
Anta menatap mobil Elvano yang mulai menjauh. Setelah beberapa hari tidak masuk kerja, Elvano kembali bekerja hari ini.
"Paa..." Evan masih melambaikan tangannya ke arah mobil Elvano yang sudah menghilang dibalik gerbang rumah.
"Iya, sayang. Papa nya pergi kerja. Sekarang, kita masuk ya?"
"Maa... Mam."
"Evan mau mam lagi ya, nak? Kan udah kenyang. Perut Evan udah buncit lho." Suara Anta terdengar lembut sambil mengusap-usap perut Evan. Membuat anak itu terkekeh.
Anta pun ikut terkekeh. Saat ia berbalik hendak kembali ke dalam rumah, handphone yang dipegangnya bergetar. Sebuah panggilan masuk dari sang Mama mertua.
"Hallo, Ma."
"Hallo, Anta."
"Iya, Ma?"
"Mama, Papa, Dika sama Tiara dan Ricky hari ini pulangnya. Kita langsung ke rumah kalian," ucap Devita.
"Iya, Ma. Tapi, surat-surat pindah Tiara sama Ricky udah selesai diurus Ma?"
"Udah dong, sayang. Jangan ragukan Dika soal begituan. Ini kan semester akhir, jadi kalau waktu ambil hasil belajar nanti, mereka baru kembali ke sekolah. Sekarang belum resmi pindah. Tapi, Mama udah kepengen bawa mereka. Jadi, Mama minta Dika negosiasi sama kepala sekolahnya."
"Ya Allah, Ma."
"Hehehe... Mama udah nggak sabar kita kumpul bareng, sayang."
"Ya udah. Kalau gitu, Anta sama Bi Ijah masak banyak hari ini."
"Iya, sayang. Ya udah, Mama tutup dulu telponnya."
"Iya, Ma. Kalian hati-hati."
"Iya, sayang."
Panggilan pun usai. Anta melanjutan langkahnya masuk rumah. Dan tanpa ia sadari, Vionna mendengar obrolan nya itu. Senyum licik muncul di wajah wanita yang merupakan Ibu kandung Evan tersebut.
Bi Ijah yang sedang mencuci piring di dapur segera menghampiri Anta saat wanita itu memanggilnya.
"Ada apa, Nak Anta?"
"Maaf ya Bi, Anta ngagetin. Kita ke pasar yuk!"
"Nggak apa-apa, Nak. Ayo! Bibi juga lagi mikirin mau beli apa aja di pasar. Karena terlalu fokus, jadi kaget saat di panggil Nak Anta."
"Hehehe... Sekali lagi, Anta minta maaf ya?"
"Aduh Nak, nggak apa-apa."
"Ya udah. Ayo, kita berangkat sekarang. Biar pas Mama sama Papa datang, makanannya udah selesai di masak."
"Tuan sama nyonya besar mau kesini?"
"Iya, Bi. Sama kak Dika sama adik-adik Anta juga."
"Adik Nak Anta?"
Anta mengangguk. "Iya. Mas El suruh mereka ikut Anta pindah kesini."
"Wah, jadi rame rumah ini. Bibi ikut senang, Nak."
"Makasih, Bi. Ayo, kita berangkat sekarang."
"Tunggu, Nak Anta. Gendongan buat Nak Evan? Terus... Nak Anta udah izin sama tuan Elvano?"
"Oh iya. Anta lupa. Anta belum izin sama Mas El."
"Ya udah. Nak Anta telpon tuan, Bibi yang ambilin gendongannya."
"Iya, Bi. Makasih," ucap Anta yang diangguki Bi Ijah. Wanita paruh baya itu segera ke kamar Evan. Sementara Anta, ia mulai menelpon Elvano.
"Hallo, sayang?"
"Hallo, Mas."
"Ada apa? Hmm? Baru aja berapa menit ditinggal, udah kangen?"
"Ish, apaan sih Mas? Anta telpon mau izin sama Mas El."
"Izin kemana?"
"Anta izin mau ke pasar sama Bi Ijah. Mau beli bahan-bahan makanan. Mama sama yang lain pulang hari ini."
"Mau aku anterin? Aku belum sampai kantor. Biar aku putar balik," ucap Elvano menawarkan.
"Hah? Nggak usah, Mas. Aku, Bi Ijah, Evan sama pak Tarman, Mas ke kator aja."
"Ya udah. Tapi, janji! Kamu nggak boleh lirik-lirik laki-laki lain di pasar."
"Apaan sih, Mas? Nggak ada lirik-lirik, janji!"
"Ya udah, Mas izinin. Kalian hati-hati. Kabari Mas kalau udah sampai pasar, dan sampai rumah. Okay?"
"Iya, Mas. Mas juga hati-hati," ucap Anta. "Ya udah, Anta tutup dulu telponnya."
"Cium dulu," ucap Elvano tiba-tiba. Anta tersenyum canggung pada Bi Ijah yang sudah berdiri di depannya. Walaupun Bi Ijah nggak terlalu dengar apa yang ia dan Elvano bicarakan, tatap saja wanita paruh baya itu melihat apa yang ia lakukan. Malu sekali ia memberi ciuman lewat telpon saat Bi Ijah menyaksikannya. Elvano ada-ada saja.
"Sayang,"
"Nanti aja. Aku malu ada Bi Ijah. Aku tutup dulu, Mas." Anta dengan cepat memutuskan sambungan telpon. Ia menoleh pada Bi Ijah dan tersenyum.
"Ayo, Bi!" ajaknya.
"Iya, Nak. Ini gendongannya."
"Makasih, Bi."
"Sama-sama. Ngomong-ngomong, tadi tuan Elvano minta cium, lho. Kenapa nggak dikasi?"
"Iya. Nak Anta kan nyalain speaker nya." Bi Ijah tersenyum menggoda.
"Aduh, malu benget," batin Anta.
"Nak Anta?"
"Hah?"
"Jadikan ke pasarnya?"
"I-iya jadi. Ayo, Bi!"
Bi Ijah terkekeh kecil melihat Nyonya mudanya yang salah tingkah. Lucu sekali.
***
Setelah berkeiling berbelanja, Anta dan Bi Ijah kembali ke parkiran menemui pak Tarman yang sedang menjaga Evan.
Dua wanita beda usia itu menenteng sendiri belanjaan mereka.
"Aduuh, Bapak jadi merasa bersalah nggak bisa bantuin Nyonya sama Bi Ijah."
"Nggak apa-apa, Pak. Kita juga kuat angkatnya," jawab Bi Ijah dibarengi kekehan kecilnya.
Anta meletakan belanjaannya dan meraih Evan dari gendongan Pak Tarman. Anak itu langsung merentangkan tangannya saat melihat Anta datang.
"Anta juga ngerepotin Bapak, jagain Evan."
"Nggak ngerepotin, Nyonya," balas Pak Tarman. Laki-laki itu mengangkat barang-barang yang dibawa Anta dan Bi ijah, dan memasukannya ke bagasi mobil.
"Anta lupa beli udang buat dimasakin untuk Mas El. Bi, Anta titip Evan ya?" Anta mendekat dan menyerahkan Evan pada Bi Ijah.
Evan menangis. Tangannya melambai-lambai berusaha menggapai Anta.
"Sayang, Mama pergi sebentar, ya? Evan sama Bibi dulu." Anta berjalan cepat, kembali memasuki pasar. Ia membeli udang, lalu kembali. Tanpa ia ketahui, Vionna terus mengikutinya.
"Ck. Kenapa ni perempuan nggak ke toilet atau ke pasar yang lebih sepi sih? Kalau gini kan, aku jadi susah buat culik dia," gumam Vionna.
Merasa rencananya nggak akan berjalan lancar, Vionna mengeluarkan pisau lipat dari saku hoodie nya.
Anta yang tidak tahu apa-apa melambaikan tangannya saat sudah melihat Evan yang digendong Bi Ijah. Berharap putranya itu berhenti menangis ketika melihat dirinya sudah kembali.
Vionna yang berjalan di belakang Anta, melangkah lebih cepat. Pak Tarman dan Bi Ijah yang melihat gelagat mencurigakan orang di belakang Anta, sontak berteriak.
"Nyonya awas!!"
"Nak Anta awas!!"
Sreet...
Pisau tersebut langsung melukai lengan Anta. Anta yang bergerak saat Bi Ijah dan Pak Tarman meneriakinya pun membuat sasaran tusukan Vionna meleset. Tangannya juga spontan menarik masker yang Vionna gunakan, hingga dia, Bi Ijah dan Pak Tarman bisa mengenali wanita itu.
"Vionna?" ucap ketiga orang itu bersamaan.
Tanpa menunggu lama, Vionna langsung melarikan diri. Beberapa pengunjung pasar menghampiri Anta, begitu juga dengan Bi Ijah dan Pak Tarman.
"Astaga, darahnya banyak," ucap salah satu Ibu yang juga menyaksikan kejadian tersebut.
"Ya Allah, Nak Anta. Pak, ayo papah Nak Anta, kita bawa ke rumah sakit."
"Iya, Bi." Pak Tarman segera membantu Anta berdiri.
"Makasih, Pak. Anta masih bisa jalan sendiri," ucap Anta setelah berdiri dibantu Pak Tarman. Wanita itu berjalan sendiri ke arah mobil sambil memegang lengannya yang terluka cukup dalam. Pak Tarman masih terus mengikutinya dari belakang. Takut jika Nyonya nya pusing karena tidak tahan dengan bau darah.
Bi Ijah berjalan sejajar dengan Anta. Saat tiba di mobil, Pak Tarman membukakan pintu dan membiarkan Anta masuk.
"Cepat jalannya, Pak," ucap Bi Ijah. Dia benar-benar khawatir melihat darah yang menetes dari lengan Anta cukup banyak. Evan menjadi anak pendiam sekarang. Matanya tak lepas dari sang Mama yang meringis menahan sakit.
Bi Ijah mengeluarkan handphonenya hendak menelpon Elvano.
"Bibi mau ngapain?"
"Bibi mau telpon tuan,"
"Nggak usah Bi. Nanti Mas El khawatir sama Anta," ucap Anta.
"Nggak bisa, Nak. Nanti tuan marah kalau nggak diberitahu. Bibi nggak mau tuan marah."
"Iya, Nyonya. Tuan pasti marah kalau nggak diberitahu," timpal Pak Tarman.
Anta terdiam. Ia menyandarkan tubuhnya lalu memejamkan mata. Lengannya terasa sangat perih.
Sekali menelpon, panggilan langsung tersabung. Elvano dengan cepat menjawab telponnya.
"Hallo, Bi?"
"Tuan, Nyonya Anta terluka."
"Apa? Bagaimana bisa terluka?" Suara Elvano sedikit meninggi, membuat Bi Ijah cukup terkejut.
Anta yang juga mendengarnya karena Bi Ijah menghidupkan speaker pun membuka matanya.
"Jangan bentak Bibi, Mas." Suara Anta terdengar sangat lemah.
"Sayang. Sayang, kamu bagaimana bisa terluka?" tanya Elvano. Bi Ijah mengarahkan handphone tersebut lebih dekat pada Anta.
"Aku nggak apa-apa, Mas."
"Nggak apa-apa gimana? Suara kamu lemah begitu. Siapa yang buat kamu terluka?"
"Kita udah sampai. Ayo Nyonya." Pak Tarman segera turun dari mobil dan membantu Anta turun.
"Hallo, tuan. Kita sudah di rumah sakit Central nggak jauh dari pasar. Tuan langsung kesini saja."
"Iya, Bi."
Setelah sambungan telpon terputus, Bi Ijah segera menyusul Anta dan Pak Tarman.