
Sesuai yang Elvano katakan, setelah sarapan, Elvano membawa istri dan anaknya menuju mall. Membeli barang yang Anta maupun Evan inginkan.
Elvano menghentikan mobilnya di parkiran, lalu membukakan pintu untuk Anta. Perempuan itu tersenyum manis. Elvano lalu membuka pintu belakang dan menggendong Evan.
"Kita kenapa kesini, Mas?"
"Kamu nggak mau beli sesuatu buat kebutuhan kamu? Kebutuhan Evan juga."
"Iya, Mas."
"Ya udah. Ayo!"
Anta mengangguk. Elvano meraih tangan Anta dan menggenggamnya erat. Mereka sama-sama berjalan memasuki mall.
"Kita kemana dulu, Mas?"
"Beli perlengkapan kamu dulu."
"Nggak usah deh, Mas. Di rumah, punyaku masih banyak. Mama juga sering kirim orang buat mastiin semua kebutuhanku lengkap."
Elvano terdiam. Ia lalu menatap istrinya. "Maafin aku, ya?"
"Maaf kenapa?"
"Maaf sudah mengabaikan kamu selama ini. Aku nggak sedikitpun mengurus apa yang kamu butuhkan. Yang ku lakukan hanya memberimu uang, terus acuh begitu saja."
"Mas, nggak usah diungkit lagi. Yang kita pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya agar rumah tangga kita menjadi lebih baik lagi dari yang dulu."
Elvano mengangguk. Dan tanpa tahu malunya, laki-laki itu menarik Anta lalu mengecup keningnya.
"Paa..." Evan memukul pelan wajah Papanya, seolah tidak suka jika sang Papa mencium sang Mama.
"Mas! Malu dilihat orang."
"Cium di kening doang. Kayak cium di bibir aja pakai malu segala."
"Ish... Ya tetap saja Anta malu."
"Ya udah, ya udah. Itu salahku. Ayo, kita lanjut!"
Anta mengangguk dan Elvano kembali meraih tangannya. Mereka berjalan berdampingan menuju toko yang menjual berbagai perlengkapan untuk Evan. Setelah itu mereka menuju Timezone.
Elvano bermain bersama Evan, sementara Anta hanya memperhatikan mereka. Namun, tiba-tiba ia merasa ingin ke toilet. Anta berdiri dan melambaikan tangannya pada Elvano.
Elvano kembali menggendong Evan dan mendekati sang istri. "Ada apa?" tanyanya.
"Aku mau ke toilet bentar."
"Ayo, aku temani."
"Nggak usah, Mas. Mas sama Evan disini aja."
"Ya udah. Hati-hati, ya? Kalau udah selesai, langsung kesini."
"Iya, Mas."
Anta segera ke toilet. Namun, di pertengahan jalan menuju toilet, tanpa sengaja ia menabrak seseorang.
Bruk...
"Aduh, maaf Mbak." Anta menatap seorang wanita di depannya. Wanita yang mengenakan kaca mata hitam.
"Nggak masalah," jawabnya langsung pergi begitu saja.
Anta masih terus menatapnya. Ia merasa seperti pernah melihatnya. Setelah beberapa detik mencoba mengingatnya, Anta masih tidak bisa mengenalinya. Akhirnya, ia memilih untuk melanjutkan jalannya menuju toilet.
Elvano duduk sambil memangku Evan. Tangannya terus mengusap-usap kepala putranya. Namun, matanya menangkap seseorang yang ia kenal melintas tak jauh di depannya.
"Itu seperti—"
"Mas."
"Eh, sayang. Udah?"
Anta mengangguk. "Udah, Mas."
Elvano tersenyum dan mengusap pelan rambut istrinya. "Ayo, kita makan dulu. Setelah itu, pulang."
"Iya, Mas."
Ketiga orang itu segera menuju cafe yang ada di mall tersebut. Setelah menyelesaikan makan siang, mereka segera kembali.
"Lho? Katanya mau pulang. Kenapa jalannya bukan ke arah rumah?" tanya Anta bingung, saat mobil melaju ke arah lain.
"Kita pulang ke apartemen."
"Apartemen?"
"Iya. Sesekali kita istirahat disana. Kita pulang ke rumah agak sorean. Nggak apa-apa, kan?"
"Iya, nggak apa-apa."
Elvano tersenyum dan mengusap pelan rambut istrinya. Setelah itu, ia kembali fokus pada jalanan.
Beberapa menit perjalanan, mereka tiba di apartemen Elvano. Laki-laki itu memarkirkan mobilnya lalu bersama istri dan anaknya menuju unit apartemennya.
"Langsung istirahat atau mau makan lagi? Aku pesenin," ucap Elvano sambil mengunci kembali pintu apartemennya.
"Istirahat aja, Mas. Kita kan udah makan tadi."
"Ya udah. Ayo, Evan tidurin di kamarnya."
"Evan nggak bereng kita?"
"Enggaklah, sayang. Evan punya kamar sendiri. Ayo!"
Anta hanya mengangguk, lalu mengikuti langkah lelaki itu menuju kamar Evan. Setelah membaringkan Evan dan memastikannya tertidur dengan nyaman, Anta dan Elvano menuju kamar mereka.
Elvano menutup pintu kamarnya, kemudian langsung memeluk erat pinggang Anta yang berdiri di depannya. Ia menyusupkan wajahnya di ceruk leher Anta, lalu mengendus-endus nya. Membuat Anta merasa geli.
"Udah, Mas. Geli tahu nggak?" Seru Anta, sambil berusaha menjauhkan wajah Elvano dari ceruk lehernya.
Laki-laki itu menghentikan aktivitasnya, dan menjauhkan wajahnya dari Anta. Ia menatap istrinya. Tatapannya pada Anta sarat akan keinginannya pada sang istri.
Anta paham dengan tatapan itu. Ia bukan gadis kecil lagi yang tidak mengerti apa-apa. Parlahan, Elvano mengikis jarak diantara mereka. Mencium lembut bibir istrinya, lalu menggendongnya menuju ranjang.
Dan akhirnya mereka kembali meneguk kenikmatan dunia dengan penuh cinta dan kelembutan.
***
Anta terbangun saat hari sudah begitu sore. Setelah meladeni keinginan suaminya dan mandi, ia memilih untuk tidur, dan berakhir bangun saat senja telah muncul.
Sementara Elvano, setelah membersihkan diri, ia menemani sang istri tidur. Namun, ia terbangun terlebih dulu saat mendengar tangisan putranya Evan.
"Mas El nggak ada. Dia kemana?" gumam Anta.
Belum sempat Anta turun dari ranjang, pintu kamar terbuka. Elvano masuk dengan menggendong Evan.
"Udah kangen banget ya, sama Mama?" Elvano mengecup pipi Evan. Ia mendekati ranjang, lalu mengecup kening istrinya. Evan segera turun dari gendongan Elvano dan memeluk Anta.
"Sayang banget anak Mama. Cium dulu, dong." Langsung Evan mengecup pipi Anta, dan dibalas Anta dengan mengecup seluruh wajah Evan.
"Enak banget ya, Evan? Dapat cium gitu dari Mama. Mama mah selalu pilih kasih. Evan kasi cium, dicium balas. Kalau Papa kasi cium, dibiarin gitu aja." Elvano memanyunkan bibirnya, berpura-pura merajuk pada sang istri.
"Evan, Papa ngambek. Gimana ini? Gimana bujuknya?"
"Taa... Taa... Taa...."
"Gimana? Coba bisikin Mama." Anta mendekatkan telinganya ke mulut Evan. Setelah beberapa saat, ia menjauhkannya. "Oke. Mama ngerti," ucap Anta sambil tersenyum pada putranya. Setelah itu, ia menatap suaminya.
"Sini, Mas!"
Elvano yang berdiri, langsung duduk di sisi ranjang berdekatan dengan Anta. Wajahnya ia dekatkan ke Anta. Hatinya terus berdebar-debar, menanti apa yang akan Anta lakukan padanya. Ia berharap agar Anta memberikan satu kecupan manis di bibirnya.
"Iiihhh... Mas gemesin banget," ucap Anta sambil menarik sebelah pipi Elvano.
"Aaww... Shhh... Sakit, sayang." Elvano segera menjauhkan wajahnya dan mengusap-usap pipi kanannya sambil meringis. Sementara Evan malah terkekeh melihat Papanya meringis.
"Maaf ya, Mas. Maaf," ucap Anta, ikut mengusap-usap pipi Elvano.
"Nggak kayak gitu minta maafnya."
"Ya udah, ayo dekatan."
Elvano kembali mendekatkan wajahnya. Saat hampir dekat, Anta langsung mengecup pipi Elvano, tepat di bekas ia mencubit pipi laki-laki itu.
"Nggak gitu minta maafnya."
"Gimana lagi cara minta maafnya? Kan udah."
"Ini." Elvano menunjuk bibirnya.
"Enggak, ah. Ada Evan disini, mal—"
Cup...
Elvano langsung mendaratkan satu kecupan di bibir Anta. "Ini baru minta maaf yang benar," ujarnya dengan senyum tertahan.
"Ayo, pulang!"
"Sekarang?"
"Kenapa? Kamu betah disini?"
Anta menggeleng. "Aku lapar, Mas."
"Ya udah. Ayo, kita makan dulu, setelah itu kembali ke rumah."
***
Setelah makan, Anta bersama suami dan anaknya langsung pulang ke rumah. Mereka tiba saat hari sudah menggelap. Karena jam kerja Bi Ijah telah selesai, rumah menjadi sepi. Hanya ada Pak Tarman yang berjaga di dekat gerbang.
Anta menggendong Evan masuk diikuti Elvano yang berjalan di belakang mereka sambil menenteng belanjaan. Mereka sama-sama masuk ke kamar Evan.
"Letakin di situ aja, Mas. Nanti Anta yang rapihin."
"Iya." Elvano meletakkan barang-barang tersebut sesuai dengan yang Anta katakan. Setelah itu, ia mendekat pada istrinya.
"Mas sama Evan, ya? Aku mau rapihin barang-barang Evan."
Elvano menggangguk. Ia lalu mengulurkan tangannya pada sang putra. "Sini, sama Papa!"
Evan tak menyambut uluran tangan Ayahnya. Anak itu berbalik dan malah semakin mengeratkan pelukannya pada Anta.
"Evan sayang, sama Papa ya? Mama kan mau beresin barang-barang kamu."
"Kalau dianya nggak mau, biarin aja sayang. Besok aja rapihin barang-barang nya."
Anta mengangguk. Anta membiarkan Evan dalam pelukannya hingga tertidur. Elvano jadi kasihan pada istrinya itu yang berdiri sambil menggendong Evan sejak tadi. Ingin membantu, tapi Evan tidak mau ia gendong.
"Sayang, langsung tidur?" tanya Elvano setelah Anta membaringkan Evan.
"Enggak, Mas. Belum ngantuk. Kenapa?"
"Ikut aku, mau?"
"Kemana? Evan sendiri lho."
"Nggak kemana-mana. Cuma di rumah. Ayo ikut!"
Tanpa menunggu jawaban istrinya, Elvano langsung menarik lembut tangan Anta. Ia membawa istrinya itu ke ruangan paling ujung di lantai dua rumah itu.
"Ini ruangan apa?" tanya Anta saat mereka berdiri di depan ruangan tersebut.
Elvano tak menjawab. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kunci. Ia lalu menyerahkannya pada Anta. "Buat kamu."
Anta menerima kunci tersebut. "Buat aku?"
"Iya. Ini hadiah buat kamu. Ayo, buka."
Anta dengan sedikit ragu membuka pintu ruangan tersebut. Tidak ada yang bisa ia lihat, karena ruangan itu gelap.
"Ayo, masuk." Elvano mengulurkan tangannya, mengajak Anta masuk.
"Aku takut, Mas."
"Nggak ada apa-apa. Ayo."
Masih dengan perasaan ragu ia meraih tangan Elvano. Menggenggamnya erat sembari berjalan masuk.
Klak...
Elvano menyalakan lampu hingga ruangan tersebut terang benderang. Beberapa rak buku berjejeran di ruangan itu. Ada kursi dan meja untuk Anta duduk bersantai sambil membaca buku.
Anta menatap ruangan itu dengan penuh rasa kagum. Tanpa ia sadar, matanya berkaca-kaca.
"Kamu suka? Hmm?"
Anta menoleh pada Elvano dan langsung mengalungkan tangannya ke leher Elvano. Ia memeluk erat laki-laki itu. "Ini semua buat aku?"
"Ya. Ruangan ini buat kamu. Kunci ruangan itu milik kamu. Kamu bisa baca sesuka kamu. Tapi, jangan sampai lupa sama aku juga Evan."
"Makasih, Mas. Aku nggak akan lupa sama kalian."
"Iya, sayang." Elvano tersenyum tipis dan mengecup puncak kepala istrinya. "Mau baca sekarang atau kita ke kamar?"
"Baca di kamar boleh?"
"Boleh. Asal baca sambil usap-usap kepalaku."
Anta mengangguk cepat. Ia melepas pelukannya dan segera memilih buku yang ingin ia baca. Setelah itu, dia dan Elvano sama-sama kembali ke kamar.