Annanta

Annanta
Sarapan Untuk Anta



Anta menggeliat pelan saat merasakan jika ruang kamarnya sekarang lebih terang dari sebelum ia tidur. Saat ia bangun dan meraih handphonenya yang tergeletak di nakas, mata gadis itu langsung membola.


"Astaga! Sudah jam 8. Aku kesiangan."


Secepat mungkin Anta turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Gadis itu membasuh wajahnya kemudian segera keluar setelah mengeringkannya.


"Mas El tega sekali nggak bangunkan aku," gumamnya kesal. Langkah gadis itu langsung tertuju ke kamar Evan. Tak menemukan Evan di ranjangnya, Anta langsung mencari Bi Ijah.


"Eh, Nak Anta. Pagi, Nak."


"Pagi, Bi. Evan nggak sama Bibi?"


"Enggak, Nak. Evan lagi jalan-jalan pagi sama tuan."


"Tuan?" Anta menautkan keningnya.


"Tuan Elvano," jelas Bi Ijah, yang dibalas anggukkan Anta. "Oh ya, Nak, tadi tuan buatin sarapan buat Nak Anta."


"Buat saya, Bi?" Anta menunjuk dirinya.


"Iya, Nak. Coba Nak Anta buka tudung saji."


Anta menurut dan berjalan ke meja. Setelah membukanya, ia melihat sepiring nasi goreng yang Elvano siapkan untuknya. Selain itu ada pesan yang Elvano tulis di sepotong kertas.


Aku nggak tahu rasanya enak apa enggak. Nggak tahu juga, kamu suka sarapan apa. Hanya nasi goreng yang bisa ku buat. Tapi menurut aku, rasanya lumayan. Semoga kamu suka.


Senyum tipis langsung terukir di bibir Anta. Gadis itu duduk dan mulai mencicipi sarapan yang Elvano siapkan untuknya. Ia berdecak kagum, ternyanta rasanya nggak buruk. Malah sesuai dengan lidah Anta.


"Enak ya, Nak?" Bi Ijah masih berdiri memperhatikan Anta. Itu juga salah satu perintah Elvano.


"Enak, Bi."


"Dibuatin suami dengan penuh cinta, ya pasti enak." Bi Ijah tersenyum menggoda, membuat pipi Anta memerah.


Dia sepertinya lupa dengan apa yang ia katakan semalam. Hatinya tidak sekuat yang ia pikirkan hingga bisa menolak Elvano. Hanya dengan sarapan pagi yang dibuat khusus untuknya oleh Elvano, sudah bisa membuat hatinya goyah. Jika begini terus, bagaimana bisa ia menahan perasaannya untuk tidak terus jatuh pada Elvano.


"Bibi ke dapur dulu ya, Nak. Mau lanjut bersih-bersih."


"Iya, Bi."


Setelah Bi Ijah menjauh, Anta kembali memakan makanannya. Ia dengan lahap menghabiskan sarapannya, kemudian mencuci piring.


Saat ia hendak membantu Bi Ijah bersih-bersih rumah, terdengar deru mobil yang ia tebak, itu adalah mobil Elvano.


"Tuan udah pulang. Nak Anta nggak mau sambut?"


"Hah? Enggak, Bi. Anta mau bantuin Bibi."


"Tapi, semuanya udah selesai Bibi kerajain," balas Bi Ijah.


Anta diam. Dan beberapa detik kemudian, ia merasakan bahunya disentuh oleh tangan mungil. Sontak gadis itu berbalik.


"Ma... Ma."


Senyum terukir di bibir Anta. "Anak Mama." Anta meraih Evan ke gendongannya. Ia mengecup pipi Evan.


"Evan aja yang dicium pipinya? Aku juga mau," ucap Elvano. Anta melotot tajam pada Elvano. Tidak tahu malu sekali laki-laki itu.


"Dikasi aja, Nyonya. Jarang-jarang lho, Tuan minta dicium. Anggap aja bayaran karena udah buatin sarapan."


"Nah, Bibi aja peka. Masa kamu enggak?"


"Evan belum mandi kan? Aku mandiin dulu." Anta mengabaikan ucapan Elvano maupun Bi Ijah.


"Udah aku mandiin pagi tadi."


"Ya kan, udah keluar jalan-jalan. Pasti ada kuman atau bakteri yang nempel. Apalagi jalan-jalannya di taman."


"Siapa bilang di taman?"


"Lho?" Anta dan Bi Ijah berucap bersamaan. Bukannya tadi Elvano bilang ia ke taman bersama Evan?


"Kita cuman di rumah pak Tarman, jengukin pak Tarman yang diserempet mobil kemarin," jawab Elvano santai.


"Kok Anta nggak tahu?"


"Pak Tarman nya ngabarin tadi pagi," jawab Elvano. "Ya udah, aku mau mandi dulu."


Cup...


Satu kecupan Elvano daratkan di kening Anta. Lalu dengan santainya laki-laki berjalan ke arah kamar. Sementara Anta, gadis itu hanya bisa mematung. Dan Bi Ijah, wanita paruh baya itu tersenyum senang. Akhirnya tuan mudanya mulai membuka hati untuk Anta.


***


Setelah selesai mandi, Elvano langsung kembali ke lantai bawah. Seperti yang ia rencanakan, dia tidak akan masuk kantor untuk hari ini dan besok.


"Pa..."


Kedatangan Elvano langsung disambut sang putra. Evan bangun dan berjalan cepat mendekati Elvano. Membuat Elvano tersenyum lebar, sambil merentangkan tangannya.


"Anak Papa, lagi main apa?" Elvano mengecup pipi Evan yang sekarang berada dalam gendongannya. Anta hanya memperhatikan ayah dan anak itu sekilas, kemudian mengalihkan pandangannya. Ia memilih untuk memgumpukan beberapa mainan yang Evan lempar.


Elvano memperhatikannya. Setelah Anta selesai, ia langsung mendekat dan duduk tepat di sebelah gadis itu.


"Gimana?" tanya Elvano, membuat kening Anta mengerut.


"Apanya?" gadis itu menoleh padanya. Hanya sebentar, ia lalu mengalihkan tatapannya ke arah lain. Ia tidak berani menatap mata Elvano.


"Nasi goreng nya."


"Enak," jawab Anta jujur, membuat Elvano tersenyum senang.


"Kamu habiskan?" Anta mengangguk pelan, membuat senyum Elvano semakin lebar.


"Makasih," ucap Elvano, yang sontak menarik Anta menoleh padanya.


"Untuk apa?"


"Mau makan masakanku. Jujur itu pertama kalinya aku masak. Dan beruntungnya, kamu suka."


Anta hanya diam. Pandangannya lalu tertuju pada Evan yang sedang dipangku Elvano. Ia mengusap pelan rambut anak itu. Membuat Evan mendongak menatapnya, lalu merangkak pindah ke pangkuannya.


Elvano terkekeh. "Hehehe... Dia selalu begitu. Menomor satukan kamu dari pada aku," ucap Elvano, sambil menatap Evan yang kini dalam pangkuan Anta.


"Mas."


"Hmm?"


"Jengukin pak Tarman lagi, ya?"


"Kamu mau jangukin?" Anta mengangguk pelan. "Ya udah, sore nanti kita jengukin," ucap Elvano, sembari mengusap-usap rambut Anta.


"Makasih, Mas." Anta tersenyum tipis ke arahnya. Membuat jantungnya berdegup semakin kencang. Dan sialnya, tatapannya malah jatuh pada bibir Anta. Sontak, ia langsung menggelengkan kepalanya, mengenyahkan pikirannya yang mulai mengarah ke hal-hal mesum.


Sadar Vano! Jangan sampai Anta marah sama kamu.


***


Sesuai janjinya, sore ini Elvano bersama Anta, Evan dan Bi Ijah menuju rumah pak Tarman. Tidak jauh, hanya sepuluh menit dari rumah Elvano.


Keempat orang itu duduk sembari mengobrol dengan Pak Tarman dan juga istrinya. Keadaan Pak Tarman tidak begitu parah. Hanya sikut dan lututnya yang terluka.


"Bapak kalau masih sakit, nggak usah kerja dulu. Biar istirahat saja di rumah."


"Terima kasih, Nyonya. Tapi, saya nggak apa-apa," jawab Pak Tarman.


"Yang Anta bilang itu benar, Pak. Bapak lebih baik istirahat dulu," sambung Elvano.


"Iya, pak. Dari pada nggak fokus kerja," timpal Bi Ijah.


"Iya, Mas. Lebih baik, Mas istirahat dulu. Ini juga supaya Mas cepat sembuh," ucap istri Pak Tarman setuju.


"Ya sudah, saya nggak masuk kerja dulu. Saya izin dulu Tuan, Nyonya."


Setelah Pak Tarman memutuskan untuk izin kerja, mereka melanjutkan dengan berbincang-bincang. Hingga tanpa terasa, hari mulai petang dan mereka berpamitan pulang.


Bi Ijah langsung diantar pulang oleh mereka. Untuk hari ini, Bi Ijah pulang lebih awal sebelum jam kerjanya selesai. Dari pada wanita paruh baya itu pulang sendirian nanti, lebih baik sekalian saja mereka mengantarnya.


Tiba di rumah, dan setelah memandikan Evan juga membersihkan dirinya, Anta langsung ke dapur, memasak makan malam mereka.


"Kita duduk nya di sini aja, ya? Sekalian lihatin Mama masak," ucap Elvano pada Evan. Ayah dan anak itu duduk di kursi sambil memerhatikan Anta masak.


"Maa..."


"Iya, biarin Mama masak dulu."


"Ta... ta... ta..."


Anta menoleh sebentar, lalu kembali fokus pada masakannya. Beberapa saat kemudian, ia selesai memasak dan menghidangkannya di meja makan.


"Ayo, Evan sama Mama. Biarin Papa makan dulu." Anta mengulurkan tangannya, yang langsung disambut dengan senyum mengembang oleh Evan. Anak itu memeluk Anta erat saat berada dalam gendongan sang Mama.


"Kamu nggak makan?"


"Makan, Mas. Tapi, setelah suapin Evan dulu."


Elvano mengangguk. Mereka kemudian sama-sama menuju ruang makan.