
"Ayo, sekarang duduk pelan-pelan," ucap Elvano saat tiba di rumah setelah pulang dari rumah sakit.
Ricky dan Tiara yang sedang menggendong Evan pun tersenyum melihat Elvano yang begitu hati-hati. Berbeda dengan Anta yang saat ini menggeleng-geleng melihat kelakuan sang suami.
"Mas, aku nggak apa-apa kok, kenapa harus gini?" Anta menatap suaminya dengan tatapan yang entahlah, hanya Anta yang tahu artinya.
"Sayang, aku gini kan mau jadi suami yang baik. Aku mau kamu dan calon anak kita baik-baik saja," ucap Elvano. Laki-laki itu lalu duduk sambil merangkul Anta. Ia lalu menatap foto hasil USG sang istri.
"Aku senang banget, sayang. Aku nggak nyangka dia tumbuh sudah 8 minggu di perut kamu. Untung aja aku selama ini nggak kasar waktu—hhmm."
Anta langsung membekap mulut suaminya ini. Apa dia gila? Mau membicarakan kegiatan mereka di depan Tiara dan Ricky? Memang benar-benar suaminya ini.
Anta melepas bekapannya saat Elvano menarik lembut tangan itu menjauh dari mulutnya. Tiara dan Ricky hanya menatap mereka dengan senyuman tipis. Tapi, ada kebingungan dari tatapan mata mereka. Sementara Evan, anak itu duduk diantara Tiara dan Ricky, dan sibuk bermain dengan mainannya.
"Sayang, kenapa mulut aku dibekap?"
Anta tersenyum paksa lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Elvano. "Mas mau ngomong apa sih? Mas nggak malu cerita hal-hal privasi kita di depan Tiara sama Ricky? Mereka juga masih kecil lho. Nggak baik dengar yang begituan," bisik Anta.
Elvano sedikit menjauhkan wajahnya lalu menatap Anta. Sedikit senyum tipis terukir di bibirnya. Ia lalu belas mendekatkan wajahnya ke telinga Anta.
"Memangnya aku ngomong apa?"
Anta menatap Elvano dengan mata melotot. Benar juga kata suaminya itu. Dia juga belum tahu, kemana arah pembicaraan Elvano. Dia hanya menebak dan spontan membekap mulut laki-laki itu.
Anta memalingkan wajahnya dengan pipi yang memerah. Ia tersenyum canggung pada kedua adiknya.
"Oh ya, kata Mas El, kemarin kalian ke rumah mbak Dinda?" tanya Anta, mencoba mengalihkan pembicaraan nya dengan Elvano.
"Iya Kak. Kemarin kak Dika ajakin kita ke sana," ucap Tiara.
"Iya. Seneng banget bisa ketemu Ara," sambung Ricky.
Dua adik Anta itu mulai tidak bisa mengontrol mulut mereka. Keduanya terus bercerita tentang apa yang mereka lakukan disana. Paling banyak Ricky. Anak itu dengan semangat menceritakan kegiatan mereka kemarin, dari melihat-lihat sekolah yang akan menjadi sekolah baru mereka, sampai tentang Ara yang kemarin merengek tak mengizinkan mereka pulang. Alhasil, dia dan Tiara harus menunggu Ara tertidur kemudian pulang. Beruntung gadis kecil itu mudah tertidur. Hanya satu dongeng yang Tiara bacakan, si Ara langsung tertidur.
***
Beberapa hari berlalu. Rasa mual-mual pagi hari Anta mulai berkurang. Wanita itu keluar dari kamar mandi setelah membasuh wajahnya. Ia langsung mendekati Elvano yang masih terduduk di sofa.
"Mas kok masih santai. Nggak ke kantor hari ini?" tanya Anta, duduk di sebelah suaminya yang masih sibuk dengan handphonenya.
"Mas."
"Hmm," jawab Elvano tanpa mengalihkan tatapannya dari layar handphone.
"Mas nggak ke kantor?"
"Bentar lagi," balas Elvano, masih tetap fokus pada layar handphonenya.
Anta menatap suaminya yang sedang serius dengan handphone. Ingin sekali ia merebut handphone itu dari tangan suaminya dan melihat apa yang sedang laki-laki itu lakukan. Tapi, Anta masih mampu menahan dirinya untuk tidak melakuakan hal tersebut.
"Mas lagi lihatin apa sih?" Anta mendongak, tapi Elvano dengan cepat mematikan handphonenya.
"Nggak ada apa-apa," ucapnya.
Anta kembali menatap Elvano dengan tatapan menyelidik. Suaminya ini sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Anta menarik nafasnya, mencoba untuk tidak marah.
Tapi, meskipun begitu, hatinya terasa sakit atas perlakuan Elvano barusan. Daripada dia marah-marah, ia memutuskan untuk keluar dari kamar.
Anta bangun dan hendak pergi, tapi Elvano dengan cepat menahan tangannya.
"Mau kemana?"
"Ya udah. Hati-hati ya, jalannya. Nggak boleh gendong Evan dulu. Kalau butuh sesuatu panggil aku, ya?"
Ucapan Elvano hanya dibalas anggukan Anta dan kemudian langsung keluar kamar. Elvano merasa aneh. Anta selalu menjawab iya pada apa yang dia katakan meski sudah mengangguk. Berbeda dengan saat ini yang hanya mengangguk lalu pergi begitu saja.
"Mungkin suasana hatinya sedang nggak baik," gumam Elvano.
Anta membuka pelan kamar Evan. Seulas senyum muncul di bibirnya saat melihat Evan terduduk di ranjangnya. Menutup pintu, Anta lantas dengan cepat menghampiri ranjang Evan.
"Anak Mama udah bangun," ucap Anta sambil mengusap kepala Evan yang rambutnya begitu tebal.
"Maa... Maa... Maa... La... La... Paa... Paa..." celoteh Evan seolah mengajak Anta bicara.
"Apa sayang? Papa? Atau...kamu lapar?"
"Baa... Baa... Baa...."
"Ya Allah Nak, Mama nggak ngerti. Papa atau lapar, tetap mandi pagi duluan. Sekarang, kita ke kamar mandi, okey?"
Evan tiba-tiba mengangguk saat Anta mengatakan "okey". Hal itu membuat Anta merasa senang dan terkekeh. Ia menangkup kedua pipi Evan dan mengecup seluruh wajah putranya itu.
"Pinter anak Mama."
Ibu dan anak itu segera menuju kamar mandi. Setelah beberapa saat keduanya keluar dengan Evan yang sudah bersih dan wangi. Anta dengan telaten memakaikan pakaian untuk putranya.
"Evan bakal punya adik nih. Evan senang nggak kalau punya adik?"
"Pasti senang, sayang."
Anta segera menoleh mendengar suara seseorang yang menjawab pertanyaannya untuk Evan. Di ambang pintu, Elvano berdiri sambil tersenyum padanya.
Melihat Elvano, ia kembali teringat dengan kejadian tadi. Mengingat itu, moodnya kembali buruk. Tapi, Anta tetap tersenyum. Ia berusaha berpikiran positif. Ia juga akan menanyakannya pada Elvano nanti.
Elvano mendekat. Ia mengecup pipi Anta, lalu mengecup pipi Evan. "Wangi banget anak Papa. Mama juga wangi," ucap Elvano sambil tersenyum pada istrinya.
Anta lagi-lagi tersenyum tipis. "Aku belum mandi, Mas," ucap Anta.
"Ya aku tahu. Tapi, kamu tetap wangi sayang," ucap Elvano, mencuri satu kecupan di bibir Evan.
"Mas." Anta melotot pada sang suami. Tapi Elvano dengan tanpa rasa bersalahnya malah terkekeh, yang kemudian diikuti Evan yang juga terkekeh melihat sang Papa terkekeh.
"Hehehe... Kenapa kamu ikut tertawa?" tanya Elvano pada putranya.
"Mas kenapa belum berangkat?" tanya Anta, membuat Elvano menoleh padanya.
"Aku belum sarapan," jawab Elvano.
"Kayaknya sarapan udah disiapin Bi Ijah."
"Iya, sudah. Tapi aku maunya sarapan sama kamu sama Evan," ucap Elvano. Tangannya bergerak menyusup ke pinggang Anta, dan memeluknya.
Anta menatap suaminya dan tersenyum tipis. "Mas duluan aja, ya. Mas lihat sendiri kan? Aku masih pakai in Evan baju."
"Nggak mau. Aku mau tungguin kamu sama Evan."
"Ya udah. Lepas dulu tangan Mas. Aku kan mau pakai in baju Evan."
Elvano menarik nafasnya. Ia kemudian menundukan tubuhnya hingga wajahnya sejajar dengan perut Anta. "Anak Papa masih bobo ya, di dalam? Papa, Mama sama Bang Evan sayang sama kamu," ucap Elvano sambil mengelus-elus perut Anta.
Anta tersenyum, namun matanya berkaca-kaca. Entah karena ia terharu atau karena memikirkan sikap Elvano tadi, ia juga tidak mengerti.