Annanta

Annanta
Marah



Elvano menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Dia tidak sabar ingin segera pulang ke rumah. Pikirannya terus tertuju pada Anta dan Dika. Jika Anta diantar Dika, sudah pasti lelaki itu mampir ke rumahnya. Bayangan Anta berduaan dengan Dika dan tertawa bersama, membuat Elvano kesal. Apalagi jika Evan juga bersama mereka. Benar-benar terlihat seperti keluarga bahagia.


"Aarrgghh... Kenapa aku jadi seperti ini?" Elvano mengacak rambutnya. "Ck. Kenapa harus ada rapat penting sore ini. Aku seharusnya bisa pulang sekarang." Elvano kembali menatap jam yang melingkar di tangannya.


Lelaki itu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Dua jam lagi rapat penting itu akan di mulai.


Di sisi lain, Anta baru bangun dari tidur siang. Ia awalnya menemani Evan tidur, tapi ia malah ikut tertidur. Anta meregangkan tubuhnya, lalu mengikat rambutnya yang sengaja di lepas.


"Masih tidur." Ujarnya, lalu mengecup kening Evan. Ia beranjak dari ranjang dan menuju kamar mandi. Tidak ada pekerjaan lain yang harus ia lakukan. Anta memilih untuk tetap di kamar, menunggu Evan bangun. Anta menyibukkan dirinya dengan menata ulang isi lemarinya juga Elvano. Untuk bagian Elvano, ia hanya merapihkannya. Ia tahu, Elvano tidak suka ia terlalu ikut campur dalam urusannya.


Setalah itu, ia duduk di tepi ranjang menunggu Evan sambil membaca novel usang miliknya, hadiah dari sang Ibu saat ia berulang tahun yang ke 16. Novel yang penuh inspirasi untuk meraih cita-cita. Anta sudah membacanya berkali-kali namun tidak pernah bosan dengan ceritanya.


Hampir 1 jam menunggu, Evan pun terbangun. Anta membawanya bermain, lalu menuju kamar Evan untuk memandikan anak itu karena hari sudah menjelang sore.


"Anak Mama udah ganteng. Jadi, Evan nggak boleh kotor lagi. Nanti Nenek datang lho, nginap disini. Kan nggak bagus kalau Nenek cium Evan, tapi Evan nya kotor." Ucap Anta. Tadi, Ibu mertuanya berpesan jika dia akan kembali sore hari untuk menginap. Dia sepertinya kangen tidur berpelukan dengan Evan.


Evan yang diajak bicara seperti itu oleh Anta, terseyum. Ia mengusap-usap wajah Anta, membuat Ibu sambungnya itu terkekeh.


Dering handphone membuat kelehan Anta terhenti. Wanita itu mendekati nakas dan meraih handphonenya yang tergeletak. Panggilan dari Ibu mertuanya. Anta dengan cepat menjawabnya.


"Hallo,"


"Hallo, Ma."


"Anta, Mama lagi di perjalanan. Kamu mau pesan apa?"


"Anta nggak pesan apa-apa, Ma."


Anta dan Bu Devita terus berbincang. Sementara Evan, anak itu mulai bergerak-gerak dalam pelukan Anta, meminta untuk turun. Anta tanpa sadar membiarkannya turun. Anak itu berjalan-jalan. Hingga tiba-tiba terdengar suara 'Dug...' dibarengi suara tangis Evan.


"Aaaak.. Aaaak..."


"Ya Allah, Evan."


Anta dengan wajah panik menghampiri putranya dan menggendongnya. Kening anak itu sedikit memar karena terpentok tiang penyangga ranjangnya. Anta tidak tahu pasti bagaimana kejadiannya. Ia bahkan tidak mematikan panggilan telpon dari Bu Devita.


"Aaaakk... Aaaakk..."


"Ya Allah, sayang. Nak, Evan sayang. Maafin Mama, nak. Mama nggak perhatiin kamu."


"Anta, Evan kenapa?" Suara Devita terdengar dari handphonenya.


"Evan kepentok penyangga ranjangnya, Ma."


"Aduuuh, kasihan cucu Mama. Kamu urus Evan dulu. Mama matikan telponnya. Bentar lagi Mama sampai."


"Iya, Ma."


Panggilan telpon itu segera terputus. Anta dengan mata yang mulai berkaca-kaca, mengusap pelan kening putranya yang masih menangis. Ia ikut sedih melihat putranya kesakitan seperti ini.


"Cup... Cup... Cup... Anak Mama. Maafin Mama, ya? Mama..."


"Evan kenapa menangis?"


Deg...


Suara dingin Elvano membuat Anta merinding. Elvano seperti orang yang akan membunuhnya saja.


"Mas, Evan tadi..."


"Apa yang kamu lakukan pada putraku!!" Bentak Elvano sambil mendakat ke arah Anta. Bentakan nya membuat Anta terkejut dan menghentikan ucapannya. Aura lelaki itu begitu menyeramkan sekarang. Anta sampai kesulitan menelan salivanya.


"Apa yang kamu lakukan? Hah? Kanapa bisa memar seperti ini?" Elvano kembali membentak. Matanya menatap tajam Anta. Amarah terlihat jelas di mata tajam itu.


"Ev-Evan kepentok penyangga..."


"Kepentok? Kenapa bisa kepentok, hah? Apa yang kamu lalukan saat menjaganya?" Elvano merebut Evan dari gendongan Anta. Anak itu semakin menangis saat di gendongan Elvano.


"Dari siapa? Dari Dika? Hah?"


"Ma-Mas..."


"Apa?!" Bentakan Elvano kali ini membungkam Anta. Bahkan Evan yang menangis pun menghentikan tangisnnya.


"Apa? Kamu mau memberikan alasan apa lagi? Kalau kamu nggak becus menjaga Evan, jangan sanggupi perjanjian kamu dan Mama! Kamu ingin membunuh putraku dengan keteledoranmu itu? Hah?"


Tes... Air mata Anta jatuh. Sungguh, dia tidak ada sedikitpun niat membuat Evan seperti ini. Dia benar-benar menyayangi Evan. Tidak ada niat untuk melukai Evan, apalagi membunuhnya.


"Ma-Mas..."


"Kalau kamu ingin bermalas-malasan, katakan saja! Aku bisa mencari pengasuh untuk Evan. Dengan begitu, kamu bisa bermalas-malasan. Bisa telponan dengan Dika tanpa memikirkan Evan. Kamu bisa berduaan dengannya."


"Mas, aku nggak telponan sama Dika."


"Cih! Kamu pikir aku percaya? Huh, enggak!!" Ucapnya. "Ternyata aku salah menganggapmu baik pada Evan. Salah menganggap jika kamu menyayangi Evan sepenuh hati. Kamu... Ibu yang buruk. Kamu... Tak lebih hanya benalu yang mencari keuntungan!"


"Elvano!!" Suara Devita nyaring saat mendengar perkataan Elvano untuk Anta. Di belakangnya ada Haris juga. Mereka tidak menyangka akan mendapati pemandangan seperti ini.


"Huh, sumber kehadiranmu datang!" Elvano tertawa remeh, sambil menatap bergantian Anta, Devita dan Haris.


"Vano! Jaga bicara kamu!" Bentak Haris.


"Kenapa harus dijaga? Benarkan, Mama adalah sumber adanya Anta di rumah Vano? Mama yang membawa Anta dan membuat Anta menjadi istri Vano! Dan Papa, Papa mendukung semua yang Mama lakuin. Dan apa sekarang? Orang yang terus kalian puji adalah perempuan jahat! Dia memang seperti benalu. Dia..."


"Vano!!" Devita membentak putranya dengan perasaan marah. Elvano benar-benar keterlaluan. "Apa kamu nggak sadar? Ucapanmu itu menyakiti hati Anta. Seharusnya kamu bersyukur memiliki istri seperti Anta. Dia mengorbankan masa depannya, masa mudanya untuk Evan. Dia rela menjadi Ibu sambung buat Evan, dan meninggalkan masa mudanya yang seharusnya sedang bersenang-senang dan berkumpul bersama teman-temannya."


"Apa kata Mama? Bersyukur? Untuk apa? Untuk apa Vano bersyukur memliki istri yang mencelakai putra Vano? Dia!" Elvano menunjuk ke arah Anta. "Dia yang Mama bilang mengeorbankan masa depannya untuk Evan? Apa Mama nggak salah? Dia mengorbankan masa depannya untuk keluarganya, untuk kelancaran operasi adiknya. Dia ada untuk Evan karena uang yang Mama kasih. Dia menukar kehidupannya dengan uang!"


Plak...


Satu tamparan mengenai wajah Elvano. Tamparan pedas dari sang Papa.


"Papa nggak pernah ajarin kamu seerti ini, Vano!"


"Ya, Papa nggak ajarin Vano seperti ini. Tapi, Papa dan Mama yang membentuk karakter Vano seperti ini!"


Haris semakin tersulut emosi. Saat dirinya hendak menapar Elvano lagi, Anta tiba-tiba berdiri di depannya. Dan...


Plak...


Taparan Haris mengenai pipi Anta. Devita dan Haris terkejut. Bahkan, Elvano pun ikut terkejut dengan apa yang Anta lakukan.


"Anta, nak. Maafkan Papa." Ujar Haris.


"Anta, sayang. Apa yang kamu lakukan, nak?" Devita menyentuh pipi Anta yang memerah dengan sedikit bekas tamparan Haris.


Gadis itu mendongak menatap kedua mertuanya. "Ini salah Anta, Ma, Pa. Anta memang nggak becus. Mas El nggak salah disini. Anta yang salah. Anta yang sepantasnya mendapat tamparan ini, bukan Mas El." Ujar Anta, dengan air mata yang mengalir.


Bu Devita tak kuasa membendung air matanya. Ia meraih Anta dalam pelukannya dan memeluknya erat. "Maafkan Mama sama Papa."


Anta mengangguk. "Ini bukan salah Mama sama Papa."


Haris terdiam. Ia lalu mengusap kepala Anta. "Ayo, kita ke rumah."


"Rumah?"


"Ya. Kamu tinggal di rumah Mama dan Papa. Jangan serumah dengan orang yang nggak pernah menghargai kamu." Sindir Devita.


Anta terdiam beberapa saat, lalu mengangguk. Ada pancaran harapan di mata Mama dan Papa mertuanya. Dia tidak ingin mengecewakan mereka. Selain itu, mereka ada benarnya. Dia dan Elvano memang harus saling mejauh untuk sementara. Setidaknya sampai Elvano bisa menenangkan hatinya. Namun, perasaan sedih menyelimuti hati Anta. Dia akan meninggalkan putranya, Evan. Tapi lagi-lagi dia mengingatkan dirinya. Dia bukan siapa-siapa. Evan ada Elvano yang menemani.


Elvano hanya terdiam mendengar ucapan Papanya yang ingin membawa Anta. Ketika gadis itu berbalik mengikuti Devita dan Haris, Evan menangis. Tangannya terus melambai seolah hendak menggapai Anta. Namun, ego Elvano begitu tinggi. Ia dengan kasar menutup pintu kamar Evan, membuat anak itu tidak bisa melihat Anta juga Kakek Neneknya.