Annanta

Annanta
Pembelaan Elvano



Bagun pagi, Elvano sudah tidak menemukan Anta maupun Evan. Ia bergegas keluar dari kamar. Matanya tertuju ke arah dapur, namun tak menemukan Anta disana. Ia berjalan ke arah ruang tamu. Langkahnya terhenti di depan kamar Ricky.


"Nah, sekarang udah rapih. Bekalnya udah Kakak masukin. Ricky belajar yang rajin di sekolah."


"Iya, Kak. Terima kasih."


"Sama-sama."


"Evan, om Ricky berangkat ke sekolah dulu. Pulang sekolah, kita main sama-sama."


"Taa... Taa... Taa..."


Elvano yang berdiri di depan pintu tersenyum. Ternyata Anta dan Evan ada di kamar Ricky. Takut ketahuan, Elvano dengan cepat berjalan ke ruang tamu. Ia duduk di salah satu kursi di ruangan itu.


"Mas El," Sapa Anta saat melihat suaminya duduk di ruang tamu. Elvano mendongak, mentap Anta yang sedang menggendong Evan. Di sebelah mereka, ada Ricky yang sudah rapin dengan seragam SD nya sambil menggendong tas punggungnya.


"Kamu ke sekolah naik apa?" Mengabaikan Anta, Elvano malah bertanya pada Ricky.


"Dulu jalan kaki. Tapi, setelah pulang dari rumah sakit, Ricky tiap sekolah diantar jemput Pak Muh, Kak."


Elvano terdiam. Ia tahu Ricky melakukan operasi. Tapi ia tidak tahu operasi apa yang Ricky jalani.


Elvano menarik nafasnya, lalu menatap Ricky. "Kamu tunggu sebentar." Elvano beranjak dan berjalan cepat menuju kamar. Ia lalu kembali membawa dompet nya.


"Ini, buat jajan." Elvano menyodorkan 100 ribu pada Ricky.


"Nggak usah, Kak. Uang jajan yang di kasi Ibu masih ada." Tolak Ricky.


Kening Elvano mengerut. Ibu? Apa maksud Ricky? Bukan kah orang tua mereka sudah tidak ada? Itu yang terlintas dipikiran Elvano. Ia lalu menatap Anta, meminta jawaban.


"Ibu yang dimaksud Ricky itu Mama. Mama Devita."


Elvano tertegun. Ia baru ingat sekarang, biaya hidup kedua adik Anta ditanggung Mamanya. Tiba-tiba perasaan yang menganggap dirinya tak berguna timbul di hati Elvano. Seharusnya, itu tanggung jawabnya, bukan sang Mama.


"Ya sudah, Ricky berangkat sekolah dulu." Anak itu mencium tangan Anta dan Elvano, kemudian menghampiri Pak Muh, yang sudah menunggu halaman depan rumah.


Anta keluar masih dengan Evan di gendongannya. Dia membalas lambaian tangan Ricky saat motor itu mulai melaju. Evan juga ikut melambaikan tangannya.


Setelah motor yang membawa Ricky tak terjangkau pandangannya, Anta kembali masuk.


"Mas El nggak berangkat kerja?"


"Nggak."


"Mas El mau sarapan?"


"Saya mandi dulu."


Elvano langsung beranjak ke kamar. Mengambil handuk lalu menuju kamar mandi. Anta mengajak Evan bermain di kamarnya, sembari menunggu tukang sayur. Ia tidak khawatir akan tertinggal, karena lengkingan suara tukang sayur itu masih bisa terdengar meski ia dalam kamar.


Anta bernyanyi sambil bertepuk-tepuk tangan. Dan yang ia lakukan malah membuat Evan tertidur.


"Evan tidur?" Elvano tiba-tiba masuk, membuat Anta sedikit takut untuk menoleh. Ia yakin suaminya itu sedang tidak mengenakan baju, hanya handuk yang melilit pinggangnya.


"Iya, Mas." Anta berusaha menetralkan degup jantungnya. Ia membenarkan posisi tidur Evan.


"Sayuuur."


"Anta keluar dulu. Penjual sayur nya udah datang." Anta dengan cepat beranjak dari kasur hendak keluar kamar. Namun, tiba-tiba tangannya di cekal Elvano saat melewati laki-laki itu.


"Kamu mau beli sayur pake apa?"


"Pa-pake uang, Mas." Jawab Anta polos. Jujur saja, jantungnya tidak aman saat ini. Elvano benar-benar hanya mengnakan handuk di pinggangnya.


Elvano berdecak mendengar jawaban polos Anta. "Ck. Saya tahu. Tapi mana uangnya?"


Astaga Anta, kamu lupa mengambil uangnya di lemari.


"Aku lupa, Mas. Aku ambil dulu." Anta berusaha melepas cekalan Elvano, namun tak bisa.


"Ambil uang di dompet saya!"


"Anta punya uang, Mas."


"Jangan membantah, Anta. Atau, kamu nggak saya izinkan keluar dari kamar ini?"


Anta menggelng cepat. Tidak keluar dari kamar? Tidak, dia harus keluar. Disini tidak aman jika ada Elvano yang seperti ini.


"Iya, Anta ambil uang di dompet Mas."


Elvano melepas cekalan nya dan membiarkan Anta mengambil uang di dompetnya. Setelah mengambilnya, Anta segera keluar dari kamar itu.


Elvano terkekeh melihatnya. Istrinya terlihat lucu.


***


Anta merasa canggung saat di tatap sinis oleh ibu-ibu yang juga sedang membeli sayuran. Mereka memilah dan memilih sayur, namun mulut mereka terus mengejek Anta dan menatap gadis itu sinis. Bukan hanya hari ini. Sejak Anta tiba kemarin, tatapan sinis dan kata-kata buruk ia dapatkan saat berpapasan dengan para warga.


"Aku nggak nyangka lho, gadis yang katanya gadis baik-baik malah ninggalin kedua adiknya. Terlebih lagi, adiknya yang masih sekolah dasar itu sakit parah. Tega banget dia." Ucap Ibu 1.


"Oh ya, aku tadi pagi kaget lho lihat mobil ada di depan rumah dia. Mobil bagus. Pasti suaminya pengusaha yang udah berumur. Hiii... Jijik aku bayangin. Jangan-jangan kamu godain suami orang lagi." Ujar Ibu 3 yang membuat ibu-ibu yang lain mengangguk.


"Heh, Anta! Itu mobil suami kamu kan? Cih! Saya nggak nyangka kamu jadi wanita nggak benar." Ujar Ibu 1.


Posisi tukang sayur yang berhenti di jalanan depan halaman rumah Anta, membuat Elvano yang keluar dari rumah melihat tatapan sinis Ibu-Ibu itu pada Anta. Ia juga mendengar ucapan buruk untuk Anta dan juga ucapan yang menuduh Anta 'wanita nggak benar'. Emosi Elvano terpancing. Namun, dia berusaha untuk tetap tenang. Ia keluar rumah sayamh mendekati Anta.


"Sayang," Ujarnya sambil merangkul pundak Anta. Membuat Anta menoleh ke arahnya.


"Ma-Mas El,"


Ibu-ibu dan tukang sayur menatap ke arah Elvano dengan tatapan kagum. Tidak pernah mereka lihat laki-laki tampan seperti Elvano di tempat tinggal mereka kecuali dari layar televisi.


"Astagaaa... Ganteng nya," Ujar Ibu 1.


"Suami idaman." Ucap Ibu 2.


"Aku mau cerai in suamiku, dan menjadi istri kedua kalau nikahnya sama Mas ganteng." Ujar Ibu 3. Ibu-ibu yang lain pun ikut berdecak kagum.


"Ini suami neng Anta?" Tanya tukang sayur.


"I-iya, Pak." Jawab Anta. "Waah... Suaminya ganteng, neng. Cocok sama neng Anta nya."


"Terima kasih, Pak." Elvano yang menjawab. Anta sampai dibuat heran sama perlakuan Elvano yang berbeda.


"Sayang, kenapa lama sekali beli sayurnya?"


"I-Ini Mas, Anta..."


"Anta mah, suka lama beli sayurnya. Ia biasanya lihat-lihat dulu sebelum beli." Ujar Ibu 1 yang disetujui yang lainnya. Melihat wajah Elvano yang dingin, membuat mereka takut pada lelaki itu. Apalagi jika Anta mengadu soal sikap mereka tadi. Tukang sayur hanya bisa geleng-geleng atas ucapan Ibu 1 yang pandai berkilah.


"Kalau kamu nggak suka sama sayuran-sayuran disini, kita ke tempat lain saja. Aku akan mengantar mu beli sayuran."


"Hah? Nggak usah, Mas. Semua sayuran disini aku suka."


"Ya udah, beli semuanya saja."


Anta terkejut mendengarnya. "Hah? Tapi, Ibu-Ibu ini..."


"Kita beli semuanya. Ambil yang kamu suka, sisanya buat mereka." Ujar Elvano, santai. Mendengar itu, tukang sayur berbinar bahagia.


"Aku ambil uang dulu." Elvano mengecup kepala Anta sekilas kemudian berlalu ke rumah. Anta hanya bisa mematung atas perlakuan Elvano ini.


Mas El mencium kepala ku.


"Kenapa masih belum pilih sayurnya?" Anta terkejut mendengar suara Elvano. Ia tidak tahu, sejak kapan suaminya itu kembali.


"Iya, Mas."


"Berapa semuanya, Pak?"


"800 ribu, Mas."


Elvano mengeluarkan 10 lembar 100 ribu dari dompetnya, yang sontak membuat tukang sayur itu terkejut.


"Ini, Pak."


"Ini kelebihan, Mas."


"Nggak apa-apa. Lebihnya buat Bapak karena sudah memebela istri saya." Ujar Elvano, kembali merangkul Anta. Tatapannya tajam memperhatikan satu per satu ibu-ibu itu.


Deg...


Anta, tukang sayur dan juga ibu-ibu yang berdiri di tempat itu terkejut. Terutama Ibu-ibu yang sudah menjelek-jelekkan Anta. Mereka gelagapan saat mendapat tatapan Elvano.


"Mas El, kami..."


"Kau lebih baik diam. Jangan pernah panggil saya seperti itu. Hanya istri saya yang berhak panggil saya begitu." Ucap Elvano sinis pada Ibu 1.


"Dan satu lagi. Saya nggak suka kalian menghina istri saya. Jika saya mendengarnya lagi, saya nggak segan-segan membalas." Ujar Elvano, kemudian menatap Anta. "Sudah selesai milih sayurnya?" Suara Elvano berubah lembut.


"Sudah, Mas."


"Ayo, ke rumah!" Anta hanya mengangguk dan mengikuti Elvano yang berjalan sambil merangkulnya.


"Ternyata kita salah. Suami Anta sangat tampan dan kaya." Ucap Ibu 2.


"Dia juga kelihatan cinta banget sama Anta." Ibu 3 menimpali.


"Aku jadi takut sinisin Anta lagi." Ucap Ibu 1.


"Makanya, jangan nilai orang tanpa tahu kebenarannya. Gini kan jadinya. Masih untung suaminya Anta nggak balas kalian sekarang. Nggak tahu lagi kalau dia balasnya sekarang. Orangnya tinggi kekar gitu, suami kalian bisa lawan? Soal uang, sudah pasti nggak bisa."


"Heleh, Bapak mah enak, diborong dagangan nya, terus dikasi bonus. Kita?"


"Eleh, nggak tahu terima kasih kalian. Suami Anta udah belanjain sayur ini buat kalian. Kalau nggak mau ambil saya jual lagi ke tempat lain."


"Eeee... Enak aja." Seru Ibu-ibu itu serentak, menahan gerobak sayur si bapak.


"Ya udah. Cepatan diambil!"


"Iya-iya, sabar!"


"Rejeki hari ini." Gumam si penjual sayur sambil tersenyum.