
Perjalanan ke rumah Bu Devita tidak memakan waktu lama. Kedua wanita itu berjalan masuk sambil Anta menggendong Evan.
"Papa dimana, Ma?" Tanya Anta, saat tak menemukan Haris.
"Papa lagi ke kantor. Hari ini ada rapat penting disana. Walaupun CEO nya Elvano, Papa juga harus tetap hadir disana."
Anta hanya mengangguk. Dia tidak begitu mengerti dengan urusan bisnis seperti ini.
"Oh ya, ayo Mama mau perlihatkan kamarnya Elvano. Sekalian Mama jelasin ke kamu tempat-tempat di rumah ini. Supaya kalau kamu datang, nggak bingung lagi."
"Iya, Ma."
"Kalau kamu capek gendong Evan, biar Mama suruh Bibi aja. Biar kamu lebih gampang ikut Mama."
"Nggak. Nggak usah, Ma. Anta bisa kok gendong Evan gini. Anta nyaman."
"Ya sudah, terserah kamu saja. Ayo!" Anta mengangguk. Ia berjalan mengekori Bu Devita.
"Ma..."
"Iya, sayang. Kita keliling-keliling rumah Nenek dulu, ya?"
"Paa paa paa... Aaaa..."
"Papa lagi kerja buat Evan. Nanti setelah pulang kerja, Papa jemput kita." Anta menjawab asal. Sebenarnya, ia tidak mengerti apa maksud dari kata-kata yang keluar dari mulut Evan itu. Ia hanya menebaknya saat Evan menyebut 'paa paa paa'.
Bu Devita yang berjalan di depan Anta tersenyum. Menantunya ini memang istimewa. Wanita itu berhenti di depan kamar Elvano dan membukanya.
"Ini kamar Elvano. Jarang dipakai karena Vano jarang pulang. Dia lebih betah di rumahnya. Tapi, tetap saja dia melarang orang lain masuk. Dia juga meminta pelayan merawatnya dengan baik. Entah apa yang anak itu pikirkan." Ujar Bu Devita.
Wanita itu menatap Anta. "Kita lihatnya dari sini saja, ya? Nanti kalau pulang jangan cerita kalau kita ke kamarnya."
"Iya, Ma."
Bagaimana mau cerita, Ma? Saling sapa saja jarang. Apa lagi bercerita panjang lebar? Batin Anta, sendu.
"Sudah. Ayo, kita ke ruangan lain." Anta dan Bu Devita kembali melanjutkan langkah mereka. Mengelilingi rumah, dan menghentikannya setelah Evan menangis. Keduanya beristirahat di ruang bermain Evan. Anak itu langsung ceria dan memainkan banyak mainannya. Sementara Anta dan Bu Devita berbincang-bincang sambil terus memperhatikan Evan.
Haris yang baru pulang dari kantor tersenyum senang saat pelayan memberitahu bahwa Anta dan Evan di rumahnya.
"Maaa..." Teriak Haris langsung memeluk dan mencium pipi istrinya. Bu Devita melotot marah. Suaminya ini tidak tahu tempat sekali.
"Papa! Ada Anta disini."
Lelaki itu menoleh pada Anta. Ia tersenyum sambil mengusap rambut menantunya itu. "Nggak apa-apa kan, nak? Kalau Papa cium Mama?"
"Papa apaan sih?" Kesal Devita mebcubit pelan langan suaminya. Membuat Haris meringis, berpura-pura kesakitan
Anta yang melihatnya tersenyum. Bahagia sekali kehidupan Ayah dan Ibu mertuanya ini. Andaikan ia dan Elvano bisa seperti ini. Tidak. Anta menggeleng pelan kepalanya.
Apa yang aku pikirkan? Jangan berharap Anta. Kalian menikah bukan karena perasaan masing-masing. Mama dan Papa saling mencintai. Sudah pasti mereka akan bahagia.
"Cucu Kakek." Haris menggendong Evan dan mencium-cium pipi Evan. Anak itu terkekeh sambil berusaha menjauhkan wajah Haris dengan mendorongnya menggunakan tangan mungilnya. Haris terkekeh, lalu menyerahkan Evan pada Anta.
"Tanteee... Dika pulang!" Teriakan seseorang yang semakin mendekat membuat Devita dan Haris menoleh.
Devita tersenyum cerah ketika melihat keponakannya itu. "Dikaa..."
"Tanteee..."
Tante dan keponakan itu saling berpelukan. Haris yang melihatnya merotasikan bola matanya. Istrinya dan Dika kalau dipertemukan, akan seperti ini jadinya.
"Dika kangen banget sama tante."
"Tante juga loh. Uuuhhh... Sayang bnget ponakan tante satu ini."
"Dika juga sayang tante."
"Ya, tante saja yang kamu sayang." Ucap Haris.
Dika melepas pelukannya dan menatap Haris. "Ya Allah, ternyata om. Dika pikir tukang kebun."
Plak...
Haris memukul lengan Dika. Bukannya meringis kesakitan, lekaki itu malah terkekeh. "Becanda, om. Serius amat." Ujarnya.
Dika menoleh pada Evan. Namun, matanya malah fokus pada Anta.
Cantik. Batinnya.
"Ekhmm..." Deheman Haris membuat Dika menoleh padanya. "Mata! Mata! Jaga Mata!" Lanjutnya.
"Eleh, kayak om enggak aja. Biasanya kebuka lebar matanya kalau liat tante."
"Beda. Ini..."
"Ish. Kalian berdua ini apaan sih? Dika, kenalin. Itu Anta, istrinya Vano." Jelas Devita. Dika kembali mentap Anta. "Kalau ini Evan, po..."
"Tahu, tan. Ini Evan ponakan Dika. Masa ponakan sendiri lupa."
"Hehehe.. Siapa tahu? Kamu kan udah 15 tahun nggak pulang."
"Nggak sekalian se-abad aja, tan? Biar sekali pulang, gigi Dika udah pada rontok."
Ucapan Dika membuat semua terkekeh. Tidak terkecuali Evan. Anak itu ikut terkekeh melihat Mamanya terkekeh.
"Perkenalkan. Saya Dika, sepupunya bang Elvano." Lelaki itu mengulurkan tangannya pada Anta.
Anta tersenyum padanya. Perlahan ia membalas uluran tangan Dika. "Saya Anta."
Dika mengangguk. Jujur saja, jantungnya berdetak cepat saat Anta memperkenalkan dirinya. "Eee... Maaf saat pernikahan kalian saya nggak datang."
"Ngaak apa-apa."
"Permisi nyonya, makan siangnya sudah siap."
"Iya, Bi. Terima kasih." Jawab Devita. "Ayo, makan siangnya udah di siapin."
Semuanya mengangguk. Evan mengulurkan tangannya agar kembali ke gendongan Anta. Dika yang melihatnya mengembalikan Evan ke Anta. Mereka lalu bergegas ke ruang makan.
***
Elvano membereskan berkas-berkas yang sudah selesai ia kerjakan. Ia berjalan keluar dan berhenti di depan ruangan Risma.
"Sudah jam 5. Pulanglah! Selesaikan berkas itu besok."
"Terima kasih, tuan." Jawab Risma, semangat.
Elvano melajukan mobilnya menuju rumah sang Mama. Dia akan menjemput Evan terlebih dahulu, kemudian kembali ke rumah.
Soal Anta, biarkan saja gadis itu. Dia tidak peduli dengan apa yang akan Anta lakukan.
Sesampainya di rumah sang Mama, Elvano langsung masuk begitu saja. Baru melewati pintu, gelak tawa terdengar di telinga Elvano. Lelaki itu melanjutkan langkahnya.
Tatapannya menajam saat mendapati Anta duduk di dekat Dika, dengan Evan di pangkuan gadis itu. Anta tertawa mendengar lelucon yang Dika lontarkan. Begitu juga dengan Devita, Haris, Dinda dan suaminya, Fahri, yang tiba dua jam lalu.
"Ekhmm..." Deheman Elvano membuat semua menoleh. Ia mencoba mengendalikan perasaan marahnya.
Dika langsung berdiri dan menghampirinya. "Bang Vano." Dika memeluknya, dan dibalas oleh Elvano.
"Kapan kamu pulang?"
"Kemarin sore." Keduanya saling melepas pelukan. Elvano mendekati yang lain, diikuti Dika.
"Bagaimana perusahaan abang?"
"Baik." Jawab Elvano. Namun tatapannya menghunus ke arah Anta. Membuat gadis itu menundukkan kepalanya.
"Ayo, pulang!" Ajak Elvano tiba-tiba, membuat Anta mendongak menatapnya.
"Abang kan barusan sampai. Nggak kecepatan langsung pulang?" Tanya Dika, namun Elvano abaikan. Lelaki itu malah meraih Evan ke gendongannya.
"Aku, Mas Fahri sama Dika nginap. Kalian nggak mau nginap juga?" Dinda menimpali.
"Nggak." Balas Elvano. Perasaannya tiba-tiba memburuk sekarang.
"Kalau kamu mau pulang, pulang saja. Tapi Anta tinggal. Mama masih kangen sama Mantu Mama."
Elvano menatap Mamanya. Ia lalu menatap Haris. Dan terakhir, tatapannya jatuh pada Dika. Kebetulan saat itu Dika sedang menatap Anta. Rasa marah Elvano bertambah. Dia benar-benar tidak mengerti perasaannya ini.
"Anta istri saya! Jadi, harus ikut saya!"
Semua tercengang mendengarnya, kecuali Dika dan Evan yang tidak tahu apa-apa tentang pernikahan itu. Devita teringat dengan kata-kata Elvano saat ditelpon tadi. Tapi sekarang, kata-katanya berbanding terbalik dengan ucapan Elvano saat ini.
"Ayo!" Elvano langsung pergi tanpa berpamitan. Ia berjalan cepat sambil menggendong Evan. Sementara Anta, dia cepat-cepat berpamitan lalu menyusul Elvano.
"Ma-Mas, biar Anta saja yang pangku Evan."
Anta memberanikan diri berbicara setalah beberapa menit terdiam. Elvano tetap fokus menyetir dengan Evan di pangkuannya. Anak itu mulai mengantuk.
"Evan sudah mengantuk. Dia kesulitan tidur kalau duduknya begitu. Mas juga bisa nggak fokus menyetir."
"Saya tahu apa yang saya lakukan!" Jawab Elvano, tak bersahabat.
"Tapi...,"
"BISA NGGAK KAMU DIAM?!!" Bentak Elvano. Anta langsung bungkam dengan mata berkaca-kaca. Evan yang hampir tertidur pun terjaga kembali. Anak itu menangis. Namun Elvano tak peduli. Ia menghentikan laju mobilnya dan menatap nyalang Anta.
"Kamu mau mengatur hidup saya? Hah? Apa kamu lupa apa yang saya katakan? Jangan urusi hidup saya! Urusi urusanmu! Kamu senangkan tinggal di rumah Mama? Sana, tinggal di rumah Mama! Kamu tertawa bahagia kan saat dekat Dika? Sana, pergilah pada Dika!"
"M-Mas..."
"Diam!!"
"E-Evan menangis."
"Keluar!!"
"M-Mas..."
"KELUAR SAYA BILANG!!"
Anta meneteskan air matanya. Perlahan ia membuka pintu mobil dan keluar. Elvano melajukan mobilnya meninggalkan Anta sendiri.
Gadis itu mulai terisak. Perasaannya sakit sekali di perlakukan seperti ini oleh Elvano. Dan lebih sakit lagi saat mendengar tangisan Evan. Ia tidak bisa memeluk anak sambungnya itu untuk menenangkan nya.
"Maafkan Mama, Evan." Gumamnya.