Annanta

Annanta
Bab 46



Setelah menyelesaikan rapat, Elvano kembali ke ruangannya dan berkutat dengan pekerjaannya. Ketika sedang fokus, tiba-tiba handphonenya bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk yang dengan mudah mencuri fokus Elvano.


Istriku


Mas, siang ini makan di rumah atau di kantor?


Seulas senyum muncul di bibir Elvano. Ini adalah pertama kalinya Anta berinisiatif mengirim pesan terlebih dahulu padanya. Ia merasa sangat senang.


^^^Elvano^^^


^^^Aku pengennya makan siang di rumah. Tapi, pekerjaanku masih banyak. ^^^


Istriku


Mau Anta antarkan ke kantor? Atau Anta mita tolong pak Tarman anterin?


Senyum di bibir Elvano semakin lebar. Anta yang menawarkan sendiri untuk mengantarkan makanan untuknya. Kesempatan langka. Dia tidak akan menyia-nyiakan nya.


^^^Elvano^^^


^^^Kamu aja yang anterin. Sekalian sama ^^^


^^^Evan juga ya, sayang. ^^^


Istriku


Iya, Mas.


Setelah saling berbalas pesan, Elvano melanjutkan pekerjaannya. Kali ini ia lebih semangat dari sebelumnya. Setelah beberapa menit mengerjakannya, Elvano meninggalkan ruangan tersebut dan langsung menuju lantai dasar perusahaan. Ia sendiri yang akan menyambut istri dan anaknya.


Duduknya Elvano di kursi tunggu lobi perusahaan membuat banyak pasang mata yang menatapnya. Bukan hanya karena parasnya yang tampan, melainkan karena rasa penasaran mereka. Tidak biasanya pemimpin mereka itu berada di lobi, seperti sedang menunggu seseorang seperti itu.


"Mereka datang." Senyum tipis muncul di bibir Elvano saat melihat mobil yang sering dibawa pak Tarman tiba. Ia beranjak dari duduknya lalu menghampiri Anta.


"Sayang." Elvano langsung merangkul Anta yang baru turun dari mobil, lalu mengecup kening wanita itu. Ia juga mengecup kening Evan yang sedang dalam gendongan Anta. Perlakuan Elvano sontak membuat para karyawan menatap mereka.


"Mas, malu. Kita dilihatin banyak orang." Anta sedikit berbisik sambil memalingkan wajahnya.


"Malu kenapa? Biarkan saja mereka," jawab Elvano acuh. Mata Elvano melirik ke arah benda yang dibawa Anta. "Itu—"


"Paa... Paa... Paa...." Evan memukul-mukul pelan pundak Elvano, sehingga ucapan lelaki itu terhenti.


"Iya, Nak. Ada apa? Kangen ya sama Papa? Sini, Papa gendong." Tidak seperti sebelumnya yang selalu menolak Elvano jika bersama Anta, kali ini Evan langsung menyambut uluran tangan Papa nya. Kini tubuh mungil itu sudah berada di gendongan Elvano.


"Itu, makan siang buatku?" Elvano menatap rantang yang Anta bawa. Senyum manis kembali terukir di bibirnya saat Anta mengangguk, mengiyakan ucapnnya.


"Ayo, kita ke ruanganku saja." Elvano meraih tangan Anta dan menggenggamnya erat. Anta mencoba melepaskannya, namun genggaman Elvano terlalu erat.


"Mas, lepasin. Malu dilihat orang."


"Kamu malu jalan sama aku?"


Anta melebarkan matanya. "Hah? Bu-bukan. Bukan itu maksud Anta. Mas jangan salah paham deh."


"Ya terus, maksud kamu gimana?"


"Eeemm... Udahlah, Mas. Kita ke ruangan kamu aja." Anta tidak ingin memperpanjang. Wanita itu balas menggenggam tangan Elvano, yang sontak kembali membuat lelaki itu tersenyum.


Perlahan mereka berjalan melewati karyawan-karyawan yang diam-diam menatap keduanya. Ada beberapa pertanyaan mengenai kehidupan sang CEO yang berputar dalam pikiran mereka. Hanya dalam pikiran. Tidak ada yang ingin mencaritahu. Bisa-bisa mereka kehilangan pekerjaan tersebut.


"Selamat siang Tuan. Selamat datang Nyonya, Tuan muda." Risma sedikit menundukkan kepalanya.


"Terima kasih, Mbak Risma." Anta tersenyum pada wanita itu, yang juga dibalas senyuman. Seketika Anta kembali merasa pernah melihat bentuk mata seperti Risma.


"Hampir jam makan siang. Kamu istirahat lah. Jangan sampai Tirta marah-marah padaku karena kamu telat makan siang," ucap Elvano. "Ayo, sayang."


"Iya, Mas. Mbak Risma, kita masuk dulu."


"Silakan, Nyonya."


Setelah sampai di ruangan, Elvano menuntun Anta duduk di sofa, lalu menurunkan Evan hingga duduk tepat di sebelah Anta. Elvano juga ikut duduk hingga tubuh mungil Evan berada di tengah-tengah antara dia dan Anta.


"Udah Papa gendong plus jagain biar nggak jatuh. Ayo, cium Papa sebagai upahnya." Elvano mendekatkan pipinya pada Evan yang langsung dikecup anak itu.


"Pinter banget anak Papa." Elvano mengusap-usap pelan kepala Evan lalu menegakkan kembali tubuhnya.


"Mau makan sekarang, Mas?"


"Iya. Kamu sama Evan udah makan?"


"Evan udah. Aku nya aja yang belum." Tangan Anta bergerak memisahkan rantang tersebut.


"Sekalian aja. Aku juga nggak mungkin habisin semuanya."


Anta tersenyum. "Biasanya juga nambah, Mas. Masa nggak bisa habisin?"


"Hehehe... Tapi, seriusan. Aku kalau makannya sepiring sama kamu, baru setengahnya aja udah kenyang."


Anta hanya membalasnya dengan senyuman dan geleng kepala. Ia memindahkan makanan-makanan tersebut ke hadapan Elvano. "Ayo, dimakan Mas."


Segera lelaki itu meraih makanan yang sudah Anta siapkan. Ia menyendokkan makanan tersebut lalu mengarahkannya pada Evan, yang langsung mendapat gelengan dari anak itu. Sepertinya dia sudah benar-benar kenyang.


"Evan nggak mau disuap Papa?" tanya Elvano dengan wajah cemberut. Berpura-pura salah mengartikan gelengan kepala Evan.


"Mas ih, Evan kan udah kenyang. Kenapa kamu suapin lagi? Udah pasti Evan nggak mau."


"Iya iya, sayang. Aku cuma becanda," ucapnya. "Aku makan, ya." Elvano segera menyuapkan makanan tersebut ke mulutnya. Anta terus menatap suaminya, ingin mendengar tanggapan sang suami mengenai masakannya.


"Gimana, Mas?"


"Apanya?" Elvano menatap Anta.


"Makanannya."


"Seperti biasa, masakan istriku nggak pernah gagal!" ujar Elvano sambil tersenyum.


"Syukurlah."


Elvano kembali menyendok makanannya. Tapi kali ini, ia tak menyuapkan ke mulutnya, melainkan mengarahkannya pada Anta. "Ayo, makan."


"Mas."


"Kita makan berdua. Aku nggak mau kamu sakit, sayang. Kalau makanannya nggak cukup, nanti kita pesan lagi." Tanpa menunggu balasan dari Anta, Elvano kembali mengarahkan sesendok berisi makanan tersebut di dekat bibir Anta. Karena tak bisa menolak, Anta membuka mulutnya dan melahap makanan tersebut.


"Enak kan?" Anta mengangguk. "Sudah pasti enak kalau disuapin sama suami ganteng kayak aku gini."


"Oh ya, Mas. Aku merasa familiar dengan mata mbak Risma. Aku seperti pernah melihatnya."


Elvano yang sedang mengunyah makanannya, menoleh. "Tentu saja pernah melihatnya. Bukannya Risma pernah ke rumah?"


"Saat mbak Risma ke rumah, aku juga merasakan hal yang sama."


"Jadi?"


"Ku rasa di waktu lain."


"Kalau begitu, tanyakan saja pada Risma nanti. Mungkin saja kalian pernah bertemu," saran Elvano pada istrinya.


Anta hanya mengangguk. Ucapan Elvano ada benarnya. Jika dia berbicara pada Risma, bukan hanya mencari jawabannya. Bisa saja mereka sedikit lebih akrab.


Tidak ada mainan, membuat Evan jenuh. Anak itu menangis dan berakhir tertidur setelah Anta menggendongnya. Elvano yang sudah menyelesaikan makan siangnya pun berdiri tepat di samping Anta.


"Udah nyenyak banget. Baringin aja, sayang. Berat badan Evan sering bertambah. Kasian kamunya." Elvano mendekati sebuah pintu lalu membukanya. Hingga nampaklah ruang istirahat Elvano.


"Ini... Kamar Mas?"


"Lebih tepatnya ruang istirahat," balas Elvano. "Ayo, sini Evan nya ditidurin di kasur," lanjut Elvano sambil menyiapkan kasur tersebut untuk membaringkan Evan.


Setelah selesai, Elvano dan Anta keluar dengan pintu yang sengaja tidak ditutup rapat. Takut jika Evan terbagun dan mereka tidak mengetahuinya. Apalagi ranjang di kamar tersebut cukup tinggi untuk seorang Evan.


"Mas, masih jam istirahat kan?" tanya Anta.


"Iya, kenapa?" Elvano membelai lembut rambut Anta. Tangannya lalu turun mengusap pipi Anta.


"Aku mau ke mbak Risma, boleh? Aku sangat penasaran dengan mata mbak Risma itu."


"Boleh. Tapi, jangan lama-lama ya? Temani aku kerja."


"Aku sama Evan nggak pulang?"


"Sekalian sama aku nanti."


"Pak Tarman?"


"Udah aku suruh pulang, sayang." Elvano menangkup kedua pipi Anta lalu mengecup bibirnya sekilas. Gemas sekali dengan istrinya yang banyak tanya ini.


"Ya udah, aku ke mbak Risma dulu."


Setelah mengatakan itu, Anta segera keluar dari ruangan Elvano dan mendekat ke ruangan Risma. Beruntung wanita itu masih di ruangannya, belum pergi untuk makan siang.


"Permisi, Mbak." Anta mengetuk pintu ruangan Risma yang terbuka.


Risma segera berdiri dan sedikit menundukkan kepalanya. "Nyonya," sapanya.


"Aduh Mbak, nggak usah seperti ini. Anta saja udah cukup, Mbak."


"Gimana ya? Nggak sopan kalau saya panggil nama saja. Anda istri dari Tuan Elvano."


"Nggak apa-apa. Panggil Anta saja kalau nggak ada Mas El. Usiaku lebih muda dari Mbak." Risma terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Aku boleh masuk?"


"Boleh."


Anta segera memasuki ruangan tersebut dan duduk di kursi depan Risma. Ia melirik segelas susu yang ada di meja sekretaris suami nya itu. Dia tahu, susu apa yang wanita itu minum. Dan spontan, ia mengusap perut ratanya.


"Eeemm... Mbak Risma, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Anta.


"Boleh," balas Risma.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Sebelum aku ke kantor ini dan juga sebelum Mbak ke rumah. Aku sepertinya pernah melihat tatapan mata yang sama dengan mbak."


Risma menatap Anta dalam diam, lalu menarik nafasnya. Mungkin ini saatnya dia untuk tidak menutup-nutupi lagi apa yang pernah ia lakukan.


"Baiklah. Ya, kita pernah bertemu. Tapi, kamu nggak mengenali saya." Kening Anta mengerut mendengarnya. Kapan terjadinya? Ia tidak mengingatnya.


"Apa kamu ingat waktu... tuan meninggalkanmu di jalanan saat malam hari?"


"Ya, aku ing— tunggu. Apa... Yang menolongku malam itu, Mbak?"


Risma mengangguk. "Iya, itu saya." Wanita itu tersenyum pada Anta. "Kamu tahu? Itu bukan kebetulan."


"Maksudnya?"


"Saya sedang di restoran bersama suami saya waktu itu. Tempatnya tidak jauh dari lokasi saya menemukanmu. Saya datang karena disuruh tuan Elvano."


"Mas El?"


"Iya. Tuan sepertinya tidak tega meninggalkan kamu sendirian." Anta terdiam. "Kamu tahu? Waktu itu suamiku sangat kesal. Katanya begini, 'Elvano sialan! Untung nggak ada disini tu orang. Awas aja. Kalau ketemu, gue sentil otaknya. Ninggalin istri, bukannya tanggung jawab, malah gangguin orang yang lagi dinner.' gitu katanya." Risma mencontohkan suaminya dengan berbisik. Takut jika Elvano mendengarnya.


"Hehehe... Suami Mbak Risma lucu juga ya? Masa otak bisa disentil?"


"Ya gitu. Suami saya kalau udah sama tuan, suka bercanda, kadang suka ribut juga."


"Suami Mbak kenal sama Mas El?"


"Iya. Mereka temenan sejak kuliah. Kita dulu satu universitas."


"Jadi, Mbak Risma temenan sama Mas El juga?"


"Eemm... Bisa dibilang begitu. Tapi, nggak begitu dekat. Saya kenal tuan karena suami saya. Saya juga kalau udah di kantor atau urusan pekerjaan, sungkan banget sama tuan."


Sedang asik mengobrol, handphone Risma yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar. Wanita itu segera meraihnya dan menjawab telpon yang ternyata dari Elvano.


"Hallo, tuan."


"Hmmm." Elvano hanya berdehem menjawab Risma. "Istri saya masih di ruanganmu?"


"Iya, tuan."


"Suruh dia kesini, segera!"


"Baik, tuan."


Panggilan langsung terputus setelah Risma menjawabnya. Risma menatap Anta yang juga menatapnya. "Tuan minta kamu kembali ke ruangannya sekarang. "


"Ya udah. Aku ke ruangan Mas El dulu. Kapan-kapan, kita ngobrol lagi ya, Mbak?"


"Iya."


Anta segera bengkit dari duduk dan bergegas menuju ruangan Elvano. Perasaannya berubah sangat bahagia mendengar cerita Risma tadi. Ternyata Elvano sedikit menyimpan rasa peduli padanya dulu.