Annanta

Annanta
Bab 47



Setelah mendengar cerita Risma, perasaan cinta Anta pada Elvano semakin besar. Wanita itu terus berusaha menjadi istri dan Ibu yang baik.


"Mau Anta pijatin, Mas?" tanya Anta sembari menaiki ranjang.


"Nggak usah, peluk aja." Elvano menarik lembut tangan Anta lalu memeluknya.


"Mas, besok aku sama Evan ke tempat Tiara sama Ricky, ya? Menginap."


"Boleh. Jam berapa berangkatnya? Nanti Mas anterin." Elvano mengelus pelan rambut Anta.


"Sekitar jam 9 pagi. Mas nggak usah anterin. Aku perginya sama Mama Papa."


"Ya udah. Selesai rapat aku nyusul."


"Lho? Bukannya lusa Mas ada ketemu klien?"


"Kamu tahu?"


"Hehehe... Dari mbak Risma." Elvano berdecak mendengarnya. Niatnya ia akan membatalkan pertemuannya dengan klien itu. Tapi, Anta sudah tahu. Jika dia tetap membatalkannya, Anta pasti marah. Katanya, Elvano nggak bisa dipercaya. Janji tapi ingkar.


"Huuufthhh... Jadi, aku nggak ikut?" Anta mengangguk. "Ck. Kalau tidur, aku peluk siapa? Aku nggak bisa tidur kalau nggak peluk kamu," lanjutnya.


"Ish, Mas jangan aneh-aneh deh."


"Nggak aneh, sayang. Aku kan udah biasa tidur sambil peluk kamu."


"Iya iya. Ayo, tidur sekarang. Peluk sepuas-puasnya, bekal untuk tiga malam."


"Kamu tiga malam disana?"


"Iya, sayang."


"Kok gitu? Aku tiga malam tidur sendirian?" Anta mengangguk. "Ya udah. Kalau gitu nggak hanya peluk! Aku mau lebih!"


"Lho? Kok ngelunjak?"


"Ya, nggak masalah. Pokok nya aku mau lebih."


"Ya udah. Ayo, tidur. Nanti aku kasi yang lebih," ujar Anta.


Senyum manis langsung terukir di bibir Elvano. Ia lalu berbaring bersama Anta, kemudian memeluk istrinya itu dengan erat dan mencium bibirnya. Entah hal lebih seperti apa yang dimaksud, hanya mereka berdua yang tahu.


***


Setelah selesai sarapan, Elvano tidak segera berangkat ke kantor. Laki-laki itu terus mengikuti Anta kemanapun istrinya itu pergi. Seperti saat ini, Anta sedang memasukkan beberapa bajunya untuk dibawa nanti dan Elvano masih setia berdiri di samping istrinya.


"Kenapa masih disini sih, Mas? Kamu udah telat lho ke kantor," ucap Anta, seusai memasukkan baju-bajunya.


"Kalian berangkat, baru aku ke kantor." Elvano menarik Anta dan memeluknya. "Aku nggak mau ditinggal sendiri, sayang." Suara Elvano terdengar lemah. Dia tidak memiliki semangat untuk ke kantor.


"Ada bi Ijah sama pak Tarman, Mas. Mas El nggak sendiri." Anta membalas pelukannya dan mengusap-usap lembut punggung Elvano.


"Nggak sama, sayang."


Anta sejenak terdiam. Ia menarik nafasnya lalu menatap Elvano. "Ya udah. Aku bilangin Mama kalau aku nggak jadi pergi. Tunggu kamu liburan aja baru kita pergi."


Elvano terdiam. Ia senang, tapi ia sadar jika dirinya egois. Anta hanya sesekali bertemu adik-adiknya. Semetara dirinya setiap hari bertemu Anta.


"Nggak. Kamu tetap pergi. Aku nggak apa-apa."


"Benaran?"


"Iya," jawab Elvano.


"Makasih, Mas." Elvano membalasnya dengan tersenyum. Melihat senyum dibibir Anta membuatnya ikut bahagia.


"Mau anterin Mas ke depan nggak?" Anta mengangguk. Lalu, ia dan Elvano berjalan keluar kamar. Anta meraih Evan yang sedang digendong Bi Ijah ke gendongannya, lalu sama-sama mengantar Elvano ke halaman depan.


"Hati-hati kalau berangkat nanti. Kabari Mas kalau udah sampai," ucap Elvano lalu mengecup kening Anta.


"Iya, Mas. Mas El juga hati-hati ke kantor. Jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya."


"Iya, sayang." Elvano lalu menatap Evan yang juga sedang menatapnya. "Evan jangan nakal ya. Jadi anak yang baik dan nurut sama Mama."


"Maa... Maa... Maa..." celoteh Elvano sambil menepuk-nepuk tangannya. Elvano mengecup kening anak itu lalu memasuki mobilnya. Setelah melambaikan tangannya, mobil Elvano melaju menjauh dari rumah.


Anta dan Evan kembali memasuki rumah. Wanita itu memandikan Evan dan bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sang Mama dan Papa mertua. Dia dan Evan akan berangkat menggunakan mobil Mama dan Papa mertuanya.


"Sini Nak, Bibi bantuin." Bi Ijah meraih tas yang dibawa Anta.


"Makasih, Bi." Bi Ijah hanya mengangguk menjawabnya.


Pak Tarman yang sudah menunggu, dengan cepat meraih tas tersebut dari tangan Bi Ijah. Ia memasukkan benda tersebut di bagasi mobil, menaruhnya dengan beberapa barang yang akan Anta bawa untuk kedua adiknya. Setelah itu, ia mendekat ke arah Anta yang sedang mengatakan sesuatu pada Bi Ijah.


"Nak Anta hati-hati ya, kalau udah sampai kabarin Bibi."


"Tuan muda Evan, Bibi cium boleh?"


"Boleh, Bi. Bibi kayak sama siapa aja." Wanita paruh baya itu mendekat dan mengecup pipi Evan. Membuat balita itu terkekeh.


"Ya udah, Anta berangkat dulu ya, Bi."


"Iya, Nak."


Pak Tarman dengan cekatan membuka pintu mobil. "Silakan, Nyonya."


"Makasih, Pak."


"Sama-sama Nyonya," jawab Pak Tarman sambil tersenyum.


Setelah memastikan Nyonya dan Tuan mudanya duduk dengan nyaman, Pak Tarman melajukan mobil tersebut.


"Langsung ke rumah nyonya besar, atau mampir ke minimarket dulu, Nyonya?"


"Langsung aja, Pak."


"Siap."


Pak Tarman terus melajukan mobil, hingga 20 menit kemudian mereka tiba di kediaman Devita.


"Evaaan." Teriakan suara menggemaskan itu langsung menyambut saat Anta turun sambil menggendong Evan. Ara si pemilik suara berlari mendekat dan langsung memeluk pinggang Anta. Tingginya yang hanya sebatas pusar Anta membuatnya mendongak saat berbicara.


"Tante cantik, Evan nya diturunin. Ara mau gandeng Evan."


"Boleh. Ayo, Ara lepasin dulu pelukannya," ucap Anta lembut.


Gadis kecil itu segera melepas pelukannya. Anta lalu menurunkan Evan dan membiarkan Ara menggandeng putranya.


"Pelan-pelan ya, jalannya. Hati-hati!"


"Iya, Tante." Ara dengan penuh hati-hati menggandeng Evan, berjalan memasuki rumah.


"Ayo Pak, masuk dulu!" ajak Anta pada Pak Tarman.


"Iya, Nyonya."


Anta berjalan pelan mengikuti Ara dan Evan. Dinda yang hendak menemui Ara yang berteriak, tersenyum melihat pemandangan tersebut. Kedua anak itu sangat lucu.


"Ponakan Tante. Lucu benget, siiih." Dinda mencium gemas seluruh wajah Evan. Membuat anak itu tidak suka dan menangis.


"Oeeaakk... Oeeaakk... Oeeaakk..." tangis Evan terdengar. Ia berbalik dan memeluk kaki Anta. Anta segera menggendongnya.


"Eehh... Kok nangis?" ucap Dinda bingung.


"Mama sih. Evan nggak suka dicium gitu, kasar lagi," ucap Ara dengan wajah cemberutnya.


"Sayang, kok marah sama Mama sih? Mama kan gemes sama Evan."


"Ara nggak marah, cuman kesel. Evan nggak mau Ara gandeng lagi."


"Iya, Mama salah. Maaf ya, sayang." Dinda mengalah. "Sini Mama gendong Ara." Dinda meraih putrinya itu, lalu menggendongnya.


"Jangan cemberut, dong. Nanti Ara nya nggak cantik lagi," ucap Anta yang melihat Ara masih cemberut.


"Evan masih mau temenan sama Ara kan, Tante?"


"Masih dong, sayang. Kenapa nggak mau temanan?"


"Mama Ara gemesnya suka nyubit Pipi. Nanti Evan malah nggak mu temanan gara-gara takut sama Mama."


Anta dan Dinda saling tatap, kemudian tertawa. Anak polos ini sangat menggemaskan.


"Nggak sayang. Evan masih mau temanan kok."


"Ada apa ini?" Dika tiba-tiba muncul dan ikut bergabung. "Ponakan Om Dika. Sini, Om Dika gendong." Dika mengulurkan tangannya pada Evan. Anak itu menatap tangan Dika sejenak, lalu menggeleng. Ia kembali menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Anta.


"Hahaha... Anak kecil aja nggak mau sama kamu Dika. Pantes, jomblo terus sampai sekarang," celetuk Dinda, membuat Dika meliriknya kesal.


"Nggak usah diledekin kali, Mbak. Asal Mbak tahu, cewek yang mau sama Dika banyak. Dika nya aja yang males punya cewek. Ribet!"


"Eleh, bilang aja nggak ada cewek yang kayak Anta. Kamu kan suka cewek yang kayak Anta," celetuk Dinda, lupa jika Anta ada di antara mereka. Ia baru menyadarinya saat mendapati pelototan dari Dika.


"Ma-maksud aku, tipe cewek Dika nggak jauh beda kayak kamu, Anta. Baik, perhatian, terus penyayang," ucap Dinda. Anta membalasnya dengan tersenyum. Dan tiba-tiba situasi di antara mereka menjadi canggung.


"Y-ya udah. Ayo, kita ke om sama tante. Masa berdiri terus disini," ucap Dika. Mereka kemudian berjalan bersama menuju ruang keluarga.


Sementara Pak Tarman, ia memilih untuk bergabung dengan Pak Tanto, supirnya Devita.