
Setelah tiga hari menginap, Anta dan keluarga suaminya akan kembali besok, setelah kedua adiknya pulang sekolah. Malam ini, mereka berkumpul bersama di ruang tamu. Saling melempar canda, terutama Ricky dan Haris.
Devita memerhatikan suaminya sambil sesekali menganggu Evan yang sedang asik dengan mainannya. Anta, wanita itu juga sedang menjaga Evan, dan sesekali memperhatikan Ricky, dan Tiara yang sedang mengerjakan kembali soal ujiannya tadi dibantu Dika.
"Yes. Berarti jawabanku tadi hanya salah 2." Tiara tersenyum senang sambil menatap hasil yang ia kerjakan. Dika juga ikut tersenyum melihat gadis itu senang, begitu juga yang lainnya.
"Ekhm." Elvano tiba-tiba berdehem, membuat semua menatapnya.
"Ada apa?" tanya Haris, seolah paham dengan arti deheman putranya.
"Aku mau ngomong sesuatu," jawabnya.
"Mau ngomong apa?" tanya Devita bingung.
"Vano mau minta sama Mama sama Papa buat serahin tanggung jawab Ricky sama Tiara ke Vano. Maaf kalau Vano tiba-tiba. Tapi, Vano mau jadi laki-laki yang bertanggung jawab. Menjadi suami yang bertanggung jawab untuk istri Vano dan juga keluarga istri Vano." Elvano menoleh pada Anta dan menggenggam tangannya, lalu menoleh pada Ricky dan Tiara.
Haris dan Devita saling bertatapan. Dika hanya diam, dan Anta mulai berkaca-kaca. Dia terharu mendengar kalimat yang keluar dari mulut Elvano. Ini membuktikan jika suaminya itu sudah benar-benar menganggapnya sebagai istri.
"Papa senang mendengarnya, Vano."
"Mama juga senang mendengarnya. Tapi, walaupun tanggung jawab Ricky sama Tiara, Mama sama Papa serahin ke kamu, kamu nggak boleh ngelarang Mama sama Papa buat kasi apapun ke mereka. Mereka sudah Mama sama Papa anggap seperti anak sendiri."
Elvano tersenyum tipis. "Vano nggak akan larang Mama sama Papa buat ngasi apapun ke mereka. Yang penting, apa yang mereka terima itu baik untuk mereka," ucap Elvano.
"Tiara, Ricky, gimana?" tanya Devita.
"Tiara maksih banget, Bu, Pak, Kak Elvano. Tiara nggak tahu harus ngomong apa."
"Ricky juga. Ricky janji bakal jadi anak yang baik dan nggak akan ngecewain kalian semua."
"Gimana, sayang?" Elvano menatap istrinya. Wanita itu masih berusaha menahan air matanya. Ia hanya mengangguk lalu memeluk Elvano.
"Makasih Mas," bisiknya pelan bersamaan dengan air matanya yang menetes.
"Iya, sama-sama." Elvano melepas pelukan mereka, kemudian mengusap air mata sang istri. "Jangan menangis,"
"Ini tangis kebahagiaan, Mas." Elvano tersenyum tipis mendengarnya.
Laki-laki itu lalu kembali menatap Tiara dan Ricky. "Kakak akan minta seseorang mengurus kepindahan kalian."
"Pindah?" Tiara dan Ricky sama-sama terkejut mendengarnya. Mereka pikir, hanya tanggung jawab menghidupi mereka yang berpindah. Tapi, Elvano juga ingin mereka pindah.
"Iya, pindah. Kalian nggak mau tinggal bareng Kakak sama Kak Anta?"
"Bukan gitu." Ricky dan Tiara dengan cepat menggeleng.
"Bukan gitu maksudnya, Kak. Kita mau banget bisa tinggal bareng lagi sama Kak Anta. Kita cuma terkejut. Nggak kepikiran kalau Kak Elvano mau kita pindah," ucap Tiara yang diangguki Ricky.
Haris yang duduk di dekat Ricky mengusap-usap rambut anak itu. "Ricky mau ya ikut Kak Elvano? Nanti Bapak ajak Ricky ke rumah Bapak. Nggak jauh, 15 menit sampai," ucap Haris membujuk.
"Ricky mau kok, Pak. Ricky senang bisa dekatan terus sama Kak Anta. Ricky senang bisa tiap hari main sama Evan."
"Anak pintar," ucap Haris.
"Oke. Sekarang udah deal kan, kalian mau pindah?" Ricky dan Tiara mengangguk mantap. "Ya udah. Setelah Kakak sampai besok, Kakak kirim seseorang buat urus kepindahan kalian."
"Aku saja yang urus kepindahan mereka," sahut Dika.
"Nah. Mama setuju kalau Dika yang urus kepindahan mereka. Daripada tinggal di rumah nggak ada kerjaan, terus gangguin Ara mulu," sahut Devita
"Bukan nggak ada kerjaan, Tan. Lagi istirahat. Masa kerja terus? Perusahaan juga ada Papa yang urusin."
"Bercanda, sayang." Devita mengulas senyum pada ponakannya itu.
***
Pukul 5 sore, Elvano, Anta dan Evan tiba di kediaman mereka. Devita dan Haris memutuskan untuk tetap di kediaman Ricky dan Tiara, menunggu Dika menyelesaikan urusan kepindahan dua anak tersebut.
Bi Ijah keluar dari rumah dan berjalan cepat menghampiri Elvano yang sedang membukakan pintu untuk Anta dan Evan. Laki-laki itu mengulurkan tangannya pada Anta, dan membantu wanita yang sedang menggendong putranya itu keluar dari mobil. Elvano meraih Evan yang sedang tertidur ke gendongannya. "Biar aku saja yang gendong," ucapnya.
"Ada apa?" Elvano bertanya dengan kening yang mengerut.
Bi Ijah menatap Anta sejenak, kemudian beralih menatap Elvano. "Di dalam ada Nona Vionna."
Raut wajah Elvano langsung berubah dingin. Sementara Anta, wanita itu menatap Elvano. Jantungnya berdetak cepat melihat reaksi suaminya. Meskipun ia tidak tahu siapa Vionna, tapi ia pernah mendengar Elvano menyebut nama itu di hadapannya.
"Kenapa Bibi membiarkannya masuk?"
"I-itu Tuan, dia memaksa untuk masuk. Sudah dua hari dia datang dan menunggu Tuan. Dia datang pagi hari dan akan pulang ketika jam kerja saya habis."
Wajah Elvano tampak semakin dingin. Ia menatap Anta dan meraih tangan wanita itu. "Ayo masuk," ucapnya lembut pada sang istri.
Anta hanya menurut. Ia berjalan di samping Elvano dengan perasaan yang penuh tanda tanya. Tiba di ruang tengah, seorang wanita dengan wajah ceria menghampiri mereka.
"Vano." Wanita itu berlari ke arah Elvano dan langsung memeluknya.
Deg...
Tubuh Anta mematung. Jari-jari tangannya yang membalas genggaman Elvano perlahan terlepas. Namun, Elvano dengan penuh keyakinan menyatukan kembali tautan jari mereka. Hati Anta sakit melihat suaminya dipeluk seerat ini oleh wanita lain.
Dan sekarang, ia ingat siapa wanita yang memeluk suaminya kini. Dia adalah wanita yang ditabraknya saat hendak ke toilet di mall waktu itu. Dia juga wanita yang ada dalam foto yang Elvano rebut darinya dulu. Tapi, ia benar-benar tidak tahu, hubungan seperti apa yang terjalin antara Elvano dan wanita bernama Vionna itu.
"Lepaskan pelukanmu, Vionna!" Suara Elvano terdengar sangat dingin. Vionna yang mendengarnya merasakan aura tak suka dari Elvano. Segera ia melepaskan pelukannya dan menatap laki-laki itu.
"Van—"
"Ayo sayang, aku akan mengantar kamu dan Evan ke kamar." Lagi-lagi Anta hanya menuruti suminya itu. Gandengan tangan Elvano yang tak terlepas membuat Vionna yang melihatnya mendengus kesal.
"Wanita pengganggu!!" gumamnya, menatap benci punggung Anta yang mulai menjauh.
Elvano mendorong pelan pintu kamarnya, dan menguncinya setelah Anta masuk. Ia dengan lembut membaringkan Evan di ranjang, lalu menghampiri Anta yang masih berdiri.
"Kenapa Evan ditidurin disini, Mas? Biasanya juga di kamarnya," ucap Anta, mencoba untuk bersikap biasa saja.
Elvano merengkuh pinggang Anta dan menariknya mendekat, hingga tubuh mereka saling menempel. "Ada penjahat di rumah kita. Aku khawatir terjadi apa-apa pada Evan," jawabnya, lalu mengecup bibir Anta.
"Apa yang Mas maksud pejahat itu, wanita tadi?"
"Pintar." Elvano tersenyum dan mengacak pelan rambut Anta. Ia sekali lagi mengecup bibir sang istri.
"Memang nya dia siapa, Mas? Istri pertama kamu?"
"Pfftttt..." Elvano hampir saja terbahak mendengar pertanyaan Anta. Tapi, ia berusaha menahan tawanya, takut Evan terbangun.
"Kok Mas ketawa sih?"
"Lucu, sayang."
"Kenapa lucu? Aku tanya benar kan? Selama ini aku nggak pernah tahu, gimana wajah mantan istri pertama kamu. Foto atau apapun tentang dia nggak ada di rumah ini. Hanya selembar foto yang kamu rebut waktu itu yang aku tahu. Dan difoto itu juga ada perempuan itu," ucap Anta. Suaranya lembut, tapi Elvano tahu, istrinya saat ini sangat kesal padanya. Hanya saja, ia tidak ingin orang lain mendengar pembicaraan mereka, hingga ia memelankan suaranya.
Elvano kembali terkekeh. "Hehehe...."
"Mas kenapa malah ketawa?"
"Kamu gemesin."
"Mas."
"Semua yang kamu katakan benar. Semuanya nggak ada, karena sejak awal memang nggak ada," ucap Elvano, membuat kening Anta mengerut. "Istri pertama, foto, barang-barang, semuanya nggak pernah ada. Kamu istri pertamaku, dan satu-satunya. Nggak ada istri sebelum kamu, dan nggak akan ada istri sesudah kamu."
Anta memantung mendengarnya. "Ma-maksud, M-Mas?"
Elvano menarik nafasnya dan menangkup pipi Anta. "Dengar, sayang! Aku hanya menikah denganmu. Sebelum menikah denganmu, tidak ada pernikahan dalam hidupku. Dan itu kenyataan. Bukan rekayasa."
"Ta-tapi, Evan? Bukankah di— Hmmpp." Suara Anta seketika terhenti oleh ciuman Elvano. Sejak tadi, ia terus memperhatikan bibir istrinya yang berbicara. Hingga detik ini, ia benar-benar tidak bisa menahan diri dan langsung menciumnya.
"Ku lanjutkan ceritanya nanti," ucap Elvano, lalu kembali mencium bibir manis sang istri. Persetan dengan Vionna yang menunggu di ruang tamu. Yang ia inginkan hanya Anta, bukan yang lain.