
Hari-hari berlalu. Elvano sudah benar-benar sembuh dari sakitnya dan sudah kembali bekerja. Devita dan Haris juga sudah kembali ke rumah mereka. Anta kembali menjalani harinya seperti biasa. Yang membedakannya hanyalah Elvano yang semakin lengket, baik dan perhatian padanya. Hubungan mereka juga semakin membaik. Bisa dikatakan sudah seperti suami istri pada umumnya.
Anta menatap jam yang menempel di dinding kamar Evan. Sudah hampir jam sepuluh, namun Elvano masih belum pulang. Anta menatap Evan yang tertidur di ranjangnya. Mengecup kening anak itu, lalu keluar dari kamar Evan, menuju ruang tamu.
"Mas El kok masih belum pulang? Biasanya juga sebelum jam 6 udah sampai rumah," gumam Anta. Gadis itu mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
"Aku telpon juga nggak aktif nomornya," lanjut Anta.
Anta menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Dan tanpa sadar, ia tertidur.
Elvano memarkirkan mobilnya di garasi, lalu bergegas memasuki rumah. Saat tiba di ruang tamu, netranya langsung menangkap Anta yang tertidur di sofa.
Seulas senyum mencul di bibirnya. Ia mendekati Anta dan duduk di sampingnya. Tangannya terulur menyingkirkan anak rambut Anta.
"Kamu pasti sangat kelelahan. Menungguku sampai ketiduran disini," ucap Elvano.
Laki-laki itu mengecup kening Anta sejenak lalu beranjak dan menggendong Anta. Elvano cukup kesulitan membuka pintu kamar karena tangannya yang juga memegang tas kerja. Namun, akhirnya di berhasil membukanya.
Ia mejatuhkan sembarang tasnya, lalu membaringkan Anta dengan hati-hati di ranjang.
"Eemmm..." Anta melenguh pelan dalam tidurnya, namun tak sampai terbangun.
Elvano menarik selimut dan menyelimuti istrinya. Ia lalu mengunci pintu kamar, kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang sudah cukup gerah.
Setelah beberapa saat berada di kamar mandi, Elvano keluar dengan handuk yang melilit pinggangnya. Ia berjalan cepat menuju ranjang saat tak melihat Anta tertidur disana.
"Dimana dia?" gumamnya pelan. Ia lalu mengedarkan pandangannya dan menemukan pintu menuju balkon kamar terbuka. Istrinya berdiri disana, membelakanginya.
Elvano mendekatinya dan langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang Anta. Ia juga meletakkan dagunya di bahu Anta. Membuat gadis itu sedikit terkejut.
"Mas."
"Ada apa? Hmm?"
"Nggak ada apa-apa, Mas," jawabnya.
Elvano menjauhkan wajahnya dan melepas pelukannya. Ia kemudian membalikkan tubuh Anta hingga menghadapnya. Anta baru sadar kalau Elvano hanya mengenakan handuk. Ia menundukkan wajahnya, malu.
Elvano tersenyum tipis. Ia menyentuh dagu Anta dan mengangangkatnya hingga mata Anta bertemu dengan matanya. Hanya sesaat, Anta kembali menundukkan wajahnya.
"Kamu marah aku pulang telat?"
Anta menggeleng. "Anta nggak marah, Mas. Anta khawatir."
"Aku minta maaf. Ada banyak pekerjaan di kantor yang harus aku selesaikan."
Anta mengangguk. "Kenapa handphone Mas nggak aktif?" Ia masih menundukkan kepalanya.
"Handphone Mas lowbat," jawab Elvano dengan senyum yang terukir di bibir.
Anta lagi-lagi mengangguk. Beberapa detik kemudian ia merasakan Elvano menangkup kedua pipinya, mendongakkan wajahnya hingga mereka kembali bertatapan. Elvano mendekatkan wajahnya hingga tanpa ada jarak di antara.
Dengan lembut, ia mencium bibir Anta. Gadis itu hanya bisa diam dan menerima apa yang Elvano lakukan. Ciuman Elvano semakin agresif. Ia menyusupkan tangannya di pinggang Anta, lalu menariknya hingga tubuh keduanya saling menempel. Begitu juga dengan tangannya yang ia gunakan untuk menahan tengkuk Anta.
Sejenak, ia menghentikan ciumannya dan membiarkan Anta menghirup oksigen. Setelah itu, ia kembali menciumnya.
Pikiran Elvano menjadi liar. Ia kembali melepaskan ciumannya dan langsung menggendong Anta dan membawanya masuk. Ia menutup pintu menuju balkon menggunakan kakinya lalu membawa Anta ke ranjang. Dengan penuh hati-hati ia membaringkan gadis itu di ranjang kemudian memposisikan dirinya di atas Anta.
"Mas."
"Ssttt... Biarkan aku melakukannya. Aku ingin kita menjadi suami istri yang sebenarnya dan memiliki anak, Anta. Jangan menghalangiku. Biarkan aku mengambil hak ku dan menjadi suamimu yang sebenarnya."
"Mas, aku—"
"Bolehkan?"
Anta terdiam, dan beberapa saat kemudian menganggukkan kepalanya. Sudut bibir Elvano tertarik membentuk senyuman.
Elvano menunduk dan mengecup kening Anta. Dengan penuh kelembutan Elvano memulai semuanya. Ia bertekad akan menjadi suami yang baik. Membuat Anta selalu bahagia dan tidak menyesali keputusannya untuk menikah dengannya.
***
Anta terbangun ketika jarum jam menunjukkan pukul 5 pagi. Ia tertidur dalam dekapan Elvano. Sejenak, ia menatap wajah tampan suaminya. Seketika semburat merah muncul di pipi saat mengingat kembali kejadian semalam.
Mengenyahkan pikirannya, Anta berniat ingin ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun, saat menggerakkan tubuhnya, semua terasa sakit.
"Shhh..." ringisnya, membuat Elvano yang mulai terusik karena gerakannya pun terbangun.
"Kenapa?" suara Elvano terdengar serak.
"Badanku sakit semua, Mas."
Elvano tersenyum mendengar pengakuan Anta. Otaknya kembali berputar pada kejadian semalam. Dan itu membuat senyum terukir di bibirnya.
"Mas."
"Hmm?" Elvano kembali menatapnya.
"Mas kenapa senyum-senyum?"
"Nggak kenapa-kenapa. Aku cuman ingat-ingat yang semalam," jawab Elvano yang lagi-lagi membuat pipi Anta memerah. Elvano tersenyum dan mengusap-usap lembut pipi Anta.
"M-Mas, a-aku mau ke kamar mandi." Anta berucap gugup. Ia hendak menjauhkan tubuhnya, namun Elvano menahannya.
"Biar aku antar," ucapnya.
"Hah? Ng-nggak usah, Mas."
"Sayang, aku tahu, tubuh kamu pasti sakit kan? Biarin aku antar ke kamar mandi, okey? Aku janji nggak akan ada sesi selanjutnya di kamar mandi."
"Mas apaan sih?"
"Hehehe... Mau ya, aku gendong ke kamar mandi?"
Anta dengan perlahan mengangguk. Elvano mendekat dan mengecup kening Anta sekilas. Ia bergerak meraih handuknya yang tergeletak di lantai. Beruntung handuk yang dilemparnya sembarangan berada tepat di bawah ranjang, dan selimut yang mereka kenakan besar, hingga mampu menutupi tubuh mereka.
Setelah berhasil mengenakan kembali handuknya, Elvano turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Ia mengisi bathtup dengan air hangat, lalu keluar setelah selesai.
Elvano mendekati Anta yang masih terbaring di ranjang. Ia membungkus tubuh Anta dengan selimut, lalu menggendongnya. Ia menurunkan Anta saat tiba di kamar mandi.
"Kenapa masih dipeluk selimutnya?"
"Hah? I-itu... Mas El keluar dulu."
"Kamu malu?" Anta mengangguk. "Kenapa harus malu? Kita kan udah—"
"Mas El."
"Aku nggak akan keluar! Aku juga mau mandi."
"Kalau gitu, Mas mandi duluan aja. Anta setelah Mas saja."
"Eh, nggak bisa!" Elvano langsung menahan Anta yang hendak keluar. "Kita mandi bersama."
Anta melototkan matanya. Ringan sekali kalimat itu keluar dari mulut Elvano. Dia tidak tahu saja, jantung Anta sudah tak beraturan detaknya.
"Enggak deh, Mas. Mas duluan aja."
"Nggak bisa, sayang. Kalau udah sama-sama disini, nggak boleh ada yang keluar lagi!" ucapnya. Laki-laki itu menuju pintu kamar mandi dan menguncinya. "Ayo, lepasin selimut kamu, terus masuk ke bathtub."
Anta tersenyum paksa. Jika sudah begini, nggak ada hak dia untuk menolak. Kalau pun menolak, sudah pasti Elvano akan terus membujuknya hingga ia setuju.