Annanta

Annanta
Extra Part 1



Hari-hari terus berganti. Perut Anta perlahan mulai membesar. Elvano juga selalu pulang tepat waktu dan membawa pekerjaannya ke rumah.


"Kak, ini buah jeruknya." Tiara meletakan sepiring berisi mangga yang sudah dipotong-potongnya. Kedua wanita itu sedang duduk di halaman belakang rumah, sambil memperhatikan Evan yang bermain dengan Ricky.


"Makasih ya. Kakak ngerepotin kamu."


"Nggak ngerepotin Kak. Tiara seneng bisa bantu Kak Anta."


Anta tersenyum mendengar ucapan adiknya. Ia meraih sepotong mangga setengah matang dan memasukan ke mulutnya.


"Kakak kalau butuh apa-apa bilang Tiara aja."


Anta lagi-lagi tersenyum. "Ada bi Ijah yang akan bantuin Kakak. Tugas kamu, fokus sama sekolah. Bukannya kamu mau dapat beasiswa kuliah ya?" Tiara mengangguk. "Belajar yang rajin. Kakak doa in kamu bisa dapat beasiswa saat lulus nanti."


"Aamiin. Makasih, Kak."


"Iya."


"Mama." Suara imut terdengar bersamaan dengan tarikan pelan ujung baju Anta.


"Eh, ada apa sayang?" Anta yang sudah meraih sepotong mangga lagi, kembali meletakannya di piring. Ia mengabaikan buah yang dikupas dan dipotong-potong Tiara untuknya itu, kemudian meraih Evan ke pangkuannya.


"Mamaa." Evan menyerahkan setangkai bunga untuk Anta, membuat wanita yang dipanggilnya Mama itu tersenyum.


"Makasih, sayang. Ayo, cium Mama dulu." Anta menundukkan tubuhnya hingga Evan bisa mengecup sebelah pipinya.


Cup...


Satu kecupan dari Evan dibalas berkali-kali kecupan di wajah imutnya itu oleh Anta. Hal tersebut membuat tawa Evan terdengar dan menular pada Anta, Tiara dan Ricky.


"Gemesin banget siiihhh... Anak siapa si ini?" ucap Tiara mencubit gemas pipi Evan.


"Anaknya Mama dong," sahut Anta. "Iya kan Evan?"


"Mama," ucap Evan, mengikuti ucapan Mamanya.


"Ponakan Om juga kan? Iya kan?" Ricky menimpali.


"Titi." Panggilan Evan untuk Ricky kembali membuat Anta dan Tiara tertawa. Sementara Ricky menyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya.


***


Elvano berjalan cepat keluar dari ruangannya. Sesekali ia melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Aku pulang telat hari ini. Ck. Kenapa harus ketiduran sih!" kesal Elvano. Dengan cepat ia menghampiri mobilnya kemudian mengendarai kendaraan tersebut menjauh dari perusahaan.


Sekitar 20 menit, Elvano tiba. Senyum tipis tersungging di bibirnya saat melihat Anta membuka pintu rumah untuknya.


"Sayang, maaf aku pulang telat hari ini," ucap Elvano.


Anta hanya diam. Setelah mencium tangan Elvano dan meraih tas kerja sang suami, Anta berjalan menjauh dari laki-laki itu. Membuat Elvano meneguk ludahnya. Segera ia mengikuti Anta dan menyamakan langkah mereka.


"Hati-hati naik tangganya," ucap Elvano, berusaha menggenggam tangan Anta, namun ditepis pelan oleh wanita hamil tersebut.


"Sayang, kamu marah aku pulang telat?" Tak ada jawaban. Anta hanya diam, membuat Elvano menarik nafasnya.


"Sayang, jangan marah ya? Aku nggak sengaja pulang telat."


Anta tetap diam. Ia membuka pintu kamar dan masuk. Elvano yang sudah tidak tahu harus berbuat apa langsung memeluk Anta dari belakang, setelah menutup pintu.


"Sayang, maafin Mas ya? Mas nggak sengaja pulang telat. Mas ketiduran di kantor."


"Kalau kamu marah, langsung marah aja. Jangan diemin Mas kayak gini."


Anta menarik nafasnya. "Aku bukannya marah karena Mas pulang telat. Aku marah karena Mas nggak kasi kabar. Aku khawatir Mas. Ini udah jam 10. Dan Mas nggak biasanya pulang di jam segini."


"Mas ketiduran, sayang."


Anta melepaskan tangan Elvano yang melingkar di pinggangnya. Wanita itu berbalik dan tersenyum lembut pada sang suami. Tangannya terangkat mengusap lembut pipi Elvano.


"Aku maafin karena Mas ketiduran. Lain kali, kalau Mas pulang telat, kabarin aku. Aku khawatir terjadi apa-apa sama kamu."


"Iya, aku janji. Aku akan kabarin kamu, selalu."


Anta mengangguk sambil tersenyum. "Ya udah. Mas mau mandi atau makan dulu?"


"Mandi dulu."


"Kalu gitu, aku siapin air hangat dulu."


"Nggak. Aku sendiri aja yang siapin. Ibu hamil harus istirahat."


"Ya udah. Mas mandi gih. Aku siapin baju."


"Cium dulu."


"Nggak mau."


"Sayang, sekali ya? Dari pagi sampai jam sekarang lho Mas nggak dapat cium dari kamu. Emangnya kamu nggak kasian?"


"Nggak kasian."


"Sayang, kok gitu? Sekali ya?" ucap Elvano memelas.


"Nanti aja, setelah Mas mandi."


"Beneran ya?"


"Iya."


Elvano dengan cepat meraih handuk dan berjalan ke kamar mandi. Seandainya dia tidak ketiduran tadi, sudah pasti ia bersama istrinya sejak tadi.


Setelah beberapa menit, Elvano keluar. Bisa ia lihat Anta yang duduk dengan kaki selonjoran dan punggung yang bersandar di sandaran ranjang. Wanita itu sedang membaca buku. Tatapannya lalu beralih pada pakaian yang Anta siapkan. Ia kemudian mendekat.


"Kenapa belum tidur?" tanya Elvano sembari meraih bajunya.


Anta mengalihkan tatapan dari buku yang dibacanya, dan menatap Elvano. "Aku kan nungguin Mas."


Elvano tersenyum. "Kamu utang ciuman sama Mas."


"Ingat kok. Makanya belum tidur."


Senyum Elvano semakin mengembang mendengar ucapan Anta. Kehamilan benar-benar membawa perubahan besar pada Anta.


Elvano dengan cepat mengenakan pakaiannya, meletakan handuk pada tempatnya, kemudian menaiki ranjang. Ia bergeser mendekat dan memeluk tubuh sang istri.


"Aku udah selesai. Kenapa masih baca buku?"


"Bentar lagi, Mas. Nanggung. Tinggl 1 halaman selesai," ucap Anta.


Elvano menarik nafasnya. Tidak apa-apa. Hanya 1 halaman, tidak akan sampai berjam-jam.


"Sayang, anak Papa. Gimana hari ini? Kamu nggak rewelkan?" ucap Elvano, sambil mengelus-elus perut Anta yang mulai membuncit.


"Kamu tahu nggak? Hari ini Papa nyesel banget pulang telat. Papa nggak bisa nemenin kamu, abang sama Mama. Maafin Papa ya." Elvano menunduk dan mengecup perut Anta.


"Kamu jangan marah sama Papa. Papa janji nggak bakal ulangi lagi. Papa akan berusaha untuk pulang lebih awal supaya bisa temenin kalian di rumah."


Anta yang mendengarnya tersenyum tipis. Ia meletakkan bukunya, kemudian mengelus-elus kepala Elvano. "Adek nggak marah kok, Pa. Adek cuman khawatir, takut terjadi apa-apa sama Papa," sahut Anta, memainkan peran sebagai anak yang ada di perutnya.


Mendengarnya Elvano tersenyum tipis dan langsung menegakkan badannya. "Udah selesai?"


"Apa?"


"Bacanya."


"Belum. Tapi, aku berhenti in."


Elvano mengangguk. "Sayang."


"Hmm?"


"Mas udah bolehkan nagih janji kamu?"


Anta tersenyum kemudian mengangguk pelan. Lampu hijau untuk Elvano. Segera laki-laki mendekatkan wajahnya dengan wajah Anta.


Cup.


Elvano mengecup bibir Anta kemudian menciumnya lembut. Anta membalasnya, membuat Elvano merasa senang. Keduanya sama-sama menikmati ciuman mereka. Bahkan tangan Elvano mulai menjalar kemana-mana.


Elvano melepas ciuman mereka. Perlahan Elvano mulai membaringkan tubuh Anta kemudian mengukungnya. Laki-laki itu kembali menunduk mencium bibir Anta. Tak ada perlawanan dari Anta membuat Elvano semakin berani melakukan lebih.


Saat tangannya hendak melepaskan piyama yang Anta kenakan, dengan cepat Anta menahannya.


"Mas."


"Hmm? Ada apa?" Suara Elvano terdengar serak, menandakan dirinya benar-benar menginginkan sang istri.


"Aku... mau soto ayam, Mas."


Elvano menatap datar istrinya kemudian beranjak dari atas tubuh Anta dan duduk di sebelah sang istri yang masih berbaring. Ia menarik nafasnya, lalu mengacak rambutnya frustrasi. Bisa-bisanya Anta memikirkan makanan dalam keadaan mereka saling menginginkan satu sama lain seperti saat ini.


Ingin marah, tapi ia tidak tahu harus memarahi siapa. Anta begitu karena bawaan bayi dalam perutnya. Dan dia, dia frustasi karena otak, hati dan tubuhnya menginginkan Anta.


"M-Mas...." Anta memanggil lirih. Melihat Elvano seperti ini membuat ia takut. Tapi, ia benar-benar ingin makan soto ayam saat ini.


Elvano kembali menarik nafasnya, menetralkan semua perasaan yang menyerang dirinya. Laki-laki itu lalu menoleh pada sang istri dengan tatapan lembutnya.


"Mau soto ayam?" tanya Elvano lembut. Ia mengusap kepala Anta penuh sayang.


"Iya, Mas."


"Emang ada penjual soto yang masih buka jam sekarang? Ini udah jam 11 lewat."


"Nggak tahu, Mas."


"Ya udah, Mas coba cari in. Siapa tahu masih ada yang buka jam segini."


"Iya, Mas."


Elvano mengecup kening Anta kemudian beranjak dari ranjang. Laki-laki itu mengganti baju tidurnya dengan stelan rumahan, dan meraih kunci mobilnya. Ia lalu kembali mendekati Anta.


"Mas pergi dulu," ucapnya sambil mengecup kening Anta.


"Mas hati-hati." Elvano mengangguk mengiyakan.


***


Hampir satu jam Elvano berkeliling mencari-cari warung soto ayam yang masih buka. Namun, tidak satupun ia temukan. Semua warung sudah tutup.


Sempat berpikir untuk ke rumah bi Ijah, meminta wanita paruh baya itu buatkan soto ayam. Tapi, dia tidak enak membangunkan wanita itu hanya sekedar memasak soto. Bi ijah juga butuh istirahat setelah seharian bekerja.


"Ck. Gimana caranya dapat soto ayam buat Anta? Apa aku masak aja?" gumam Elvano.


"Masak aja kali ya? Kayaknya masih ada stok ayam di kulkas. Tinggal nonoton cara buatnya," gumamnya lagi.


Setelah memutuskan untuk memasak sendiri, Elvano melajukan mobilnya menuju rumah.