Annanta

Annanta
Vila



Elvano dengan cepat kembali ke rumahnya setelah menandatangi kontrak bersama klien. Namun, dia harus terjebak macet selama hampir satu jam.


"Ck. Kenapa harus macet sih? Mana baju-baju ku belum aku siapin lagi. Lagian Mama, bilangnya dadakan gini."


Elvano menarik nafasnya. Setelah beberapa menit kemudian, Elvano bisa menjalankan kembali mobilnya.


"Jam 12, masih keburu buat kemas baju," gumamnya.


Elvano melajukan mobilnya sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Perjalanan yang seharusnya menempuh 20 menit disingkat Elvano menjadi 15 menit. Laki-laki itu turun dari mobil dengan cepat saat sampai di rumah.


"Tuan—"


"Dimana Anta sama Evan?" tanya Elvano, memotong ucapan Bi Ijah.


"Nyonya di kamar tuan muda, tuan."


Tanpa membalas ucapan Bi Ijah, Elvano langusung berjalan menuju tangga. Lelaki itu menaikinya dan segera ke kamar Evan. Pintu kamar yang sedikit terbuka membuat Elvano menerobos begitu saja.


"Kalian udah siap? Makan siang dulu. Masih sisa 1 jam sebelum kita berangkat." Elvano menatap Anta yang sibuk memasukkan baju Evan. Sementara Evan, anak itu berjalan mendekati Elvano.


"Paa... Paa... Paa..." celotehnya, lalu meraih celana yang Elvano kenakan dan menarik-nariknya pelan. Membuat Elvano langusung menggendongnya.


"Iya, anak Papa. Evan udah mam?"


"Mam?" Anak itu menggelengkan kepalanya. Tingkah lucunya membuat Elvano tak bisa menahan diri untuk tidak menciumnya.


"Gemasin banget anak Papa," ucapnya, lalu menatap Anta yang baru selesai menyiapkan baju Evan.


"Baju saya sudah kamu siapin juga?"


Anta bangun dan beriri tepat di depan Elvano yang tengah mmenggendong Evan. Tangannya terulur pada Evan.


"Ayo, sama Mama." Dengan mudahnya Evan melepas dirinya dari Elvano dan beralih ke gendongan Anta. Sepertinya Elvano tidak begitu penting jika ada Anta bersamanya.


"Anta aku—"


"Makanan udah aku siapin di meja. Aku mau ke Bi Ijah dulu," ujarnya tanpa menatap Elvano. Saat ia hendak berbalik, Elvano menahan tangannya.


"Aku tahu aku salah. Aku minta maaf."


"Sudahlah, Mas. Lupakan saja! Anggap saja waktu itu Mas nggak melakukan apa-apa. Kita urusi urusan kita masing-masing," ujar Anta, kemudian berlalu dari hadapan laki-laki itu.


Bagaimana aku bisa melupakannya? Bibir itu, aku sangat menyukainya. Membuatku terus terbayang-bayang. Mengurusi urusan masing-masing? Enggak. Mulai sekarang, urusanmu urusanku dan urusanku adalah urusanmu juga. Kita adalah suami istri dan akan selalu seperti itu.


Setelah bergelut beberapa detik dengan pjkirannya, Elvano keluar kamar Evan menuju kamarnya. Senyum tipis terukir di bibir Elvano. Ternyata semua barang-barang nya sudah Anta siapkan. Begitu juga dengan barang-barang gadis itu.


"Ini yang kamu katakan mengurusi urusan masing-masing? Mengurusi urusan masing-masing tapi masih menyiapkan barang-barangku. Kamu sangat lucu, Anta. Dan aku menyukainya." gumam Elvano.


***


Suasana dalam mobil sangat sunyi. Sejak perjalanan di mulai, Anta maupun Elvano hanya diam. Beruntung ada Evan yang suka berceloteh, hingga Anta maupun Elvano bisa bermain dengan anak itu. Namun, semuanya berubah setelah Evan tertidur. Bi Ijah maupun Pak Tarman, tak berbicara sedikitpun.


Elvano menyandarkan tubuhnya. Sudah sejam mereka berjalan. Tersisa 2 jam lagi. Dan itu membosankan baginya.


"Anta, apa kamu nggak mengantuk?


"Enggak."


Elvano menarik nafasnya, lalu mulai memejamkan mata. Dan tanpa sadar, laki-laki itu benar-benar terlelap. Anta yang sedang memperhatikan Evan yang tertidur di kursi khususnya pun menoleh saat merasakan bahunya berat. Ternyata Elvano tertidur bersandar padanya.


Kenapa kamu seperti ini, Mas? Aku sedang berusaha untuk menjaga hatiku agar perasaanku nggak tumbuh besar dan nggak memiliki harapan kalau kamu akan membalasnya. Tapi, jika kamu mulai bersikp begini padaku, bagaimana aku bisa melakukannya?


Anta menghembus pelan nafasnya. Tangannya tiba-tiba terulur mengusap pipi Elvano. Berharap waktu berhenti sejenak, hingga dia bisa seperti ini bersama Elvano meski hanya beberapa detik.


Setelah menempuh perjalanan selama 3 jam, rombongan yang ikut berkunjung ke vila Haris itu tiba. Mereka memarkirkan mobil masing-masing dengan rapih.


Devita dan Haris turun, diikuti Tika dan suaminya juga Dika, lalu Dinda, Fahri dan putri mereka, Ara. Kemudian Selly dan Tommy, lalu Elvano, Anta, Evan beserta Bi Ijah dan Pak Tarman.


"Sekarang, kita ke kamar masing-masing dulu, istirahat. Nanti malam, kita berkumpul bareng, terus kita barbekyu-an," ucap Devita.


Semua setuju dengan usulan Devita. Memang sangat melelahkan perjalanan ini. Semuanya berjalan ke kamar masing-masing. Namun tidak dengan Dika. Laki-laki itu malah mendekati Anta.


"Biar aku saja yang bawakan barang-barang mu." Dika menawarkan diri. Ia tidak tega melihat Anta yang membawa barang-barang nya sebari menggendong Evan.


Elvano yang baru kembali dari luar, mengambil botol susu milik Evan yang ketinggalan di mobil pun merasa kesal. Ia berjalan cepat.


"Aku suaminya! Jadi, hanya aku yang memiliki hak penuh pada Anta. Kamu nggak perlu ikut campur!"


Dika memutar bola matanya. "Aku hanya menawarkan bantuan," ucapnya dengan wajah setengah jengkel.


"Terima kasih sudah mau membantu. Ayo, Anta." Elvano berjalan mendahului Anta sembari membawa barang-barang miliknya dan milik istri dan anaknya.


"Maafin Mas El, Kak." Anta merasa tak enak pada Dika. Dia tidak tahu, kenapa Elvano bersikap seperto itu pada Dika.


"Nggak apa-apa. Santai saja," balas Dika.


Elvano yang merasa Anta belum juga mengikutinya pun berhenti. Ia berbalik dan tak mendapati Anta mengikutinya, melainkan Anta yang mengobrol dengan Dika.


"Anta! Ayo!" panggil Elvano dengan suara yang dibuat tegas.


Anta menoleh padanya dan menatapnya datar. Ia kemudian berpaling dan menatap Dika. Setelah berpamitan pada lelaki itu, Anta menyusul sang suami.


Setiba di kamar, Anta membaringkan Evan. Ia tidak tahu kenapa putranya itu tidur lagi. Padahal, dia sudah cukup lama tidur di mobil tadi.


Anta segera turun dari ranjang dan mendekati Elvano yang menyusun baju mereka di lemari yang tersedia di kamar itu. Ia ingin menyusun bajunya juga.


"Biar aku saja yang melakukannya. Kamu lebih baik istorahat." Elvano tiba-tiba bersuara. Jujur, ia mendengar dari Bi Ijah jika Anta yang menjadi sandarannya saat tidur di mobil tadi. Dia ingin menebus waktu istirahat Anta di mobil dengan waktu sekarang. Membiarkan gadis itu tidur dan dia yang akan melakukan pekerjaannya.


Anta cukup terkejut dengan perubahan sifat Elvano. Apalagi kata "saya" yang sering ia gunakan diganti kata "aku". Tapi, ia berusaha mengabaikannya.


"Aku belum ingin beristirahat."


"Paksakan saja."


"Aku nggak bisa paksakan. Aku belum ingin istirahat!"


Elvano menghentikan gerakan tangannya yang sedang memindahkan dan merapihkan baju ke lemari. Ia lalu menatap Anta dengan tatapan tajamnya.


"Kalau begitu, karena kamu nggak mau istirahat, ayo kita ulangi kejadian pagi itu!"


Deg...


Anta melototkan matanya. Dan dengan gerakan cepat, Anta berjalan ke ranjang lalu berbaring miring memeluk Evan. Dia bukan gadis bodoh yang tidak mengerti maksud ucapan Elvano. Tapi, dia memang tidak siap melakukan hal tersebut.