Annanta

Annanta
Elvano Berubah



Setelah menyelesaikan makan siang, Elvano mengajak Anta kembali ke kamar. Awalnya Anta menolak. Gadis itu ingin berbaring di kamar Evan. Namun, karena Elvano terus memintanya, Anta akhirnya mengangguk.


Pasangan suami istri itu memasuki kamar. Elvano langsung mengunci pintu kamar setelah mereka berada di dalam, membuat Anta yang berdiri membelakangninya menoleh. Kening gadis itu mengerut.


"Kenapa dikunci, Mas?"


"Nggak apa-apa."


Elvano mendekat dan merangkul pinggang Anta. "Tidur siang, yuk!"


"Duduk dulu, Mas, 5 atau 10 menit. Nggak baik baru selesai makan langsung tidur."


"Ya udah. Ayo!" Elvano bersama Anta menuju sofa yang ada di kamar tersebut. Anta duduk sedikit jauh dari Elvano.


"Kenapa disitu duduknya?"


"Nggak kenapa-kenapa," jawab Anta.


Elvano menarik nafasnya, lalu bergeser mendekat. "Sini." Elvano menarik pelan tubuh Anta, membuat gadis itu bersandar ke tubuhnya. Kepala gadis itu ia tempelkan ke dadanya, membuat Anta bisa mendengarkan detak jantung Elvano.


Cup...


Elvano mengecup puncak kepala Anta. Kedua tangannya memeluk erat tubuh Anta.


"Kamu dengarkan?"


"Apa?" Anta mendongak menatap wajah Elvano. Pipi Anta yang memerah membuat Elvano tersenyum.


Menggemaskan. Batin Elvano.


"Kamu nggak dengar detak jantungku?"


"Hah? De-dengar."


"Hehehe... Kenapa kamu gugup begitu?" Elvano mengelus lembut pipi Anta.


"Apaan sih, Mas." Anta cemberut kesal. Ia hendak melepaskan diri dari pelukan Elvano, namun laki-laki itu tak membiarkannya.


"Apa gimana? Aku benar kan, kamu gugup? Pipi kamu merah lho."


"Aku mau tidur aja."


"Ya udah. Ayo!"


"Aku mau tidur di kamar Evan." Anta dengan wajah kesalnya, melepas pelukan Elvano. Kali ini, laki-laki itu membiarkan Anta terlepas. Ia hanya diam saat Anta membuka pintu.


"Mas, mana kuncinya?" Anta menoleh menatap Elvano yang duduk santai di sofa.


Elvano mengedikkan bahunya. "Nggak tahu," jawabnya acuh.


"Mas,"


"Hmm?"


"Ayolah, Mas. Mana kuncinya? Kan tadi Mas yang kunci in pintunya."


Elvano menarik nafasnya, lalu beranjak dari duduknya menuju ranjang. Laki-laki itu merebahkan tubuhnya disana.


"Mas,"


"Aku lupa taroh dimana. Sini, tidur." Elvano menepuk kasur sebelahnya, mengajak Anta tidur. Anta yang masih berdiri hanya diam sambil menatap Elvano. Tatapannya menunjukkan jika ia sedang kesal dengan laki-laki itu.


Elvano yang melihatnya terkekeh. Ini adalah kali pertama ia melihat Anta menatapnya dengan tatapan kesal. Bukannya merasa bersalah, ia malah merasa lucu melihat ekspresi Anta.


"Mau sampai kapan kamu berdiri disitu? Ayo, tiduran sini. Seharian kamu berdiri di depan pintu juga, kalau kuncinya nggak ketemu, ya tetap nggak bisa keluar."


Anta menarik nafasnya, lalu berjalan ke arah ranjang. Hal itu membuat Elvano tersenyum. Gadis itu membaringkan tubuhnya membelakangi Elvano.


Elvano menggeleng pelan kepalanya, melihat tingkah sang istri. Seandainya dia terus mempertahankan gengsinya, dia tidak mungkin melihat sisi lain Anta yang seperti ini.


Elvano bergerak pelan, menggeserkan tubuhnya hingga menempel pada Anta. Ia lalu memeluk gadis itu dari belakang.


"Kamu marah? Hmm?" tanya Elvano lembut. Pelukannya di pinggang Anta ia eratkan. Ia lalu mendaratkan kecupannya di tengkuk Anta. Membuat gadis itu meremang.


"Maaf. Kuncinya memang aku sembunyiin. Aku nggak mau kamu tidur di kamar Evan. Aku mau kamu disini," ujar Elvano. Lagi-lagi ia mengecup tengkuk Anta.


"Mas, aku akan tetap di sini. Tapi, tolong jauh sedikit dariku."


"Nggak mau! Aku mau tidur sambil peluk kamu."


"Mas, kenapa Mas berubah? Mas yang seperti ini, rasanya aneh."


"Emang kamu udah rasain rasanya Mas?"


"Mas jangan aneh-aneh, deh. Mana bisa aku rasain rasanya, Mas? Mas kan manusia bukan makanan."


"Siapa bilang nggak bisa? Mau Mas tunjukin?"


Anta mengerutkan keningnya. Kenapa suaminya yang dingin berubah jadi seperti ini? Buat jantungnya tak aman saja.


Elvano mengangguk, seolah Anta yang sedang membelakangi nya melihatnya. Elvano melepaskan pelukannya, kemudian beralih menarik Anta menghadapnya.


"Nggak baik tidur belakangi suami," ujar Elvano. Kini, ia dan Anta tidur saling berhadapan. Ia tersenyum manis pada Anta. Tangannya terulur mengusap pipi Anta.


"Cantik," ucapnya pelan. Tangannya lalu turun mengusap bibir Anta. Perlahan ia mendekatkan wajahnya. Saat hampir saja bibirnya menyentuh bibir Anta, suara Anta menghentikannya.


"Mas." Elvano sontak menjauhkan wajahnya. Laki-laki itu berdehem pelan, berusaha menghilangkan rasa canggungnya.


"Ayo, tidur!" ajaknya, menarik kembali Anta dalam pelukannya.


***


Elvano menggeliat pelan saat merasakan kecupan lembut di pipinya. Saat matanya terbuka, ia melihat Anta menatapnya sambil tersenyum manis.


"Ayo, bangun. Udah sore," ucap Anta lembut. Elvano merasakan hatinya sangat bahagia.


"Aku masih ngantuk," ucapnya pura-pura.


Cup...


Satu kecupan mendarat di bibir Elvano. Laki-laki itu mengerjab kaget dengan Anta yang tiba-tiba seperti ini. Namun, tidak bisa ia pungkiri, ia sangat bahagia.


"Sekali lagi, baru aku bangun," ucap Elvano.


"Nggak, ah. Kalau Mas masih mau tidur, tidur lagi aja. Anta mau ke bawah. Mbak Dinda sama kak Dika ada di bawah."


Mendengar nama Dika, Elvano dengan cepat bangun dan duduk. Ia meraih tangan Anta dan menggenggamnya erat.


"Nggak! Kamu nggak boleh turun!"


"Mas, nggak enak lho sama mbak Dinda sama kak Dika. Masa Anta tinggalin mereka sendiri?"


"Nggak peduli! Pokoknya kamu tetap disini. Nggak boleh turun!"


"Mas,"


"Nggak boleh!"


"Mas,"


"Nggak boleh! Nggak boleh! Nggak boleh!"


"Mas!"


"Mas!"


"Nggak boleh."


"Mas!!"


Elvano langsung terbangun saat Anta mengguncang tubuhnya sedikit lebih kasar. Laki-laki itu mengerjabkan matanya berkali-kali.


Apa tadi aku hanya mimpi?


"Mas,"


Elvano menatap Anta. Ia ingin memastikan apa ia hanya mimpi atau kejadian tadi benar-benar terjadi.


"Dinda sama Dika disini?"


Anta menggeleng. "Enggak."


"Berarti aku benaran cuma mimpi," gumamnya pelan, namun masih bisa didengar Anta.


"Jam berapa sekarang?" lanjutnya bertanya.


"Jam 5," jawab Anta singkat. Gadis itu lalu berjalan menjauh dari ranjang. Elvano terus memperhatikannya. Baju yang Anta kenakan tadi sudah berganti dengan baju lain. Sepertinya istrinya itu sudah mandi.


"Anta mau ke dapur dulu, mau bantuin Bi Ijah masak makan malam." Setelah mengucapkan itu, Anta berlalu dari kamar tersebut.


Elvano menarik nafasnya. Baru saja dia ingin memastikan, Anta menciummnya atau tidak. Tapi gadis itu sudah lebih dulu meninggalkannya.


"Eh, tapi... kenapa pintu kamar ini bisa dibuka? Kuncinya kan udah aku sembunyi in di kolong ranjang," gumam Elvano. Ia lalu menatap ke arah pintu.


"ANTA!! DARI MANA KAMU DAPAT KUNCINYA!!" teriak Elvano dari dalam kamar.


Anta yang sudah berada di depan kamar Evan berbalik, kembali ke kamar Elvano. Ia berdiri di ambang pintu sambil menatap datar suaminya.


"Nggak usah teriak-teriak, Mas. Kuncinya Anta temuin di kolong tempat tidur."


"Kamu cari?"


Anta mengangguk. "Anta ke bawah dulu. Bi Ijah sama Evan udah nungguin."


Tanpa menunggu respon Elvano, Anta langsung meninggalkan suaminya itu. Elvano berdecak kesal kemudian beranjak ke kamar mandi.