
Dua hari setelah rutin meminum obat sesuai yang diresepkan dokter, kondisi Elvano sudah mulai membaik. Anta merasa lega, namun tidak sepenuhnya ia bebas seperti semula. Elvano berubah menjadi sangat lengket padanya.
"Mas, lepasin dulu. Aku belum masak sarapan." Anta berusaha melepaskan pelukan Elvano, membuat lelaki itu semakin erat melingkarkan tangannya di tubuh Anta.
"Biar Bi Ijah saja yang masak sarapan. Aku masih mau peluk kamu." Suara Elvano terdengar serak. Laki-laki itu semakin menyusupkan wajahnya di ceruk leher Anta.
"Mas,"
"Cium dulu, baru aku lepasin kamu."
"Jangan aneh-aneh deh!"
Elvano menjauhkan wajahnya dari ceruk leher Anta dan menatap wajah gadis yang kini ada dalam pelukannya. "Aneh apanya? Minta cium sama istri sendiri salah? Aneh?"
Anta terdiam. Gadis itu membasahi bibirnya dengan mata yang bergerak-gerak menghindari tatapan Elvano.
"Y–ya nggak gitu. Ma-maksud aku, Mas—"
Cup...
Elvano langsung mengecup bibir Anta, membuat ucapan gadis itu seketika berhenti. Ia menatap Elvano dengan pipi yang memerah malu.
"Ma—hmmpphh..."
Elvano kembali mencium bibir Anta saat gadis itu hendak kembali berbicara. Ia bahkan menahan tengkuk Anta dan memperdalam ciumannya. Saat merasakan tidak ada penolakan dari Anta, Elvano memberanikan diri untuk melakukan lebih. Namun, belum sempat ia menjalankan aksinya, pintu kamarnya diketuk.
Tok... Tok... Tok...
"Antaa! Kamu udah bangun, Nak? Evan rewel nggak mau Mama mandiin."
Mendengar suara sang Ibu mertua, Anta langsung mendorong tubuh Elvano hingga ciuman laki-laki itu terhenti.
Ck! Gagal! Bener-bener nih, Mama. Datang di waktu nggak tepat! Batin Elvano.
Anta menetralkan deru nafasnya lalu menjawab sang Mama mertua.
"A-Anta nyusul, Ma. Mama duluan aja. Anta ke kamar mandi sebentar."
"Iya, sayang. Mama tunggu di kamar Evan."
"Iya, Ma."
Anta menghembuskan nafasnya setelah suara Devita tak terdengar. Elvano hanya menatapnya dalam diam. Mood nya tiba-tiba memburuk.
"Mas dengarkan kata Mama?"
"Hmm."
"Kenapa masih peluk? Aku mau ke kamar mandi, terus ke kamar Evan."
"Ya udah. Sana pergi!" kata Elvano acuh. Ia melepas pelukannya dari tubuh Anta. Menarik selimut dan menutupi tubuhnya, lalu berbalik membelakangi Anta.
Anta menarik nafasnya dan menghembuskannya sedikit kasar. Ia tidak tahu lagi, bagaimana menghadapi Elvano dengan perubahan sifatnya yang seperti ini.
"Hari ini Mas nggak ke kantor kan? Kalau Mas mau istirahat, istirahat aja. Nanti setelah sarapannya siap, Anta bangunin." Anta mengusap pelan kepala Elvano lalu beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.
Elvano mendengus pelan mendengarnya. Setelah terdengar pintu kamar mandi tertutup, Elvano membalikan bandannya hingga telentang. Sejenak, ia menatap ke arah pintu kamar mandi, lalu menatap ke langit-langit kamarnya.
"Kenapa sih, mama sama papa nggak bawa Evan sebentar ke rumah? Aku kan lagi sakit, ya Anta harus lebih fokus ke aku dulu. Anta juga. Jadi istri nggak peka. Yang sakit suami, yang diurusi anak," gumam Elvano sembari menekuk wajahnya karena kesal.
Setelah beberapa menit, terdengar decitan pintu kamar mandi yang dibuka Anta. Elvano dengan cepat memejamkan matanya. Meski matanya tertutup, ia bisa merasakan jika Anta berjalan mendekatinya. Dan tak lama, ia merasakan seseorang menaiki ranjang dan mengusap kepalanya.
"Istirahat yang cukup, Mas. Semoga Mas cepat sehat seperti sebelumnya. Aku nggak mau kamu sakit. Aku menyayangimu." Setelah mengucapkannya, Anta turun dari ranjang dan berjalan keluar dari kamar tersebut.
Elvano segera membuka mata saat mendengar pintu tertutup. Ia bangun dan duduk sembari menatap ke arah pintu.
"Nggak apa-apa nggak dicium. Dengar kata 'aku menyangimu' sudah sangat membuatku senang," gumam Elvano dengan senyum merekah.
***
Devita, Haris, Anta dan Evan sudah berada di meja makan. Elvano sudah dipanggil Bi Ijah beberapa kali. Tapi, laki-laki itu tak kunjung datang.
Notifikasi di handphone Devita membuat wanita itu segera meraihnya. Ia menghidupkan handphonenya lalu membaca pesan yang Elvano kirimkan.
Elvano
Ma, bantu Vano sehari, Ma. Bawa Evan jalan-jalan kemana kek, biar Vano bisa berdua sama Anta. Vano kan sakit, Ma. Harusnya perhatian Anta banyakan ke Vano.
"Ada apa, Ma?" tanya Haris.
"Hah? Nggak apa-apa, cuman teman Mama yang lagi ngelucu. Nanti Mama lihatin pesannya ke papa." Haris tersenyum lalu mengusap lembut rambut istrinya.
Anta yang melihatnya juga ikut mengulas senyum. Ia jadi teringat Elvano yang masih istirahat di kamarnya.
"Oh ya, Mama sama Papa duluan saja sarapannya. Anta mau bangunin Mas El dulu."
"Sarapan dulu, sayang. Setelah itu, baru kamu bangunin Vano. Oh ya, Mama sama Papa mau izin bawa Evan jalan-jalan, ya?"
Haris yang sudah mulai fokus pada sarapannya menoleh pada sang istri. Keningnya mengerut mendengar ucapan sang istri. Sebelumnya, ia dan sang istri tidak ada rencana untuk membawa Evan keluar. Namun, laki-laki itu hanya diam. Ia yakin, istrinya pasti menyembunyikan atau merencanakan sesuatu.
"Iya, udah lama juga kita nggak jalan-jalan sama Evan."
"Mama sama Papa nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa, sayang." Devita tersenyum pada menantunya.
"Maaf, Anta jadi repotin Mama sama Papa."
"Kamu ini, Nak. Cucu sendiri, kenapa merasa direpotin? Papa sama Mama malah senang bisa punya waktu sama Evan," ucap Haris.
"Iya, Pa, Ma."
"Ya udah, ayo lanjutin sarapannya. Ayo Bi, sarapan."
"Silakan nyonya. Saya sarapan di dapur saja." Devita hanya mengangguk. Itulah Bi Ijah. Setiap diajak sarapan atau makan bersama, dia selalu menolak. Bahakan Devita pernah memaksanya untuk makan siang bersama, namun wanita paruh baya itu selalu bisa menolaknya.
Setelah selesai sarapan, Anta mengantar Papa dan Mama mertuanya juga Evan ke depan. Hingga mobil yang mereka tumpangi menjauh, Anta kembali masuk dan menuju kamar Elvano.
"Mas, ayo bangun." Anta dengan lembut membangunkan suaminya. Tangannya bergerak mengusap-usap kepala Elvano.
"Mas."
"Hmmm." Elvano memiringkan tubuhnya dan langsung memeluk pinggang Anta, kemudian menenggelamkan wajahnya di perut Anta.
"Mas, bangun dulu. Mas belum sarapan."
"Aku nggak mau sarapan," jawab Elvano dengan suara seraknya.
"Kok nggak mau sarapan? Bangun ya? Mandi terus sarapan. Atau, Mas mau Anta bawain sarapannya kesini?"
"Aku mau mandi."
" Ya udah. Ayo bangun, terus mandi."
"Mau kamu yang mandiin."
Deg...
Anta meneguk kasar salivanya. Manjanya Elvano yang seperti apalagi ini? Ia akui, Elvano semakin berubah sekarang. Hubungan mereka juga semakin membaik. Tapi, jujur saja, dia belum siap dihadapkan dengan hal-hal yang lebih dari sekedar ciuman, termasuk memandikan Elvano.
"Eeemm... Mas kan udah sembuh. Jadi, Mas bisakan mandi sendiri? Kemarin-kemarin pas sakit, Mas sendiri yang elapin tubuh Mas. Masa sekarang udah sembuh, Anta yang mandiin?" ucap Anta dengan suara yang lembut.
Elvano paham ucapan Anta yang secara tidak langsung menolak permintaannya. Namun, bukan Elvano jika ia menyerah begitu saja. Laki-laki itu mengeratkan pelukannya, dan semakin menyusupkan kepalanya di perut Anta. Ia bahkan memberi kecupan-kecupan di perut yang terhalang baju itu. Membuat Anta menahan geli.
"Mas."
"Aku nggak mau mandi kalau kamu nggak mandiin!" putus Elvano.
Anta terdiam. Bagaimana dia bisa membujuk Elvano? Selama beberapa hari ini, Elvano menjadi sangat keras kepala. Hingga beberapa saat kemudian, ia mendapatkan sebuah ide.
"Mas."
"Nggak usah bujuk aku."
"Ya udah kalau Mas nggak mau. Karena Mas nggak mau mandi atau sarapan, Mas istirahat lagi aja. Anta mau bantuin Bi Ijah bersih-bersih, mumpung Evan lagi jalan-jalan sama Mama Papa."
Mendengar ucapan Anta yang hendak meninggalkannya sendiri di kamar, Elvano dengan cepat menggeleng. "Nggak! Kamu nggak boleh pergi!" tegasnya.
"Lho? Kenapa?"
"Ya udah, aku mandi sendiri. Tapi—"
"Aku bantu pilihin baju, dan Mas pakai sendiri," potong Anta cepat. Ia tahu, Elvano pasti memintanya memakaikan baju untuknya. Sebelum itu terjadi, Anta akan menghindariya terlebih dahulu.