Annanta

Annanta
Pulang



Selama 4 hari Anta di rumahnya, selama itu juga Elvano tidak bekerja. Dan hari ini adalah ke 5 ia tidak bekerja. Ketika Anta bertanya, lelaki itu dengan santainya menjawab, "Saya malas ke kantor. Jaraknya terlalu jauh. Saya juga malas menyetir."


Mendengarnya, Anta hanya bisa mengangguk. Kini mereka duduk bersama di ruang tamu, sambil mendengar cerita Tiara yang baru tiba sejam lalu.


"Oh ya, Kak. Sekitar 3 kilo-an dari tempat kemah kita, ada air terjunnya."


"Oh ya?"


Tiara mengangguk semangat. "Iya," ujarnya. "Airnya seger benget. Pemandangannya juga bagus."


"Waah, senang banget. Kakak jadi pengen lihat," kata Anta dengan penuh harap.


Elvano hanya bisa menjadi pendengar. Namun tatapan matanya tak lepas dari Anta. Sepertinya gadis itu sedikit cerewet saat bersama Tiara dan juga Ricky. Sementara Evan, anak itu sibuk dengan mainannya.


"Kita udah dulu ceritanya. Udah waktunya makan siang. Ayo, kita makan dulu!" ajak Anta.


"Iya, Kak. Aku juga sudah sangat lapar," sahut Tiara.


"Ayo, Mas!"


"Hmm... kamu duluan saja. Aku yang akan gendong Evan."


Anta mengangguk dan bergegas ke dapur bersama Tiara. Elvano berdiri dan meraih Evan ke gendongannya. "Anak Papa makan siang dulu, ya?" ucap Elvano sambil mencium pipi Evan.


Laki-laki itu membawa putranya menuju meja makan. Disana sudah banyak makanan yang dihidangkan Anta dan Tiara.


"Kak Anta mau Tiara ambilin apa?" tanya Tiara menatap Anta yang duduk di sampingnya.


"Kakak ambil sendiri saja. Kamu ambilkan untukmu. Kamu harus banyak makan supaya sehat dan semangat sekolah."


Tiara tersenyum saat Anta mengusap rambutnya. Walaupun mereka sudah kehilangan orang tua, tapi ia dan Ricky tidak pernah kurang kasih sayang dari Anta. Gadis itu selalu memberikan mereka kasih sayang layaknya anak-anak yang memiliki orang tua.


"Kak Anta juga makan yang banyak."


"Kakak udah terbiasa makannya dikit," balas Anta. Gadis itu lalu menatap Elvano. "Mas El mau Anta ambilin yang mana?"


"Yang mana saja," balasnya datar. Anta mengangguk lalu menyendokkan makanan ke piring Elvano. Setelah itu, ia meraih Evan ke gendongannya.


"Biarin Papa makan dulu, ya? Evan makannya sama Mama," ucap Anta membawa Evan ke kursinya. Gadis itu menyuapi Evan dengan makanan khusus balita seperti Evan yang sudah dibuatnya.


Seketika suasana meja makan hening. Sesekali terdengar celoteh Evan ketika tak sengaja Anta terlambat menyuapinya.


Sementara Elvano, laki-laki itu terus mencuri pandang menatap Anta. Ia masih teringat pengakuan Anta malam itu. Seketika sudut bibirnya tertarik membentuk segaris senyum. Dan Tiara melihatnya. Gadis 15 tahun itu mengikuti arah pandang Elvano. Saat tahu objeknya adalah Anta, ia tersenyum lebar.


"Semoga pernikahan Kak Anta selalu diliputi kebahagiaan," gumamnya dalam hati.


***


Anta berdiri di depan Tiara dan Ricky dengan segaris senyum tipis di bibirnya. Tatapannya tak lepas dari kedua adiknya yang kini berwajah sendu.


"Kapan-kapan datang lagi ya, Kak?" ujar Ricky sedih. Hatinya tidak rela jika sang Kakak harus pergi. Tapi bagiamanapun, Anta sudah bersuami. Ia harus bisa memahami tugas Anta.


"Iya," jawab Anta.


"Kakak sehat-sehat disana. Sering-sering kabari kita, Kak." Tiara meraih tangan Anta dan menciumnya.


"Kalian juga sehat-sehat disini." Anta menarik kedua adiknya dalam pelukan. Jujur, dia juga berat meninggalkan kedua adiknya.


"Kakak jangan khawatir. Besok bibi pengasuh sudah bisa datang. Kita diurusi dengan baik. Bibi pengasuh sangat baik, Kak." Ricky semakin mengeratkan pelukannya.


Setelah beberapa menit berpamitan, Anta, Elvano dan Evan pun berangkat. Mobil Elvano meluncur meninggalkan rumah milik Anta dan adik-adiknya.


Dering handphone Anta memecah keheningan dalam mobil tersebut. Anta segera menjawab panggilan telpon tersebut.


"Hallo," sapa Anta.


"Hallo, Anta."


Elvano yang sedang fokus menyetir langsung menoleh pada Anta. Dari suara samar-samar yang ia dengar, penelpon sepertinya laki-laki.


"Siapa?" tanya Elvano dingin. Tatapan dinginnya kini fokus pada jalanan.


"Kak Dika, Mas."


Spontan saja Elvano mencengkram setir mobilnya. Dia tidak suka Anta berbicara dengan Dika.


"Kamu belum pulang?" tanya Dika.


"Kita pulang hari ini, Kak. Sekarang udah di jalan," ucap Anta.


Elvano melirik istrinya yang sepertinya terlihat santai berbicara dengan Dika. Sangat berbeda saat dia berbicara dengannya. Gugup, kaku dan terus tertunduk. Membuat ia kesal saja.


"Anta."


Gadis itu menoleh pada Elvano yang memanggilnya. "Iya, Mas?"


"Matikan telponnya!"


"Tapi—"


"Saya nggak suka ada yang ribut saat saya konsentrasi," ucap Elvano dingin.


Anta meneguk ludahnya. Elvano sangat serius dengan ucapannya. "I–iya, Mas," jawabnya.


"Kak Dika."


"Iya, Anta?"


"Udah dulu, ya?"


Pertanyaan Dika membuat Anta menoleh pada Elvano. Dia tidak tahu harus memberi jawaban apa pada Dika. Ia tidak begitu pandai membuat alasan.


Elvano yang sudah kepalang kesal memelankan laju mobilnya dan meraih handphone tersebut dari tangan Anta.


"Aku yang minta Anta tutup telponnya. Kamu ada masalah?"


"Bang Vano?" tanyanya, namun tak dapat balasan dari Elvano. "Ck. Santai aja, bang. Nggak usah marah-marah," balas Dika sambil terkekeh pelan.


Elvano semakin dibuat kesal oleh anak itu. Tanpa membalas lagi ucapan Dika, Elvano memutuskan panggilan tersebut sepihak. Ia kemudian menyerahkan kembali handphone tersebut pada Anta.


"Saya nggak suka kamu telponan sama Dika."


"Kenapa, Mas?"


"Kamu punya nomor Dika, kan?" Anta mengangguk. "Nomor suami sendiri kamu punya?"


Deg...


Anta terdiam. Pertanyaan Elvano memukul telak dirinya. Lelaki itu benar. Dia memiliki nomor handphone orang lain, sementara suami sendiri dia tidak punya.


"Maaf, mas..." lirih Anta.


Elvano menarik nafasnya. Ia lalu merogoh saku celananya, mengeluarkan handphonenya. "Simpan nomor kamu disini, dan simpan nomor saya di handphone kamu."


Tidak membantah, Anta segera meraih handphone milik Elvano dan mengetikkan nomor handphone nya dan menyimpannya. Ia lalu menelpon ke nomor handphonenya kemudian menyimpan nomor handphone Elvano.


"Sudah, Mas." Anta kembali mengembalikan handphone tersebut pada Elvano. Setelah itu, mereka kembali terdiam. Anta sesekali melirik ke jok belakang, dimana Evan sedang tertidur di kursi khususnya.


***


Setelah melewati perjalanan cukup lama, Anta, Elvano dan Evan tiba di rumah mereka. Saat memasuki halaman rumah, terdapat dua mobil terparkir disana. Anta maupun Elvano mengenali dua mobil itu.


Mobil papa sama Dika. Untuk apa mereka disini? batin Elvano.


Anta hanya terdiam saat melihat kedua mobil tersebut. Keluarga Elvano berhak datang ke rumah itu kapan saja. Itu yang ia pikirkan.


Elvano memarkirkan mobil lalu turun, diikuti Anta yang membuka pintu belakang dan menggendong Evan. Mereka bersama memasuki rumah.


"Aduh, cucu Nenek udah pulang. Sini-sini, Nenek gendong." Devita langsung meraih Evan ke gendongannya. Anak itu masih belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.


"Bagaimana kamu disana, sayang?" tanya Devita pada menantunya, Anta.


"Anta senang, Ma. Anta bisa kumpul bareng Tiara sama Ricky."


"Mama senang dengarnya," ucap Devita sambil tersenyum.


"Bagaimana dengan kamu Vano? Katanya karena Evan nggak bisa jauh dari Anta. Kenapa kamu ikutan tinggal? nggak masuk kerja lagi." Haris menatap putranya sambil melepar senyum menggoda, yang terlihat menyebalkan di mata Elvano.


"Vano kerja daring," balasnya datar.


"Kapan-kapan aku juga mau ke tempat kamu, Anta," celetuk Dika yang mendapat tatapan tajam dari Elvano.


"Bol—"


"Ngapain kesana?" potong Elvano dingin. Dia jadi kesal pada sepupunya itu.


"Buat silaturahmi sama adik-adiknya Anta, lah. Ngapain lagi? bolehkan, Anta?" Dika menatap Anta sambil tersenyum.


Anta tersenyum paksa. Dia berada di pilihan yang sulit. Mengizinkan Dika pergi atau melarangnya, karena dari ekspresi Elvano, sudah pasti laki-laki itu tidak suka jika Dika ke sana.


"Boleh, kan?" Dika kembali mengulang pertanyaannya.


"Bo–boleh, deh."


Tak


Elvano menjatuhkan tas milik Anta ke lantai. "Bawa sendiri tas mu ke atas!" ujarnya.


"Biar aku yang membawakannya," sahut Dika, langsung meraih tas Anta.


Langkah Elvano seketika terhenti mendengar ucapan Dika. Laki-laki itu berbaik dan merebut tas Anta dari tangan Dika.


"Aku nggak suka ada orang luar masuk ke kamarku!" ucap Elvano kemudian berlalu dari hadapan mereka.


"Vano kenapa, Ta?" Devita dan Haris bertanya bersamaan. Elvano terlihat aneh dimata mereka.


"Anta juga nggak tahu, Ma, Pa."


"Anta! Rapihin baju-baju nya!" terdengar teriakan Elvano dari atas. Satu lagi hal yang terlihat aneh dari Elvano. Anta, Devita, Haris dan Dika saling bertatapan.


"Anta!!"


"Iya, Mas."


"Cepatan kesini!"


"Iya, Mas. Aku gendong Evan dul—"


"Biarkan saja Evan sama Mama!"


Anta menatap ibu mertuanya. "Ma, Anta titip Evan, ya?"


"Iya, Nak. Cepatan temui Vano!" Anta mengangguk dan segera menemui Elvano di lantai dua.


Devita, Haris dan Dika saling bertatapan. Segaris senyum muncul di bibir mereka dengan isi pikiran masing-masing.