
Anta menatap seisi rumah yang ia tinggalkan selama hampir 6 bulan. Rumah yang penuh dengan kenangan kehangatan keluarga. Bu Devita pernah menawarkan untuk memberikan rumah baru. Namun, diantara mereka bertiga, tidak ada yang mau memiliki rumah baru. Bagi mereka, rumah itu lebih dari cukup. Dan kenangan didalamnya tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Tanpa terasa, air matanya menetes.
"Kak Anta kenapa menangis?"
Secepat mungkin Anta menghapus air matanya, lalu menatap Ricky yang tiba-tiba berdiri disampingnya. Adiknya sudah jauh lebih sehat dari sebelumnya. Anak itu bahkan sudah mulai bersekolah.
Anta tersenyum padanya. "Kakak nggak nangis."
"Ricky lihat air mata Kakak menetes."
Anta mengusap rambut Ricky dengan lembut. "Kakak menangis karena bahagia. Kamu sudah sehat sekarang. Kakak bahagia karena kamu dan Tiara hidup dengan baik disini. Dan Kakak bahagia bisa kembali kesini." Ujar Anta.
Ricky langsung memeluk Anta dengan erat. "Terima kasih, Kak. Ricky sangat bahagia memiliki Kakak seperti Kakak dan Kak Tiara. Terima kasih Kakak sudah berjuang untuk Ricky dan Kak Tiara. Kami bukan kel..."
"Kamu dan Tiara bagian penting dalam hidup Kakak. Kakak akan melakukan apapun untuk kalian. Jadi, jangan berkata yang tidak-tidak lagi. Kakak nggak suka." Ucap Tiara, memotong ucapan Ricky.
"Iya, Kak. Maafin Ricky."
"Iya, Kakak maafin." Balas Anta. Gadis itu melepaskan pelukannya lalu menatap Ricky. "Sekarang, Ricky istirahat, ya?"
"Iya, Kak. Terima kasih makan siangnya. Ricky suka. Masakan Kakak selalu enak." Anak itu mengangkat kedua jempolnya saat mengatakan 'enak'. Setelah itu, ia berjalan ke kamarnya.
Anta terkekeh dibuatnya. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya lalu masuk ke kamarnya.
***
Elvano tiba di rumah tepat pukul 5 sore. Kedatangannya disambut dengan tangisan Evan yang nyaring. Bi Ijah kewalahan untuk menenangkannya.
"Tuan,"
"Kenapa Evan?" Elvano menaruh sembarang tasnya, lalu meraih Evan dari gendongan Bi Ijah.
"Saya juga nggak tahu, tuan. Tuan muda tiba-tiba menangis. Udah saya kasi susu, tapi nggak mau minum. Nggak mau diam juga."
"Cup... Cup... Cup... Evan, diam ya, nak." Elvano mengusap-usap kepala Evan, mencoba menenangkan anak itu.
"Maaaa.... Maaaa..."
"Iya, nak. Ayo, kita istirahat saja ya, di kamar." Elvano membawa Evan menuju kamarnya sambil terus berusaha menenangkan balita tersebut.
Setiba di kamar, Elvano membaringkan Evan di ranjangnya, lalu menepuk-nepuk pelan paha Evan sambil bernyanyi-nyanyi. Usahanya berhasil. Evan diam dan menatap wajah sang Papa. Elvano terus melanjutkan menyanyi dan menepuk pelan paha Evan hingga anak itu tertidur.
"Huhh, butuh perjuangan buat Evan tidur. Kalau ada Anta, sudah pasti sangat mudah." Gumamnya.
Elvano meletakkan guling di sisi kiri dan kanan Evan, lalu bergegas ke kamar mandi. Tubuhnya sudah sangat gerah dan lengket.
Setelah membersihkan dirinya, Elvano mengenakan pakainnya dan berbaring bersama Evan. Tangannya memeluk tubuh mungil itu, lalu mengecup keningnya.
"Papa sayang sama Evan." Gumamnya.
"Evan tahu, semalam, Mama sama Papa tidur berpelukan seperti ini. Papa senang banget. Evan bantuin Papa ya, buat makin dekat sama Mama." Ujar Elvano. Laki-laki itu kemudian memejamkam matanya, ikut tertidur bersama Evan.
Hampir dua jam tertidur, Evan bangun dan langsung menangis. Tangisan anak itu mengusik tidur Elvano. Secepat mungkin dia bangun dan berusaha menenangkan Evan.
"Anak Papa, bangun-bangun udah nangis aja. Ayo, Papa gendong." Elvano segera meraih Evan dan menggendongnya. Lelaki itu membawa Evan keluar kamar dan masuk ke kamar Evan. Ia mencoba menghentikan tangisan Evan. Kali ini dengan menggunakan rekaman suara Anta. Usahanya berhasil.
"Sekarang, Evan mandi ya? Papa yang mandiin." Elvano bergegas ke kamar mandi dan memandikan Evan. Rekaman suara Anta masih terus diputarnya.
Seandainya Anta disini, akan sangat menyenangkan memandikan Evan sama-sama.
Elvano terus membasuh Evan. Setelah anak itu bersih, keduanya keluar. Elvano memakaikan pakaian Evan. Namun, pikirannya terus tertuju pada Anta.
Malam ini aku tidur sendiri. Ck. Pasti nggak bisa tidur.
Elvano menatap Evan yang sedang memegang handphonenya. Tiba-tiba terlintas di otaknya sebuah ide. Ia tersenyum dan mengusap rambut Evan.
"Evan, Evan mau kan bantuin Papa kan?" Anak itu tak peduli dengan Elvano. Fokusnya hanya pada handphone Elvano yang masih memutar rekaman suara Anta.
"Evan diam, Papa anggap Evan mau bantu Papa." Ujar Elvano.
Maafin Papa Evan manfaatin kamu. Tapi ini demi kebaikan kita berdua biar bisa ketemu Mama.
Elvano merampas handphonenya dari genggaman Evan hingga balita mungil itu mendongak menatapnya. "Papa pinjam." Ujarnya.
Elvano mematikan rekaman dan beralih menelpon Mamanya. Sontak, tindakan Elvano membuat Evan kembali menangis.
"Hallo."
"Hallo Ma."
"Oeeekk... Oeeekk... Oeeekk..."
Elvano menoleh pada putranya. Jujur, dia tidak ingin membuat Evan menangis. Tapi, demi kelancaran rencananya, Evan harus menangis.
"Evan mau ketemu Anta, Ma. Elvano minta alamat rumah Anta, Ma."
"Untuk apa kamu minta alamat rumah Anta? Mama heran, kamu suaminya masa nggak tahu alamat rumah istri sendiri?"
"Ma, jangan diperpanjang, Ma. Mama nggak kasian Evan menangis terus?"
"Oeeekk... Oeeekk... Oeeekk..."
"Kamu tenangin Evan, Vano."
"Nggak bisa, Ma. Vano udah usaha." Ucapnya. Padahal dia udah berhasil tadi. "Udah deh, Ma. Dikasi aja alamat rumahnya Anta. Mama mau cucu Mama nangis terus sampai pagi?"
"Kamu mau ke rumah Anta malam-malam begini?"
"Masih jam 7, Ma. Belum malam banget." Ujarnya. "Ayo dong, Ma. Kasian Evan nya."
"Oeeekk... Oeeekk... Oeeekk..."
Devita terdiam. Kasian juga cucunya. Hatinya semakin goyah saat mendengar tangisan Evan yang semakin keras.
"Ya udah. Mama kirim alamat rumah Anta."
"Benaran, Ma?"
"Iya."
Yes
"Makasih, Ma. Vano tutup dulu."
"Hati-hati kalau kalian jadi berangkat."
"Iya, Ma."
Elvano memutuskan panggilan dan langsung menggendong Evan. Ia mengecup pipi anak itu berkali-kali. "Kita berhasil, Evan." Ujarnya. Namun, Evan masih tetap menangis. Notifikasi pesan dari Mamanya masuk, membuat Elvano tersenyum senang.
"Biii...!" Elvano berteriak memanggil Bi Ijah. Wanita paruh baya itu dengan cepat menemuinya.
"Ada apa, tuan?"
"Siapkan baju Evan. Aku akan mengantarnya ke rumah Anta."
Bi Ijah menatap Evan yang masih menangis. Kasian juga anak itu jika terus menangis seperti ini. "Iya, tuan."
Bi Ijah segera memasukkan baju-baju Evan. Setelah selesai, ia mendekati Elvano.
"Sudah tuan."
"Bagus."
"Tuan nggak bawa baju juga?" Tanya Bi Ijah.
Elvano terdiam. Bi Ijah ada benarnya. Laki-laki itu menyerahkan Evan pada Bi Ijah. "Gendong Evan sebentar. Saya mau ambil baju saya." Ujarnya, kemudian berlalu cepat ke kamarnya. Tak butuh waktu lama, Elvano kembali dengan ransel kecilnya.
"Ayo, Bi! Antar Evan ke mobil!" Kata Elvano. Dia meraih tas Evan dan membawanya keluar, di ikuti Bi Ijah yang menggendong Evan.
"Makan malamnya udah disiap semua, Bi?" Elvano memasukkan barang-barang nya di bagasi mobil.
"Sudah, tuan."
"Bawa pulang ke rumah Bibi saja makanannya."
"Iya, tuan."
Elvano meraih Evan dan mendudukan anak itu di mobil. Sebelumnya ia memasang kursi khusus untuk balita di jok belakang, lalu mendudukkan Evan. Setelah memastikan semuanya aman, Elvano menutup pintu mobil.
"Saya pergi dulu." Pamitnya pada Bi Ijah.
"Hati-hati, tuan." Balas Bi Ijah.
Elvano segera melajukan mobilnya keluar dari gerbang rumah. Ia melirik Evan yang kini duduk diam sambil memegang handphone yang kembali ia putarkan rekaman suara Anta. Perjalanan kali ini, akan memakan waktu sekitar 2 jam lebih. Semoga putranya tidak masuk angin karena melakukan perjalanan malam hari.