
"Tantangannya, cium bibir Anta selama sepuluh menit!"
Deg...
Anta langsung menatap Dinda. Ia terkejut dengan ucapan sepupu suaminya itu. Apa yang wanita itu pikirkan? Anta lalu menoleh pada Elvano. Laki-laki itu terlihat santai dan sangat tenang. Berbeda dengan Anta yang kini jantungnya berdebar kencang.
Merasa Anta menatapnya, Elvano menoleh. Matanya bertemu dengan mata Anta. Gadis itu kali ini tak memutus kontak mata mereka. Dia tidak lepas menatap mata Elvano dengan harapan laki-laki itu menolak tantangan dari Dinda.
"Ayo, lakukan! Nggak ada penolakan, ya?" ucap Dinda.
Elvano maupun Anta memutuskan kontak mata mereka. Elvano tersenyum dalam hati. Dia sudah bisa menebak, tantangan atau pertanyaan yang Dinda lontarkan untuknya sudah pasti tidak jauh dari Anta.
Mendengar ucapan Dinda, Anta menarik nafasnya. Mengingat bagaimana sifat Elvano, apa yang ia harapkan sudah pasti tidak akan terjadi.
"Ayo, cium!" paksa Dinda.
Elvano melirik Anta. Ia tahu istrinya itu malu dan tidak bersedia melakukannya. Ia kasihan, tapi itu kesempatan yang ia inginkan.
"Aku akan menciumnya. Tapi, kalian semua berbalik lah."
"Nggak bisa! Aku harus melihatnya. Kamu bisa saja berbohong."
"Ck. Baiklah. Kamu tetap, tapi yang lain berbalik." Dinda mengangguk setuju, begitupun yang lain meski terpaksa. Dika berdecak dan dengan perasaan kesal berbalik. Selly juga berbalik dengan perasaan kesal begitupun Tommy. Laki-laki itu tertarik pada Anta dan otak kotornya mulai memikirkan banyak hal tentang Anta.
Yang paling tenang diantara keempat orang yang berbalik itu adalah Fahri. Dia bahkan senyum-senyum sendiri karena kejahilan istrinya itu.
"Setelah ini, giliran kita di kamar," bisiknya pelan pada Dinda. Membuat wanita itu tersenyum dan berdehem pelan.
"Ayo. Mereka sudah berbalik. Kenapa kalian masih diam?"
"Mbak, ak—"
Ucapan Anta terhenti saat Elvano menarik tengkuknya dan menempelkan bibirnya tepat di bibir Anta. Elvano mendiamkannya beberapa detik, kemudian mulai menggerakkan bibirnya.
Dinta tersenyum-senyum melihat Elvano yang sepertinya menikmati ciuman tersebut. Dia sampai meremas lengan baju Fahri karena merasa gemas.
Kedua tangan Anta meremas sisi kiri dan kanan roknya. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dan dia hampir kehabisan nafas.
Elvano melepas ciumannya dan menatap Anta. "Bernafas Anta," ucapnya lalu kembali mencium bibir gadis itu. Masih tersisa beberapa menit lagi tantangannya berakhir.
Dinda tersenyum. Ia lalu melihat layar handphonenya yang memang sengaja ia hidupkan stopwatch. Saat waktunya hampir selesai, Dinda menghitung mundur dari angka lima.
"5, 4, 3, 2, 1, selesai."
Anta langsung mendorong tubuh Elvano sekuat tenaga saat kata selesai keluar dari mulut Dinda. Dengan nafas tersengal gadis itu beranjak dan meninggalkan tempat itu.
"Anta," panggilan Dinda diabaikan gadis itu.
Elvano yang melihatnya beranjak mengejar Anta. Semua terdiam dengan kejadian ini. Dika yang melihatnya juga ingin beranjak, namun Fahri menahannya.
"Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka," ucapnya. Dika menarik nafasnya dan kembali duduk. Wajahnya terlihat sangat marah.
"Sudah, nggak apa-apa. Kamu berniat baik untuk mendekatkan mereka." Fahri mengusap-usap rambut istrinya.
"Cih! Berlebihan sekali. Hanya ciuman begitu saja pakai acara ngambek segala," sinis Selly.
"Mungkin Vano nggak bisa berciuman dengan baik. Jadi dia ngambek," ujar Tommy diselingi kekehan kecilnya.
"Ya iyalah, sayang. Beda jauh sama kamu." Selly memuji suaminya, membuat lelaki itu tersenyum dan mengecup pipinya.
Dika, Dinda dan Fahri menatap sengit suami istri itu. Selly dan Tommy benar-benar pasangan serasi. Suka sekali membuat orang-orang jengkel.
Sementara di kamar, Anta duduk di pinggir ranjang sambil mengusap kasar air matanya. Entah kenapa, ia merasa sedih saat Elvano menciumnya. Air matanya kembali menetes. Meskipun ia berusaha menghapusnya, air mata itu masih terus saja menetes.
Ceklek...
Suara pintu terbuka dan kembali tertutup membuat Anta dengan cepat mengusap air matanya.
"Anta aku—"
"Aku ngantuk, Mas. Aku tidur duluan." Tanpa menatap Elvano, Anta membaringkan tubuhnya membelakangi Elvano. Laki-laki itu menarik nafas panjang. Bisa ia dengar suara Anta yang bergetar saat berbicara tadi.
Elvano mendekati ranjang dan ikut berbaring di belakang Anta. Laki-laki itu mendekat dan memeluk pinggang Anta, hingga tubuhnya menepel pada Anta. Ia menyusupkan wajahnya ke tengkuk Anta.
"Maaf..." bisiknya lirih.
Kata "maaf" yang keluar dari mulut Elvano, membuat air mata Anta semakin menetes. Gadis itu bahakan sesenggukan tiap kali Elvano mengulang kata maaf.
"Maafkan aku, Anta." Ini kesekian kalinya Elvano membisikkan kata maaf. Namun, Anta masih tak menjawab. Hanya isak tangis Anta yang terdengar.
Elvano mengendurkan pelukannya, lalu menarik lembut Anta menghadapnya. Ia menatap wajah sembab itu, lalu kembali memeluknya. Menyusupkan wajah Anta di dada bidangnya.
"Kenapa, Mas? Hiks... Kenapa Mas El ngelakuin ini pada Anta, Mas? Anta tahu Anta salah karena dengan lancang masuk ke kehidupan Mas. Anta dengan lancang mencampuri urusan, Mas. Tapi, jangan buat Anta seperti ini. Hiks... Anta sudah berusaha sebaik mungkin menjaga hati Anta agar nggak jatuh pada Mas. Anta menekan perasaan Anta. Tapi kenapa, Mas? Kenapa Mas El membuat perasaan itu semakin tumbuh besar? Kenapa Mas? Anta benci perasaan Anta, Mas. Anta benci kenapa Anta harus suka sama orang yang nggak suka sama Anta. Kenapa Anta suka sama orang yang anggap Anta hanya sebagai mainan? Anta benci, Mas. Anta benci!"
Gadis itu terus menangis dalam pelukan Elvano. Laki-laki itu hanya diam mendengarkan semua curahan Anta yang sudah pasti dipendam gadis itu selama ini. Setelah Anta berhenti dan hanya terdengar isakannya, Elvano mengeratkan pelukannya dan mengecup puncak kepala Anta berkali-kali.
"Maafkan aku. Tolong maafkan aku. Aku tahu, aku banyak salah padamu selama ini. Aku egois dan arogan. Aku mengabaikanmu dan menganggapmu sekedar gadis yang Mama cari untuk mengasuh Evan. Tapi, sekarang aku sadar Anta. Bukan hanya Evan yang ingin kamu tetap disisinya, tapi aku juga." Elvano menghentikan ucapannya dan mengecup puncak kepala Anta lagi.
"Aku beraharap kamu memaafkanku dan memberiku kesempatan untuk memulai semuanya. Karena aku baru sadar sekarang, aku mencintaimu, Anta."
Deg...
Tubuh Anta menengang dalam pelukan Elvano. Ia sedikit mengendurkan pelukannya dan mendongak menatap Elvano, membuat wajah sembabnya terlihat jelas oleh laki-laki itu.
"M-Mas —"
"Aku tahu kamu ragu. Tapi aku mengatakan yang sebenarnya. Aku terlambat menyadarinya dan selalu bersikap dingin. Aku juga bersikap kasar saat kamu berdekatan dengan Dika. Itu karena aku cemburu. Aku cemburu karena Dika yang bukan siapa-siapa kamu bisa membuat kamu tertawa. Percayalah Anta. Aku mencintaimu! Sangat mencintaimu." Elvano mengecup puncak kepala Anta sekali lagi, lalu kembali membenamkan wajah Anta ke dadanya.
"Aku sudah memutuskan dan aku akan terus menjaganya. Percayalah padaku, karena aku nggak pernah main-main tentang perasaanku," lanjut Elvano, bergumam pelan.
Anta tak menjawab. Dia hanya mendengarkan apa yang Elvano katakan. Perasaannya campur aduk antara percaya atau tidak. Dia takut, Elvano hanya berbohong dan berujung pada sakit hati yang tisak ingin ia rasakan.