Annanta

Annanta
Extra Part 2



Sinar matahari yang masuk melalui celah-celah gorden kamar tak membuat Elvano terusik. Laki-laki itu masih setia memejamkan matanya. Bahkan suara Anta yang memanggilnya pun tak membuat ia terbangun.


"Mas," panggil Anta sambil menepuk-nepuk pipinya.


"Mas, ayo bangun. Sarapan dulu."


"Emm...." Elvano mengeliat pelan. Dengan mata yang masih terpejam, ia meraih tangan Anta dan mengecupnya. Setelah itu, ia kembali tertidur.


"Mas, ayo bangun. Kita kan mau ke dokter kandungan hari ini."


"Eeemm... iya sayang, Mas bangun," jawabnya serak. Elvano perlahan membuka matanya dan memposisikan tubuhnya duduk. "Udah jam berapa?"


"Jam 7."


Elvano mengangguk. "Mas mau mandi dulu, baru sarapan."


"Ya udah. Aku tunggu di meja makan ya."


"Nggak. Kamu disini aja. Aku khawatir kamu naik turun tangga sendirian. Kamu udah hamil besar sayang," ucap Elvano. Tangannya terulur mengusap perut sang istri yang sekarang berusia 6 bulan.


"Nggak apa-apa, Mas. Aku hati-hati kok."


"Nggak! Pokoknya nggak boleh! Kamu tunggu aku selesai mandi, kita ke bawah sama-sama. Kamu—tunggu! Siapa yang masak sarapan? Bukannya bi Ijah nggak masuk hari ini?"


"Aku yang masak Mas."


"Kamu?" Anta mengangguk. "Kenapa kamu masak? Gimana kalau kamu kecapean?"


"Nggak akan kecapean Mas. Aku senang kok masak buat kita semua."


"Nggak. Nggak bener ini. Seharusnya kamu pesen aja. Atau kamu bangunin aku supaya aku bisa masakin kalian."


"Aku nggak kepikiran buat pesen. Dan untuk bangunin kamu buat masakin, nggak deh Mas. Aku nggak mau dapur berantakan lagi kayak waktu itu," ucap Anta.


Elvano yang mendengarnya menyengir tak berdosa. Dia kembali teringat bagaimana situasi malam itu.


Flashback on


Karena terlalu lama menunggu Elvano yang membeli soto ayam untuknya, Anta pun tak sengaja tertidur. Deru mobil Elvano yang memasuki garasi tak terdengar olehnya.


Elvano yang sudah begitu semangat untuk memasak soto ayam pun segera menuju kamar untuk memberitahu sang istri agar bersabar. Namun, saat tiba di kamar, ia mendapati Anta sudah terlelap.


"Aku akan memasak soto ayam buat kamu. Nanti aku bangunkan kalau udah jadi sotonya."


Elvano mengecup kening Anta kemudian beranjak dari kamar menuju dapur.


Elvano menatap semua peralatan dapur. Sejak kecil hingga sekarang, ini adalah pertama kalinya Elvano memasak. Ia berdoa semoga hasilnya tidak mengecewakan.


Elvano mulai membuka aplikasi youtube dan mengikuti semua instruksi cara membuat soto ayam. Setelah begitu lama bagi Elvano berkutat di dapur, akhirnya soto ayam buatannya itu jadi. Segera ia menyajikannya dan membawanya ke kamar.


"Sayang, Anta. Ayo, bangun. Soto ayamnya udah jadi." Elvano mengusap-usap pipi sang istri, membuat Anta mulai terusik.


"Mas...."


"Ayo, bangun. Soto nya udah Mas siapin."


Anta segera bangun. Mengucek pelan matanya, kemudian menatap dua mangkuk soto ayam yang terhidang di nakas.


"Kok dua?" tanya Anta, melihat dua mangkuk berisi soto ayam.


"Buat kamu satu, buat Mas satu."


Anta mengangguk. "Beli dimana?"


"Masak sendiri."


"Beneran?"


"Iya sayang. Cobain deh." Elvano meraih semangkuk soto ayam tersebut dan menyuapi Anta.


Dengan sedikit ragu, Anta menerima suapan Elvano. Dan ternyata, soto yang kata Elvano buatan sendiri itu rasanya enak.


"Gimana?"


"Enak, Mas."


Senyum mengembang di bibir Elvano ketika mendengar pujian yang Anta lontarkan. Rasanya senang sekali dipuji istri sendiri.


"Ayo, dimakan lagi." Elvano kembali menyodorkan sesendok ke mulut Anta.


"Aku sendiri aja Mas. Mas makan aja. Kasian Mas tadi belum sempat makan."


"Nggak apa-apa, Mas mau suapin kamu."


Anta tersenyum mendengarnya. Elvano pun terus menyuapi sang istri. Setelah selesai, ia menghabiskan soto ayam miliknya.


***


Pagi hari setelah bangun dan cuci muka, Anta langsung menuju ke dapur untuk memasak sarapan bersama Bi Ijah. Betapa terkejutnya Anta saat tiba di dapur. Dapur berantakan layaknya kapal pecah.


"Bibi, ini dapurnya kenapa—astaga, aku tahu siapa yang buat dapur kayak gini."


"Siapa Nak?"


"Mas El, Bi. Semalam Mas El masakin soto ayam buat aku."


Bi Ijah menahan senyum mendengar ucapan Anta. Elvano memasak? Ia baru mendengarnya sekarang. Selama ia bekerja, tidak pernah ia melihat Elvano repot-repot memasak seperti ini.


"Bibi kenapa senyum?"


"Hah? Enggak Nak. Bibi hanya berpikir saja, sayangnya tuan sama Nak Anta udah di level luar biasa. Tuan nggak mau repot-repot masak kayak gini. Tapi, demi Nak Anta tuan rela repot-repot masak."


"Hehe... Bibi bisa aja. Ya udah, ayo aku bantuin Bibi bersih-bersih."


"Eh nggak usah. Nak Anta duduk aja. Biar Bibi aja yang beresin semua ini."


"Enggak, Bi. Aku tetap mau bantuin."


"Aku juga mau bantuin." Tiara yang baru saja datang menyahut. Anta dan Tiara, tentu saja Bi Ijah mengalah. Dan akhirnya mereka bertiga sama-sama membersihkan dapur yang kacau karena ulah Elvano.


Flashback off


Elvano beranjak dari ranjang dan mencup kening Anta. Ia kemudian berlalu ke kamar mandi. Sementara Anta, ia tetap duduk diam di pinggir ranjang. Ia tidak akan ke ruang makan lebih dulu sesuai perintah Elvano.


Setelah beberapa saat, Elvano keluar dari kamar mandi dan mengenakan bajunya. Ia bersama Anta kemudian menuju ruang makan.


***


Memasuki rumah sakit, banyak pasang mata yang menatap Anta dan Elvano. Kehadiran mereka terutama Elvano membuat banyak mata para wanita betah menatap keduanya. Sampai-sampai Anta merasa begitu jengkel.


"Ayo, duduk." Elvano dengan lembut mendudukkan Anta di kursi tunggu depan ruangan pemeriksaan kandungan dan ibu hamil.


Anta menurut, namun wajahnya terlihat cemberut. Elvano yang melihatnya mengerutkan kening.


"Ada apa? Kenapa cemberut?"


"Perempuan-perempuan disini terus lihatin kamu. Aku nggak suka," ucap Anta, masih dengan wajah cemberutnya.


Elvano tidak begitu memperhatikan. Tapi, setelah mendengar ucapan Anta, laki-laki itu mengarahkan pandangannya menatap setiap wanita yang ada di sekitar mereka.


"Ihh... Kenapa Mas malah lihatin mereka?" kesal Anta. Ia memalingkan wajah Elvano hingga menatapnya.


"Kamu cemburu?" tanya Elvano sambil menahan senyum.


"Iya cemburu," sahut Anta. Senyum Elvano melebar saat Anta mengakui dirinya cemburu.


"Ya Tuhan, ganteng banget. Apalagi senyum begitu."


"Iya, ganteng bangeet."


Kalimat pujian yang diucapkan kedua suster yang lewat membuat Anta semakin kesal. Wanita hamil itu berusaha menahan amarahnya agar tidak meledak.


"Udah, mereka cuman ngomong. Kamu tahu kan, aku akan setia sama kamu. Nggak akan ada yang gantiin kamu di hati aku," ucap Elvano sambil menggenggam lembut tangan Anta.


"Manis sekali. Suaminya mbak?" Tiba-tiba suara seorang wanita hamil yang duduk tepat di samping Anta terdengar. Wanita dengan usia sekitar 35 tahunan itu mengusap perutnya yang lebih besar dari Anta, sambil menatap Anta dan Elvano. Senyuman juga terus terukir di bibir wanita itu.


"Iya, Bu. Ini suami saya."


"Suaminya ganteng."


"Makasih, Bu," sahut Anta sambil tersenyum pada si Ibu.


"Nama Masnya siapa?"


"Mas El—"


"Ekhm! Sayang, kata mama pulang nanti mampir bentar di butik tante Tika. Ambilin baju pesanan Mama." Elvano dengan cepat memotong ucapan Anta. Dia tidak suka dengan wanita hamil yang sedang berbicara dengan istrinya itu. Ia merasakan bau-bau tidak beres dari wanita itu.


"Iya, nanti kita mampir. Tapi, tumben ya diambil di butik. Biasanya karyawan tante Tika yang anterin. Atau enggak, mbak Dinda yang datang."


"Nggak tahu." Elvano mengedikkan bahunya. Tangannya masih terus menggenggam tangan Anta.


"Namanya Mas El ya, mbak?" Wanita hamil itu masih belum berhenti berbicara dengan Anta. Sepertinya dia benar-benar tertarik dengan suami Anta.


"Bukan! Ibu lebih baik fokus, dengerin suster panggil giliran selanjutnya." Elvano berkata dengan sedikit nada jengkel.


"Walaupun saya ngomong, tapi telinga saya dengerin, Mas."


"Udah sih, Mas. Orang cuman ngomong kok," ucap Anta. Wanita itu kemudian tersenyum pada si Ibu. "Maaf ya, Bu. Suami saya emang sedikit sensitif orangnya," tutur Anta asal. Elvano hanya diam.


"Nggak apa-apa mbak. Ngomong-ngomong hasil USG bulan lalu, anak saya laki-laki. Boleh nggak Mas nya pegangin perut saya? Siapa tahu ketularan gantengnya."


Tuh kan. Apa yang Elvano khawatirkan benar. Ada bau-bau tidak beres dari Ibu ini, dan ternyata benar terbukti. Ingin sekali ia berteriak marah pada wanita itu. Tapi, dia masih ingat jika yang ia hadapi sekarang adalah wanita hamil.


"Atas nama Nyonya Anta, silakan masuk!" Suara suster terdengar membuat Elvano menghembuskan nafas lega. Ia tidak perlu mencari alasan untuk menghindari permintaan aneh wanita itu. Terlebih lagi, gelagat Anta yang terlihat mengizinkannya untuk melakukan permintaan wanita itu. Ia tidak bisa bayangkan kalau itu terjadi.


Terima kasih Ya Allah, Engkau menyelamatkanku. Batin Elvano.