
Tamu-tamu undangan semakin berdatangan. Dinda dan Fahri sibuk menyambut orang-orang tersebut. Elvano juga ikut menyabut orang-orang dan berbincang dengan beberapa undangan yang ia kenal.
Sementara Anta, dia berada di ruang berkumpulnya para keluarga sebelum acara dimulai.
"Kak Devita," Sapa Tika, Ibu Dinda dan Dika, adik dari Haris. Wanita itu sangat dekat dengan Devita. Berbeda dengan Yuli yang selalu sinis dan tidak menyukai Devita.
"Aduh, adik ipar kesayangan." Devita langsung memeluk Tika. Sementara Haris, dia berbincang dengan suami Tika, tak jauh dari tempat Devita dan Tika berdiri.
"Oh ya, Tik. Kenalin, ini menantuku, istri Vano."
Tika menatap Anta dan tersenyum manis. Ia mengulurkan tangannya pada gadis itu dan dibalas oleh Anta.
"Saya Tika, tante Elvano."
"Saya Anta, tante."
"Cantik."
"Masih cantikkan mantu aku, Kak." Yuli datang tiba-tiba dan langsung menyela, mendekat bersama menantunya Selly. Suara Yuli membuat anggota keluarga lain yang ada di ruangan itu menatap ke arah mereka. Tepatnya ke arah Anta.
"Yuli?" Tika tidak menyangka adiknya itu akan datang. Dia biasanya lebih mementingkan urusannya dengan teman-teman sosialita nya dibandingkan urusan keluarga.
"Hai, Kak. Apa kabar?" Ujarnya.
"Aku baik." Jawab Tika.
"Hai, Kakak Ipar, bagaimana kabarmu?" Yuli menatap Devita dengan tatapan mengejek.
Devita menanggapi nya dengan senyuman miring. "Baik. Aku sangat baik."
Yuli tersenyum sinis kemudian menatap Anta dari atas hingga bawah dengan tatapan merendahkan. Tapi, dalam hatinya ia akui, Anta sangat cantik.
"Menantumu cukup cantik. Tapi sayang sekali, nggak setara dengan keluarga kita." Ujarnya. Anta hanya diam.
"Lihat menantuku ini!" Yuli menarik Selly ke sebelahnya. Selly tersenyum sombong di depan semua orang. "Dia setara dengan keluarga kita dalam segala hal. Pendidikan, kekayaan, dan kecantikannya. Menantumu, apa yang bisa dibanggakan?"
"Yuli!!" Haris tidak suka dengan sikap adiknya itu.
"Kakak, aku mengatakan yang sebenarnya. Menantumu dari kalangan rendah. Bagaimana bisa dia berada di kelurga kita? Istrimu itu, dia buta atau memang seleranya yang rendahan? Pilih menantu seperti gadis ini."
"Apa yang salah? Aku sepertinya menyukai Anta saat pertama bertemu." Ujar Tika sambil tersenyum.
"Cih! Gadis ini licik. Dia pandai membuat orang bersimpati padanya."
"Huh! Kau pikir, memantumu sangat baik, Yuli?" Devita tersenyum sinis. Jika dibandingkan dengan Yuli, Devita tahu lebih banyak tentang menantu adik iparnya itu.
"Tentu saja! Dia cantik dan penurut. Yang paling utama, dia mencintai anakku Tommy dengan tulus. Bukan karena harta."
"Hehe... Ternyata kau nggak sepintar yang ku kira. Kau tahu? Selly nggak sepenuhnya mencintai putramu."
"Jangan asal bicara, Devita!!"
"Yuli! Dia Kakak Iparmu!" Tegas Haris. Dia tidak suka ada yang membentak istrinya.
"Kak..."
"Selly itu gadis bermuka dua. Saat bersamamu, mungkin dia akan menjelekkan ku. Tapi, apa kau pernah berpikir, kenapa Selly bertingkah baik di depanku? Dia tertarik pada putraku Elvano. Dia bersikap baik padaku karena ingin menarik perhatian Elvano. Dan kau tahu? Dia punya lelaki lain di luar sana. Apa itu yang kau katakan menantu yang baik?"
Yuli terdiam dan meneguk ludahnya. Apa yang Devita katakan? Benar-benar membuatnya malu. Tapi, Yuli tidak ingin terlihat lemah dan kalah dari Devita.
"Kau pikir aku percaya? Atau jangan-jangan semua yang kau sebutkan adalah sifat menantumu."
Deg...
Anta menegakkan kepalanya menatap Yuli. Sorot matanya tergambar luka atas ucapan Yuli. Bagaimana bisa wanita itu menuduhnya tanpa ada bukti?
"Kenapa kau menatapku? Apa ucapanku benar? Kau gadis murahan..."
"Tante!" Suara dingin Elvano menusuk indra pendengaran setiap orang yang ada di ruangan itu. Bukan sebuah bentakkan, tapi mampu membuat semua menutup mulut.
Elvano mendekat dan berdiri di hadapan tantenya. "Urusi saja urusan tante! Jangan ganggu istri saya!" Elvano berbalik, menggenggam tangan Anta dan membawanya menjauh dari ruangan itu.
Dinda dan Fahri menatap kecewa pada Yuli dan juga Devita. Untung saja, ruangan tersebut cukup tertutup hingga tidak ada tamu melihat atau mendengar perdebatan mereka.
Acara dimulai setelah Dinda dan Fahri kembali dari ruangan tersebut. Semuanya kembali normal, seolah tidak terjadi apa-apa antara Devita dan Yuli. Acara juga berjalan sesuai yang direncanakan. Hingga tiba saatnya acara dansa. Dinda dan Fahri yang menjadi pembuka acara dansa tersebut. Keduanya terlihat serasi dan saling mencintai.
Setelah beberapa saat tamu undangan yang berpasangan dipersilahkan untuk ikut berdansa.
Elvano yang duduk berjarak dua kursi dengan Anta melirik istrinya tersebut. Gadis itu sedang menatap kagum pada orang-orang yang berdansa. Sesekali ia berbincang dengan Bi Ijah yang duduk di sebelahnya dan tengah memangku Evan.
Anta menggeleng. "Nggak bisa, Ma." Jawabnya. Dulu waktu berada di sekolah menengah atas, Anta pernah belajar. Tapi, dia tidak begitu menguasainya. Dari pada menjawab bisa tapi tidak sepenuhnya bisa, lebih baik Anta mejawab tidak saja.
Dika berjalan sambil tersenyum mendekati Anta. Lelaki itu berdiri tepat di hadapan Anta dan mengulurkan tangannya.
"Ayo, berdansa denganku!"
Plak... Dengan pelan Elvano menepis tangan Dika.
"Nggak bisa! Dia istriku. Harus berdansa denganku." Ujarnya, dingin.
Tanpa banyak bicara, Elvano meraih tangan Anta dan menariknya pelan. Perbuatan Elvano sontak membuat Devita, Haris dan Bi Ijah tersenyum. Tika dan suaminya pun ikut tersenyum melihatnya. Begitu juga Dinda dan Fahri yang tak sengaja melihat mereka.
"M-Mas," Anta tidak yakin akan berdansa. Ingin terlepas, namun genggaman Elvano terlalu erat.
"Ikut saja."
Deg...
Tubuh Anta menegang saat Elvano melingkarkan tangan di pinggangnya dan menariknya mendekat. Mengikis jarak diantara mereka.
"Mas, aku nggak bisa dansa."
"Saya tahu, kamu pernah belajar waktu SMA. Jangan bohongi saya."
"Bagaimana Mas tahu?"
"Bukan urusan kamu."
"Tapi, aku sudah lupa."
"Ikuti saja gerakan saya." Balas Elvano.
Anta tidak bisa berbuat apa-apa. Yang ia lakukan hanya menuruti Elvano dan mengikuti setiap gerak Elvano. Namun, ia terus menghindar bertemu pandang dengan Elvano. Sedangkan Elvano, pandangannya tak sedetikpun terlepas dari Anta. Tatapannya terus terpaku pada gadis itu. Jantung Elvano berpacu cepat begitupun dengan Anta. Sebelumnya, mereka belum pernah berada di jarak seintim ini.
Suasana hati yang berdebar menyelimuti Anta dan Elvano. Namun, satu kalimat yang keluar dari mulut Elvano mengubahnya.
"Kamu cantik, Violla."
Deg...
Gerakan Anta langsung terhenti. Perlahan tangannya ia lepaskan dari Elvano. Hal itu memicu Elvano ikut berhenti dengan kening yang mengerut.
Glek...
Elvano meneguk kasar salivanya. Ia tahu sekarang. Ia melakukan kesalahan. "Anta saya..."
"Aku mau ke toilet, Mas."
Tanpa mengangkat wajahnya menatap Elvano, Anta meninggalkan laki-laki itu begitu saja. Bukannya menuju toilet, Anta berjalan keluar rumah melalui pintu samping. Langkahnya membawanya ke halaman belakang rumah. Sialnya, ia malah bertemu Selly dan dua wanita sebelum tiba di halaman belakang.
"Wahh... Menantu kesayangan tante Devita." Seru Selly sambil tersenyum jahat. Wanita itu dan kedua temannya menghalangi jalan Anta.
"Maaf, mbak. Biarkan saya jalan."
"Ck. Ck. Ck. Menantu tante Devita ternyata berani juga ya." Ucap Selly. "Dikasi pelajaran, boleh nih."
"Kasi aja, Sell." Ujar kedua teman Selly.
Anta meneguk ludahnya saat melihat ekspresi wajah Selly yang berubah menjadi dingin menakutkan.
"Mbak..."
Byur...
Selly menyiramkan minuman yang dipegangnya pada dress yang Anta kenakan. Bukan hanya Selly, kedua temannya juga ikut menyiram Anta. Kemudian terdengar tawa dari ketiga wanita itu.
"Rasakan! Ayo, kita pergi!"
Selly dan kedua temannya berlalu dari hadapan Anta. Gadis itu menatap dress yang ia kenakan kini basah dari bagian dada hingga perut. Bahkan wajahnya sedikit terkena cipratan.
Tes...
Setetes air mata lolos dari matanya. Ia sakit saat diperlakukan seperti ini. Tapi, ia semakin merasa sakit saat mengingat Elvano yang menyebut nama perempuan lain ketika bersamanya.
Dengan langkah gontai, Anta menuju halaman belakang. Duduk di kursi yang tersedia, Anta menarik nafasnya dan mengusap air matanya yang tak berhenti mengalir. Ia sadar sekarang, ia memiliki perasaan lebih pada Elvano. Ia mencintai lelaki itu.
"Seharusnya kamu menjaga hatimu, Anta. Harapan mu terlalu tinggi. Diantara kamu dan Elvano, hanya ada kesepakatan. Bukan cinta." Gumam Anta.