Annanta

Annanta
Minta Maaf



Elvano duduk menyandarkan tubuhnya di sofa sambil memangku Evan. Terhitung sudah satu jam Anta pergi, dan Evan masih terus menangis. Dia, bahkan Bi Ijah pun kesulitan menenangkan Evan. Sempat Bi Ijah meminta izin untuk meminta Anta agar kembali. Namun, lelaki itu melarangnya dan malah menyuruh Bi Ijah pulang.


"Evan, anak Papa. Jadilah anak pintar, okey? Jangan menangis..." Elvano berusaha menenangkan, namun Evan masih tetap menangis.


"Ck. Apa yang harus aku lakukan? Evan nggak mau berhenti menangis." Elvano mengacak rambutnya.


Ia terdiam, memikirkan cara menenangkan Evan. Hingga tiba-tiba terlintas di pikirannya tentang rekaman suara Anta di ponselnya yang tak sengaja Evan rekam waktu itu. Elvano segera meraih handphonenya dan membuka rekaman tersebut.


"Anak Mama. Ya Allah, kenapa menangis?"


"Cup... Cup... Anak Mama yang ganteng. Nggak boleh nangis nak."


"Kesayangan Mama. Nggak boleh nangis, ya?"


Seketika Evan terdiam mendengar suara Anta. Anak itu melihat ke setiap sudut kamar Elvano, tapi, tidak ada sosok Anta disana. Sontak, dia kembali menangis.


"Cup... Cup... Cup... Evan, diam ya, nak?" Elvano mengusap rambutnya. Ia lalu menggendong Evan sambil berjalan kesana kemari dengan tetap membuka rekaman suara Anta. Perlahan, anak itu terdiam. Ia meraih handphone Elvano dan memeluknya. Suara Anta bagaikan penghibur untuk balita mungil itu. Dan beberapa saat kemudian, Evan tertidur.


"Huuuh... Syukurlah. Akhirnya dia tidur." Gumam Elvano. Lelaki itu membaringkan Evan di ranjang miliknya. Ia mengecup keningnya lalu ikut berbaring. Ia memiringkan tubuhnya menatap Evan.


Kamu begitu dekat dengan Anta. Papa tinggal kerja saja, kamu nggak senangis ini. Kamu nggak adil, Evan.


Tapi, Papa tahu, Papa salah kali ini. Memar di keningmu hanya sedikit, dan mulai menghilang sekarang. Nggak seharusnya Papa menyakiti hatinya. Batin Elvano, merasa bersalah.


Ini semua karena Dika. Tapi, kenapa aku selalu marah saat Anta bersama Dika? Dan sekarang, Evan juga menjadi korbannya.


"Maafkan Papa, Evan." Ujarnya, lalu menutup mata, ikut tertidur.


Elvano tertidur hingga malam menjelang. Ia terbangun karena Evan memukul-mukul pelan wajahnya. Sekarang, dia kembali pada pekerjaan yang biasa ia lakukan di rumah sebelum ada Anta, yaitu mengurus Evan.


Elvano membawa Evan ke kamar anak itu, lalu memandikannya. Evan kembali rewel saat dimandikan. Elvano kewalahan, sampai ikutan basah karena Evan. Alhasil, dia ikutan mandi.


Setelah mengurus Evan dan bermain bersama anak itu sejenak, Elvano dan Evan menuju ruang makan. Seketika kening Elvano mengerut melihat Bi Ijah masih di rumahnya.


"Kenapa Bibi belum pulang?"


"Saya belum selesai masak saat tuan suruh pulang. Jadi, Saya tetap di rumah. Setelah tuan selesai makan, saya akan pulang."


Elvano mengangguk mendengar ucapan Bi Ijah. Wanita paruh baya itu mengantarkan makanan Evan, dan menyuapi anak itu. Sementara Elvano, dia memakan makanannya.


Kerutan di keningnya terlihat ketika memasukkan udang goreng ke mulutnya.


"Kenapa rasanya berbeda?" Tanya Elvano.


"Maaf, tuan. Itu, saya yang masak."


"Lalu?"


"Yang biasanya, nak... Maksud saya, nyonya Anta yang memasaknya."


Elvano terdiam. Dia sadar sekarang. Udang goreng, Bi Ijah sangat jarang memasaknya dulu. Tapi, sejak ada Anta, sering sekali ia melihat udang goreng di hidangkan. Bahkan ia sangat suka dengan makanan itu. Dia juga mulai paham sekarang, kenapa rasa makanan yang sering ia makan sedikit berbeda. Ternyata Anta yang memasaknya.


"Nyonya Anta suka memasak. Dia sangat pandai. Dia juga membantu Bibi memasak." Ucap Bi Ijah.


"Masakan Bibi juga nggak kalah enak."


"Iya. Tapi, tuan lebih lahap saat makan masakan nyonya." Ucap Bi Ijah sambil tersenyum tipis. Walaupun Elvano terkenal dingin, lelaki itu selalu memperlakukan Bi Ijah seperti keluarganya. Hingga terjalin hubungan cukup baik antara keduanya.


"Sudahlah, Bi." Tegur Elvano, melanjutkan makannya.


***


Anta terdiam sambil memperhatikan Devita yang memasangkan dasi Haris. Pagi ini, Papa mertuanya itu akan menghadiri acara peresmian hotel milik sahabatnya. Sebenarnya, dasinya sudah sang Papa mertua kenakan. Hanya saja, kurang rapih menurut sang Mama mertua.


Melihat itu, senyum tipis terukir di bibir Anta. Betapa harmonisnya kedua mertuanya ini. Tapi, kenapa Elvano bersikap buruk? Padahal, lelaki itu hidup di keluarga harmonis seperti ini.


"Anta?"


Panggilan Bu Devita seolah menarik Anta dari lamunannya. Gadis itu terkejut dan gelagapan menjawab Devita.


"Hah? I-iya, Ma."


"Kamu kenapa?" Anta menggeleng.


"Lagi mikirin Evan sama Elvano?" Timpal Haris. Lelaki itu menyantap sarapannya.


Anta terdiam sejenak, lalu mengangguk. Walaupun barusan dia tidak memikirkan keadaan Evan maupun Elvano, tapi dia semalaman tidak bisa tidur nyenyak karena terus membayangkan tangisan Evan. Dia ingin mendekap putranya itu.


"Mama tahu, kamu sayang sama Evan. Tapi, Elvano keterlaluan Anta." Ucap Bu Devita.


"Anta nggak apa-apa, Ma, Pa. Anta hanya nggak mau menjadi Ibu yang buruk buat Evan. Mama sama Papa dengar sendiri, bagaimana Evan menangis semalam."


Kini giliran Devita dan Haris yang terdiam. Suami istri itu membenarkan ucapan Anta. Gadis di depan mereka, jauh berbeda dari putra mereka yang egois. Anta memikirkan cucu mereka yang sepertinya tidak bisa jauh darinya.


"Huufthh... Baiklah. Papa izinkan kamu kembali pada mereka."


"Pa..."


"Ma, ini demi cucu kita. Anta benar. Elvano memang egois, tapi kita juga nggak boleh egois. Evan membutuhkan Anta."


"Tapi, Mama kesal sekali pada Elvano, Pa. Mama ingin dia rasakan bagaimana sulitnya mengurus Evan. Biar saja dia kewalahan saat Evan menangis."


"Ma, Elvano memang akan kewalahan mengurus Evan. Tapi, kasian Evan. Mama mau cucu Mama kehabisan nafas karena terus menangis?" Devita menggeleng pelan. "Kalau begitu, biarkan Anta pulang."


"Baiklah. Anta boleh pulang. Tapi, siang nanti. Mama juga punya rencana. Anta harus ikut rencana Mama."


"Iya, Ma."


Huh. Karena Elvano yang nyakitin kamu, Elvano juga yang harus minta kamu kembali. Bukan kamu yang kembali dengan suka rela seperti ini. Batin Bu Devita.


"Baiklah. Papa udah selesai. Papa berangkat dulu, ya?"


Haris beranjak mencium kening Devita, lalu Anta mencium tangannya. Lelaki itu kemudian menuju halaman rumah di ikuti Devita dan Anta.


"Papa hati-hati, ya."


"Iya, Ma."


Setelah mobil yang di tumpangi Haris pergi, Devita dan Anta segera kembali ke ruang makan.


"Ma,"


"Iya, sayang."


"Apa rencana Mama?"


Devita tersenyum. "Nanti, Mama kasi tahu kamu."


Anta mengangguk. "Oh ya, Ma. Anta mau belajar pakaiin dasi, boleh?"


Devita mengulum senyum lalu mengangguk. "Boleh. Setelah sarapan, kita belajar pakaiin dasi."


"Makasih, Ma." Anta tersenyum senang. Entah apa yang terlintas di otaknya hingga dia begitu senang belajar memakaikan dasi.


"Sama-sama, sayang."


***


Elvano menghembuskan nafas lega. Akhirnya Evan tertidur juga. Sejak tadi, ia terus bermain bersama Evan, agar anak itu tidak menangis. Kamar Evan begitu berantakan karena ulahnya dan sang putra.


"Nggak! Nggak bisa! Aku harus bawa Anta pulang. Kalau terus begini, Evan bisa kehabisan suara karena terus menangis."


Elvano keluar dari kamar Evan dan menuju kamarnya. Hari ini, dia tidak berangkat kerja. Ia menghabiskan waktunya untuk menjaga Evan.


Elvano meraih kunci mobil dan juga handphonenya. Ia akan menjemput Anta untuk pulang. Tidak peduli dengan Mama dan Papanya yang melarang. Evan membutuhkan Anta.


Saat pintu rumah dibuka, Elvano mematung di ambang pintu. Wajahnya berubah muram melihat Anta dan Dika yang mengobrol di samping mobil Dika. Tangannya mengepal erat. Ia berbalik dan menutup pintu dengan keras.


Brak...


Anta dan Dika terlonjak kaget. Begitu juga dengan Bi Ijah. Wanita paruh baya itu bergegas menuju sumber suara. Namun, ia berpasan dengan Elvano yang penuh amarah. Lelaki itu tidak berbicara sedikitpun dan langsung menaiki tangga menuju ruangannya.


Brak...


Terdengar suara pintu kamar yang ditutup dengan keras.


"Ada apa dengan tuan?" Gumam Bi Ijah. Wanita itu menuju pintu dan mendapati Anta membuka pintu, masuk.


"Bi,"


"Nak Anta, syukurlah nak Anta pulang."


"Iya, Bi." Jawabnya. "Tadi, kenapa pintunya ditutup keras?"


"Nggak tahu, nak. Bibi juga dengarnya dari dapur. Eh pas kesini, ketemu tuan Elvano. Tapi, tuan sepertinya sangat marah."


"Marah?"


"Iya, nak."


"Kemana dia?"


"Sepertinya ke kamar."


Anta dengan cepat menaiki tangga menuju kamar. Entah kenapa, ia merasa khawatir. Anta meraih gagang pintu dan membukanya.


Prang... Suara pecahan kaca terdengar.


"Mas!"


Anta segera menghampiri Elvano. Punggung tangan kanan lelaki itu, tepatnya di buku-buku jarinya, berdarah. Cermin di meja hias pecah. Meja rias Anta berantakan. Produk-produk kecantikan yang jarang Anta sentuh itu berserakan di lantai. Tapi, Anta tak peduli. Ia meraih tangan Elvano yang terluka.


"Mas,"


"Apa yang kamu lakukan?" Elvano menghempas tangan Anta. "Nggak usah sok peduli!" Ujarnya.


Anta menulikan pendengarannya. Ia kembali meraih tangan Elvano, dan lagi-lagi Elvano menghempasnya.


"Sudah ku bilang! Jangan sok peduli!" Ucap Elvano dengan mengeraskan rahangnya.


Anta menarik nafasnya. Ia kembali meraih tangan Elvano dan memberanikan diri menatap mata lelaki itu.


"Mas El sedang terluka. Aku hanya bantu mengobati. Setelah ini, aku nggak akan mencampuri urusan Mas." Ujar Anta.


"Maksud kamu?"


Anta tak menjawab lagi. Ia menarik lembut Elvano menuju ranjang. Membiarkan Elvano duduk di tepi ranjang, lalu beranjak mengambil kotak p3k di dapur.


Anta kembali, lalu duduk di sebelah Elvano. Gadis itu mulai mengobati Elvano dengan hati-hati. Elvano terdiam dan sesekali meringis pelan. Matanya terus saja melirik Anta yang sedang serius mengobatinya.


"Dengan siapa kamu datang?" Elvano berpura-pura tak tahu. Ia hanya ingin mendengar kejujuran Anta.


"Aku sama Kak Dika." Jawabnya.


Dia jujur. Batin Elvano.


"Untuk apa kamu datang? Evan nggak butuh kamu."


Anta terdiam sejenak, lalu melanjutkan mengobati Elvano. Jujur, sakit sekali mendengar kalimat 'Evan nggak butuh kamu' keluar dari mulut Elvano. Tapi, Anta mencoba menepis rasa itu.


"Aku kesini di suruh Mama buat ambil baju." Ujar Anta, memulai rencana yang Devita buat.


"Baju? Kamu akan tinggal disana?"


"Sepertinya begitu." Jawabnya. "Sudah selesai. Aku mau menyusun bajuku dulu." Anta beranjak dari duduknya dan mendekati lemari. Tangannya yang hendak membuka lemari terhenti oleh ucapan Elvano.


"Aku berbohong. Evan membutuhkanmu. Dia terus menangis sejak kamu pergi." Ujar Elvano, berusaha menepis semua keegoisannya.


Anta tersenyum. Sepertinya, rencana Mama mertuanya akan berhasil.


"Aku hanya menuruti apa kata Mama. Aku ada disini karena Mama. Sudah seharusnya aku menurutinya."


"Aku yang akan bicara dengan Mama."


"Aku sudah cukup lama. Mama pasti memarahiku." Ujar Anta, mengabaikan ucapan Elvano. Ia membuka lemarinya, membuat Elvano kesal.


"Aku akan menelpon Mama sekarang."


Elvano segera meraih handphonenya dan langsung menelpon sang Mama. Panggilan tersambung dengan cepat.


"Ada apa telpon Mama?" Tidak ada saapaan dari Devita. Wanita itu sepertinya sangat marah. Itu yang Elvano pikirkan.


"Ma, nggak gitu ngomong sama anak."


"Kamu juga suka gitu ngomong sama orang tua. Pake nasihatin Mama segala."


"Iya-iya. Vano mau bilang, Anta nggak akan pulang ke rumah Mama. Anta tetap di rumah Vano."


"Nggak! Mama nggak izinin."


"Ma, Mama nggak kasian sama Evan? Dia nagis terus."


"Mama nggak peduli. Kamu kan Papanya. Kamu harusnya bisa lebih tahu soal Evan. Bukan Anta."


"Ma... Begini saja. Apa yang Mama mau?"


"Mama nggak mau apa-apa. Semua yang Mama mau, Papa penuhi."


"Ma..."


"Ya udah. Mama mau kamu minta maaf sama Anta, dan minta Anta tetap di rumah kamu. Perlakukan Anta dengan baik."


"Vano selalu berlaku baik sama dia. Nggak pernah main tangan."


"Oh ya? Yang kemarin itu berlaku baik?"


"Iya, Vano akan minta maaf dan lakuin yang Mama minta."


"Sekarang, Mama dengar!"


"Iya."


Elvano segera mendekati Anta. "Aku minta maaf sama kamu. Tetaplah disini. Aku akan memperlakukan kamu dengan baik. Aku berjanji, hal seperti kemarin nggak akan terulang."


Anta terdiam lalu tersenyum. Namun, hatinya tiba-tiba merasa pedih. Elvano tidak terlihat tulus. Dia melakukan semua ini bukan dari hati. Hanya sebatas ucapan semata. Tapi, Anta lagi-lagi menepisnya. Ia akan tetap melakukan tugasnya sebagai Ibu Evan. Evan, sang putra yang begitu ia sayang.