Annanta

Annanta
Kepedulian Pertama Elvano



Elvano memasuki sebuah restoran. Langkahnya langsung menuju meja dimana sahabatnya, Tirta, sudah menunggu. Lelaki itu langsung duduk di kursi depan Tirta.


"Lama banget lo." Kesal Tirta.


"Gue lupa." Balas Elvano, santai.


"Lupa atau nggak bisa kasi alasan sama istri sama anak lo?"


"Lo tahu?"


"Ya tahu. Evan, anak dari cewek yang..."


"Bukan itu yang gue maksud. Lo tahu gue udah punya istri?"


"Kenapa? Kaget, lo? Nggak ada informasi yang nggak bisa gue dapetin. Tega banget lo nggak undang gue."


"Ck. Nggak usah sombong. Buktinya soal Violla. Sampai sekarang lo belum dapat informasinya."


"Ck. Malas gue bahas tu cewek. Ini, semua yang lo minta tentang istri lo ada disini." Tirta memberikan sebuah berkas yang berisi tentang informasi Anta. Elvano meraihnya dan segera membacanya.


Walaupun gue udah tahu informasi soal Violla, gue nggak bakal kasi tahu lo, Vano. Dia udah cukup buat hidup lo berantakan.


"Lo emang bisa diandalkan." Elvano menatap sahabatnya.


"Ck. Lagian lo kenapa sih sampai minta gue cari tahu soal istri lo? Seharusnya lo udah tahu semuanya tentang dia. Masa informasi istri sendiri lo nggak tahu apa-apa."


Elvano terdiam. Kata-kata Tirta memang benar. Dia tidak tahu apa-apa tentang Anta. Tak ingin membahas Anta, Elvano mengalihkan pembicaraan. Mereka malah membahas pekerjaan masing-masing.


***


Anta dan Dinda terkekeh mendengar lelucon yang Dika lontarkan. Lelaki itu berada di dapur bersama Anta dan Dinda. Dia baru selesai mencuci piring, dan kini malah mengganggu Anta dan Dinda yang sedang membuat kue.


"Kak, sebutkan nama bumbu dapur dalam satu detik." Dika menatap Kakaknya.


"Aduh, perut Anta udah sakit, Kak, ketawa terus." Anta memegang perutnya. Dika benar-benar tidak kehabisan ide.


"Kakak udah capek, Dik, ketawa mulu. Sakit perut Kakak." Ucap Dinda.


"Ayolah! Sekali lagi."


"Sebut bumbu dapur dalam satu detik? Emang ada? Kakak nggak tahu. Lagian bumbu dapur banyak, nggak mungkin sebutnya hanya satu detik."


"Ada kok, Kak." Jawab Dika.


"Apa?" Anta dan Dinda bertanya bersamaan.


"Tumbar Miri Jahe."


Sontak jawaban Dika membuat Anta dan Dinda kembali terkekeh. Dika pun ikut terkekeh.


"Ekhmm..."


Seketika tawa ketiga orang itu terhenti oleh deheman seseorang. Semua menoleh ke arah pintu masuk dapur. Disana, Elvano berdiri dengan wajah muram tak bersahabat.


"Vano, sudah pulang kamu?" Sapa Dinda.


"Bang Vano kemana tadi? Hari minggu seharusnya di rumah temani anak sama istri. Eh, malah kemana-mana." Ujar Dika. Sepertinya lelaki itu sengaja mengatakan itu.


Anta hanya diam. Sepertinya tatapan Elvano tertuju padanya.


"Ada urusan yang sangat penting yang harus aku lakukan." Dinda dan Dika sama-sama mengangguk.


Elvano mendekat ke arah mereka. Anta mendongak menatap lelaki itu. "Saya belum makan siang." Ucapnnya tertuju pada Anta.


"Ck. Sayang sekali Bang Vano datang terlambat. Kita tadi makan siang bersama. Anta benar-benar pintar masak. Masakannya enak." Puji Dika. Anta sedikit menundukkan kepalanya, tersenyum tipis. Hal itu tak terlepas dari penglihatan Elvano. Dia marah, tapi berusaha menahannya.


"Masakan Anta sudah habis. Tersisa masakan tante yang sengaja dibuat buat kamu." Tambah Dinda.


Elvano berusaha menahan marahnya. Dia benar-benar kesal sekarang. Rahangnya mengeras menahan kesal. Dika yang menatapnya dan tersenyum remeh. Membuat Elvano semakin kesal.


"Ayo, Mas. Anta siapin makanannya."


Anta langsung bergegas menjauh dari Dinda dan Dika. Elvano mengikutinya dan duduk di salah satu kursi meja makan. Anta segera menyiapkan makanannya dan menyendokkan makanan ke piring Elvano.


"Cukup." Ujar Elvano, membuat Anta berhenti menyendok. Padahal baru sesendok yang Anta pindahkan ke piringnya.


"Saya sudah nggak berniat makan. Jadi, jangan sampai saya benar-benar nggak makan." Ujarnya. Sebenarnya, ia ingin langsung pergi ke kamar. Tapi, dia tidak ingin Dika atau Dinda mengejeknya. Dan lebih parah lagi, Dika akan mengambil kesempatan membuat Anta suka padanya.


Ck. Kenapa aku jadi kesal sekali saat Anta tertawa karena Dika? Ck. Sial!


***


Setelah menghabiskan makanannya, Elvano bergegas ke ruang tamu, bergabung bersama orang tuanya, Fahri dan kedua anak kecil disana.


"Om Vano, Mama sama tante cantik kok lama didapur?" Tanya Ara, saat tahu Elvano baru saja dari dapur.


"Tante cantik?" Kening Elvano mengerut tak mengerti.


"Maksudnya, Anta." Jelas Devita.


Ck. Apa semua anak kecil menyukainya? Pandai sekali dia mengambil hati anak kecil.


"Mama Ara masih di dapur." Jawab Elvano. Lelaki itu meraih Evan dan memangkunya.


Dinda datang sambil tersenyum pada putrinya. Ia langsung duduk tepat di samping Fahri. Elvano yang melihatnya melirik ke arah dapur. Berarti Anta hanya berduaan dengan Dika. Elvano lagi-lagi mengeraskan rahangnya. Tangannya hendak memindahkan Evan ke pangkuan sang Mama. Tapi, sebelum Evan berpindah dari pangkuannya, Dika datang dengan membawa nampan minuman. Lelaki itu hendak kembali ke dapur, tapi Elvano menghentikannya.


"Mau kemana kamu?" Suara dingin Elvano terdengar.


"Aku mau ke dapur, mau mengambil kue buatan kami." Jawab Dika, sedikit menekan kata kami.


"Anta juga akan kemari. Biar dia sekalian yang membawakannya."


Semua orang menatap kedua saudara sepupu itu. Sepertinya ada masalah dianta keduanya.


"Ternyata benar, kalian semua disini." Suara seorang wanita terdengar di ruangan itu. Di belakangnya, seorang wanita lagi yang terlihat masih muda, usianya sekitar 25 tahunan.


Semua yang ada di ruangan itu menatap ke arah kedua wanita itu. Dia Yuli, tante Elvano, adik bungsu Haris. Dibelakangnya, Selly, menantu kesayangan Yuli.


"Kak," Yuli langsung memeluk Kakaknya, Haris, yang juga dibalas oleh lelaki itu. Dia lalu memeluk Elvano dan Evan, mengabaikan Devita yang duduk di sebelah Haris. Dia memang tidak begitu suka pada Devita. Dia lalu memeluk Dinda dan Dika, lalu menyapa Fahri dan Ara. Hal yang sama dilakukan Selly. Tapi, wanita itu memeluk Devita, sengaja biar mendapat perhatian Ibu Elvano itu.


Anta datang dengan membawa kue yang dibuatnya bersama Dinda dan Dika. Keningnya mengerut melihat tamu lain di ruangan itu.


"Silahkan dicoba." Ujar Anta, sambil meletakkan kue tersebut di meja.


Yuli menatap Anta dengan mata memicing. "Ini, istrimu Elvano?"


"Ya." Hanya jawaban singkat yang keluar dari mulut Elvano.


Yuli menatap Anta dari atas hingga bawah dengan tatapan merendahkan. "Gadis seperti ini, kamu jadikan istri? Dia nggak pantas Elvano. Keluarga kita nggak boleh terima menantu sembarangan. Gadis kampungan seperti ini, kenapa kamu mau memperistrinya?"


"Saya yang memilih Anta untuk Elvano." Sambung Devita. Anta hanya menunduk. Tiba-tiba matanya berair.


"Cih! Pantas saja. Seleramu memang kampungan. Lihatlah menantuku ini." Yuli menggandeng Selly. "Dia cantik, berpendidikan, dan yang terpenting dari keluarga yang terpandang."


"Tante..."


"Dinda, Dika, jangan ikut campur." Peringat Yuli. Fahri mengusap lengan Dinda untuk menenangkan Dinda.


"Kau terus membanggakan menantu mu. Selera kita memang berbeda. Kau menyukai menantu yang cantik dan kaya harta. Dan aku, aku menyukai menantu yang cantik dan kaya hati." Balas Devita, membuat Haris menatap bangga istrinya. Meski Yuli adalah adiknya, tapi Yuli sudah sangat keterlaluan.


"Cih! Kaya hati? Kau yakin? Gadis sepertinya hanya ingin harta. Gadis rendahan se..."


"Cukup, tante!" Suara Elvano terdengar dingin. Lelaki itu berdiri sambil menggendong Evan. Ia mendekati Anta dan meraih tangan gadis itu, menggengamnya erat.


Deg...


Jantung Anta berdetak semakin cepat. Ia mendongak, menatap wajah Elvano yang dingin dan begitu serius. Ini kepedulian pertama yang Elvano tunjukkan padanya.


"Saya menghormati tante karena tante adalah adik Papa. Saya bisa saja membenci tante dengan mudah. Jadi, jangan memancing saya membenci tante."


Elvano langsung menarik Anta pergi. Langkahnya membawa istrinya itu ke kamar mereka. Ia menutup pintu dengan keras, hingga terdengar sampai ke ruang tamu.


Elvano mendudukkan Evan di ranjangnya, kemudian menatap Anta yang masih berdiri. Ia tahu, gadis itu menangis. Hanya saja, Anta mengusapnya dengan cepat, menghilangkan jejak air matanya.


"Evan harus tidur siang. Temani dia tidur." Ujarnya, lalu bergerak ke sofa, meraih laptopnya yang berada diatas meja dan mulai mengerjakan sesuatu.


Anta tak banyak bicara. Ia menaiki ranjang, membaringkan Evan lalu ikut berbaring, membelakangi Elvano. "Evan sayang, bobo siang dulu, ya? Mama temani." Ujarnya, pelan. Meski begitu, Elvano masih dapat mendengarnya.