
Elvano masih terjaga dengan Anta yang terlelap dalam pelukannya. Gadis itu mungkin kelelahan karena terus menangis dan memberontak minta dilepaskan, namun Elvano menulikan pendengarannya dan tetap merengkuh tubuh itu.
"Mulai sekarang, aku akan memperlakukan mu layaknya seorang istri. Aku akan menyayangimu dan terus menjagamu, Anta. Kita mulai semuanya dari awal. Aku, kamu dan Evan. Aku akan berusaha membahagiakan kalian. Aku mencintaimu, Anta."
Elvano mengecup kening Anta sekali lalu ikut memejamkan mata. Berharap saat bangun nanti, Anta memaafkannya dan mau memulai bersama, membangun kembali rumah tangga mereka yang tidak ada peningkatan.
Pukul 5 pagi, Anta terbangun. Ia masih merasakan dekapan Elvano pada tubuhnya. Perlahan, ia mengerjabkan matanya.
"Apa semalaman, aku dan Mas El tidur seperti ini?"
"Iya."
Deg...
Anta terkejut saat Elvano menjawab gumamannya. Ia tidak tahu jika lelaki itu sudah terbangun. Gadis itu mendongak hingga matanya bertemu dengan mata Elvano. Hanya beberapa detik, Anta lalu mengalihkan tatapannya.
"Lepas, Mas!" Anta mencoba mendorong tubuh Elvano menjauh, namun laki-laki itu tidak bergeming sedikit pun.
"Mas!!"
Elvano tak peduli dan malah terkekeh. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Anta. "Gimana tidur mu semalam? Nyenyak?"
"Nggak. Nggak nyenyak sama sekali."
"Benarkah? Aku nggak percaya."
"Terserah Mas percaya atau enggak." Anta kembali mendorong dada Elvano, berusaha melepas diri dari pelukan erat Elvano. Namun, dia kembali gagal.
"Mas!!"
"Iya. Ada apa, hmm??"
Anta menatap tajam lelaki itu, kemudian menggigit lengan Elvano.
"Akkhhh..."
Secepat kilat Anta melepaskan diri saat Elvano melonggarkan pelukannya. Ia segera turun dari ranjang dan beranjak ke kamar mandi.
Elvano menatap Anta yang berlari kecil ke kamar mandi. Ringisannya berubah menjadi senyum tipis saat melihat Anta berlari. Terlihat lucu baginya.
"Aku yakin, akan mendapatkan maafmu dan bisa memperbaiki rumah tangga kita," gumam Elvano, kemudian beranjak dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
Sementara di kamar mandi, Anta berdiri diam sambil menyentuh jantungnya yang berdetak cepat. "Rasanya, seperti akan terlepas dari tempatnya," gumam Anta.
Gadis itu lalu menatap wajah nya di cermin. Kedua pipinya memerah. Jujur ia kembali merasakan perasaan nyaman saat berada dalam pelukan Elvano. Perang dingin antara ia dan Elvano yang berlangsung selama seminggu lebih itu membuatnya susah tidur. Ia seperti kehilangan sesuatu saat tertidur malam hari. Dan semalam, ia akhirnya merasakan kembali kenyamanan itu.
Anta menarik nafasnya, lalu membasuh wajahnya. Ia kemudian keluar dari kamar mandi. Namun, betapa terkejutnya dia saat melihat Elvano berdiri di depan pintu. Ingin menutup pintu, tapi gerakan Elvano lebih cepat. Laki-laki menahan pintu dan menariknya keluar.
"Mas!"
"Aku ingin bicara denganmu."
"Aku nggak mau bicara sama Mas."
"Anta," ucapan Elvano semakin melembut. Dia tidak tahu harus seperti apa menghdapi Anta. Tapi, ia akan berusaha sebisanya.
"Mas —"
"Biarkan aku bicara denganmu."
Anta menarik nafasnya lalu mengangguk pelan. Senyum tipis muncul di bibir Elvano. Laki-laki itu menggandeng Anta menuju sofa. Tapi dengan lembut Anta melepas genggaman Elvano.
Elvano tersenyum tipis. Tidak masalah jika Anta tidak ingin digandengnya sekarang. Ia akan terus mencobanya.
Keduanya duduk di sofa. Anta hanya menunduk, tidak ingin menatap Elvano.
"Aku ingin minta maaf padamu, Anta."
"Aku sudah memaafkan, Mas." Baginya itu jawaban yang tepat jika ia ingin segwra terlepas dari Elvano.
"Benarkah?" Anta mengangguk pelan. "Terima kasih." Elvano beranjak dan hendak memeluk Anta. Namun, gadis itu memalingkan wajahnya, membuat Elvano berhenti seketika.
"Aku mau menemui Evan." Anta beranjak dari sofa dan bejalan menuju pintu. Elvano yang melihatnya, mengikuti Anta dari belakang.
"Mama sama Papa mungkin masih tertidur. Evan juga sudah pasti masih tertidur." Elvano mensejajarkan jalannya dengan Anta.
"Aku hanya ingin memastikannya sendiri," ujar Anta.
Elvano terdiam. Ia sebenarnya tidak masalah jika Anta pergi menemui Evan. Hanya saja, ia takut Anta bertemu Dika.
Enggak. Anta nggak boleh ketemu Dika.
Elvano menggelengkan kepalanya, lalu dengan cepat berdiri menghalangi Anta yang hendak membuka pintu.
"Mas,"
"Aku belum mandi, Anta."
"Ya sudah. Pergi mandi."
"Aku mau kamu yang mandiin."
Anta melototkan matanya mendengar ucapan Elvano. "Mas El gila? Sana mandi sendiri!"
"Nggak!"
"Ya udah. Nggak usah bantu mandiin. Kamu siapin baju dan tunggu aku sampai selesai mandi."
"Nggak mau," jawab Anta.
Tatapan Elvano berubah dingin. Ia menatap intens Anta dan melangkah mendekati gadis itu.
"M-Mas El mau apa?" tanya Anta terbata. Jujur, ia takut dengan Elvano yang seperti ini.
"M-Mas —"
Bruk...
Elvano menarik pelan Anta hingga tubuh gadis itu menubruk tubuhnya. Ia memeluk erat tubuh Anta.
"Tetap disini, ya?" ucapnya lembut.
Anta terdiam dengan tubuh kaku. Elvano tidak seperti ini sebelumnya. Dia tidak berbicara selembut ini padanya. Semua nada bicaranya dingin, berbanding terbalik dengan yang terjadi hari ini.
"Jika kamu pergi, berarti kamu nggak benar-benar memaafkanku."
"Mas, aku sudah memaafkanmu. Tolong lepaskan aku," ujar Anta.
"Kamu belum benar-benar memaafkanku."
Anta menarik nafasnya. "Mandilah. Aku akan tetap disini." Anta mengalah.
Elvano sedikit mengendurkan pelukannya. Ia menatap Anta dengan tangan yang masih melingkar di pinggang gadis itu.
"Benarkah?" Anta mengangguk. Elvano tersenyum dan mengecup lembut kening Anta. Membuat gadis itu menengang.
"Sesuai ucapanmu. Tetap disini sampai aku selesai mandi." Anta mengangguk.
Elvano tersenyum dan meninggalkan Anta. Tapi, baru selangkah ia mundur kembali dan menatap wajah Anta.
"Kamu nggak mau mandi sama-sama?"
Anta melotot tajam ke arah suaminya, membuat Elvano terkekeh sambil berlari kecil ke arah kamar mandi. Bahkan sampai kamar mandi pun lelaki itu masih terkekeh.
Aku nggak tahu Mas, ini murni dari hatimu atau hanya kebohongan. Tapi aku harap, ini bukan kebohongan yang nantinya akan menimbulkan luka.
***
Dinda dengan ragu mendekati Anta yang sedang bermain dengan Evan, dan tentunya tak lepas dari pengawasan Elvano. Laki-laki itu sejak tadi terus mengikuti Anta, tidak ingin jauh dari gadis itu. Haris dan Devita sampai heran melihat tingkah putra mereka itu.
"A-Anta," panggil Dinda pelan.
Anta dengan cepat menoleh. Ia tersenyum lembut pada sepupu suaminya itu.
"Mbak,"
Dinda langsung terduduk dan memeluk Anta dengan erat. "Maafin aku, Anta."
"Mbak kenapa? Nggak ada yang harus disalahkan. Mbak nggak salah."
"Tapi, aku yang kasi tantangan itu Anta."
"Mas El cium Anta, itu nggak salah. Mas El suami Anta. Yang salah, saat mbak suruh orang lain cium Anta. Sudah pasti Anta marah sama mbak."
"Jadi, kamu nggak marah?"
"Enggak."
"Makasih, Anta."
"Iya, mbak." Anta dan Dinda saling melepas pelukan mereka. "Oh ya, mbak dari tadi kok nggak kelihatan? Sarapan juga enggak. Mbak bangun kesiangan?"
Pertanyaan Anta membuat Dinda tersenyum malu. Ia kembali teringat kejadian menyenangkan antara ia dan Fahri semalam, hingga membuatnya bangun kesiangan.
Elvano berdecak kesal melihat senyum malu sepupunya itu. Apalagi saat melihat Fahri datang dengan senyum mengembang dan rambut yang masih terlihat basah. Ia kembali menatap Dinda. Ujung rambut wanita itu juga masih terlihat basah.
Sial! Batinya.
Elvano yakin, Dinda dan Fahri melewati malam yang menyenangkan. Suami istri itu memang menyebalkan sekali. Dalam keadaan seperti itu, muncul di hadapan Elvano. Membuat pikiran Elvano yang tenang menjadi liar kemana-mana.
"Mbak? Mbak kok diam?" Anta menyentuh lengan Dinda.
"Eh. Oh itu? Itu... Semalam, aku nggak bisa tidur. Aku temani Mas Fahri nyelesai in kerjaannya," jawab Dinda berbohong. Dia nggak mungkin cerita soal apa yang ia lakukan semalam.
"Oohh... Pasti Kak Fahri sibuk banget ya, mbak? Libur aja masih ada pekerjaannya?"
"Enggak juga. Itu pekerjaan yang kemarin nggak sempat selesai di kantor. Karena belum ngantuk, ya aku kerjain," sambung Fahri.
Anta hanya mengangguk. Sementara Elvano, ia melirik sinis pada sepupu dan suami sepupunya. Lalu menatap Anta yang hanya mengangguk polos.
Ck. Andai Anta paham apa yang Dinda dan Fahri lakukan? Apa dia juga punya pikiran sama denganku?
Ck. Sialan!