
Elvano menarik nafas lega. Akhirnya Evan berhenti menangis dan tertidur. Ia menatap ke jam dinding yang terpasang di kamar Evan. Sudah jam 10 malam. Evan menangis cukup lama.
Elvano menutup pelan pintu kamar Evan dan kembali ke kamarnya. Belum sempat ia membaringkan tubuhnya, terdengar deru mobil berhenti di depan gerbang rumahnya. Penasaran, Elvano pun mengintip dari balkon kamar.
"Terima kasih, mbak sudah menolong saya." Ucap Anta pada wanita yang sudah berbaik hati menolongnya dan mengatarnya pulang.
"Sama-sama."
Wanita itu langsung melajukan mobilnya pergi setelah membalas ucapan terima kasih Anta. Meski tidak melihat sebagaian wajahnya karena tertutup masker, Anta bisa menebak jika wanita itu tersenyum padanya dari lengkungan matanya.
Petugas keamanan langsung membuka pagar untuk Anta. Gadis itu masuk dan menuju kamar Evan. Ia ingin memastikan kondisi putranya itu. Melihat Evan tertidur, membuat senyum kecil muncul di bibir Anta. Ia mengecup kening Evan, kemudian berlalu ke kamarnya bersama Elvano.
Anta menarik nafasnya melihat Elvano yang sudah tertidur. Ia duduk di pinggir ranjang sambil menatap Elvano yang tidur memunggungi nya.
"Maafkan aku, Mas, karena sudah terlalu ikut campur dengan urusanmu. Aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri dan seorang Ibu. Nggak ada maksud untuk ikut campur urusanmu." Gumam Anta.
Gadis itu lalu beranjak. Ia mengganti bajunya di ruang ganti, kemudian membaringkan tubuhnya membelakangi Elvano. Anta mencoba memejamkan matanya. Tanpa ia tahu, Elvano mendengar apa yang ia katakan. Lelaki itu hanya berpura-pura tidur.
***
Seperti biasa, Anta bangun pagi dan membantu Bi Ijah menyiapkan sarapan. Setelah itu, menyiapkan baju untuk Elvano dan mengurus Evan.
Setelah hari dimana Elvano meninggalkannya di jalanan, hubungan Anta dan Elvano kembali seperti biasa. Tidak ada kata maaf yang keluar dari mulut laki-laki itu.
"Anak Mama udah ganteng. Sekarang, kita turun sarapan, ya?" Anta menggendong Evan keluar dari kamar. Dan kebetulan Elvano juga keluar dari kamarnya.
"Pa... Paa... Paa..." Celoteh Evan sambil menggerakkan tangannya, seolah mencoba menggapai Elvano.
Elvano mendekat dan mengecup pipi putranya. Sedikit melirik Anta yang malah menatap ke arah lain. Tangannya meraih Evan dalam gendongannya.
"B-biar Anta yang bawa tas nya." Ucap Anta, saat Evan sudah berpindah ke gendongan Elvano.
Tanpa menjawab apapun, Elvano menyerahkan tas nya pada Anta, kemudian berjalan meninggalkan Anta. Gadis itu menarik nafasnya. Entah apa yang salah dengannya hingga Elvano selalu bersikap dingin. Tapi, ia bersyukur, Elvano beberapa hari ini mengenakan setiap baju yang ia siapkan.
Anta yang baru tiba di ruang makan, mempercepat langkahnya saat melihat Elvano kerepotan mengambil makananya karena Evan yang berada di pangkuannya.
"Biar Anta yang ambilin, Mas."
Gadis itu meraih sendok dari tangan Elvano, lalu menyendokkan makanan ke piring. Tanpa bertanya, Anta mengambil lauk yang Elvano sukai. Lelaki itu sempat terkejut karena Anta tahu apa yang ia inginkan.
Apa selama ini dia memperhatikan ku saat makan?
"Ini, Mas."
"Evan sama Mama dulu, ya? Papa mau sarapan."
Anak itu dengan cepat menyambut tangan sang Mama. Anta membawa Evan ke stroller nya, lalu menyuapkan makanan untuk anak itu.
Elvano memakan makanannya. Sesekali matanya melirik Anta yang serius mengurus Evan. Dia tidak habis pikir dengan gadis itu. Sikap dingin dan cukup kasar terus ia tunjukkan. Tapi, Anta masih mampu bertahan.
Elvano menggelengkan kepalanya, kemudian melanjutkan makannya. Setelah beberapa menit, ia menghabiskannya, kemudian beranjak menghampiri Evan.
"Papa kerja dulu, ya? Evan baik-baik di rumah."
"Paa... Ta... Ta... Ta..."
Elvano mengecup pipi Evan beberapa kali. Setelah kecupan itu berhenti, Anta dengan sigap meraih tangan Elvano dan menciumnya.
"Hati-hati, mas. Ini!" Anta meyerahkan tas milik Elvano pada orangnya.
Elvano meraihnya. Ingin sekali ia meminta maaf pada Anta atas kejadian beberapa hari lalu. Tapi egonya sangat tinggi. Meskipun terus merasa bersalah, Elvano mengabaikannya dan berlalu begitu saja. Saat tiba di halaman, Elvano terdiam. Seperti ada yang kurang. Ia terdiam sejenak, lalu menoleh ke belakang. Ia tahu, apa yang kurang sekarang.
***
Anta tersenyum manis pada Evan yang sudah bisa berdiri sendiri. Setelah sarapan, ia langsung membawa Evan ke ruang bermain. Memang ruangan itu tidak sebesar ruangan bermain di rumah Devita. Namun, jumlah mainan yang di sediakan hampir sama dengan yang ada di rumah Devita.
"Ayo, anak Mama. Sini." Anta memberi jarak antaranya dan Evan. Tidak jauh. Tapi, cukup untuk melatih Evan melangkah.
Balita mungil itu mencoba menggerakkan kakinya untuk melangkah. Hampir dua minggu dia melatih Evan melangkah dengan memegang kedua tangan anak itu. Dan sepertinya Evan mulai berusaha melangkah sendiri tanpa pegangan.
"Ayo, nak."
Evan tersenyum girang saat Anta melambai-lambai, menyuruhnya mendekat. Ia mulai mengangkat kakinya.
Satu langkah, Evan kembali berhenti. Ia mencoba menjaga keseimbangannya.
"Ayo, nak. Sekali lagi."
Evan menyengir sambil menepuk-nepuk kan tangannya. Dengan pelan, ia mengayunkan kakinya lagi.
"Ayo, nak! Selangkah lagi."
Evan menatap Anta, lalu mendudukkan tubuhnya. Ia meraih mainannya dan menggerak-gerakannya di depan Anta. Gadis itu tersenyum, lalu meraih Evan dalam pelukannya.
"Nggak apa-apa. Nanti kita coba lagi. Hari ini Evan udah baguus banget. Mama senang lihatnya." Anta mengelus-elus rambut Evan.
"Taa... Taa... Taa..."
"Mam... Suu..."
"Evan mau mimun susu? Ayo, Mama buatin susu buat Evan."
Anta segera menggendong anak itu, membawanya ke dapur.
***
Anta tersenyum tulus menatap ranjang mungil yang kini di tiduri Evan. Anak itu tidur awal malam ini. Mungkin kelelahan karena sedang semangat belajar berjalan.
Anta mendongak ke arah jam yang menggantung. Sudah jam 9, namun Elvano masih belum kembali. Anta mengeluarkan handphone pemberian Devita, hendak menelpon Elvano. Tapi, ia kembali menghentikannya.
"Aku nggak punya nomor hp Mas El. Bagaimana aku bisa menelponnya?" Monolognya, memasukkan kembali handphonenya.
Anta keluar dari kamar Evan dan berjalan ke ruang tamu. Gadis itu memutuskan untuk menunggu Elvano disana.
Sepeuluh menit menunggu, deru mobil memasuki halaman dan menuju garasi. Anta yakin, itu pasti Elvano.
"Biar aku bawakan." Anta meraih tas Elvano dan membawanya. Gadis itu mengikuti Elvano yang berjalan ke arah tangga menuju kamar.
"Oh ya, Mas. Hari ini aku senang banget. Evan udah mulai bisa selangkah dua langkah berjalan sendiri. Dia juga kelihatan bahagia banget." Cerocos Anta. ia begitu bahagia. Dia sudah lupa jika dirinya dan Elvano tidak begitu dekat sampai berbicara panjang seperti ini.
"Semoga..."
Ucapan Anta terhenti saat Elvano berhenti melangkah dan menoleh padanya.
Deg
Tatapan mata lelaki itu membuat jantung Anta berpacu cepat. Anta benar-benar takut sekarang. Ia menunduk kan wajahnya. Elvano pasti akan memarahinya.
"Saya lapar." Ucapan Elvano membuat Anta mendongak. Tatapan mereka saling beradu, namun Anta dengan cepat mengalihkannya.
"Akan aku panaskan makananya. Mas El mandi dulu. Aku siapkan airnya." Jawab Anta, tanpa melihat mata Elvano.
"Hmmm,"
Setelah mendapat jawaban Elvano, Anta segera ke kamar mendahului sang suami. Meletakkan tas kerja Elvano, lalu ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk Elvano. Gadis itu lalu bergegas keluar untuk memanaskan makanan . Tiba di pintu kamar, ia kembali berpapasan dengan Elvano. Keduanya saling melawati satu sama lain tanpa sepatah kata yang keluar dari mulut masing-masing.
"Mas El sangat dingin. Aku nggak berani menyapanya." Gumam Anta.
Langkahnya mengarah ke dapur. Tangannya dengan cekatan memanaskan semua makanan yang dia masak dan menyiapkan di meja. Sebenarnya, dia juga sangat lapar.
Elvano mendekati meja makan dalam keadaan segar setelah mandi. Stelan rumahan yang terkesan santai membuat Elvano terlihat lebih muda dari usianya yang hampir 28 tahun. Anta sampai tidak ingin mengalihkan tatapannya.
Mas El sangat tampan.
"Ekhm..." Deheman Elvano menarik Anta dari keterkaguman nya. Gadis itu salah tingkah.
"Se-selamat makan, Mas." Ujarnya asal. Ia tidak tahu ingin bicara apa.
Elvano tak menjawab. Dia mengambil makanan dan lauk, lalu memakannya dalam diam. Anta hanya duduk menemani lelaki itu makan. Setelah Elvano selesai dan meninggalkan ruangan tersebut, Anta cepat mengisi perutnya.
"Perutku sudah sakit karena menahannya. Nggak biasanya Mas El pulang jam segini. Semoga nggak ada masalah di perusahaannya." Anta meringis pelan sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
Dan tanpa Anta ketahui, Elvano melihat dan mendengar ucapannya.