
Elvano mengusap-usap rambut Anta dengan lembut, lalu mulai bercerita soal kehidupannya dan Evan yang belum Anta ketahui.
"Seperti yang aku bilang ke kamu, Evan bukan anak aku. Evan anak bang Raka sama Vionna," ucap Elvano.
"Apa yang di foto kalian bertiga itu, bang Raka?"
"Iya. Kita dulu sahabatan. Aku, Vionna sama bang Raka. Bang Raka anak angkat Mama sama Papa, dua tahun lebih tua dari aku. Kita saling menyayangi satu sama lain. Mama sama Papa juga nggak pernah pilih kasih. Bang Raka baik banget sama aku. Sementara Vionna, dia teman aku di taman kanak-kanak. Aku kenalin bang Raka sama Vionna saat kita di sekolah dasar yang sama. Sejak saat itu, kita selalu sama-sama hingga dewasa."
"Bang Raka suka sama Vionna, aku juga. Tapi, diantara kita nggak ada yang ingin curang buat dapetin Vionna. Kita biarin Vionna sendiri yang memilih. Dan akhirnya, Vionna milih Bang Raka."
"Jadi, kata mbak Vionna tadi soal Mas yang cinta sama dia itu benar?"
"Eemm... Nggak sepenuhnya benar. Aku nggak yakin kalau waktu itu aku cinta sama dia. Sepertinya hanya suka. Kalau aku cinta, aku nggak akan biarin dia sama bang Raka. Aku nggak sebaik itu relain perempuan yang aku cinta bersama orang lain. Cinta seperti aku mencintaimu sekarang ini. Aku nggak rela kamu dekat-dekat Dika. Senyum sama dia saja aku nggak suka."
"Jangan berlebihan deh, Mas."
"Nggak berlebihan, sayang. Emang bener kok. Dulu aku pikir, aku biarin Vionna sama bang Raka karena aku sayang sama bang Raka. Aku juga sayang sama Dika, tapi aku nggak rela Dika dekat-dekat kamu. Aku langsung nggak suka Dika dekat-dekat kamu saat pertama kali lihat kamu ketawa sama dia di rumah Mama Papa."
"Kapan?"
"Waktu itu, waktu Dika datang pertama kali. Waktu kamu kenalan sama Dika pertama kali. Lebih jelasnya, waktu aku turunin kamu dijalanan."
"Oohh... Jadi, yang itu?" tanya Anta menahan senyum. "Apa jangan-jangan waktu itu kamu marah karena ada kak Dika dan aku tertawa sama dia?"
"Iya. Waktu itu aku kesal. Aku bela-belain jemput kamu sama Evan setelah pulang kantor, malah sampai disana lihat kamu ketawa-ketawa sama Dika."
"Jadi, alasan kamu turunin aku di jalanan karena marah lihat aku sama kak Dika?"
"Hmm."
"Terus minta tolong mbak Risma buat anterin aku pulang?"
Elvano yang sedang menyandarkan dagunya di puncak kepala Anta pun menjauhkan wajahnya. "Kok kamu tahu?" tanyanya bingung.
"Ya tahu. Mbak Risma yang cerita."
"Ck. Risma sama Tirta memang cocok jadi suami istri. Sama-sama bocor mulut mereka."
"Hehe... Jangan gitu, Mas. Ayo, lanjutin ceritanya."
Elvano menarik nafasnya lalu mengecup puncak kepala Anta.
"Bang Raka sama Vionna menikah. Mama sama Papa awalnya nggak setuju. Entah apa yang buat mereka nggak suka sama Vionna, aku juga nggak tahu. Tapi, demi kebahagiaan bang Raka, Mama sama Papa setuju dan mendukung. Sejak mereka menikah dan tinggal di rumah, aku memilih untuk tinggal di rumah ini."
"Awalnya pernikahan mereka berjalan baik-baik saja. Tapi, setelah identitas bang Raka sebagai anak angkat Mama sama Papa ketahuan, semua perlahan berubah. Aku nggak terlalu tahu soal perubahan seperti apa yang terjadi pada Vionna. Yang aku tahu, Vionna sering bertukar pesan denganku hingga larut. Aku menganggap itu biasa saja karena kami memang sering bertukar pesan seperti itu. Apalagi saat itu Vionna mengandung anak bang Raka. Aku anggap Vionna sedang iseng."
"Semakin hari, hubungan mereka semakin renggang. Puncaknya, saat Vionna memilih keluar dari rumah dalam keadaan perut membesar. Bang Raka jatuh sakit, karena tidak bisa menemukan Vionna sama calon anak mereka."
"Aku mencaritahu dengan mengecek cctv. Dan aku menemukan rekaman Vionna yang meletakkan anak itu si pos security semalam."
"Awalnya, aku pikir Vionna pergi karena Mama sama Papa yang nggak suka dengan kehadiran Vionna. Jadi, aku meminta Mama dan Papa untuk berhenti menyakiti Vionna dan membuat Vionna nggak nyaman. Mama terus bilang kalau bukan dia atau Papa penyebab Vionna pergi. Dan aku nggak percaya. Sejak saat itu, hubungan aku dan Mama Papa renggang. Hubungan kami semakin memburuk saat bang Raka meminta Mama sama Papa membawa Vionna kembali sebelum dia meninggal. Tapi, Mama sama Papa nggak membawa Vionna pulang. Lebih tepatnya nggak berhasil menemukan Vionna. Saat itu, aku berpikir Mama sama Papa sengaja melakukannya karena nggak mau Vionna kembali lagi. Sampai akhir hidup bang Raka, dia nggak bertemu sama Vionna. Dia hanya bisa melihat Evan. Nama Evan juga diberi bang Raka."
"Terus setelah bang Raka meninggal, hubungan Mas dan Mama Papa membaik?"
Elvano menggeleng. "Nggak. Hubungan kita buruk. Bahkan semakin buruk saat Mama nggak ngizinin aku mengasuh Evan. Mama tahu kalau aku suka Vionna. Mama sama Papa berpikir kalau aku merawat Evan, ada kesempatan untuk Vionna buat masuk ke keluarga Prasetya lagi. Mereka menganggap aku lemah jika berhadapan dengan Vionna. Aku selalu melakukan apa yang Vionna katakan. Dan aku, aku menganggap Mama sama Papa egois. Mereka lebih mementingkan perasaan mereka dibanding perasaan bang Raka dan aku."
"Jadi, bagaiamana bisa Mas yang merawat Evan?"
"Mas janji sama Mama Papa, nggak akan biarin Vionna masuk lagi ke keluarga Prasetya. Jadi, Mama sama Papa biarin Evan diasuh aku. Aku juga berjanji sama diri aku sendiri, nggak akan pernah menikah. Evan tinggal denganku, itu sudah cukup. Tapi, aku nggak bisa menyangkal, kalau aku masih mencaritahu tentang Vionna."
"Jadi, itu alasannya Mas nggak mau menikah denganku?"
Elvano mengangguk. "Itu dulu. Tapi sekarang, aku bersyukur dipaksa Mama nikah sama kamu. Sampai diancam buat ambil alih hak asuh Evan. Aku bahagia sekarang. Aku memliki wanita yang aku cintai dan seorang putra yang aku sayang."
"Benaran cinta sama Anta?"
"Iya."
"Masa? Vionna nya udah kembali lho. Elvano nggak mau balikan lagi sama Vionna?" tanya Anta sengaja menggoda.
"Enggak. Tapi, kalau Anta izinin, Elvano mau. Lumayan, kalau Anta ngambek, ya Elvano ke Vionna," jawab Elvano, berbalik menggoda Anta.
"Ish, Mas El apaan sih? Katanya nggak mau." Anta menjauhkan wajahnya dari dada Elvano dan menatap suaminya itu dengan raut cemberut. Dia yang mulai menggoda, dia sendiri yang kesal.
"Lho, kamu yang nawarin. Sayangkan kalau ditolak?"
"Ya udah. Sana kejar Vionna nya. Biar Anta sendiri disini. Atau Anta ke rumah Mama saja."
"Eeeh... Jangan dong, sayang. Elvano nggak bisa tidur kalau nggak peluk Anta. Elvano hanya bercanda, sayang." Elvano kembali membawa Anta dalam pelukannya.
"Mas El nggak bohongkan? Mas El hanya bercanda." Anta kembali membenamkan wajahnya di dada Elvano. Ia juga memeluk erat pinggang sang suami.
"Iya, sayang. Mas nggak bohong. Mas hanya cinta sama kamu. Sayang sama kamu. Nggak ada yang bisa gantiin kamu di hati Mas. Hanya ada Anta, Anta dan Anta istrinya Mas."
"Ada berapa Anta di hati Mas? Kok nyebutnya banyak?"
"Nggak banyak sayang, cuman tiga kali. Dan semua itu, Anta yang sama. Anta istri Mas El. Mas Elvano. Wanita yang sekarang Elvano peluk."
Anta tersenyum mendengarnya. Ia semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di dada Elvano. "Makasih, Mas. Anta cinta sama Mas El."
"Mas juga cinta sama Anta," jawab Elvano. "Ya udah, sekarang kita tidur, okey?"
Anta mengangguk. Keduanya saling melepas pelukan lalu berbaring saling berhadapan. Elvano mendekat dan mengecup lama kening Anta. Ia lalu kembali memeluk Anta dan akhirnya mereka tertidur bersama.