Annanta

Annanta
Mas El Mesum



Elvano keluar dari kamar mandi dan mendapati baju yang akan ia kenakan ke kantor, tergeletak di atas ranjang. Ia mendekati ranjang dengan wajah yang ditekuk, lalu duduk di sisi ranjang dengan raut tak bersemangat.


"Sesekali bantuin aku pakai baju ke kantor kan bisa? Masa Evan terus yang dibantuin pakai baju?" gumam Elvano. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang. Tidak peduli jika ia akan telat ke kantor.


Suara pintu yang terbuka tak membuatnya menoleh. Ia bahkan semakin memejamkan matanya.


"Lho? Kok Mas belum ganti baju?" Anta mendekati ranjang. Ia menatap suaminya yang malah berbaring di ranjang dengan bathrobe yang masih melekat di tubuhnya.


"Mas." Anta mengguncang pelan lengan Elvano. Evan yang berada di gendonganya memaksa turun. Anta mendudukkan balita itu di sebelah Elvano.


"Pa..." Evan memukul pelan perut Elvano. Sekali pukulan tak membuat Elvano membuka matanya.


"Paa..."


Lagi-lagi Evan memukul perutnya. Kali ini anak itu lakukan berkali-kali. Membuat Elvano tidak tahan karena geli. Sontak lelaki itu bangun sambil terkekeh.


"Hehehe... Udah-udah, Papa bangun." Laki-laki itu bangun sambil menahan kedua tangan Evan. Melihat Papanya terkekeh, Evan pun ikut terkekeh.


"Nakal ya, anak Papa. Sini-sini, Papa gelitikin." Elvano menahan kedua tangan Evan dengan satu tangannya, dan sebelah tangannya yang lain menggelitik Evan.


"Hehehe... Hehehe... Hehehe..." kekeh Evan. Ia berusaha menghalau tangan Papanya, namun tidak bisa karena tangannya ditahan Elvano. Anak itu sampai berguling di kasur.


Kekehan Evan menular pada Anta dan Elvano. Pasangan suami istri itu terkekeh melihat putra mereka.


"Hehehe... Udah Mas, udah. Kasian Evan ketawa terus. Nanti sakit perut." Anta menahan tangan Elvano yang hendak menggelitik Evan lagi, kemudian membantu Evan duduk.


"Ini hukuman ya buat Evan. Kalau nakal lagi, sama Papa digelitikin sampai nangis," ucap Elvano sambil mengusap-usap kepala Evan.


"Mas, ayo ganti bajunya. Nanti kamu telat ke kantor."


"Bantuin."


Anta menatapnya sejenak, lalu menggeleng sambil terkekeh pelan. "Ya udah, ayo!"


Elvano tersenyum senang lalu mengecup kening Evan. "Nggak boleh nakal. Mama bantuin Papa dulu," ucapnya pada sang putra.


Laki-laki itu berdiri dan berjalan ke ruang ganti untuk memakai celananya. Ia lalu keluar dengan celana yang sudah melekat, namun belum mengenakan apa-apa di tubuh bagian atasnya.


Anta mendekat dan memakaikan kemeja pada Elvano, dan mengancingkan nya.


"Anta," panggil Elvano.


"Ya?" Anta masih fokus pada kegiatan mengancing kemeja Elvano.


"Lihat sini, dong."


Anta mendongak dan cup... Satu kecupan mendarat di bibir Anta. Membuat pipi gadis itu memerah.


"Mas apaan sih? Ada Evan disini."


"Evan masih kecil, belum tahu apa-apa," jawab Elvano santai.


Anta mengabaikannya dan beralih meraih dasi. Ia mendongak dan memakaikan dasi pada Elvano. Tangannya mulai bergerak memakaikan dasi pada Elvano.


Cup...


"Mas." Suara Anta bernada peringatan. Namun Elvano tak peduli.


"Apa sayang?"


Anta diam tidak ingin melanjutkan ucapannya.


Cup...


"Mas."


"Mau lagi?"


Cup...


"Mas ih!"


Cup...


"Mas!"


"Belum puas?"


Cup...


"Ma—hmmmpp...."


Elvano mencium bibir Anta dengan penuh kelembutan. Entahlah, dia selalu sulit mengabaikan bibir manis istrinya itu.


Setelah merasa cukup, Elvano menyudahinya. Ia tersenyum puas melihat bibir Anta yang memerah.


"Haahh... Mas El mesum!"


"Nggak apa-apa dikatain mesum. Yang penting aku senang," jawabnya.


Anta geleng-geleng kepala dengan tingkah suaminya yang semakin hari semakin aneh. Ia berbalik dan meraih jas yang sudah ia siapkan. Ia lalu memakaikannya pada Elvano.


"Makasih istriku," ucapnya sambil tersenyum, setelah jas tersebut menempel rapih pada tubuhnya.


"Ada apalagi sih, Mas?"


"Jawab dulu, dong."


"Jawab apa?"


"Jawab sama-sama. Kan tadi aku bilang makasih istriku," ucap Elvano dengan wajah memelas nya.


Anta terkekeh. "Ya udah. Sama-sama."


"Ck. Bukan gitu. Ulang ulang!" ucapnya. "Makasih istriku."


"Sama-sama," jawab Anta.


"Lho? Kok cuma sama-sama?"


"Kan tadi bilangnya makasih. Jadi, jawabnya sama-sama," jawab Anta polos.


"Sayang, aku bilangnya makasih istriku. Jadi, kamu jawabnya sama-sama suamiku, gitu."


"Aduh Mas, itu kan cuma—"


"Kita ulang, ya?"


Anta hanya mengangguk, mengikuti saja apa yang Elvano inginkan. Dia tidak ingin urusannya panjang dan Elvano jadi telat ke kantor.


"Makasih istriku."


"Sama-sama suamiku."


"Sini-sini, cium dulu." Elvano mendekat dan mengecup kening Anta.


"Paa...."


"Eh, anak Papa mau dicium juga? Sini Papa cium." Elvano mendekati Evan dan mengecup pipi anak itu. Pipi gembilnya yang memerah membuat Anta ikutan gemas. Alhasil, Anta ikut mengecup pipi anak itu.


"Ayo, kita saparan. Kasian Bi Ijah udah tungguin dari tadi."


Elvano mengangguk. Anta segera menggendong Evan, lalu mereka berjalan keluar bersama. Sebelah tangan Elvano terus merangkul pinggang Anta. Seolah tidak ingin sejengkal pun jauh dari istrinya itu.


Bi Ijah yang mendapati pemandangan itu tersenyum senang. Ia berkali-kali mengucap syukur atas kehidupan rumah tangga tuan dan nyonya nya yang semakin membaik.


"Pagi Tuan, Nyonya," sapa Bi Ijah.


"Pagi Bi," jawab Anta dan Elvano bersamaan.


"Biar Tuan muda Evan sama saya saja, Nyonya."


"Nggak usah, Bi. Evan sama Anta saja. Bibi sarapan saja."


"Ya. Ayo, duduk. Kita sarapan bersama," sahut Elvano. Wajahnya kini kembali dingin. Berbeda saat dirinya bersama Anta.


"Nggak usah, Tuan. Saya sarapan di dapur saja."


"Nggak apa-apa, Bi. Kita sarapan sama-sama saja."


Setelah beberapa kali dibujuk, akhirnya Bi Ijah mau makan bersama mereka. Sesudah sarapan, Anta dan Evan mengantar Elvano ke depan.


"Papa berangkat dulu, ya? Evan jangan nakal di rumah. Jadi anak baik, nggak boleh nyusahin Mama," ucap Elvano sambil mengusap kepala Evan. Anak itu tersenyum melihat Elvano berbicara dengannya.


Elvano juga tersenyum kemudian mengecup kening dan kedua pipi Evan. Laki-laki itu beralih menatap Anta.


"Aku berangkat dulu, ya." Elvano dengan lembut mengusap pipi Anta.


"Iya, Mas. Hati-hati."


Elvano mengangguk dan mengecup kening Anta. Jujur, dia tidak ingin pergi ke kantor sekarang. Dia masih ingin di rumah bersama istri dan anaknya.


"Mas," panggil Anta saat Elvano tak kunjung mengakhiri kecupannya.


"Ck. Selalu saja begini. Aku selalu lupa diri kalau udah berurusan dengan kamu." Elvano menggelng-geleng kan kepalanya. Seolah dirinya tak habis pikir dengan perbuatannya sendiri.


Anta mengulum senyum mendengarnya. Ia mengusap pelan rambut suaminya. "Nggak apa-apa. Cepat berangkat. Nanti Mas telat."


Elvano meraih tangan Anta yang mengusap rambutanya, dan mengecupnya. "Masakin makanan yang enak, ya? Siang nanti aku pulang, makan siang di rumah."


"Iya, Mas."


"Aku berangkat dulu. Evan, Papa berangkat."


"Hati-hati, Mas."


Elvano mengangguk lalu kembali mengecup kening Anta dan pipi Evan. Laki-laki itu kemudian berjalan ke arah mobil nya sambil melambaikan tangannya.


Anta terkekeh melihat tingkah suaminya. Sementara Evan, anak itu balas melambai tangan pada sang Papa. Hingga mobil Elvano menghilang, anak itu baru menghentikan lambaiannya. Ia berbalik dan langsung memeluk leher Anta.


"Maa... Cu."


Anta mengusap kepala putranya. Evan memang belum meminum susunya tadi.


"Kita masuk, terus minum susu." Anta berbalik dan memasuki rumah.