Annanta

Annanta
Truth or Dare



Elvano menatap Anta yang tertidur miring dengan tangan yang terus memeluk Evan. Anta benar-benar terlelap, entah karena takut dengan ucapannya atau memang karena kelelahan.


Elvano mengusap pelan rambut Anta. Ia menunduk dan mengecup kening istrinya. Setelah itu, ia bergegas berbaring di bagian ranjang yang kosong, tepatnya di sebelah kanan Evan.


"Papa sayang Evan. Papa juga sayang Mama Anta. Kita selamanya akan terus bersama seperti ini," ucap Elvano lalu memejamkan matanya.


Jam 7 malam, semuanya sudah bersiap untuk melakukan pesta kecil-kecilan. Dinda dan Anta yang bertugas memanggang daging. Sementara para orang tua mengobrol sekaligus menjaga cucu mereka. Evan cukup anteng saat bermain bersama Ara di temani Bi Ijah dan para Kakek dan Nenek. Sehingga Anta dan Dinda bisa leluasa menyelesaikan pekerjaan mereka.


"Kamu bisa panggang nggak? Bisa-bisa gosong lagi dagingnya nanti." Selly menatap sinis Anta. Suaranya ketus membuat Dinda yang berdiri di sebelah Anta merasa kesal.


"Lebih baik Anta, bisa bantu. Kamu? Tahunya nyusahin saja!" ucap Dinda tak kalah ketus.


"Dinda, dia iparmu!" Tommy sedikit tidak suka saat istrinya kasari seperti itu.


"Nggak perlu diingatkan, Tom. Aku nggak akan lupa kalau Selly iparku," ucap Dinda. "Ayo Anta, lanjutkan saja pekerjaan kita."


"Iya, mbak." Anta tersenyum pada Dinda.


Dika datang sambil membawa piring kosong yang akan diisi daging matang yang dipanggang Anta dan Dinda. Laki-laki itu menatap Selly yang berdiri di dekat Anta.


"Ngapain Kak Selly disini? Nggak takut tangannya kebakar?" ucap Dika dengan wajah sok polosnya. Membuat Dinda dan Anta mengulum senyum.


"Salah aku disini? Aku juga mau belajar masak-masak begini." Selly menatap Dika sambil tersenyum manis. Dia selalu seperti itu jika berhadapan dengan Dika dan Elvano. Tapi, tidak pada Dinda. Tommy pun tidak masalah karena Selly selalu mengatakan, "Dika dan Elvano adalah orang rumah. Jadi, saat mendapat dukungan dari mereka, posisi Selly akan kuat. Sementara Dinda, dia sudah menikah dan menjadi orang luar. Nggak ada hak dia untuk ikut campur." itu lah yang Tommy pegang.


"Kalau mbak belajar masak-masak, bisa-bisa Om Haris bangunin vila baru," celetuk Dika.


"Kenapa?"


"Karena vila ini terbakar."


Pfftt... Dinda dan Anta hampir saja melepaskan tawa mereka. Namun sebisa mungkin mereka menahannya. Tapi, Dinda tidak sekuat Anta. Dia tertawa lepas.


"Hahaha... Ada-ada saja kamu, Dik." Dinda menepuk pelan pundak adiknya. "Tapi... kamu benar juga. Bisa-bisa vila ini kebakaran karena ulah dia."


Selly cemberut sambil menatap Dinda yang tertawa dan Dika yang mulai terkekeh. Tatapannya berubah melotot saat menatap Anta.


"Kalian ngeselin!" Selly menghentakkan kakinya lalu menghampiri suaminya. Ia memeluk Tommy erat sambil mengerucutkan bibirnya.


"Idih, bibir kayak bebek gitu sok-sok an di monyong-monyongin. Semoga monyong terus, nggak berubah kayak semula."


"Mbak, jangan gitu ah!" tegur Anta dengan suaranya yang lembut.


"Dengar Kak, dinasihatin ipar. Jangan julid terus sama orang," celetuk Dika.


"Heleh, kayak kamu enggak aja."


"Hehehe... Sebelas duabelas lah kita berdua."


Kedua kakak dan adik itu terkekeh, dan kekehan mereka menular pada Anta.


Elvano dan Fahri yang baru datang, kebingungan melihat ketiga orang itu terkekeh. Mereka kemudian melihat Tommy yang sedang menenangkan istrinya, lalu melihat kembali ke arah Anta, Dinda dan Dika. Mereka bisa menebak apa yang terjadi sebenarnya.


Fahri tersebyum. Pasti istrinya sudah melakukan sesuatu pada Selly. Jika bukan istrinya, sudah pasti adik iparnya, Dika.


Berbeda dengan Fahri yang tersenyum senang, Elvano malah diam dengan raut wajah dingin. Ia tidak suka melihat Anta tertawa karena Dika. Dia cemburu.


"Ayo kesana!" ajakan Fahri hanya dibalas anggukkan Elvano. Laki-laki itu mendekat, tapi bukan ke arah Anta. Ia berbelok ke arah Selly dan suaminya. Ia duduk, namun matanya terus fokus menatap Anta yang masih tertawa bersama Dinda, Fahri dan Dika.


***


Anta baru saja kembali dari mengantar Evan yang sudah tertidur ke kamar Haris dan Devita. Dua orang tua itu ingin sang cucu tidur bersama mereka. Sebenarnya, Anta sedikit keberatan jika Evan tidur bersama mertuanya. Mengingat hampir seminggu lebih ia pisah ranjang dengan Elvano, dia jadi canggung jika kembali tidur berdua saja bersama Elvano. Tapi, dia tidak bisa menolak permintaan mertuanya.


"Udah tidur, Ta?" tanya Dinda saat Anta tiba dan duduk di sebelahnya.


"Sudah, mbak."


"Heran aku sama Evan. Bisa-bisanya nyaman sama perempuan kayak kamu. Jangan-jangan kamu pelet lagi anak itu!" cetus Selly sembarangan.


"Pelet, pelet. Emang masih jaman kayak gituan?" kesal Dika.


"Siapa tahu kan? Perempuan kam—"


"Kalau nggak ada hal yang dilakukan, lebih baik kita istirahat. Ini sudah hampir jam 12 belas," potong Elvano. Dia benar-benar tidak semangat untuk melanjutkannya lagi. Dia akui cemburu saat melihat Anta tertawa karena lelucon yang Dika lontarkan.


"Apaan sih? Masih hampir, belum juga jam dua belas," celetuk Dinda.


"Dinda benar. Kita nikmati hari bebas tanpa pekerjaan ini," sahut Fahri.


"Aku juga setuju. Jarang sekali kita kumpul-kumpul begini." Tommy menatap Elvano, lalu melirik Anta. Sejak tiba di vila tadi, dia sering mencuri pandang menatap Anta. Dia pandai menyembunyikan sikapnya itu saat bersama istrinya Selly.


"Sayang, kamu minum minuman se—"


"Sttt... jangan main tuduh dulu. Botol ini aku bawa dari rumah. Aku juga nggak minum minuman kayak gitu. Ini juga bukan botol minuman itu kok." Fahri bernafas lega mendengar penjelasan istrinya.


"Lalu?" Elvano mengangkat sebelah alisnya, meminta penjelasan lebih dari Dinda.


"Hehehe... Aku mau kita main permainan ToD."


"Ya udah. Siapa takut?" cetus Dika.


"Aku juga nggak takut," sahut Fahri.


"Kita juga," jawab Selly dan Tommy bersamaan.


"Elvano?"


"Anta ikut, aku ikut!" jawab Elvano tenang. Dinda tersenyum mendengarnya. Tiba-tiba saja ia senang mendengar jawaban Elvano.


Dinda menoleh pada Anta. "Bagaimana, Anta?"


Anta terdiam. Dia bukannya tidak tahu permainan itu. Ia pernah mendengar dan melihat beberapa anak muda memainkannya. Yang ia takutkan adalah pertanyaan atau tantangan yang akan ia terima.


"Anta?"


"Kalau aku nggak ikut main, boleh nggak?"


"Nggak boleh!!" Dinda dan Selly menjawab bersamaan. Ini kali pertama keduanya kompak. Tapi hanya beberapa detik. Keduanya lalu saling melempar tatapan sinis, kemudian menatap Anta.


"Nggak boleh nggak ikut! Harus ikut main! Enak aja kamu. Mau menghindar dari kita?" kesal Selly.


"Kamu nggak boleh nggak ikut. Itu namanya nggak adil."


Anta menarik nafasnya, lalu mengangguk. "Ya udah, Anta ikut main."


Dinda tersenyum senang, namun Selly tersenyum jahat. Ia sudah menyiapkan pertanyaan-pertanyaan dan tantangan untuk Anta.


"Sekarang, aku mulai putar botolnya," ucap Dinda dengan perasaan senang.


Botol itu berputar dan berhenti di depan Dika. Laki-laki itu melotot ke arah Kakaknya yang memutar botol tersebut.


"Jangan melototi istriku, Dika!" peringat Fahri.


"Iya, Bang." Dika berwajah lesu.


"Aku yang menanyakannya?" ucap Elvano. Dika meneguk ludah. Pasti Elvano akan sangat menjengkelkan.


"Truth or Dare?"


Dika terdiam sejenak lalu menjawab sambil menatap mata Elvano. "Aku pilih Dare."


"Okey, dengarkan aku baik-baik. Berjanjilah di depan mereka semua, kalau kamu nggak akan mendekati Anta dengan maksud lain selain karena dia Kakak iparmu. Jaga jarak dengan Anta kalau nggak ada kepentingan yang benar-benar penting!"


Dika menarik nafasnya. Dia sudah menduganya jika hal seperti ini pasti akan terjadi. Dika bangun dan menatap orang-orang di meja itu.


"Aku berjanji, aku nggak akan mendekati Anta dengan maksud lain selain karena dia Kakak iparku. Aku juga akan jaga jarak dengan Anta kalau nggak ada kepentingan yang benar-benar penting!" ucap Dika, lalu kembali duduk. Tatapan kesalnya ia lemparkan pada Evan.


"Okey, sekarang kita lanjut lagi." Dinda mulai memutar kembali botol tersebut dan ternyata berhenti di depan Elvano.


Wajah Dinda langsung semringah. Ini yang dia tunggu sejak awal bermain. "Aku yang bertanya," ucap Dinda.


"Hmm." Dehem Elvano.


"Truth or Dare?"


"Dare."


Dinda semakin semringah. Ia benar-benar semangat. Tuhan seperti sedang membuka jalan untuknya dengan Elvano yang memilih tantangan dibandingkan kejujuran.


"Karena kamu udah pilih, jadi nggak boleh tukar lagi."


"Hmm."


"Tantangannya, cium bibir Anta selama sepuluh menit!"


Deg...