
Sudah sepuluh menit Anta ke toilet, tapi gadis itu belum juga kembali. Elvano yang sudah duduk di tempatnya semula merasa gelisah. Pasalnya, dia salah menyebut nama perempuan lain di depan Anta. Entah apa yang ia pikirkan tadi sampai ia menyebut nama Violla.
"Nggak bisa! Aku harus menjelaskannya pada Anta." Gumamnya.
Elvano beranjak dari duduknya, membuat Haris yang duduk di dekatnya menahannya.
"Mau kemana kamu?"
"Ke toilet."
Tanpa menunggu apa yang akan Papanya katakan, Elvano berlalu dengan cepat dari hadapan orang tua itu. Devita melirik suaminya dengan sorot mata penuh tanya.
"Vano ke toilet." Kata Haris, yang mendapat anggukkan dari Devita. Wanita itu berpikir, mungkin Elvano mencari Anta di toilet.
Langkah Elvano dipercepat. Saat tiba di toilet, ia berdiri di depan pintu dan mengetuknya pelan.
Tok... Tok... Tok...
"Anta?" Tak ada jawaban dari dalam. Elvano kembali mengetuk dan hasilnya masih sama. Ia mencoba memutar gagang pintu, ternyata pintu tak dikunci. Elvano masuk memeriksa toilet tersebut. Tidak ada Anta.
"Nggak ada. Kemana Anta?"
Laki-laki itu berjalan keluar dan mencari Anta ke tempat lain. Langkahnya terhenti saat melewati pintu ke halaman belakang. Dari kejauhan, ia bisa melihat seorang duduk membelakanginya.
Elvano berjalan pelan mendekati orang tersebut yang ia yakini adalah Anta. Di kursi panjang, Elvano duduk tepat di samping Anta tanpa menatap gadis itu. Wajahnya ditekuk, menggambarkan jika ia tidak suka Anta membohonginya.
"Mas El..."
"Apa? Kaget? Katanya ke toilet, kenapa malah duduk disini?"
"Maaf, Mas."
"Maaf?" Elvano tersenyum remeh lalu menolehkan kepalanya menatap Anta. "Kamu tahu, saya... Kamu kenapa?" Niat hati ingin memarahi Anta seketika Elvano urungkan saat melihat dress yang Anta kenakan basah.
"Kamu kenapa?" Sekali lagi, Elvano mengulang pertanyaannya.
"Aku nggak sengaja nabrak mbak Selly. Jadi minumannya tumpah."
Elvano mengangkat sebelah alisnya, menatap tak percaya pada gadis di hadapannya. Walaupun dia tidak dekat dengan Tommy dan Selly, dia tahu bagaimana watak keduanya.
"Katakan dengan jujur, Anta. Saya nggak suka dibohongi."
"Aku udah jujur, Mas." Anta benar-benar tidak ingin terjadi sesuatu dalam hubungan keluarga Elvano. Dia tidak ingin menjadi pemicu retaknya hubungan keluarga antara Elvano dan tante Yuli.
"Baiklah kalau kamu nggak mau kasih tahu. Disini ada cctv. Saya bisa..."
"Kenapa Mas El mengurusi urusanku? Bukankah kita nggak perlu mengurusi urusan satu sama lain?" Anta berkata dengan cukup tenang.
Elvano terbungkam oleh ucapan Anta. Ia mengepalkan tangannya. Tidak bisa menyangkal, apa yang Anta katakan sepenuhnya benar. Dia sendiri yang mengatakannya. Tapi, kenapa dia tidak suka mendengar Anta mengungkitnya.
Elvano menarik nafasnya berusaha mengendalikan perasaannya. Setelah cukup tenang, Elvano melepas jasnya dan memakaikannya pada Anta.
"Kamu bisa masuk angin."
Anta tak membalas satu katapun. Ia bahkan tidak berusaha mengeratkan jas yang Elvano berikan pada tubuhnya. Elvano mendengus pelan. Ia beranjak berdiri dan meraih tangan Anta.
"Ikut saya!"
Anta mendongak menatapnya. "Mau kemana?"
"Ikut saja!"
"Tapi, Evan?"
"Ada Bi Ijah sama Mama."
Elvano langsung menarik Anta mengikutinya. Genggaman Elvano cukup kuat, membuat Anta sedikit merasa sakit. Elvano membawa Anta ke mobil yang diparkirnya. Lelaki itu membuka pintu mobil untuk Anta.
"Masuk."
"Mau kemana?"
"Masuk saja."
Anta menurut, masuk mobil. Elvano juga masuk dan duduk di kursi pengemudi. Laki-laki itu melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Dinda.
Selama perjalanan, Anta maupun Elvano sama-sama diam, hingga akhirnya Elvano menghentikan mobilnya.
"Ayo, turun."
Anta turun mengikuti ucapan Elvano. Ia cukup heran saat Elvano menghentikan mobilnya di depan toko pakaian.
"Ayo!" Elvano langsung menarik tangan Anta begitu saja. Ia membawa gadis itu memasuki toko.
"Maaf Mas, mbak. Toko akan segera kami tutup."
"Berikan saja baju yang sesuai ukurannya." Ucap Elvano tanpa peduli dengan ucapan seorang gadis yang merupakan salah satu karyawan toko tersebut.
Ck. Untung ganteng. Kalau nggak, udah aku dorong keluar. Batin si karyawan.
"Maaf, ini sudah prose..."
"Saya bisa membuat toko ini bangkrut malam ini juga."
"Mas," Anta menoleh pada Elvano.
"Berikan baju yang sesuai dengannya." Ucap Elvano, mengabaikan teguran Anta.
Dia ganteng, tapi menakutkan. Karyawan tersebut bergidik.
Anta kembali menoleh pada Elvano sebentar, lalu mengikuti karyawan tersebut. Setelah beberapa menit, Anta sudah berganti pakaian. Gadis itu mengenakan dress sederhana berwarna abu-abu dengan panjang sebetis.
Elvano menganggukkan kepalanya tanda ia setuju dengan apa yang Anta kenakan. Ia segera membayarnya. Bahkan bayarannya lebih, membuat si karyawan berbinar.
Benar-benar orang kaya. Udah ganteng, kaya lagi. Batin karyawan tersebut.
Elvano kembali melajukan mobilnya. Seperti sebelumnya, Anta tidak banyak bicara. Dia juga tidak bertanya kemana Elvano akan membawanya.
Setelah beberapa menit perjalanan, mobil Elvano berhenti. "Ayo turun!"
Anta lagi-lagi mengikuti saja perkataan Elvano. Ia turun dan langsung dihadapkan dengan sebuah restoran. Ia menatap Elvano, tapi lelaki itu fokus pada restoran di depannya.
"Ayo!" Elvano melangkah lebih dulu, membiarkan Anta membuntuti nya.
Anta berjalan cepat agar bisa menyamakan langkahnya dengan langkah Elvano. Saat langkah mereka sejajar, Anta menoleh pada lelaki itu.
"Kenapa kesini?" Tanyanya.
"Makan. Saya lapar."
"Bukannya di rumah mbak Dinda..."
"Saya nggak makan tadi."
Anta terdiam. Dia pikir, Elvano akan mengajaknya kemana lagi. Ternyata lelaki itu membawanya ke restoran karena dia belum makan.
"Pesan saja apa yang kamu mau." Anta menatap Elvano yang sedang fokus pada buku menu nya. Dia tidak lapar, dan tidak ingin makan.
"Aku nggak mau apa-apa."
Elvano melirik Anta. Dari yang ia tahu, perempuan yang sedang kesal akan makan lebih banyak dari porsi sebelumnya. Kenapa Anta tidak?
"Biasanya..."
Drrttt... Drrttt... Drrtt...
Getaran handphone membuat Elvano menghentikan ucapannya. Ia mengeluarkan handphonenya dan menerima panggilan tersebut.
"Hallo, Vano?"
"Iya, Ma."
"Kamu dimana? Anta udah ketemu?"
"Aku di restoran sama Anta. Makan."
"Ohh... Cepat pulang. Evan..."
"Jagain Evan bentar, Ma. Kita juga baru sampai restoran. Lagi mau makan."
"Ya udah. Evan sama Bi Ijah Mama bawa ke rumah Mama. Nanti kalian jemput. Jangan kemalaman pulangnya. Evan suka cariin Anta."
"Iya, Ma."
"Ya sudah. Mama tutup dulu."
"Hmm..." Balasnya, lalu meletakkan handphone ke tempat semula. Lelaki itu lalu memanggil pelayan dan memesan makanannya.
"Mama bilang apa, Mas?"
"Mereka cariin kamu. Terutama Evan."
"Evan? Kalau begitu, aku pulang duluan Mas. Kasian Evan cariin aku."
"Emang punya uang?" Anta yang sudah berdiri menggeleng pelan. Gadis itu kembali mendudukkan tubuhnya dengan wajah lesu. Dia tidak punya sepeserpun untuk membayar taksi.
"Duduk saja. Saya makan nggak lama. Setelah itu, kita ke rumah Mama jemput Evan sama Bi Ijah."
"Iya, Mas."
***
Devita menatap menantunya dengan kening yang mengerut. Pasalnya, tadi dress yang Anta gunakan berwarna maroon. Tapi sekarang, menantunya itu mengenakan dress abu-abu dengan motif yang berbeda dan juga sedikit lebih panjang.
Devita dan Haris saling bertatapan. Kemudian menatap putra mereka dengan tatapan menyelidik, bersamaan segaris senyum di bibir keduanya. Elvano menarik nafas dan membuangnya pelan. Ia tahu, apa yang terlintas di otak Mama dan Papanya sekarang ini.
"Dress Anta terkena minuman. Jadi, harus diganti. Kalau nggak, bisa masuk angin." Ujar Elvano.
Seolah tidak percaya dengan ucapan putranya, Devita menatap Anta. Menantunya itu pasti jujur saat berbicara.
"Benaran kata Vano, Ta?"
Anta mengangguk. "Benaran, Ma."
Devita menurunkan bahunya dan membuang nafasnya. Begitu juga dengan Haris. Terlihat sekali jika mereka kecewa, harapan mereka tidak mejadi kenyataan.
"Ooohh... Mama pikir, kalian abis singgah ke apartemen Elvano." Ucap Devita dengan nada kecewa.
Elvano menampilkan wajah datarnya, namun hatinya sungguh kesal dengan sang Mama. Apa Mamanya itu nggak malu menanyakan privasi orang?
Sementara Anta, gadis itu tidak paham apa yang Devita maksud. Ia hanya menggeleng dan tersenyum kecil.
"Nggak kok, Ma. Kita nggak ke apartemen Mas El, kita cuman singgah di toko baju buat beli dress ini, sama makan di restoran. Itu aja." Jawab Anta polos.
"Oohh... Ya sudah. Kalian pulang gih! Udah cukup larut." Anta maupun Elvano sama-sama mengangguk. Anta meraih Evan dari Bi Ijah ke gendongannya, lalu berpamitan pada Mama dan Papa mertuanya.
Evan yang sudah dalam gendongan Anta seketika mulai tertidur. Kata Bi Ijah, anak itu sudah begitu mengantuk. Tapi, ia enggan tidur. Sepertinya dia hanya ingin Anta yang menemaninya tidur. Jika bukan Anta, minimal suara Anta yang ia dengar.