
Elvano menatap handphonenya. Dua detik yang lalu, notifikasi pesan masuk di handphonenya berbunyi. Seulas senyum terbit di bibirnya saat mendapati pesan dari Anta.
Anta
Kami berangkat, Mas.
Mas jangan lupa, makan tepat waktu.
Baju Mas selama tiga hari udah Anta
siapin di lemari Anta.
Pakainya dari baju yang paling kanan.
Kalau udah sampai, nanti Anta kabarin lagi.
^^^Elvano ^^^
^^^Iya, sayang. Hati-hati. ^^^
^^^I love you. ^^^
Anta
Aku juga.
^^^Elvano ^^^
^^^Juga apa? ^^^
Anta
Aku juga cinta kamu.
Elvano terkekeh membaca pesan tersebut. Dia seperti remaja yang sedang bertukar pesan dengan pacarnya.
"Ekhm!" Deheman keras itu membuat Elvano menghentikan senyumannya. Ia baru sadar, jika ada Tirta disini.
"Apan sih lo? Gangu!"
"Cih! Lagi chattingan sama siapa lo? Senyum senyum?"
"Sama istri gue lah. Kenapa?"
"Nggak. Gue pikir... Ck. Lupain aja."
"Nggak jelas lo!" Elvano kembali fokus pada handphonenya. Chattingan dengan Anta membuatnya merindukan istrinya itu. Dari pada dia meladeni Tirta yang sedang bad mood karena Risma merajuk, lebih baik ia melihat-lihat fotonya bersama Anta dan Evan.
"Vano!"
"Hmm." Hanya deheman tanpa menoleh, membuat Tirta menarik nafasnya.
"Lo lihat gue, bisakan?"
Elvano memutuskan tatapannya dari layar handphone, kemudian menatap Tirta.
"Nih, udah gue lihat. Lo mau ngomong apaan sih? Pake lihat-lihat segala. Ngomong aja biasakan?"
"Ck. Gue cuman mau bilang, jagain istri lo. Sayang sama dia. Jangan lo lirik-lirik cewek lain."
"Gak akan! Gue udah nggak bisa berpaling lagi dari Anta," jawabnya. "Dari pada Lo disini, mending lo bujuk Risma lagi."
"Susah banget istri gue dibujuk."
"Lo sih, kalau diminta ya kasi."
"Ya mana gue tahu? Bilangnya beli martabak, ya gue beli martabak. Nggak tahu gue kalo dia maunya martabak rasa pedas."
"Istri lo aneh. Gue baru denger ada martabak rasa pedas."
"Namanya juga lagi hamil," jawab Tirta setengah kesal. "Ck. Malas gue ngomong sama lo. Gue mau ketemu Risma dulu." Tirta menepuk pahanya, lalu berdiri. "Gue ingatin lo sekali lagi. Walaupun gue belum ketemu sama istri lo, gue yakin dia perempuan baik. Jangan Lo sia-siain sama lo sakitin. Susah cari orang baik yang benar-benar baik," ucap Tirta, lalu keluar dari ruangan Elvano.
Elvano terdiam mendengar apa yang Tirta katakan. Hingga pintu tertutup, ucapan Tirta masih terngiang.
"Gue nggak akan kecewa in Anta," gumamnya.
Elvano menarik nafasnya, menatap foto Anta sejenak, lalu mematikan layar handphonenya. Ia mulai fokus pada dokumen yang ada di hadapannya.
Hingga hampir 2 jam ia melakukan pekerjaannya, notifikasi pesan di handphone nya membuyarkan konsentrasi. Ia dengan cepat meraihnya, berpikir jika itu pesan dari Anta.
+ 6282457314xxx
Vano, aku pulang.
Kening Elvano mengerut membaca Pesan tersebut. Tidak ada foto profil yang membuatnya bisa mengenali orang tersebut. Alhasil, ia mengabaikan pesan itu dan melanjutkan pekerjaannya.
Ting... Notifikasi pesan kembali berbunyi.
+ 6282457314xxx
Ini aku Vionna
Deg
Elvano terdiam membaca pesan tersebut. Vionna? Dia kembali? Setelah hampir dua tahun menghilang, sekarang dia kembali.
+ 6282457314xxx
Vano. Kamu masih ingat aku kan?
Kita ketemu di cafe pelangi jalan xx, ya?
+ 6282457314xxx
Balas pesan aku, Vano.
Elvano tetap diam sambil menatap pesan yang terus masuk. Vionna, perempuan yang pernah ada di hatinya dan menghilang begitu saja, kini kembali. Entah perasaan seperti apa yang ia rasakan sekarang saat mengetahui wanita itu kembali, ia tak mengerti.
"Sepertinya, yang ku lihat di mall waktu itu, benaran Vionna," gumam Elvano.
***
Setelah tiga jam perjalanan, Anta, Evan, Devita, Haris dan Dika tiba di rumah lama Anta. Anta tidak tahu jika Dika akan ikut bersama mereka. Ingin ia menolak laki-laki itu untuk ikut, tapi ia merasa tidak enak pada Dika dan kedua mertuanya yang mengajak Dika.
"Sebelum menikah, ini rumah kamu?" tanya Dika.
"Iya, Kak. Ini rumah Anta sama adik-adik Anta."
"Papa pertama kali kesini. Rumahnya asri. Papa suka," ucap Haris.
"Papa nya aja yang sok sibuk. Mama kan sering ajak Papa kesini. Tapi, Papa terus nolak. Katanya sibuk!"
"Bukan sok sibuk, sayang. Emang beneran sibuk." Haris menoel hidung Devita, membuat Anta dan Dika terkekeh.
"Eh, Neng Anta. Pulang kampung ya? Mana suami ganteng nya, Neng? Nggak ikut?" tanya seorang perempuan yang dulu sempat mengatai-ngatai Anta waktu pertama kali pulang sejak ia menikah. Sejak dibuat bungkam oleh Elvano waktu itu, cara bicara mereka pada Anta jadi sedikit lebih bersahabat. Walaupun begitu, masih ada yang memberikan tatapan sinis.
"Mas El nya lagi banyak kerjaan, Bu." Anta menjawab seadanya.
"Oh. Kalau mereka siapanya Neng Anta?"
"Iya Neng. Mas ganteng yang sebelahan sama Neng Anta, siapa? Boleh lah, Ibu kenalin sama anak Ibu." Salah seorang Ibu yang ikut membuka suara.
"Ini Ibu mertua saya, ini Papa mertua saya da—"
"Papa mertua kamu ganteng ya," puji Ibu itu terang-terangan.
"Makasih B... Shhh, sakit sayang." Haris meringis saat mendapat cubitan dari Devita tepat di pinggangnya.
Wanita itu menatap sang suami tajam, lalu berbisik di telinganya. "Jangan genit!" peringat Devita.
"Bercanda, sayang. Aku cintanya sama kamu, dan akan selalu setia sama kamu," ucap Haris yang diabaikan begitu saja oleh Devita.
Anta tersenyum melihat Papa dan Mama mertuanya. Ia lalu menatap Dika. "Kalau ini, Kak Dika. Dia adik sepupu suami saya, Bu."
"Ooh, adik sepupu suami. Ganteng. Tapi, kenapa panggilnya Kakak?"
"Anta menghormati saya karena lebih tua dari dia."
"Hehehe... Gitu ya," ucap keempat Ibu itu bersamaan.
"Oh ya, Mas nya udah punya pacar belum? Mau saya kenalin sama putri saya nggak?"
"Saya sudah punya istri!" Dika menjawab dengan santainya. Membuat Anta, Devita dan Haris menahan senyum melihat wajah kecewa ibu-ibu itu.
"Ya udah Neng Anta, Bu, Pak, Mas Dika, kita mau lanjut dulu ke pasar."
"Iya Bu, silahkan," jawab Anta dan Devita.
"Hati-hati di jalan Bu!" teriak Dika seolah sudah kenal akrab dengan ibu-ibu tersebut.
"Ayo, kita masuk!" ajak Anta. Pelayan yang Devita tugaskan untuk menjaga Tiara dan Ricky pun membantu Dika membawa barang-barang mereka.
"Mama tolong gendong Evan. Anta mau bantuin Bibi sama Kak Dika."
"Iya, Nak." Devita menyodorkan tangannya untuk menggendong Evan. "Sini sayang sama Nenek. Mama bantuin Om Dika ada sama Bibi dulu."
"Biar Papa bantuin juga," ucap Haris.
Mereka sama-sama membawa barang bawaan mereka dan menempatkan sesuai yang Anta katakan.
Semalam, ia sudah memberitahu Tiara untuk menyiapkan kamarnya agar bisa ditempati Papa dan Mama mertuanya. Dia tidak tahu jika Dika akan ikut. Jadi, Dika akan ia suruh tidur bersama Ricky nanti.
"Bibi lagi masak apa?" Anta berjalan mendekati Bibi yang sedang menggoreng sesuatu.
"Goreng ikan, Nyonya." Wanita yang sering disapa Bi As oleh Tiara dan Ricky itu menoleh sekilas pada Anta, lalu tatapannya fokus kembali menggoreng ikan.
"Sebelum Bibi pulang semalam, Non Tiara bilang, Nyonya sama nyonya dan tuan besar akan kemari. Jadi, Bibi masak yang banyak."
"Semuanya udah di masak. Atau, Nyonya mau dimasakin apa lagi?"
"Nggak usah, Bi."
Suara motor yang berhenti di halaman rumah, membuat Anta dan Bi As saling tatap.
"Ricky pulang jam segini, Bi?"
"Nggak tahu, Nyonya. Biasanya 1 atau 2 jam lagi pulangnya."
"Kalau gitu, Anta ke depan dulu ya, Bi. Mau lihat beneran Ricky atau bukan."
Anta segera ke halaman depan setalah mendapat anggukkan Bi As. Benar saja, ternyata motor tersebut berhenti karena mengantar Ricky pulang.
"Kak Anta." Anak itu berjalan cepat dan menyalimi tangan Anta. "Aku lihat ada mobil di depan. Jadi ingat kata kak Tiara, kalau Kakak datang hari ini sama ibu, sama bapak juga."
"Iya. Ayo, masuk! Mereka sudah di dalam." Ricky mengangguk, lalu dia bersama Anta masuk bersama.