
Tiga bulan berlalu. Usia kandungan Anta sudah mencapai 9 bulan. Perkiraan lahirannya seminggu lagi. Devita memilih untuk menginap di rumah Elvano. Dia mengkhawatirkan menantunya itu, dan ingin terus menemani sang menantu. Dan tentunya Haris juga mengikuti sang istri menginap di rumah Elvano.
"Kamu udah siapin semua kebutuhan lahiran Anta, Vano?" tanya Devita.
"Udah, Ma. Mama nggak perlu khawatir."
"Iya," balas Devita. "Oh ya, kata Papa kamu ada jadwal keluar kota lusa sampai 3 hari kedepannya."
Ucapan Devita sontak membuat Anta menoleh pada sang suami. Begitu juga Tiara dan Ricky yang sedang bermain bersama Evan pun ikut menoleh menatap Elvano. Biasanya laki-laki itu akan memberitahu mereka tentang jadwal pekerjaannya di luar kota atau luar negeri.
"Mas El nggak ngomong Ma, soal ke luar kota," seru Anta. Tatapannya kini bukan pada sang suami, melainkan pada sang mertua.
"Lho? Kok belum kasi tahu?" heran Devita.
"Bukannya ada maksud lain aku belum ngomong sama kamu, Tiara sama Ricky. Aku lagi mikir, aku pergi atau enggak. Soalnya aku takut, pas disana kamu tiba-tiba lahiran. Kan sering tuh ibu hamil yang lahirnya nggak sesuai perkiraan lahir. Aku maunya pas kamu lahiran, aku ada di sisi kamu, sayang," ucap Elvano menjelaskan.
Anta menarik nafasnya. Bukannya ia berpikir macam-macam tentang suaminya. Tapi, ada rasa kecewa saat tahu Elvano akan ke luar kota tapi belum memberitahunya. Tiara dan Ricky mengangguk, memaklumi kekhawatiran Elvano.
"Nggak apa-apa, Mas. Mas lakukan pekerjaan Mas. Aku baik-baik aja disini. Ada Mama, Papa, Tiara, Ricky dan Evan yang temani aku."
"Nggak! Aku nggak akan pergi!" putus Elvano mutlak.
"Papa setuju. Kamu lebih baik tunda dulu perjalanan kamu," sahut Haris.
"Tiara juga setuju kalau Kak Elvano nggak pergi dulu."
"Ricky juga," timpal Ricky.
"Nah, kamu dengarkan? Mereka nggak setuju aku pergi."
"Terus, pekerjaan Mas?"
"Kamu nggak usah khawatir. Sekretaris Mas bisa diandalkan," balas Elvano, meyakinkan sang istri.
"Berarti kamu cocok sama sekretaris baru kamu itu? Siapa namanya?" tanya Devita.
"Dewa, Ma."
"Iya, Dewa. Cocok kamu sama dia?"
"Emm... Lumayan. Mungkin karena masih baru, jadi sedikit dibawah kemampuan Risma. Tapi, dia punya potensi seperti Risma. Bisa dipercaya dan mau belajar."
"Baguslah. Tapi, kalau masa cuti Risma selesai, Dewa kamu ganti lagi sama Risma?"
"Nggak tahu, Ma. Mungkin kalau Risma balik, Dewa jadi asisten Vano. Tapi, kayaknya Tirta nggak izinin Risma kerja lagi."
"Ck. Anak itu. Nggak berubah-ubah." Decak Haris sambil terkekeh. Mengingat kelakuan sahabat putranya yang suka memutuskan sesuatu tanpa berbicara dulu.
***
Elvano berdiri di pintu kamar mandi dengan mata yang mengantuk. Tapi, dengan sekuat tenaga, ia menahan kantuknya. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada istrinya ketika ke kamar mandi.
Anta sering sekali buang air kecil. Sejak usia kandungannya semakin tua, hampir tiap malam ia bangun untuk buang air kecil. Bukan hanya sekali. Tapi, 2 sampai 3 kali dalam tiap malamnya ia bangun. Dan tentunya, Elvano selalu menemaninya. Walaupun Anta tak membangunkannya, ia sendiri yang akan bangun dan mengantar Anta ke kamar mandi. Anta sampai merasa bersalah pada suaminya itu.
Ceklek...
Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat kantuk Elvano menghilang. Dengan segera ia meraih tangan sang istri dan menuntunnya.
"Pelan-pelan, sayang," ucapnya sambil terus menuntun Anta ke ranjang.
"Makasih ya, Mas."
"Buat apa?"
"Buat kebaikan dan perhatian kamu. Kamu selalu ada buat aku. Selalu jagain aku. Aku tahu, Mas pasti ngantuk. Tapi Mas tetap bangun dan temani aku ke kamar mandi."
Elvano tersenyum. Ia menangkup kedua pipi Anta. "Dengar. Mas ngelakuin ini karena keinginan Mas. Kamu nggak perlu terima kasih. Udah sepantasnya Mas kasih semuanya ke kamu. Kasi rasa aman dan nyaman. Mas juga nggak mau terjadi apa-apa sama kamu sama calon anak kita."
Tak mengatakan apa-apa, Anta langsung memeluk Elvano. Ia begitu terharu mendengar ucapan suaminya itu.
"Sekarang tidur lagi, ya?" Anta mengangguk. Lantas dengan lembut Elvano membantu Anta berbaring.
"Mau Mas nyanyiin buat kamu?"
"Hehehe... Mas ada-ada aja. Anta bukan anak kecil, harus dinyanyiin dulu sebelum tidur."
"Lho? Bukan anak kecil aja yang harus dinyanyi in. Orang dewasa juga suka kalau dinyanyi in pasangannya pas mau tidur. Buktinya di novel yang kamu baca. Judulnya A—"
"Mas, itu cuman novel. Bukan di dunia nyata."
"Sama aja sayang."
"Nggak sama Mas," ucap Anta kekeh.
"Iya iya. Udah, kita tidur. Mas peluk sama elus-elus kepala kamu." Anta mengangguk. Elvano ikut berbaring lalu memeluk Anta dan mengelus-elus kepala sang istri. Sesekali ia mengecup puncak kepala sang istri sambil berdoa semoga proses persalinan yang akan Anta lalui nanti berjalan lancar.
"Shh... Sakit...." lirih Anta. Tangannya terulur menyentuh lengan Elvano yang masih setia melingkar di perut bagian atasnya.
"M-Mas...."
"M-Mas...."
Elvano langsung membuka matanya merasakan dua kali tepukan di lengannya.
"Emm... Sayang ada ap—"
"S-sakit, Mas...."
Lirihan Anta membuat Elvano langsung bangun terduduk. Rasa kantuk lelaki itu menghilang digantikan dengan rasa khawatir. Istrinya terlihat sangat kesakitan.
"S-sayang, kamu kenapa?"
"Shh... perut aku, Mas. Sakit...."
"Kamu pasti mau melahirkan." Elvano dengan sigap menyingkap selimut yang menutupi tubuh Anta. Benar, ketuban Anta sudah pecah. Kasur pun basah. Elvano dengan cepat turun dari ranjang dan membuka pintu kamar. Laki-laki itu kemudian kembali dan langsung menggendong sang istri keluar.
"Vano?" Haris yang kebetulan bangun dan mengambil minum di dapur bertemu putranya saat kembali dari dapur.
"Papa, Anta mau melahirkan."
"Cepat Nak, antar ke rumah sakit. Papa bangunin Mama, Tiara sama Ricky dulu. Nanti kita nyusul."
"Iya, Pa. Tolong bantu bukain pintu."
Haris segera mengikuti putranya dan membukakan pintu rumah juga pintu mobil untuk Elvano. Setelah mobil Elvano melesat, ia segera masuk dan membangunkan Devita, Tiara dan Ricky.
"Apa Pa?! Kenapa Papa nggak bangunin Mama dari tadi?" Devita berteriak heboh saat Haris memberitahunya.
"Tenang, Ma. Vano baru aja ke rumah sakit. Mama cuci muka, terus kita ke rumah sakit. Jangan lupa sama barang-barang yang udah disiapin buat Anta sama cucu kita."
"Iya, Pa. Papa bangunin Tiara sama Ricky. Kasi tahu mereka. Nomongin baik-baik sama meraka untuk tetap di rumah bareng Evan. Kasian anak-anak jam segini harus ke rumah sakit."
"Iya Ma. Mama siap-siap nya cepetan dikit. Papa keluar dulu."
Setelah mendapatkan anggukan dari sang istri, Haris beranjak keluar untuk memberitahu Tiara dan Ricky.
***
Elvano menghentikan mobilnya dan segera turun. Laki-laki itu dengan cepat menggendong sang istri. Beberapa suster dan perawat yang bertugas mendorong brankar hingga Elvano bisa membaringkan Anta.
"Mas...."
"Iya, sayang. Kamu kuat ya," ucap Elvano. Tangannya terus menggenggam tangan Anta.
Tiba di ruang persalinan, Elvano turut masuk. Laki-laki itu tak ingin melewatkan proses persalinan bayi mereka dan selalu ingin menemani Anta.
Seorang dokter datang dan mulai membantu proses persalinan. Melihat Anta yang kesakitan membuat Elvano tak tega. Tubuhnya bergetar melihat perjuangan sang istri melahirkan buah hati mereka. Keringat bercucuran di kening Anta diusapnya.
"M-Mas...."
"Iya, sayang."
"Sedikit lagi, Bu. Ayo, tarik napas," ucap sang dokter. Anta menurut. Wanita itu menarik nafasnya lalu mulai mengeden.
"Sekali lagi, Bu."
Anta kembali menarik nafasnya lalu, "Aaaaaa..."
"Oeak... Oeak... Oeak...."
Suara bayi terdengar. Elvano meneteskan air mata. Ia memeluk sang istri. Mengecup mata Anta yang masih terdapat air mata, bukti perjuangan Anta dan juga tangisan kebahagiaan.
"Terima kasih, Sayang," ucap Elvano lalu mengecup seluruh wajah Anta.
"Selamat Tuan, anak anda laki-laki." Elvano mengangguk dengan senyum bahagia. Ia mendekati suster yang menggendong anaknya. Menatap bayi mungil itu dengan penuh rasa bahagia.
Kemudian seorang suster membawa bayi itu untuk dibersihkan. Dan yang lainnya membantu dokter mengurus Anta.
Saat pintu ruangan persalinan di buka, Haris dan Devita langsung menghampiri sang suster yang membawa cucu mereka. Bukan hanya Haris dan Devita. Dinda, Fahri dan Dika juga menghampiri sang suster.
"Cucu nenek," ucap Devita. "Bagaimana keadaan menantu saya, Sus?"
"Keadaan nyonya baik. Nyonya sedang ditangani dokter."
"Syukurlah," ucap semuanya.
"Kalau begitu, saya permisi dulu."
Mereka sama-sama mengangguk mengiyakan ucapan Suster. Perasaan bersyukur, bahagia, bercampur aduk dalam hati mereka.