat menyayangi anak itu. Mereka tidak akan membiarkan anak itu terluka. Dan dia bisa memanfaatkannya jika anak itu kembali padanya.
Namun, harapan Vionna pupus saat melihat senyum miring Elvano.
"Ke-kenapa—"
"Huh. Lo pikir gue bodoh? Gue udah tes DNA dan hasilnya akurat. Evan anak bang Raka."
"Vano—" ucapan Vionna terhenti aaat Elvano mendorongnya keluar. Laki-laki itu dengan santainya melenggang masuk dan merangkul pinggang sang istri.
"Mas, jangan kasar-kasar ngomongnya. Kasian mbak tadi."
"Untuk apa? Jangan pikirkan dia. Ayo, kembali ke kamar."
Anta berhenti melangkah dan menatap suaminya. "Kita nggak makan malam?"
"Sekarang?"
Anta mengangguk. "Aku udah lapar," ucapnya.
"Ya udah, ayo!" ujar Elvano. Anta tersenyum dan kembali mengangguk. Mereka pun sama-sama menuju ruang makan. Padahal, belum waktunya makan malam.
***
Elvano duduk bersandar di sandaran ranjang, dengan Anta yang berada dalam dekapannya dan menyandarkan kepala di dada bidangnya. Tangan Elvano bergerak-gerak mengusap lembut rambut Anta.
"Ayo Mas, ceritain semuanya. Aku udah penasaran banget," ucap Anta.
"Ya udah, aku ceritain. Tapi, sebelum itu, aku mau tanya sama kamu."
"Tanya apa?"
"Sekarangkan kamu udah tahu, kalau Evan itu bukan anak aku. Apa kamu akan berhenti sayang sama dia?"
Pertanyaan Elvano sedikit menyinggung Anta. Wanita itu segera menjauhkan tubuhnya dari Elvano. Bibirnya mengerucut cemberut, kesal dengan pertanyaan sang suami.
"Eh, kok cemberut?" tanya Elvano. Ia tidak paham kenapa istrinya ini cemberut.
"Aku nggak suka Mas tanyain begitu. Aku tersinggung, Mas,"
"Ha? Ma-maaf, sayang. Mas nggak bermaksud buat kamu tersinggung," ucap Elvano. Ia kembali menarik Anta ke dekapannya.
"Mas tahu, aku sayang banget sama Evan. Bukan kaarena dia anak kamu, atau cucu dari keluarga kaya seperti Mama Papa. Aku sayang sama Evan tulus dari hati aku, Mas. Jika aku disuruh milih antara kamu sama Evan, aku lebih memilih Evan. Aku nggak masalah dibenci kamu, asal jangan Evan. Dia putraku, Mas. Dan selamanya akan menjadi putraku," ucap Anta.
Elvano tertegun. Ia terkesan dengan apa yang Anta katakan, sekaligus merasa kalah saing dengan Evan. Bocah mungil itu memenangkan hati Anta lebih darinya.
Anta menyusupkan tangannya ke pinggang Elvano. Ia memeluk suaminya itu dengan erat. "Tapi, aku sadar, aku nggak mau dibenci kamu ataupun Evan. Aku juga nggak mau kehilangan kalian."
Elvano menarik sudut bibirnya membentuk senyum. Ia mengecup puncak kepala Anta cukup lama. "Aku juga nggak mau kehilangan kalian. Aku ingin kita terus bersama hingga tua, hingga maut memisahkan."
Anta tersenyum menanggapinya. "Sekarang, ayo cerita kejadian yang sebenarnya soal Evan. Aku udah penasaran banget."
"Ya udah, aku cerita. Dengerin, ya?"
"Iya."
"Ekhm... Pada zaman dah... Shh... Sakit, sayang." Elvano meringis sakit sebelum menyelesaikan ucapannya. Anta mencubit pinggangnya, lalu menjauhkan tubuhnya dari Elvano.
"Rasain! Aku kan mintanya serius, kenapa Mas malah bercanda?"
"Hehehe..." Elvano hanya menunjukkan cengirannya. Benar-benar membuat Anta bertambah kesal.
"Ya udah. Aku tidur aj—"
"Eehh... Nggak! Aku serius cerita," ucap Elvano cepat, dan kembali menarik Anta bersandar di tubuhnya. Ia juga memeluk istrinya itu dengan erat, agar tidak tiba-tiba menjauh.
Elvano mengusap-usap rambut Anta dengan lembut, lalu mulai bercerita soal kehidupannya dan Evan yang belum Anta ketahui.