Annanta

Annanta
Bab 49



Ricky langsung mendekat pada Bu Devita saat tiba di ruang tamu. Anak itu meraih tangan wanita itu dan menciumnya.


"Anak baik. Ibu senang kamu udah sehat begini," ucap Devita sambil mengusap kepala Ricky.


"Iya, Bu. Terima kasih karena Ibu mau bantu Ricky, Kak Anta sama kak Tiara." Devita hanya membalasnya dengan tersenyum. Ricky lalu menatap Haris yang duduk di sebelah Devita. Tatapannya dibalas oleh Haris. Laki-laki itu tersenyum padanya.


"Kamu Ricky kan?"


"Iya, Pak."


"Sini!" Haris melambaikan tangannya meminta Ricky mendekat. Anak itu menurut dan mendekat. Haris menarik lembut tangannya dan mendudukkan Ricky di pangkuannya.


"Sudah kelas berapa?"


"Kelas 5, Pak." Ricky menjawab seperlunya. Sebenarnya, ia merasa tidak enak jika Ayah mertua Kakaknya memangkunya seperti ini. Ia sadar, berat badannya naik akhir-akhir ini. "Eemm... Pak, Ricky berat. Pasti kaki Bapak sakit. Rikcy mau turun."


"Astaga, Nak. Kamu nggak berat. Bapak senang pangku kamu begini. Jadi ingat suami Kakakmu waktu kecil."


"Kak Elvano?"


"Iya. Dia dulu kayak kamu. Paling nggak suka Bapak pangku. Tapi, kalau udah sakit, manjanya minta ampun. Kalau nggak dipangku, ya digendong."


Ricky terkekeh mendengarnya. Anta, Devita bahkan Dika pun ikut terkekeh. Devita ataupun Dika tidak bisa menyangkal ucapan Haris. Memang kenyataannya seperti itu. Elvano memang manja saat sedang sakit.


Mata Ricky beralih pada Dika, yang sontak membuat kekehan Dika terhenti.


"Om siapa?" tanya Ricky dengan wajah polosnya.


"Jangan dipanggil Om, dong. Kakak aja ya, lebih cocok. Kan masih muda." Dika berkata sambil terkekeh pelan.


"Kakak siapa?"


"Sepupu bang Vano, maksudku Kak Elvano. Panggil saja Kak Dika."


"Kak Dika?" tanya Ricky yang diangguki Dika. "Aku Ricky, Kak." Lagi-lagi Dika mengangguk.


"Ricky kok pulang cepat hari ini?" tanya Anta.


"Lagi ujian Kak. Kak Tiara kayaknya juga bakal pulang cepat," jawab anak itu. Setelahnya, ia menatap Haris. "Pak, Ricky mau ganti baju," ujarnya.


"Oh iya, Nak. Bapak sampai lupa kalau kamu belum ganti baju. Ya udah, sana ganti baju terus kesini lagi. Hampir waktunya makan siang."


"Iya, Pak."


Ricky dengan cepat turun dari pangkuan Haris dan berjalan ke kamarnya. Setelah selesai, ia kembali berkumpul dan mereka bersama-sama ke meja makan.


"Ricky mau apa?" tanya Haris. Pertama melihat anak itu, dia langsung tertarik. Dia bahkan meminta Ricky duduk di sampingnya.


"Apa aja, Pak. Ricky makan semuanya."


"Emang bisa habisin semuanya?"


"Hah? Enggak bisa, Pak. Maksud Ricky, dikasi lauk apa aja Ricky makan, hehehe."


Haris terkekeh sambil mengusap rambut Ricky. "Ya udah, Bapak ambilin ikan goreng, sayur, sama ayam." Ricky hanya mengangguk, mengiyakan apa yang Haris ucap.


"Jadi pengen diambilin juga. Tante, ambilin buat Dika, dong." Dika merengek layaknya anak kecil, membuat seisi ruangan terkekeh karena tingkahnya.


"Biar Anta aja yang ambilin, Ma." Anta meraih lauk yang Dika tunjuk, dan meletakkan nya ke piring Dika.


"Kak Antaaa... Tiara pul..." suara yang awalnya melengking berubah lirih saat gadis itu tiba di ruang makan. Dia terlalu semangat sampai lupa jika yang datang hari ini bukan hanya Kakaknya dan Ibu Devita yang sudah biasa bersamanya. Ada suami Bu Devita juga. Dan, ada lagi satu orang yang tidak ia kenal dan tidak Kakaknya sebut semalam.


Tiara tersenyum canggung sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal. "Hehe... Ibu," ucapnya sambil berjalan mendekat. Ia meraih tangan Bu Devita dan menciumnya.


"Makin cantik aja putri Ibu," puji Devita, membuat Tiara tersenyum malu. Tiara lalu mencium punggung tangan Anta.


"Oh ya, Nak. Kenalin, itu suami Ibu." Devita menunjuk laki-laki di sebelahnya.


Tiara menatap laki-laki yang duduk di tengah-tengah antara Bu Devita dan adiknya, Ricky. Ia mendekat dan mengulurkan tangannya. "Tiara, Pak." Tiara menunduk dan mengecup punggung tangan lelaki itu.


"Anak manis. Ayo, duduk Nak. Makan dulu."


Tiara bergegas ke kamarnya. Namun, baru dua langkah, suara Dika terdengar. "Aku nggak dikenalin?" tanya laki-laki itu bingung. Ia merasa seolah-olah mereka tak menganggap nya ada di ruangan itu.


"Ya Allah, Om nggak sadar kalau kamu ada di sini juga. Kirain patung, nggak ada suara dari tadi." Sontak ucapan Haris membuat mereka menahan senyum.


"Aku Tiara, Kak." Gadis itu tersenyum sopan pada Dika.


Dika balas tersenyum. Ternyata Tiara tidak memanggilnya om seperti yang Ricky lakukan. "Panggil saja Kak Dika," balasnya.


Tiara mengangguk dan segera berlalu ke kamar Anta. Selama mereka menginap di rumah ini, dia akan tidur bersama Anta. Selesai menyimpan tas dan berganti baju dengan cepat, Tiara bergabung kembali dengan yang lainnya.


***


Malam sudah semakin larut. Semua sudah kembali ke kamar masing-masing. Devita dan Haris menempati kamar Tiara. Sementara Tiara, dia bersama Anta dan Evan di kamar lama Anta. Dan Dika, dia tidur bersama Ricky di kamar Ricky. Tidak ada ranjang kosong kecuali dipan yang ada di sudut dapur.


Anta terbangun saat mendengar handphonenya berdering. Ia dengan cepat menjawab panggilan tersebut, takut dering telpon mengganggu tidur Tiara dan Evan.


"Hallo," ucapnya parau. Ia juga tidak sempat melihat siapa yang menelpon.


"Sayang." Sontak Anta menjauhkan handphone dari telinganya. Ia menatap layar handphonenya. Ternyata Elvano yang menelponnya malam-malam begini.


"Mas. Kenapa telpon malam-malam?"


"Aku mau peluk kamu."


"Kita kan lagi jauhan, gimana bisa pelukan?" suara Anta sedikit berbisik. Lagi-lagi ia takut tidur Tiara dan Evan terganggu.


"Aku di depan rumah."


"Rumah mana?"


"Rumah Tiara sama Ricky," ucapnya. Baginya, itu bukan rumah Anta. Rumah Anta adalah rumah yang mereka tempati.


"Jangan bercanda, Mas."


"Nggak bercanda, sayang. Emang aku di depan rumah sekarang. Ayo, keluar. Kamu nggak kasian suami kamu kedinginan?"


"Anta keluar sekarang."


Anta dengan cepat turun dari ranjang dan berjalan cepat ke pintu utama rumah. Ia membuka pintu, dan benar saja, Elvano berdiri di depan pintu dengan wajah lelahnya.


"Ya Allah, Mas. Ayo, masuk Mas." Anta menarik lembut tangan suaminya. Ia membawa Elvano ke meja makan.


"Duduk dulu," ucapnya. Ia menuangkan segelas air, lalu diberikan pada Elvano. Laki-laki itu menerimanya, kemudian meneguknya hingga terisa setengah gelas.


"Mas udah makam malam?" Elvano mengangguk. Anta mengambil tempat di sebelahnya. Ia mengusap rambut Elvano yang sedikit berantakan, yang sontak membuat Elvano menoleh padanya.


"Aku mau tidur sambil peluk kamu," ucap Elvano.


"Gima caranya, Mas? Aku tidur sama Evan sama Tiara. Masa kita tidur berempat. Kan aneh?"


"Terus, aku nya tidur dimana?"


"Gimana kalo Mas tidur di kamar Ricky saja? Bareng Ricky sama kak Dika."


"Dika?" Wajah Elvano langsung berubah dingin mendengar nama Dika. "Kenapa dia disini?"


"Itu... Mama sama Papa ajakin kak Dika."


"Ck." Elvano berdecak. Ia sedang lelah dengan segala urusan yang menimpanya hari ini. Dia hanya ingin tenang, dan tertidur sambil memeluk istrinya. Tapi, adanya Dika disini semakin memperburuk suasana hatinya. "Ayo tidur!"


"Tidur dimana?" Anta cukup terkejut mendengarnya.


"Dimana aja, yang penting aku bisa tidur sambil peluk kamu," jawab Elvano. Matanya menatap ke setiap sudut ruangan. Tatapannya berhenti pada dipan yang ada di sudut dapur.


"Kita tidur di sana!" ucap Elvano menunjuk ke arah dipan.


"Disana? Gimana kal—"


"Ayo!" Elvano berdiri dan meraih tangan Anta, membuat ucapan sang istri terpotong. Wanita itu, dia tidak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya bisa mengikuti Elvano dan berbaring bersama di dipan.