Annanta

Annanta
Perasaan Elvano



Evan terus saja menempel pada Anta sejak bangun dari tidurnya. Di tinggal Anta mencuci tangan saja dia menangis seolah takut jika Anta akan meninggalkan nya lagi.


"Iiihh... Anak Mama kok jadi cengeng gini. Mama tinggal sebentar aja lho. Masa nangis?" Anta menggendong Evan dan mencium pipinya.


"Ma... Ma... Ma..."


"Iya, sayang. Iya. Sekarang Evan bobo ya." Anta membaringkan Evan ke kasurnya. Sudah jam 11 malam, dan anak itu masih terjaga. Padahal Anta sudah mulai mengantuk.


Anta menepuk-nepuk lembut paha Evan hingga balita itu tertidur. Ia lalu bergegas ke dapur untuk membasahi tenggorokannya yang haus. Tiba di dapur, ia melihat Elvano berdiri membelakanginya.


"Mas El?" Suara lembut Anta membuat lelaki itu menoleh.


"Mas ngapain?"


"Buat kopi." Jawabnya. Kelihatan sekali jika dia sedang kerepotan menyeduh kopi. Tangannya masih diperban, dan tentu saja tidak bebas untuk melakukan sesuatu.


Anta mendekat dan mengambil alih cangkir kopi dari tangan Elvano. "Biar Anta saja yang buatin." Ujarnya.


Gadis itu pun menyeduhnya. "Mau dibawa kemana kopinya?" Tanya Anta tanpa menoleh. Ia masih fokus pada kopi yang dibuatnya.


"Ke ruang kerja."


"Ya udah. Ayo!"


Anta berjalan terlebih dulu di ikuti Elvano dari belakang. Lelaki itu sedikit merasa aneh. Jantungnya tiba-tiba berdetak cepat saat di dekat Anta. Sebelum-sebelumnya tidak secepat ini.


Anta membiarkan Elvano masuk ruang kerja terlebih dulu. Dia mengikutinya dan meletakkan cangkir kopi ke meja Elvano.


"Anta keluar dulu."


"Anta!"


Anta yang hendak berbalik kembali menoleh. Ia menatap Elvano dengan alis yang mengerut.


"Ada apa, Mas?"


Elvano terdiam. Dia juga tidak tahu, mengapa ia memanggil Anta. Untuk menghapus rasa canggungnya, Elvano mesang wajah dinginnya.


"Evan sudah tidur?"


"Iya, Mas." Jawab Anta. "Apa Mas membutuhkan sesuatu?"


Elvano menggeleng. "Nggak ada."


"Kalau begitu, Anta keluar dulu."


Tanpa menunggu jawaban Elvano, Anta langsung keluar. Jujur saja, jantungnya tidak aman berada berdua dengan Elvano.


Sepeninggal Anta, Elvano menarik nafasnya. Ia lalu meyentuh dadanya. "Kenapa berdetak seperti ini?" Gumamnya pelan. Menepis semua perasaan aneh itu, Elvano kembali melanjutkan kerjanya.


***


Elvano baru saja keluar dari kamar mandi. Tatapannya langsung jatuh ke ranjang. Tidak ada baju yang disiapkan Anta. Tidak seperti biasanya.


"Kemana gadis itu?" Gumam Elvano. Ia mendudukan tubuhnya di tepi ranjang. Wajahnya tiba-tiba muram. Sepertinya Anta mulai tidak peduli padanya.


Elvano beranjak mendekati lemari. Tangan kirinya bergerak membuka lemari. Tapi dia kembali menutupnya.


"Sial!" Gumamnya pelan. Dan beberapa detik kemudian ia berteriak memanggil Anta.


"Anta!"


"Anta!"


"An..."


"Ada apa Mas..."


Deg...


Anta terdiam di ambang pintu dan menundukkan wajahnya. Di depannya Elvano berdiri dengan tubuh bagian bawah yang hanya terlilit handuk. Anta malu dan merasa tidak sopan.


Sementara Elvano, ia cukup terkejut dengan apa yang dia lakukan. Terlebih lagi, ia merasa bersalah saat melihat Anta tersengal dengan masih memakai celemek. Sudah bisa ia tebak, gadis itu berlari dari dapur dan menaiki tangga dengan cepat karena teriaknnya.


"Ada apa, Mas?" Tanya Anta dengan nafas yang mulai teratur. Namun, wajahnya masih tetap menunduk.


"Baju saya!" Jawab Elvano, datar. Itulah caranya agar bisa menetralkan detak jantungnya dan menutup kegugupannya.


"Ada di lemari, Mas." Jawab Anta polos. Ia sepertinya tidak mengerti maksud Elvano. Membuat lelaki itu sedikit kesal sekaligus gemas dengan tingkah polos Anta.


"Maksud saya, mana baju yang biasa kamu siapkan? Tangan saya sedang terluka. Saya nggak bisa mengambilnya sendiri." Ucap Elvano memberikan alasan. Alasan itu tiba-tiba saja muncul di otaknya.


Kamu pintar juga mencari alasan, Elvano.


Anta mengangguk dan medekat ke lemari. Jalannya masih menunduk tak melihat ke arah Elvano. Lagi-lagi Elvano merasa kesal dengan perlakuan Anta.


"Ma-maaf, Mas." Hanya itu yang Anta ucapkan.


Gadis itu mengeluarkan kemeja, celana bahan dan juga jas yang akan Elvano kenakan. Tak lupa, ia juga menambahkan dasi.


"Sudah, Mas."


"Pakai kan!"


Anta langsung mendongak mendengar ucapan Elvano, hingga mata mereka saling bertemu. Namun, Anta dengan cepat memutuskan kontak mata itu.


"A-aku yang pakai kan?"


"Hmmm."


"Ta-tapi, dal-**********?"


Melihat kegugupan Anta, juga pipinya yang mulai memerah membuat Elvano mengulum senyum. Ia merasa gemas dan ingin mencubit pipi itu. Namun, Elvano menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikirannya tersebut. Dan lagi, ia kembali merasakan jantungnya berdetak cepat.


"Sudah saya kenakan. Bantu saya pakai semua yang kamu siapkan."


Anta mengangguk. Tangannya meraih kemeja dan memakaikan nya ke tubuh Elvano. Saat tangannya meraih celana bahan yang ia siapkan, Anta kembali merasa ragu.


"Biar saya sendiri yang pakaikan." Ujar Elvano, meraih celana tersebut dari tangan Anta. Anta segera membalikkan tubuhnya, membiarkan Elvano memakai celananya dengan susah payah dan menahan rasa perih di buku-buku jarinya.


"Sudah." Suara Elvano membuat Anta berbalik. Wanita itu bisa menangkap wajah menahan rasa sakit Elvano.


Gadis itu meraih dasi. "Menunduk sedikit, Mas." Ujarnya. Elvano memang terlalu tinggi baginya.


Lelaki itu menurut dan menunduk hingga wajahnya lurus dengan wajah Anta. Gadis itu fokus memakaikan dasi untuk Elvano. Tapi Elvano, lelaki itu malah fokus pada wajah Anta.


Cantik. Batinnya memuji.


Elvano tak berniat mengalihkan tatapannya. Hingga tanpa sengaja, tatapannya jatuh pada bibir Anta. Ia terus menatap bibir yang sedikit tebal di bagian bawahnya. Dan beberapa detik kemudian, bibir Elvano menempel pada bibir Anta.


Anta cukup terkejut. Namun, gadis itu hanya diam, tidak mendorong Elvano sebagai tanda penolakan. Merasa Anta membolehkannya, Elvano mulai menggerakkan bibinya mencium bibir Anta.


"Mas,"


"Mas El,"


Deg...


Elvano tersadar dari lamunan kotornya. Ia mengedip-ngedip kan matanya, lalu menatap Anta sedikit canggung.


"Mas El kenapa?"


"Enggak!" Jawabnya, datar.


Anta hanya mengangguk. Ia lalu memakaikan jas ke tubuh Elvano.


Sial! Ternyata hanya pikiranku saja.


"Sudah, Mas. Aku ke kamar Evan dulu. Mungkin dia sudah bangun."


"Ya."


Anta segera keluar dari kamar itu. Setalah tubuh Anta tidak terlihat, Elvano menarik nafasnya, lalu menepuk jidatnya. Dan tanpa sengaja, ia menggunakan tangan kanannya.


"Akh... Shhh... Ck. Sakit sekali."


"Ck. Berdarah lagi kan?"


"Tapi, Anta belum mengganti perbannya."


Senyum licik terukir di bibir lelaki itu. Ia keluar dari kamar dan menuju kamar Evan. Ia yakin, Anta berada di kamar putranya.


"Evan sudah bangun?" Suara datar Elvano membuat Anta menoleh.


"Mas El?"


"Evan sudah bangun?" Ulangnya.


"Belum, Mas. Semalam tidurnya kemalaman. Mungkin masih ngantuk." Ujar Anta sambil menatap ke arah ranjang Evan. Senyum tipis muncul di bibir gadis itu.


"Perban saya belum diganti."


Anta menoleh dan tatapannya terarah ke tangan kanan Elvano. Ya, tangan lelaki itu masih mengenakan perban yang kemarin.


"Ayo, Anta bantu gantiin."


Anta dan Elvano kembali ke kamar. Keduanya duduk di sofa, dan Anta mulai mengganti perban Elvano. Dan tanpa Anta sadari, Elvano terus menatapnya sejak tadi.