Annanta

Annanta
Tidur Bersama



Anta datang dari dapur sembari membawa segelas susu untuk Ricky. Gadis itu memasuki kamar sang adik, dan menghampiri anak itu yang sedang mengerjakan PR nya.


"Udah selesai kerja nya?" Meletakkan segelas susu yang dibawanya kemudian mengusap lembut puncak kepala Ricky.


"Tinggal satu nomor aja, Kak."


"Mau Kakak bantuin?"


Ricky menggeleng. "Nggak usah, Kak. Kayaknya Ricky bisa kerjain."


"Ya udah. Kakak temani kamu kerja PR saja."


"Kakak nggak ngantuk?"


"Bukan nggak ngantuk, tapi belum." Ujar Anta. Gadis itu kini duduk di pinggir ranjang Ricky. "Ayo, lanjut kerjain PR nya. Hampir jam sepuluh, kamu harus tidur. Jangan lupa sikat gigi terus minum susunya, lalu tidur."


"Iya, Kak. Ricky nggak akan lupa." Ujarnya.


Anta tersenyum. Gadis itu mengamati kamar adiknya. Tidak ada perubahan sama sekali. Hanya saja, ada miniatur animasi kesukaannya yang ia letakkan di atas meja belajarnya.


"Itu..."


Tok... Tok... Tok... Suara ketukan pintu membuat Anta menghentikan ucapannya. Ricky dan Anta saling melempar tatapan. Tidak biasanya rumah mereka didatangi tamu di malam hari.


"Setelah Kakak pindah, ada yang bertamu malam-malam begini, dek?"


Ricky menggeleng. "Nggak ada, Kak."


"Siapa ya kira-kira yang bertamu malam-malam begini? Hampir jam sepeuluh lagi." Anta beranjak hendak keluar dari kamar Ricky.


"Jangan dibukain, Kak! Jangan-jangan pencuri."


"Kamu ini, ada-ada saja. Emang ada pencuri ketuk pintu?" Balas Anta, membuat Ricky menyengir. "Kamu disini aja. Biar Kakak yang bukain."


"Iya, Kak. Hati-hati."


Anta segera keluar dari kamar Ricky dan langsung menuju pintu rumah. Ketukan masih terdengar. Anta juga penasaran siapa yang bertamu malam hari dan mengetuk pintu dengan keras dan tak sabaran seperti ini.


Ceklek...


Deg...


Anta terkejut melihat Elvano berdiri di depannya dengan Evan yang berada dalam gendongannya. Wajah lelaki itu terlihat muram. Sepertinya dia kesal karena Anta sangat lambat membuka pintu.


"Mas El, kenapa..."


"Biarkan saya masuk dulu." Potongnya.


"A-ayo masuk, Mas."


Anta memberi jalan untuk Elvano masuk. Tanpa menunggu Anta mempersilahkannya duduk, Elvano langsung duduk.


"Sini, biar Evan aku baringkan di kamar."


Elvano tak membantah. Dia menyerahkan Evan pada Anta, dan langsung dibawa masuk ke kamar oleh Anta. Gadis itu membaringkan Evan di ranjangnya, lalu meletakkan bantal di sisi kiri kanan Evan. Setelah mengecup kening Evan, Anta keluar menemui Elvano.


"Mas El..."


"Kaaak... Tamu nya siapa? Bukan pencuri kan?" Terdengar teriakan Ricky dari kamarnya.


"Bukan, dek. Ini Mas El, suami Kakak."


Elvano mengulum senyum mendengar Anta menyebutnya suami. Entah kenapa, rasanya sangat bahagia diakui suami oleh istrinya itu.


"Suami Kak Anta?"


"Iya."


Mendengar jawaban Kakaknya, Ricky perlahan membuka pintu kamarnya. Ia keluar dan menghampiri Anta dan Elvano yang berada di ruang tamu. Ketika melihat wajah Elvano, dia sedikit terkejut. Ternyata Kakak iparnya sangat tampan.


"Perkenalkan, Mas! Ini adikku, Ricky."


Ricky mengulurkan tangannya ke arah Elvano. Anta sedikit ragu saat adiknya itu mengulurkan tangannya. Ia ragu jika Elvano mau membalas uluran tangan adiknya. Namun, keraguannya itu lenyap saat Elvano meraih tangan Ricky, balas menjabatanya.


"Aku Ricky, om." Ujarnya.


"Saya Elvano. Saya suami Kakak kamu. Sepantasnya panggil Kakak ipar, bukan om." Ujar Elvano, lalu melepaskan tautan tangan mereka.


Ricky meringis pelan sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Maaf, Kak."


"Nggak apa-apa." Balas Elvano.


"Kalau begitu, aku ke kamar mandi dulu. Mau sikat gigi."


"PR nya udah selesai?"


"Ya sudah. Sikat gigi, minum susu lalu tidur."


"Iya, Kak." Ricky segera berlalu ke kamar mandi yang ada di dekat dapur.


Setelah Ricky pergi, Anta melirik sekilas Elvano. "Mas El sama Evan kenapa kesini?" Tanya Anta. Bola matanya bergerak-gerak, berusaha menghindar bersitatap dengan Elvano.


"Evan terus menangis. Jadi, saya minta alamat rumah kamu di Mama dan Mama memberikannya." Ujar Elvano.


Anta mengangguk. "Mas udah makan?"


"Belum."


"Nasi nya masih ada. Tapi lauknya udah habis. Anta masakin terlur goreng, ya?"


"Hmm." Jawabnya. "Saya juga mau mandi."


"Kakak mau mandi malam-malam begini? Air disini dingin sekali kalau udah malam." Celetuk Ricky yang baru kembali dari kamar mandi. Anak itu kemudian melenggang memasuki kamarnya.


"Kalau Mas El masih mau mandi, Anta masak air buat Mas." Ujar Anta.


"Nggak perlu. Saya nggak masalah sama air dingin." Balasnya. "Kamu goreng saja telurnya. Saya mau ambil barang-barang saya sama Evan di mobil. Setelah mandi, baru saya makan." Lanjutnya.


Anta hanya mengangguk. Elvano segera keluar rumah, mengambil tasnya dan juga tas Evan kemudian kembali memasuki rumah. Anta masih setia di ruang tamu. Saat Elvano masuk ia mendekat dan meraih tas Evan dari Elvano.


"Biar Anta bantu." Ujarnya. Elvano hanya memberi nya tanpa berkata satu kata pun. Saat Anta memasuki kamar, Elvano juga ikut masuk.


Kamar Anta sangat kecil. Kasur dan ranjangnya juga kecil. Benar-benar sesuai dengan tubuh Anta yang kecil.


"Mas kalau mau mandi, ayo aku tunjukin kamar mandinya."


Elvano mengangguk. Anta mendekati lemari berukuran sedang miliknya lalu mengeluarkan handuk dan memberikannya pada Elvano. Dia lalu berjalan mengikuti Anta ke arah dapur, tepatnya ke kamar mandi.


"Ini kamar mandinya, Mas." Elvano lagi-lagi mengangguk. Ia kemudian masuk kamar mandi. Kamar mandi yang tidak sebanding dengan kamar mandi di rumahnya. Setelah melepas semua kain yang menempel di tubuhnya, Elvano menggayung air dan mengguyur tubuhnya.


Grrrr...


Elvano merasakan tubuhnya menggigil. Air nya sangat dingin menusuk kulit. Salah sendiri, kenapa dia tidak mendengarkan ucapan Ricky.


"Ck. Seharusnya aku terima saja tawaran Anta tadi." Gumamnya kemudian kembali menyiram tubuhnya. Dia harus menahan rasa dingin itu. Bagaimanapun, dia tidak ingin ditertawakan Anta dan adiknya. Tadi sok menolak untuk dimasakin air panas, dan sekarang malah kedinginan.


Elvano keluar kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya. Jujur saja, dia sangat kedinginan saat ini. Hanya saja dia berusaha untuk biasa-biasa saja. Matanya tak sengaja melihat ke arah dapur. Disana Anta sedang memasak. Cepat-cepat ia melangkah ke kamar.


"Ssshhh... Dingin sekali." Gumamnya sambil memasuki kamar.


Kening Elvano mengerut saat melihat tasnya dan juga milik Evan sudah kosong. Dengan berani ia membuka lemari Anta. Ternyata bajunya dan baju Evan sudah tersusun rapih di sebelah baju Anta. Senyum tipis muncul di bibir Elvano. Ia melihat-lihat baju Anta yang terlipat.


Apa bajunya hanya sebanyak ini selama ini?


Elvano meraih baju nya kemudian mengenakannya. Tubuhnya terasa sedikit hangat dari sebelumnya, walaupun masih merasakan dingin.


Tok... Tok... Tok...


Pintu kamar diketuk, membuat Elvano mendekat dan membukanya.


"Makanannya udah Anta siapin, Mas."


"Ya."


Elvano keluar mengikuti Anta ke meja makan yang dikelilingi 5 kursi. Elvano duduk dan Anta mengambilkan makanan untuk laki-laki itu. Elvano makan dalam diam. Anta pun tak bersuara. Memerhatikan Elvano pun ia enggan. Ia memilih menunduk, dan memfokuskan tatapannya ke jari-jari tangannya.


"Kamu nggak makan?"


"Aku masih kenyang, Mas."


Elvano hanya mengangguk dan lanjut menghabiskan makanannya. Setelah habis, Anta mengangkat piring kotor dan membersihkan meja. Elvano hanya duduk memperhatikan Anta. Setelah Anta selesai dan duduk beberapa menit tanpa berbicara sedikit pun, mereka sama-sama ke kamar.


"Mas El, tidurlah. Aku sama Evan bisa tidur di kamar Tiara."


Elvano yang duduk di pinggir ranjang menatapnya. "Dimana putra saya tidur, disitu juga saya tidur. Ini rumah kamu, berbeda dengan rumah saya. Di rumah, saya meninggalkan Evan di kamar sendiri karena saya bisa menjamin keamanan Evan. Tapi disini, saya masih ragu. Jadi, saya harus bersama Evan."


Enak saja kamu mau tidur di kamar lain dan aku sendiri disini. Aku dan Evan kesini karena mau tidur bersama mu.


Anta terdiam. Ia paham bagaimana perasaan Elvano mengenai keselamatan putranya.


"Tapi kasurnya kecil, Mas."


"Saya nggak masalah."


Justru lebih bagus kasurnya sempit begini. Bisa tidur dempet-dempetan. Rasa dinginku bisa cepat hilang.


"Ya udah. Anta nggak jadi pindah ke kamar Tiara." Jawab Anta, dan berakhirlah mereka tidur bertiga di kasur berukuran sedang milik Anta. Di saat Anta dan Evan terlelap, Elvano terbangun. Lelaki itu bergerak mengecup kening Evan dan Anta.


Aku belum bisa memastikan perasaanku. Akan ada saatnya aku jujur bagaimana perasaanku sebenarnya.