Annanta

Annanta
Tanda Terima Kasih



Setelah menemani Evan tidur siang, Anta kembali ke kamarnya. Ia juga ingin istirahat setelah beraktivitas cukup banyak hari ini. Gadis itu duduk di tepi ranjang dan kembali mengeluarkan novel usang miliknya. Senyum tipis terukir di bibirnya saat mengingat pertama kali ia mendapatkan novel tersebut.


"Ibu, Anta rindu sama Ibu. Anta juga rindu sama Ayah." Gumamnya. Tanpa terasa, setetes air matanya jatuh. Gadis itu memeluk erat novel tersebut lalu berbaring tanpa melepaskannya. Dan tanpa sadar, ia tertidur sambil memeluk novel tersebut.


Di lain tempat, setelah menyelesaikan pekerjaannya, Elvano berniat untuk pulang lebih awal. Dia membereskan dokumen-dokumen yang sedikit tercecer lalu bergegas keluar.


Risma yang melihatnya cukup heran. Masih 3 jam lagi waktunya pulang. Tapi, Elvano sepertinya sudah siap untuk pulang.


"Risma,"


"Ya, Tuan."


"Tolong kirimkan dokumen perusahaan C ke email saya. Saya sedang ada urusan penting. Harus segera pulang."


"Baik, tuan."


Elvano segera melenggang pergi setelah mendapat anggukkan sekretarisnya. Saat memasuki mobil, senyum tipis terukir di bibirnya. Ia tiba-tiba membayangkan kerutan di kening Anta saat melihat dirinya pulang sebelum jam pulang kerja. Pasti sangat lucu.


Lagi-lagi Elvano merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia menyentuhnya perlahan.


"Ku rasa, aku selalu berdebar-debar saat mengingat dan berada di dekat Anta." Gumamnya pelan. Ia kemudian melajukan mobilnya meninggalkan area kantor.


Ketika tiba, Elvano langsung menuju dapur. Entah apa yang ia pikirkan hingga langkahnya mengarah ke dapur. Bi Ijah yang sedang duduk santai sambil membersihkan sayur terkejut melihat Elvano.


"Eh, tuan. Kok udah pulang?"


"Hmm... Nggak ada pekerjaan lain. Mending saya pulang temani Evan."


Bi Ijah mengangguk sambil berkata, "Oooh" dengan membulatkan mulutnya. "Terus, tuan kenapa kesini?" Lanjut Bi Ijah, bertanya.


Elvano terdiam. Ia tidak mungkin menjawab Bi Ijah jika ia hanya ingin melihat Anta. Mungkin saja gadis itu sedang berada di dapur, pikirnya saat memasuki rumah tadi.


Elvano berdehem dengan wajahnya yang datar. "Saya hanya mau minum." Ujarnya. Lagi-lagi Bi Ijah mengangguk.


Elvano meletakkan tas kerjanya lalu menuangkan air dan meminumnya. Hanya seteguk, karena dirinya tidak benar-benar haus.


"Evan sama Anta dimana?"


Bi Ijah mengulum senyum mendengar Elvano menanyakan Anta. Hal yang tidak pernah ia dengar dari mulut Elvano sejak Anta menginjakan kaki di rumah itu. Tidak ingin tuannya merasa canggung, Bi Ijah mengubah ekspresinya menjadi biasa saja.


"Nyonya lagi temani tuan muda tidur siang, tuan."


Elvano mengangguk dan segera menuju kamar Evan. Kata Bi Ijah, Anta menemani Evan tidur. Sudah pasti gadis itu berada di kamar Evan. Saat tiba di kamar Evan, Elvano tidak menemukan Anta. Hanya ada Evan yang tertidur lelap di ranjangnya. Lelaki itu mendekat dan mengusap kepala putranya dengan hati-hati agar tidak terbangun. Ia lalu keluar dari kamar tersebut dan menuju kamarnya.


Ketika pintu kamar dibuka, pemandangan yang pertama ia lihat adalah Anta yang terbaring meringkuk di atas ranjang.


Elvano mendekat. Ia menyimpan tas dan melepas jas nya. Dia lalu duduk di sisi ranjang bagiannya. Anta yang berbaring miring menghadapanya, membuat ia bisa melihat wajah gadis itu. Elvano bergeser mendekati Anta dengan palan. Tangannya perlahan meraih buku yang dipeluk Anta.


"Novel." Gumam Elvano. "Dilihat dari warna cover nya yang sudah mulai memudar, sepertinya sudah cukup lama ditangannya." Lanjut Elvano sambil membolak balikkan novel tersebut. Setelah beberapa detik, ia mengembalikannya ke pelukan Anta kemudian beranjak dari ranjang. Ia kembali meraih kunci mobilnya dan keluar dari kamar tersebut.


***


Seperti biasa, setelah menghabiskan makan malam, Anta menemani Evan tidur. Tidak seperti sebelumnya, Evan hari ini tidur lebih cepat.


Anta segera ke kamar Elvano. Saat ia masuk, matanya bertemu dengan mata Elvano. Mengalihkan pandangannya, Anta berjalan mendekati lemari. Mengambil baju tidurnya lalu menuju ruang ganti.


Elvano hanya menatapnya dalam diam. Lelaki itu kemudian menuju sofa dan berkutat dengan laptopnya. Dia sengaja tidak bekerja di ruang kerjanya.


Suara pintu ruang ganti yang terbuka membuat Elvano menoleh.


"Anta." Panggilnya, membuat Anta menoleh.


"Ada apa, Mas?"


"Kemari!"


Anta meneguk salivanya. Tidak biasanya Elvano memanggilnya mendekat seperti ini. Jantungnya berdegup kencang, menambah rasa gugupnya. Namun, Anta tetap mendekat sesuai permintaan Elvano.


Anta berdiri di sebelah sofa yang Elvano duduki. "Ada apa, Mas?" Ulangnya tanpa berani menatap mata Elvano.


Elvano meletakkan 3 novel di atas meja, sontak membuat Anta menatapnya. "Ini sebagai tanda terima kasih karena kamu sudah merawat luka saya sampai sembuh. Saya nggak tahu, kamu suka atau enggak novelnya. Kalau nggak suka bil..."


"Suka, Mas." Jawab Anta cepat dan tanpa sengaja memotong ucapan Elvano. Gadis itu menutup mulutnya ketika sadar apa yang ia lakukan. "Ma-maaf, Mas."


Anta segera mengambilnya sambil berucap, "Terima kasih, Mas."


"Ya."


Anta segera menjauh dari Elvano dan duduk di sisi ranjang. Tangannya mulai bergerak membuka buku tersebut. Senyum pun tak pernah luntur dari bibirnya. Elvano sesekali milirik ke arah Anta. Melihat senyum itu, jantungnya kembali berdebar-debar.


***


Hari-hari berjalan seperti biasa. Dan pagi ini, rumah Elvano kedatangan Dinda. Wanita itu tersenyum manis pada Anta dan Evan.


"Ayo mbak, masuk!" Ajak Anta, yang langsung diangguki Dinda. Keduanya lalu duduk di sofa ruang tamu.


"Dimana Ara?"


"Ara lagi sama Neneknya."


"Aku jadi penasaran mbak, gimana wajah orang tua mbak Dinda sama wajah mertua mbak Dinda."


"Hehehe... Nanti juga kamu tahu. Aku kenalin." Ujar Dinda. "Oh ya, ini undangan buat kamu sama Elvano. Undangan ulang tahun pernikahan mbak sama Mas Fahri."


Anta menerimanya dan membaca bagian depannya. "Ulang tahun pernikahan yang ke-6."


"Hehehe... Iya. Datang ya kamu sama Elvano. Evan juga harus dibawa."


"Anta nggak janji dulu, mbak. Tunggu keputusan Mas El."


"Kamu ini... Penurut banget sih sama si dingin itu. Heran aku sama si Elvano, dingin banget sama kamu. Emang nggak tahu bersyukur anak itu."


"Jangan jelekin suami Anta, mbak."


"Eleh, emang jelek suami kamu itu. Gantengan Mas Fahri." Ujar Dinda, lalu ia dan Anta terkekeh bersama. Tiba-tiba Bi Ijah datang membawa minum untuk Dinda dan Anta.


"Aduuh, Bibi repot-repot aja. Saya nggak lama. Masih ada pekerjaan lain yang harus saya selesaikan."


"Nyonya Dinda nggak bilang sih. Jadikan Bibi buatin minum."


"Hehehe maaf, Bi. Nggak apa-apa deh, aku teguk sedikit."


Dinda meraih minuman tersebut dan meneguknya sedikit untuk menghargai Bibi yang telah membuatnya.


"Terima kasih, Bi." Ujar Dinda yang diangguki Bibi Ijah. "Kalau begitu, aku pamit dulu, ya? Jangan lupa lho bilangin Elvano. Mbak Dinda bilang harus datang! Nggak ada alasan!"


"Iya, mbak. Nanti aku sampaikan."


Dinda mengangguk. Dia lalu mencium pipi Evan dan menepuk pelan puncak kepala Anta. Wanita itu kemudian pergi dari rumah Elvano.


Jam makan siang, Anta dan Bi Ijah dikejutkan oleh Elvano yang pulang untuk makan siang. Tapi, Anta tidak membuang kesempatan. Ia segera memberitahu soal kedatangan Dinda.


"Mas El,"


"Hmmm."


"Tadi mbak Dinda datang."


Elvano menghentikan kegiatannya menusuk-nusuk pipi Evan yang sedang di pangkunya, yang membuat anak itu terkekeh.


"Untuk apa?" Tanyanya tanpa menoleh, dan kembali melanjutkan kegiatannya.


"Mbak Dinda anterin undangan ulang tahun pernikahannya sama Mas Fahri. Acaranya dua hari lagi."


Lagi-lagi Elvano terdiam. Kali ini dengan pikiran yang mulai kemana-mana.


Undangan ulang tahun pernikahan Dinda sama Fahri? Pasti ada Dika juga. Nggak! Anta nggak boleh pergi.


"Aku nggak bisa pergi." Kata-kata itu yang tiba-tiba keluar dari mulut Elvano.


"Mbak bilang, Mas El harus pergi! Nggak ada alasan!"


Elvano mengangkat wajahnya, menatap Anta dengan tatapan tajamnya. Membuat gadis itu dengan susah payah meneguk salivanya.


"Saya akan pergi. Tapi, nggak untuk kamu dan Evan." Ujar Elvano dengan ekspresi dinginnya, lalu mengecup kening Evan dan bergegas keluar rumah.