Annanta

Annanta
Elvano Sakit



Anta mendorong pelan pintu kamarnya dan masuk. Pandangannya langsung menangkap Elvano yang duduk bersandar di sofa, sambil memejamkan matanya.


"Mas." Anta mencoba membangunkannya dengan cara memanggil. Namun Elvano tak menyahut.


"Ma—"


Bruk...


Elvano langsung menarik tangan Anta hingga gadis itu jatuh ke pangkuannya. Ia memeluk erat pinggang Anta, dan menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Anta.


Anta yang hendak marah terhenti saat merasakan tubuh Elvano yang panas. Ia menoleh dan meletakkan telapak tangannya di kening Elvano.


"Mas, kamu panas." Wajah Anta terlihat khawatir. Ini kali pertama Elvano sakit selama ia menikah dengan laki-laki itu.


"Hmmm." Hanya deheman lemah yang keluar dari mulut laki-laki itu. Pelukannya di pinggang Anta semakin erat.


"Mas, baring aja, ya? Ayo," ajak Anta. Ia melepaskan tangan Elvano yang melingkar di pinggangnya, dan mulai memapah laki-laki itu menuju ranjang.


"Mas tiduran dulu. Aku mau cari obat buat Mas," ucap Anta, hendak beranjak, namun tangannya ditahan Elvano.


"Jangan pergi," ucapnya pelan. Anta menghembuskan nafasnya. Bahkan kulit tangan Elvano juga sangat panas, tidak beda jauh dengan panas di keningnya. Itu membuatnya semakin khawatir.


"Mas, kamu panas banget. Aku harus ambilin obat buat Mas. Sebentar aja."


"Janji nggak lama?"


"Iya, aku nggak lama."


Elvano melepaskan genggamannya dan membiarkan Anta pergi. Gadis itu melangkah cepat menuju dapur, langsung menuju tempat penyimpanan kotak obat dan kotak p3k. Ia dengan cepat meraih kotak obat.


"Nggak ada obat penurun panas," gumamnya. Ia kembali merapihkan kotak obat tersebut dan menyimpannya. Ia lalu membuka kotak p3k dan meraih termometer. Setelah itu, ia kembali ke kamar.


"Mas, ukur suhu Mas dulu, ya."


Elvano tak menjawab atau pun membantah. Ia hanya membuka mulutnya, membiarkan Anta memasukkan ujung termometer ke mulutnya. Setelah menunggu beberapa saat, Anta mengeluarkan benda tersebut.


"40 derajat. Panas sekali.," gumam Anta.


"Mas, aku ke apotek sebentar ya? Obat penurun panasnya nggak ada di kotak obat."


Mendengarnya, Elvano langsung menangkap tangan Anta, dan menahannya. "Nggak usah. Kamu tetap disini saja," seru Elvano lemah.


"Tapi Mas, panas Mas tinggi banget. Aku takut terjadi sesuatu sama Mas."


"Nggak akan terkadi apa-apa. Aku cuman mau dipeluk kamu sekarang."


"Aku kompres ya?" tanya Anta, yang mendapat gelengan dari Elvano.


"Peluk aja udah cukup," ucap Elvano.


Anta menarik nafasnya. Ia membaringkan tubuhnya dan mendekap tubuh Elvano. Ia memeluk erat tubuh suaminya.


"Lebih erat, Ta." Anta semakin mengeratkan pelukannya sesuai permintaan Elvano. Ia turut merasakan suhu tubuh Elvano yang panas. Di tambah lagi, Elvano balas memeluknya.


Laki-laki itu terus merancau tak jelas. Hingga pukul 1 malam, Elvano bisa tertidur dengan sedikit lebih tenang. Anta mengambil kesempatan untuk melepaskan dirinya.


Setelah berhasil, ia mengambil wadah berisi air, juga membawa kain. Ia akan mengompres Elvano. Saat kain basah itu menyentuh jidatnya, Elvano menggeliat.


"Anta..." gumamnya pelan. Ia menyentuh tangan Anta yang menahan kain di keningnya.


"Mas aku kompres ya? Panasnya nggak turun-turun dari tadi. Aku takut, Mas."


Elvano hanya mengangguk membolehkan. Sebenarnya ia tidak begitu suka di kompres saat sakit seperti ini. Tapi, itu tidak masalah jika Anta yang melakukannya. Yang penting, gadis itu tetap berada di dekatnya.


Anta terus begadang hingga memastikan panas Elvano sedikit turun. Ia kembali mengukur suhu tubuh laki-laki itu dan hasilnya membuat ia sedikit bernafas lega. Ia menaiki ranjang dan berbaring di samping Elvano.


"Pantas saja aku ngantuk. Sudah hampir jam 3," gumam Anta. Gadis itu bergeser lebih dekat ke Elvano dan memeluk laki-laki itu.


"Cepat sembuh, Mas." Setelah mengatakan kalimat itu, Anta memejamkan matanya.


***


Pukul 5 pagi, Elvano terbangun. Ia menatap sisi ranjangnya yang kosong. Tidak ada Anta di sampingnya.


"Dimana gadis itu? Kenapa dia bangun jam segini saat tidur hampir jam 3 semalam?" gumam Elvano. Ia tahu jam berapa istrinya itu tertidur semalam. Dia tidak benar-benar tidur, hanya ingin membuat istrinya tidak terlalu khawatir.


"Nggak bisa! Aku harus cari dia," lanjutnya hendak turun dari ranjang. Namun, belum sempat kakinya menyentuh lantai, pintu kamar terbuka.


"Eh, Mas El mau kemana?" Anta berjalan cepat sebari membawa semangkuk bubur. Gadis itu meletkkan bubur tersebut di atas nakas, lalu mendekati Elvano.


"Mas El mau kemana?" Anta mengulangi pertanyaan nya dengan lembut. Ia mengangkat kembali kedua kaki Elvano yang hampir menyentuh lantai. Ia juga membantu Elvano duduk bersandar, lalu menarik selimut menutupi kaki hingga pinggang laki-laki itu.


"Mas El mau kemana, sih? Mas masih sakit lho. Nggak usah kemana-mana, istirahat di kamar dulu," ucap Anta sedikit bernada marah. Namun tangan masih bergerak menyentuh kening dan pipi Elvano.


"Aku mau cari kamu. Aku nggak mau kamu tinggalin sendiri," ucap Elvano sedikit merengek.


"Aku nggak kemana-mana, cuman buatin bubur buat Mas," jawab Anta. "Ayo, makan dulu buburnya." Anta meraih semangkuk bubur tersebut kemudian duduk di sebelah Elvano. Anta mengarahkan sesendok bubur tersebut ke mulut Elvano.


"Pahit, Ta." Elvano sedikit meringis. Ia merasakan bubur yang masuk ke mulutnya itu pahit.


"Dipaksain ya, Mas. Kalau nggak makan kamu bisa makin lemas."


Elvano hanya mengangguk lemah. Ia akan memaksa menghabiskan bubur dalam mangkuk tersebut. Dia tidak ingin mengecewakan istrinya.


Elvano hanya diam dan terus memakan setiap makanan yang Anta suapkan. Matanya tak lepas dari wajah Anta.


"Makasih," ucap Elvano.


"Untuk apa?"


"Sudah merawat aku."


"Ini kewajibanku sebagai istri, Mas. Mas nggak perlu terima kasih."


"Tetap disini, ya?" Anta mengangguk. "Mau peluk," lanjut Elvano ngelunjak.


Anta menatapnya, membuat Elvano berdehem pelan. "Ekhm... kalau nggak mau, nggak apa-apa."


Anta mengulas senyum tipis. "Ayo, aku peluk." Sontak senyum merekah di bibir Elvano. Ia memeluk erat Anta.


"Istirahat ya, sambil tungguin Mama."


Elvano mengangguk. "Kamu tetap disini, kan?"


"Iya."


Anta dan Elvano melepas pelukan mereka. Anta kembali membantu Elvano berbaring. Setelah beberapa saat, terdengar ketukan di pintu kamar. Anta segera membukanya dan mendapati sang Ibu mertua dan seorang dokter.


"Gimana keadaan kamu?" tanya Devita pada putranya. Elvano seperti itu sudah biasa baginya.


"Udah mendingan, Ma."


Devita mengangguk lalu mempersilahkan si dokter untuk memerikasa kondisi Elvano.


"Semalam panasnya sampai 40 derajat, Dok. Terus turun jadi 39 derajat saat hampir jam 3 pagi. Saya belum mengukur suhunya lagi, Dok," jelas Anta dengan raut khawatir.


Dokter tersebut mengangguk sembari memberikan senyum tipis pada Anta. Ia lalu memeriksa Elvano.


"Bagaimana, Dok?" tanya Anta ketika Dokter selesai memeriksa Elvano.


"Tuan Elvano hanya demam biasa dan kelelahan. Suhu tubuh Tuan sudah menurun 38 derajat. Tidak ada hal serius yang perlu dikhawatirkan. Saya akan meresepkan obat."


Anta bernafas lega, begitupun dengan Devita. Wanita itu tidak begitu khawatir pada putranya. Ia sudah tahu, seperti itulah Elvano jika tubuhnya benar-benar kelelahan.


"Kalau begitu, saya permisi dulu, Nyonya, Nyonya besar."


"Iya, terima kasih, Dok." Anta dan Bu Devita berucap bersamaan.


Setelah dokter tersebut pergi, Bu devita mendekati Anta. "Mana resepnya, Ta. Biar Mama fotoin terus kirim ke Dika. Dia juga mau kesini, sekalian biar dia yang beliin."


"Nggak usah, Ma!" wajah Elvano berubah muram. Dika itu menyukai istrinya. Anta juga dekat dengan Dika. Seandainya Dika datang, sudah pasti ia akan melihat pemandangan yang tidak ia sukai.


"Lho? Kenapa?"


"Vano nggak suka ada Dika."


"Astaga, Vano. Kenapa gitu? Dika sepupu kamu lho."


"Vano nggak suka dia dekatin Anta, Ma..." ucap Elvano lirih. Hal itu membuat Devita tersenyum, dan Anta hanya menunduk. Sekarang ia tahu alasan kenapa Elvano selalu dingin dan ketus saat ada Dika.


"Cieee... Vano cemburu." Devita tersenyum menggoda sambil menaik turunkan alisnya.


"Emang Vano cemburu. Anta kan istri Vano."


"Eleh istri!" Devita menatap mengejek pada Elvano. "Anta, urus suami kamu. Mama mau ketemu cucu Mama."


"Iya, Ma." Anta mengangguk.


"Jagain anak Mama. Dia kalau sakit gini, suka manja nggak jelas!" ucap Devita kemudian keluar dari kamar tersebut.


Elvano menatap Anta yang menunduk sambil terkekeh pelan. Hal yang jarang ia lihat. "Kamu ketawain aku?" suara dingin Elvano membuat Anta menghentikan kekehannya.


"E-enggak, Mas."


"Sini!"


"Hah?" Anta mengangkat kepalanya hingga mata mereka bertemu.


"Sini, Anta." Elvano menepuk ranjang sebelahnya.


"I-iya, Mas."


Anta berjalan mendekati ranjang. Dengan ragu, ia menaiki ranjang dan bergeser ke arah Elvano.


"Kok jarak gitu? Sini, dekatan!"


Anta lagi-lagi menurut. Ia semakin mendakatkan dirinya pada Elvano. Saat ia sudah begitu dekat, Elvano langsung memeluk pinggangnya, dan meletakkan kepalanya di paha Anta.


"Kamu jangan keluar kamar," ucapnya pelan. Ia menenggelamkan wajahnya di perut Anta. Anta hanya diam, sedikit merasakan geli di perutnya.


"A-aku nggak akan keluar kamar," jawab Anta.


"Usap-usap kepala ku, sayang," Ucap Elvano parau. Membuat pipi Anta memerah saat mendengar Elvano memanggilnya seperti itu.